
"Kamu yang telah membuat papimu seperti ini Imel, jadi kamu harus menerima konsekwensi atas perbuatanmu." sepertinya Qianu benar-benar marah kali ini sehingga dia sama sekali tidak mengindahkan Imel yang menghiba.
"Lakukan apa yang saya perintahkan sekarang." Qianu kembali memberi perintah pada orang yang seberang.
"Baik tuan."
Mendengar hal tersebut, Imel menjerit histeris, "Tidakkk, aku mohon kak jangan, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, maafkan aku kak Qianu, tolong jangan lakukan itu sama papi, aku tidak punya siapa-siapa lagi didunia ini, tolong kak, jangan lepaskan alat-alat yang menunjang kehidupan papi, papi bisa mati, hu hu."
Qianu mendesah berat sebelum berkata, "Oke, kali ini kamu aku maafkan Imel, tapi ingat, lain kali tidak akan ada kata maaf untukmu, sekali lagi kamu melannggar apa yang aku katakan, nyawa papimu yang akan jadi taruhannya." Qianu mengancam dengan sungguh-sungguh.
Imel mengangguk mengerti sekaligus lega mendengar ternyata Qianu mengampuninya.
"Terimakasih kak Qianu."
"Sekarang minggir dari hadapanku." Qianu mendorong kakinya sehingga membuat Imel terjatuh, dan tanpa rasa bersalah Qianu melangkah meninggalkan Imel.
Imel berusaha untuk bangun dan menguatkan dirinya, "Sabar Mel sabar, ini semua demi papi, bertahanlah."
****
08xx : Malam Mel
Imel mendapat pesan dari nomer asing saat dia akan membaringkan tubuhnya ditempat tidur, tubuhnya benar-benar terasa letih dan lelah.
Karna tidak mengenali nomer tersebut, Imel mengabaikannya dan lebih memilih memejamkan mata.
Sayangnya, orang asing tersebut kembali mengechatnya dan tidak membiarkan Imel tidur dengan tenang.
08xx : Imel sudah tidur ya
"Siapa sieh ini, ganggu saja, gak tahu apa orang mau istirahat." omel Imel.
Imel : Siapa sieh
Imel akhirnya membalas dengan terpaksa.
08xx : Astaga, masak gak inget sieh, yang tadi sore minta nomer kamu dirumah sakit itu lho Mel.
Imel yang daya ingatnya hanya seujung kuku itupun tidak ingat sama sekali.
Imel : Aku gak inget.
08xx : Masak gak inget sieh Mel, tega banget.
Imel : Aku gak inget, gak penting soalnya.
Pemilik nomer asing yang ternyata Altan hanya bisa mengelus dada.
__ADS_1
08xx : Ini Altan Mel.
Altan akhirnya menyerah dan memberitahukan Imel siapa dirinya.
"Ohh, kak Altan rupanya."
Imel : Ohh.
Respon Imel tidak antusias.
08xx : Aku ganggu ya Mel
Imel menjawab jujur.
Imel : Iya
08xx : Mmmm, sorry kalau aku ganggu kamu
Imel : Udah tahu ganggu, berhenti donk chat orang.
08xx : Oke, tapi kalau besok-besok, aku boleh chat kamu lagikan Mel.
Meskipun begitu, Altan sepertinya tidak tersinggung dengan balasan Imel, buktinya dia masih ingin menghubungi Imel kembali.
Imel : Hmmm
08xx : Oke, kalau gitu, mending kamu istirahat saja kalau gitu, mimpi indah Mel.
"Sejak tadi kek." gumam Imel memejamkan matanya.
Malam ini hujan turun dengan derasnya, hujan yang disertai dengan guntur yang berbunyi bersahut-sahutan membuat Imel ketakutan, Imel meringkuk ditempat tidurnya dengan menyumpalkan kedua tangannya dikedua telinganya, berharap suara guntur tidak sampai dipendengarannya, sayanganya, tangannya tidak mampu menghalau suara guntur tersebut.
"Papi, Imel takut." badan Imel gemetar, air matanya jatuh membasahi pipinya.
Entah dorongan darimana sehingga Imel bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan keluar, tujuannya ternyata adalah kamar Qianu, kalau Imel masih waras, seharusnya tempat yang paling tidak boleh dia datangi dirumah ini adalah kamarnya Qianu, tapi mungkin untuk saat ini akal sehatnya hilang karna ketakutan sehingga kakinya membawanya melangkah ke kamarnya Qianu.
Tok
Tok
"Kak Qianu."
Qianu yang saat ini tengah menyelsaikan pekerjaannya dileptopnyapun reflek menoleh ke arah pintu kamarnya, dia heran saat mendengar suara Imel memanggilnya, meskipun dia tidak menyahut karna dia berfkir mungkin dia salah dengar, namun kembali suara panggilan tersebut mampir ke gendang telinganya.
"Kak Qianu, aku takut, buka pintunya kak."
Qianu terlihat kesal setelah memastikan bahwa itu memang suara Imel, "Mengganggu saja."
__ADS_1
Dengan malas-malasan dia bangun dan berjalan ke arah pintu, dia sudah siap memarahi Imel namun kata-katanya kembali ditelan saat melihat wajah polos gadis itu terlihat ketakutan, meskipun merasa kasihan tapi dia berusaha untuk tidak menampakkanya, "Ada apa." tanyanya datar.
"Kak, bolehkah aku tidur malam ini saja dikamarnya kakak, aku ketakutan kak, aku takut guntur."
"Penakut banget sieh kamu, gitu aja takut."
"Plis kak, izinin aku tidur dikamar kakak ya, aku benar-benar takut." Imel masih berusaha membujuk Qianu supaya mengizinkannya untuk tidur dikamarnya.
Bertepatan dengan itu, suara guntur kembali menggelegar sehingga membuat Imel kaget dan meloncat ke arah Qianu, Imel yang ketakutan memeluk tubuh Qianu, saking takutnya, Imel sampai menangis.
"Huhu, aku takut kak."
Qianu dibilang jahat, ya jahat sieh, tapi dia memang memiliki sedikit hati nurani, ada rasa tidak tega melihat Imel yang menangis ketakutan begini, akhirnya dengan berat hati dia mengizinkan Imel untuk tidur dikamarnya, "Baiklah, kamu bisa tidur malam ini dikamarku."
Meskipun sudah mendapat persetujuan, Imel masih saja terisak.
"Heii, kamu dengar, kamu boleh tidur dikamarku, jadi, berhentilah menangis."
Namun Imel masih menangis.
"Dasar gadis cengeng." rutuk Qianu, meskipun terlihat kesal, dia mengangkat tubuh Imel dan membawanya ketempat tidur, Qianu membaringkan tubuh Imel dan menarik selimut sampai sebatas pinggang, Qianu akan kembali melanjutkan pekerjaannya, namun tangannya ditahan oleh Imel.
"Kak Qianu, plis jangan tinggalkan aku." suara itu terdengar lembut sehingga mampu membuat Qianu merinding, apalagi tatapan mata Imel yang terlihat begitu sendu.
"Sial, apa yang terjadi denganku, kenapa aku jadi merinding begini." umpat Qianu.
"Jangan pergi kak Qianu, aku mohon, temani aku disini, aku takut." Imel mengulangi permohonannya.
Qianu rasanya terhipnotis dengan tatapan mata sendu itu, dia rasanya tidak sanggup menolak keinginan Imel, dia kemudian mengangguk, "Tidurlah, aku akan tetap berada disini disampingmu." suara Qianu terdengar lembut dan itu membuat Imel merasa nyaman dan mulai memejamkan matanya saat mendengar janji Qianu.
Karna mengantuk, Qianu akhirnya membaringkan tubuhnya disamping Imel, tidak lama, diapun terlelap dan ikut terbang ke alam mimpi menyusul Imel.
****
Saat menikah dan tinggal dirumah Qianu, karna diwajibkan untuk melakukan ini itu, sehingga hal tersebut membuat Imel terbiasa bangun pagi, begitu juga dengan pagi ini, kalau biasanya dia bangun pagi secara normal, tapi kali ini ada hal yang tidak biasa, ada sesuatu yang melingkar dipinggangnya, sebuah tangan yang memeluknya dengan posesif.
"Kak Qianu." batinnya saat mengingat dimana dia berada saat ini, dia ingat tadi malam dia datang sendiri ke kamar Qianu dan merengek-rengek supaya Qianu mengizinkannya untuk tidur dikamarnya.
Sinar bulan yang membias dan masuk melalui gorden tepat mengenai wajah Qianu yang membuat Imel bisa melihat wajah sempurna Qianu dibalik sinar remang rembulan.
"Dia sangat tampan sebenarnya, kalau saja dia baik, pasti dia akan semakin bertambah tampan, sayangnya dia begitu sangat kejam." desis Imel dengan suara berbisik.
"Orang yang kamu omongin ada didepan kamu." Qianu tanpa peringatan membuka matanya.
Hal itu membuat Imel jadi kaget dan takut secara bersamaan.
"Astaga, dia pasti marah mendengar kata-kataku barusan, ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan." Imel ketakutan.
__ADS_1
****