MENIKAH KARNA DENDAM

MENIKAH KARNA DENDAM
FILM DEWASA


__ADS_3

"Heii gadis-gadis." sapa Miun membawa makanannya dan duduk dikursi kosong yang tersisa diantara gengnya Imel.


"Ishh, lo ngapain main duduk, lo gak diterima ya Miun." protes Juli saat melihat teman kelasnya yang jail itu bergabung dengan mereka.


"Iya, mending sana geih lo jauh-jauh, elahh lo merusak pemandangan saja." Nuri menimpali.


"Kalau lo mengetahui niat gue duduk bersama lo pada, lo gak bakalan pada ngusir gue."


"Niat apaan, emang lo mau bagi-bagi duit gitu sama kita." sahut Gebi.


"Dasar sik Geboyy, otak lo isinya duit mulu."


"Terus lo mau ngapain sok akrab dan gabung-gabung sama kita."


"Gue punya film baru, seru lho." Miun memberitahu niatnya ikutan bergabung dengan Imel cs.


Mereka semua adalah remaja-remaja yang hobi nonton sehingga tidak heran mereka tidak berusaha lagi mengusir Miun saat Miun mengatakan niatnya bergabung dengan mereka.


"Ohh ya, film apaan, mana-mana." Juli terlihat paling antusias.


"Ya ada ditas guelah panjulll, ya kali gue bawa kemana-mana."


"Film apaan tuh, seru gak." imbuh Gebi kepo.


"Seru pakai banget, makanya gue mau minjemin ke elo pada."


"Gak ada syarat yang macam-macamkan." sahut Nuri.


"Gak ada udang dibalik bakwankan." sambung Imel.


Wajar saja kalau Imel dan Nuri curiga dengan kebaikan Miun yang tiba-tiba begini, biasanya sieh tuh anak suka ada maunya.


"Hmm iya, gue minjeminnya kali ini tulus dan ikhlas, tanpa ada embel-embel udang dibalik bakwan, entar gue kasih deh lo minjemnya, baik bangetkan gue."


"Emang film apaan sieh tuh, action, romans, komedi, musical, atau…"


"Horor." tandas Miun.


"Seriusan horor, gue suka film horor, apaan tuh judulnya." Juli bertanya.


"Fifty shades of grey." jawab Miun tanpa rasa berdosa karna telah membohongi keempat remaja itu, dan mereka percaya lagi kalau itu memang film horor, padahalkan itu film dewasa yang tidak cocok ditonton oleh remaja seumuruan mereka.


"Ehh kita nontonnya dimana nieh, kalau film hororkan serunya nontonnya rame-rame biar bisa jerit bareng-bareng." heboh Nuri.


"Rumah lo Jul gimana." saran Gebi.


"Ya gue sieh oke-oke saja."


"Oke, sepulang sekolah kalau gitu kita langsung cabut kuy kerumah elo."


"Gak bisa gue hari ini, gue ada latihan chers sepulang sekolah."


"Besok deh kalau gitu."


"Guenya yang gak bisa kalau besok, gue ada bimbingan pelajaran tambahan dari pak Musibah." kata Gebi.


"Elahh pada gak bisa, gak asyik banget."


"Habis gimana, emang gak bisa."


"Ya udah kalau gitu, mending nontonnya sendiri-sendiri sajalah." saran Imel.


"Iya, itu mungkin ide yang bagus."


"Kalau gitu gue yang duluan pinjem deh." ujar Imel.


Karna memang tidak bisa ngumpul bareng karna masing-masing memiliki kegiatan masing-masing diluar jam sekolah sehingga mereka memutuskan untuk nonton masing-masing film yang akan dipinjamkan oleh Miun tersebut.


"Ehh Miun, tapi beneran serukan tuh film, kalau lo bohong, awas lo ya." ancam Imel.


"Iya seru, gak percaya banget sieh lo sama gue Cahyo."


****


Imel kini resmi tidur bersama dengan Qianu, sebenarnya kalau boleh milih sieh, Imel lebih baik tidur sendiri meskipun kamarnya kecil, dia merasa lebih leluasa, daripada berbagi kamar dengan Qianu tapi dia agak canggung dan tidak bebas kalau mau ngapa-ngapain, seperti saat ini, dia ingin menonton film yang dipinjamkan oleh Miun tadi siang, tapi gak enak juga sieh minta izin sama Qianu, apalagi saat ini Qianu terlihat sibuk dengan leptopnya entah apa yang dia kerjakan.


"Duhh, gue ingin nonton, gue penasaran dengan filmnya, tapi takut mau minta izin sama kak Qianu, wajahnya terlihat serius begitu." batin Imel tidak lepas memandang Qianu.


Sadar dirinya tengah diperhatikan, Qianu melirik ke arah Imel, Imel buru-buru mengalihkan perhatiannya ke arah lain.


Imel mendengar ponselnya berbunyi yang ternyata merupakan chat dari Juli.


Juli : Mell, lo udah tonton filmnya belum, seru gak

__ADS_1


Imel : Belum, suami gue lagi konsen kerja soalnya, ntar kalau gue nonton dia malah terganggu lagi


Nuri : Elahh, ajak suami lo nonton sekalian Mel


Imel : Gaklah, dia itu gak suka nonton, dia sukanya kerja


Gebi : Padahal gue penasaran mau tanya apakah filmnya bagus atau gak, kalau gak serukan gue ogah nontonnya.


Imel : Iya ini gue mau nonton, tapi tunggu kak Qianu selesai dulu kerjanya.


Dan saat Imel melihat Qianu menutup leptopnya, Imel memberanikan diri untuk mengutarakan keinginannya.


"Kak Qian."


"Hmmm." gumamnya tanpa menoleh.


"Aku mau nonton film, boleh gak." tanyanya hati-hati.


"Hmmm." Qianu menjawab dengan gumaman doank tapi itu sudah lebih dari cukup  sebagai jawaban iya untuk Imel.


Qianu terlihat berjalan kearah kamar mandi, sedangkan Imel mulai mengambil tempat duduk disofa dan mengarahkan matanya pada layar televisi, dia sudah bersiap menunggu adegan demi adegan yang akan memacu jantungnyanya karna dari cerita Miun kalau film tersebut banyak adegan seremnya yang membuat merinding, dan setelah beberapa menit berlalu, Gebi sadar kalau Miun menipunya, film yang dia tonton bukanlah film horor melainkan film romans yang banyak adegan dewasanya.


"Heii, ini bukan film horor, tapi film dewasa, dasar Miun lucnat, awas lo ya besok." Imel merutuk dalam hati.


"Wajahmu saja yang terlihat polos, tahunya doyan juga nonton film begituan." komen Qianu yang entah sejak kapan sudah duduk didekat Imel dan matanya juga terarah pada layar tv.


Wajah Imel memerah mendengar ledekan Qianu, apalagi saat sik tokoh utama tengah melakukan adegan dewasa, canggung banget gak sieh nonton film begituan dengan laki-laki, "Ehh itu, aku fikir film horor, temanku yang meminjamkannya." Imel berusaha membela diri.


Imel meraih remote dan berniat mematikan televisi, tapi Qianu menahan tangannya.


"Mau ngapain."


"Mau matiin kak, kita sebaiknya tidur, udah malam ini."


"Gak usah dimatiin, biarin aja, aku mau nonton."


"Ehh tapi…"


Qianu merebut remote dari tangan Imel dan tidak membiarkan Imel mematikan televisi tersebut.


"Kalau begitu, aku sebaiknya tidur." Imel akan bangkit, namun pinggangnya ditahan oleh Qianu yang tidak membiarkannya beranjak.


"Kamu tidak boleh kemana-mana Mel, duduk dan temenin aku nonton disini." lha, ternyata doyan juga sik Qianu nonton film beginian, Imel sieh doyan juga, tapi malulah dia.


"Miun sialan, bisa-bisanya dia bohongin gue, awas saja dia besok."


Saat Qianu fokus nonton, Imel memilih untuk bertukar pesan dengan sahabat-sahabatnya.


Imel : Sialan banget tahu gak sieh, ternyata film yang dipinjamkan oleh sik brengsek itu bukan film horor seperti yang dia katakan, tapi film dewasa, gila, banyak banget adegan dewasanya lagi.


Nuri : Wiehhh seru tuh kayaknya.


Imel : Seru dengkul lo, gue risih tahu gak sieh harus nonton sama kak Qianu begini.


Karna merasa risih, Imel memilih berbalas pesan dengan sahabat-sahabat karna tidak diizinkan tidur juga.


Gebi : Makin seru tuh Mell, lo bisa praktik langsungkan dengan kak Qianu, lo bisa belajar banyak gayalah dari sana.


Imel : Sinting lo


Juli : Asyik ya jadi lo Mel, kalau ingin ya udah tinggal dilakuin tanpa takut dosa, udah halal soalnya.


Imel : Ini lo pada kenapa sieh pada eror deh otaknya, kayaknya lo pada butuh diruqiah.


Rutuk Imel kesal membaca balasan dari chat sahabat-sahabatnya.


Nuri : Cie sik Imel ekhem ekhem, sudah nikmatin yang namanya surga dunia nieh.


Imel : Ishhh, otak lo ya Nur, kondisikan deh.


"Apa kamu tidak tertarik untuk mencobanya." ucap Qianu tiba-tiba yang membuat Imel langsung menoleh ke arahnya dengan cepat, sedangkan Qianu tetap fokus menatap ke arah depan.


"Ehh, melakukan apa kak." jawab Imel takut-takut.


Qianu yang sejak tadi fokus mengarahkan matanya pada layar televisi memutar lehernya ke arah Imel, menatap Imel dengan kening mengernyit.


 "Ya adegan difilmlah, kamu fikir adegan apaan, berenang."


Imel meneguk ludahnya, ya memang sieh setiap pasangan suami istri harus melakukan hal itu, tapi semenjak Qianu membawanya ke rumah ini dan tidak pernah memperlakukannya dengan baik, Imel tidak pernah berfikir untuk melakukan hubungan suami istri dengan Qianu, dan sekarang, tidak tahunya Qianu menanyakan hal itu kepadanya, kan jadi panik dia.


"Aku itu..anu apa…" Imel tidak bisa bicara dengan baik, wajahnya jadi memerah karna malu.


Qianu mencengkram lengan Imel, dan menghadapkan tubuh gadis yang salting itu ke arahnya, Imel menekan lengan Imel dari kedua sisi dan memfokuskan mata Imel untuk menatapnya.

__ADS_1


"Aku suamimu Imel, dan aku berhak untuk melakukan apapun yang aku inginkan kepadamu." 


"Dalam hal begian saja aku dianggap istri." Imel hanya menyuarakan protesnya dalam hati.


Dan tanpa menunggu persetujuan dari Imel, Qianu membopong tubuh Imel ke ranjang, reflek Imel mengalungkan tangannya dileher Qianu, yah Imel saat ini terlihat pasrah meskipun sebenarnya dia tidak siap untuk melakukan hal tersebut, tapi toh dia bisa apa.


Dan malam itu sepasang suami istri itu melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh suami istri pada umumnya dan sekaligus menjadi malam yang panjang untuk mereka berdua.


****


Imel yang biasa bangun pagi agak terlambat bangun, hal ini disebabkan karna dia kelelahan akibat aktifitas pertempuran yang dia dan Qianu lakukan semalam, begitu bangun Imel langsung melihat jam dinakas yang menunjukkan angka 06.10 tepat.


"Ya Tuhan aku terlambat." Imel bergegas untuk bangun, tapi…


"Awhhhh." Imel mengaduh karna merasakan area selangkangannya yang terasa perih karna ini pertamakalinya untuk Imel.


"Gila sakit banget." rintih Imel berusah untuk bangkit dengan perlahan.


"Sudah bangun." tanya sebuah suara yang sangat familiar dipendengaran Imel, siapa lagi kalau bukan suara Qianu.


Qianu terlihat membelakanginya sambil memasang jasnya.


Sadar dia tidak memakai apapun Imel meraih selimut dan menutup tubuh polosnya dengan selimut tersebut, kalau ingat kejadian semalam Imel jadi malu, Qianu benar-benar memperlakukannya dengan lembut semalam, tapi tetap saja bagian intinya terasa sakit.


"Mau sampai kapan melamun, ntar telat lho." Qianu memperingatkan.


"Ohh iya." Imel mencoba berdiri, tapi lagi-lagi dia merasakan perih sehingga dia kembali terduduk, melihat istrinya kesakitan gara-gara dirinya, Qianu dengan inisiatifnya mengangkat tubuh Imel dan membawanya ke kamar mandi.


"Ehh kak, apa yang kakak lakukan, turunkan aku kak." Imel protes, "Aku bisa sendiri ke kamar mandinya."


"Gak usah protes, diem." tegas Qianu tidak bisa dibantah.


Qianu menurunkan Imel saat tiba dikamar mandi, "Apa mau dimandiin sekalian Mel."


Wajah Imel jadi blushing mendengar Qianu  menggodanya, "Apa sieh kak, sana keluar aku mau mandi."


"Ya udah mandi saja." Qianu masih tetap berdiri ditempatnya.


"Gimana bisa mandi kalau kakaknya masih didalam."


"Kenapa emangnya kalau aku masih didalam."


"Ihh kakak ini, akukan malu." Imel semakin merapatkan selimut ditubuhnya.


"Kenapa malu sieh, padahal aku sudah lihat semuanya lho." Qianu semakin senang menggoda Imel sambil menaik turunkan alisnya.


"Ihh kakak." rengek Imel, "Jangan goda aku lagi, nanti aku telat lho."


"Oke oke aku akan keluar." putus Qianu meninggalkan Imel.


****


Qianu berdiri didepan tubuh Satya yang terbaring tidak berdaya dibankar rumah sakit, laki-laki itu memasukkan tangannya dikantong celananya, dia menatap Satya dengan tatapan sinis.


"Halo om, bagaimana kabarmu." Qianu menyapa meskipun tentu saja Satya tidak bisa mendengar.


"Awalnya aku mengharapkan kamu pergi ke neraka, tapi kamu beruntung, gara-gara putrimu kamu masih ku izinkan untuk hidup lebih lama." 


Qianu heran dengan dirinya sendiri, meskipun sering marah-marah, tapi dia cendrung menuruti apa yang diinginkan oleh Imel, termasuk dengan membiarkan Satya bertahan hidup sampai sekarang, bahkan sekarang, bisa dibilang dia tidak mau jauh-jauh dari gadis itu dan sering memikirkannya kalau tengah berjauhan begini, dan Qianu tidak pernah menyangka kalau pada akhirnya pertahanannya runtuh juga, dia yang mewanti-wanti dirinya supaya jangan sampai menyentuh Imel melanggar janjinya sendiri, Qianu tahu kalau dia sudah jatuh cinta sama gadis itu, karna Qianu tidak akan mungkin menyentuh seorang wanita kalau dia tidak mencintainya, Qianu tahu, dia tidak seharusnya jatuh cinta mengingat Imel adalah putri dari laki-laki yang telah menghancurkan keluarganya, bahkan niatnya menikahi gadis itu adalah supaya Imel bisa merasakan apa yang telah papinya perbuat dimasa lalu pada keluarganya, tapi kini, dia jatuh di perangkapnya yang dia buat sendiri, dia jatuh cinta sama gadis yang tidak seharusnya dia cintai, dan dia berada diantara dilema sekarang.


"Entah apa yang dilakukan oleh putrimu itu Satya sampai membuatku jatuh cinta kepadanya dan membuatku tidak tega untuk menyakitinya."


"Seharunya sejak awal aku menghabisimu saja dan tidak pernah menikahinya." sekarang Qianu jadi menyesal sendiri dengan apa yang telah dia lakukan, akan susah baginya untuk melenyapkan perasaanya sama Imel.


****


Qianu : Apa kamu baik-baik saja, apa sudah tidak sakit lagi


Imel mengernyitkan dahinya saat membaca chat yang dikirim oleh Qianu, ini untuk pertamakalinya suaminya tersebut mengechatnya.


"Kak Qianu kenapa, tumben banget dia ngechat gue." Imel bertanya-tanya dalam hati, saat ini dia tengah berada dikelas dan mengikuti pelajaran dijam terakhir.


Imel : Iya kak, aku baik-baik saja


Imel menjawab dari bawah meja supaya tidak ketahuan guru


Qianu : Pulang sekolah, langsung pulang, gak usah keluyuran


"Dia kenapa sieh sebenarnya, emang aku pernah gitu keluyuran, akukan gak boleh ini itu sama dia." Imel makin heran dengan sikap Qianu.


Imel : Iya kak, mana berani aku kluyuran tanpa seizin kakak sieh.


Setelah itu Qianu tidak membalas pesannya lagi.

__ADS_1


*****


__ADS_2