MENIKAH KARNA DENDAM

MENIKAH KARNA DENDAM
MEMINTA IZIN


__ADS_3

"Dia ngomong sama siapa sieh, kayaknya serius amet." Imel bertanya dalam hati sesekali melirik ke arah Qianu yang masih menelpon.


Imel meletakkan teh yang dibawanya didepan Qianu mencoba untuk mencuri dengar pembicaraan Qianu, kepo dia.


"Gak bisa nez, aku gak bisa melakukan perjalanan jauh untuk saat ini karna perusahaan disini harus aku handle sendiri." Qianu berusaha memberi pengertian pada Agnes yang terus saja merengek memintanya untuk kembali kenegara yang telah membesarkan namanya.


"Dia bicara sama siapa sieh sebenarnya, apa pacarnya, atau istrinya." Imel hanya bisa menduga-duga, "Ehh dodol yang istrinyakan gue, tapi istri yang hanya dijadiin pembantu doank sieh, siapa tahu yang saat ini nelpon sama dia adalah istri benerannya, kalau iya dia punya istri dua, gue dan yang ditelpon, sumpah nieh cowok benar-benar maruk." 


"Ngapain kamu masih disini, keluar sana." Qianu mengusir sambil mengibas-ngibaskan tangannya seperti mengusir ayam.


"Hehe iya." Imel buru-buru ngacir, "Padahal dia ingin nguping, "Sumpah penasaran gue dia ngomong sama siapa."


****


Mungkin karna sudah menjadi kebiasaan, sehingga Imel tidak butuh alarm lagi untuk bangun, dia bangun sangat pagi, terlebih dahu yang dia lakukan adalah sholat shubuh, setelah itu dengan gesit dia berlari ke kamar Qianu untuk menyiapkan pakaian kerja laki-laki itu, dan saat Imel memasuki kamar tersebut, Qianu pasti sudah mandi, rupanya Qianu adalah penganut hidup sehat dan ingin awet muda, karna menurut penelitian, mandi antara jam empat dan jam lima pagi bagus untuk kesehatan dan bisa membuat awet muda.


"Sekali-kali kek dia masih tidur saat gue ke kamarnya, malas banget harus berhadapan dengan dia kayak gini." Imel membatin saat melihat rambut Qian yang tampak basah.


Imel sebenarnya tidak ingin menyapa, tapi ya sebagai sopan santun Imel memaksakan diri untuk menyapa.


"Pagi kak."


Qianu tidak merespon, dia malah melepaskan belitan handuk dipinggangnya dan tanpa rasa bersalah melemparkannya tepat diwajah Imel.


"Astaga, bisa tidak laki-laki kejam  ini memberikannya baik-baik, tidak perlu dilempar kayak gini segalakan." protes yang hanya bisa Imel layangkan dalam hati, karna kalau protes secara langsung tentukan tidak mungkin mengingat Qianu pasti akan marah kepadanya.


Imel menarik handuk tersebut dari kepalanya dan membawanya ke kamar mandi, dia kembali masuk untuk menyiapkan pakaian kerja untuk Qianu.


"Kakak mau sarapan apa." Imel bertanya setelah selesai mempersiapkan pakaian kerja untuk Qianu.


"Nasi goreng saja." meskipun Qianu lama tinggal diluar negeri, tapi makanan paforitnya tetap nasi goreng sebagai menu sarapannya.


"Oke, aku akan mempersiapkannya."


Sekarang Imel bisa dibilang agak mahir memasak, tidak mahir-mahir banget sieh, jelas tidak mungkin jika dibandingkan dengan koki profesional, tapi yah sedikit bisalah, dari yang awalnya tidak bisa memasak sama sekali, tapi karna keadaanlah yang membuatnya bisa.


Diawal-awal, bahkan Qianu melepeh nasi goreng buatan Imel, tapi Qianu tetap memaksa Imel untuk memasak, dan hingga sekarang, masakan Imel sudah bisa masuk ke perutnya meskipun masih ada komenan yang keluar dari mulutnya seperti rasanya asinlah, kebanyakan inilah, itulah dll, tapi toh Qianu menghabiskan nasi goreng buatan Imel juga pada akhirnya.


****


Imel langsung keluar begitu mobil yang dikendarai oleh Hugo berhenti didepan gerbang sekolah tanpa pamit terlebih dahulu kepada Qianu, gimana tidak, pak Salim satpam sekolah sudah akan menutup gerbang, kalau Imel tidak gercep alamat dia tidak akan bisa masuk, masalahnya pak Salim itu orangnya tidak menolerir keterlambatan sama sekali, jadi, mau dirayu dengan cara bagaimanapun, atau disogok dengan apapun dia sudah pasti tidak akan tergoda dan tidak akan membukakan gerbang bagi murid yang terlambat.


Imel menahan gerbang yang akan tertutup, "Etttt ett, tunggu donk pak, sik cantik mau masuk, hehe." Imel cengengesan untuk membuat pak Salim luluh.


Pak Salim hanya menghela nafas dan membiarkan Imel masuk.


"Baiklah, masuklah."


"Terimakasih pak Salim ganteng." pujinya sebelum berlalu dari hadapan pak Salim.


Imel berlari dan berlari dari gerbang sampai kelasnya yang jaraknya lumayan jauh, sampai saat tiba didepan pintu kelas, dia membungkukkan badannya, nafasnya ngos-ngosan parah, dia benar-benar kelelahan, tapi Imel patut bersyukur karna guru dimata pelajaran pertama belum masuk.


"Syukurlah pak Top top belum masuk." desahnya lega.


Mata pelajaran pertama adalah matematika yang dipegang oleh pak Taofik salah satu jajaran guru paling kiler di SMA PERTIWI, kalau Imel datang terlambat satu menit saja, sudah bisa dipastikan dia tidak akan diizinkan masuk atau diizinkan, tapi sebagai gantinya harus berdiri didepan kelas selama pelajaran pak Taofik berlangsung.


Imel berjalan menuju bangkunya, dibawah tatapan Juli dan Nuri.


"Kenapa lo pada natap gue gitu amet, gue segitu cantiknya ya." ujarnya berusaha bercanda.


Bukan itu penyebab Juli dan Nuri menatap sahabatnya itu, mereka heran saja, akhir-akhir ini Imel sering datang terlambat dan penampilannya jauh dari kata rapi, rambutnya yang dulu hitam berkilau dan biasanya digerai kini hanya cuma diikat asal-asalan dengan karet gelang, dan bisa dibilang, penampilan Imel berantakan dengan seraga kusut, tapi meskipun begitu, Imel tetap cantik dan bersinar sieh, dia tetap menjadi primadona di SMA PERTIWI.

__ADS_1


Baik Nuri dan Juli mendengus menanggapi ucapan Imel.


Setelah Imel mendudukkan bokongnya, Juli mengajukan pertanyaan, "Mell, lo kenapa sieh akhir-akhir ini sering banget telat, belum lagi penampilan lo bisa dibilang acak-acakan, kayak lo tiap pagi habis kerja rodi saja."


"Sebagai seorang istrikan gue gak sempat Jul merhatiin penampilan, pagi-pagi bangun ngurusin suami, masak untuk suami, ngelayanin suami sebelum pergi kerja." 


"Masak." ulang Nuri tidak percaya karna setahunya Imel sama sekali tidak bisa masak, bahkan disuruh masak air sekalipun, airnya pasti bakalan gosong, "Siapa yang mempercayai elo masak Mel, gak keracunan tuh suami lo saat makan masakan elo." 


"Sialan lo, lo meragukan gue lagi, nieh gue kasih tahu elo yan Nurdin, semenjak menikah gue jadi pinter masak."


"Ahh gak percaya gue."


"Terserah elolah kalau gak percaya."


"Kenapa harus elo yang masak sieh Mel, bukannya suami elo orang kaya ya, pasti ada pembantukan untuk ngurus rumah." sahut Juli.


"Ya ada, tapi suami gue hanya ingin makan masakan gue, sweet gak tuh." alibinya pura-pura tersenyum, padahalkan Imel itu sebenarnya capek banget.


"Itu sieh namanya bukan sweet tapi menjadikan elo sebagai pembantu Mel, suami elo beneran cinta sama lo gak." tanya Nuri meragukan.


"Ya cintalah." bohongnya, kebohongan yang dikatakan dengan penuh keyakinan.


"Cinta tapi dia membiarkan penampilan istrinya kucel begini, buat apa kaya kalau istrinya gak diperhatikan."


"Sudah ah Nur, gak usah komentarin rumah tangga Imel, yang pentingkan Imel bahagia, yakan Mel lo bahagia." 


"Iya." lisannya, dihatinya berkata, "Gue gak pernah dicintai sebenarnya, entah karna alasan apa dia menikahi gue."


****


"Ehh, kita jalan yuk, udah lama nieh gak qualiti time." saran Juli saat jam pelajaran terakhir berakhir alias saat bell pulang berdering nyaring yang membuat mahluk bernama murid menyambut bell tersebut dengan suka cita.


Nuri menimpali, "Gue setuju, ajakin Gebi tuh sekalian." 


Juli dan Nuri memutar lehernya dengan cepat ke arah Imel, akhir-akhir ini Imel selalu saja tidak bisa saat diajak kalau kumpul-kumpul, mereka mengerti sieh kalau Imel sudah menikah, tapi masak sekali-kali gak bisa sieh, masak sibuk terus ngurusin suaminya, padahalkan jam segini suaminya belum pulang kantor, jadi gak ada yang bisa diurus.


"Masak lo gak bisa ikut lagi sieh Mel, gak asyik banget, masak mentang-mentang udah nikah lo jadi gak punya waktu gini." protes Nuri.


"Iya Mel, lagian luangkan waktulah untuk merefres otak lo, jangan sibuk mulu, ntar lo bisa stres lagi, lokan juga butuh refresing."


"Hmm, gimana ya, masalahnya suami gue gak bakalan ngizinin."


"Emang lo udah ngasih tahu suami elo." 


"Ya belum sieh."


"Dihh gimana sieh lo, belum minta izin udah bilang gak bakalan diizinin, telpon gieh atau chat kek gitu."


"Baiklah, akan gue coba." ujar Imel ragu dan mengeluarkan ponselnya.


Imel menempelkan ponselnya ditelinganya, Imel menunggu beberapa saat sebelum Qianu menjawab.


"Kak Qianu aku…."


Nuri langsung merebut tuh ponsel dari tangan Imel sebelum Imel menyelsaikan kalimtatnya, Imel jelas panik donk, dia berusaha merebut ponselnya kembali dari tangan Nuri, "Ehh Nur apa yang lo…."


"Sstttt." Nuri menempelkan tangannya dijari telunjuknya, dan menempelkan ponsel milik Imel ditelinganya, "Diam ah."


"Halo kak Qianu." Nuri menyapa.


"Imelll." tanya Qian ragu saat mendengar suara Nuri.

__ADS_1


"Ini bukan Imel kakak, ini Nuri sahabatnya Imel." Nuri memperkenalkan diri.


"Imelnya mana." tanya Qianu dingin.


"Ada kak."


"Nurrr…." Imel terlihat panik, "Siniin ponsel gue." Imel merengek meminta ponselnya balik.


"Ssstt, diem deh, biar gue yang ngomong sama suami lo itu, lo tinggal terima beres saja." ujar Nuri dengan suara berbisik.


"Gini kak Qianu, aku cuma mau minta izin sama kak Qian, boleh tidak kalau kami ngajakin Imel jalan, soalnya aku lihat dia itu kayaknya capek dan terlihat tidak terurus gitu setelah menikah, dan aku dan Juli berinisiatif mengajak dia jalan gitu untuk merefres otak agar dia gak stress gitu." jelas Nuri panjang lebar berharap Qianu setuju.


"Tapi Imel harus…"


Lagi-lagi Nuri memotong ucapan orang tanpa membiarkan orang terlebih dulu menyelsaikan ucapannya, "Izinin ya kak ya, plisss, kami janji deh bakalan mulangin istri kakak dengan utuh tanpa kurang satu apapun, jadi tolong ya kak Qianu yang baik hati dan tidak sombong,  izinin kami pergi bersama dengan Imel." Nuri memohon.


Nuri bisa mendengar suara helaan nafas Qianu, "Baiklah tapi…" 


Qianu belum menyelsaikan ucapannya saat Nuri kembali memotong, "Jadi kakak setuju Imel pergi dengan kami, terimakasih banyak ya kak Qianu, kakak tidak perlu khawatir, kami janji akan mulangin Imel dengan utuh, dah kak Qianu." 


Padahal Qianu belum benar-benar menyetujui, Nuri main heboh dan mematikan sambungan secara sepihak.


"Mell, lo diizinin pergi bareng kita-kita oleh suami elo." beritahunya. 


"Serius lo." Imel tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh Nuri, "Segampang itu dia menyetujuinya."


Nuri mengangguk antusias, "Nuri gitu lho, siapapun bisa gue taklukin." Nuri membanggakan diri sambil menepuk dadanya.


"Emang iya kak Qianu mengizinkan semudah itu." Imel masih terlihat ragu.


"Ya udah deh yuk, mending kita samperin Gebi saja, ntar dia keburu pulang lagi." lisan Juli menarik tangan kedua sahabatnya untuk nyamperin sahabat mereka yang satunya yaitu Gebi.


****


Imel benar-benar bersenang-senang, dia menikmati kebersamaannya dengan ketiga sahabatnya, semenjak menikah dan dijadikan babu oleh Qianu, bisa dibilang, Imel tidak pernah pergi-pergi hanya sekedar untuk jalan-jalan untuk bersenang-senang.


Tiba-tiba Imel teringat sesuatu, "Mumpung gue diluar, sekalian saja gue nanti mampir dirumah sakit untuk menjenguk papi, gue kangen sama papi, gue ingin lihat papi, gue ingin tahu bagaimana keadaannya." 


Dan setelah pulang menghabiskan waktu bersama dengan sahabat-sahabatnya, dan kini mereka terpisah karna arah rumah mereka berbeda,  Imel langsung melaksanakan niatnya untuk menjenguk papinya dirumah sakit, saat dalam perjalanan, Imel mampir ditoko bunga terlebih dahulu untuk membeli bunga yang akan dia bawakan untuk papinya, sebuah buket bunga lili berwarna putih, bunga yang benar-benar cantik. 


Setibanya dirumah sakit, Imel langsung mengarahkan kakinya menuju kamar papinya yang ditempatkan diruang vip atas perintah Qianu, dan Imel bersyukur karna Qianu menempatkan papanya diruang tersebut karna keadaan papinya pasti akan lebih terpantau oleh team dokter.


Saat Imel memasuki kamar perawatan papinya, Imel melihat punggung seseorang tengah duduk disamping papinya, Imel mengenali laki-laki itu.


"Om Damar." tegurnya.


Yang dipanggil membalikkan tubuhnya dan menemukan Imel berdiri beberapa centi dari tempat duduknya, laki-laki itu tersenyum saat melihat putri kesayangan atasannya, atau kata yang lebih tepatnya adalah mantan atasannya, Damar berdiri dan menyongsong Imel, sudah beberapa minggu ini dia tidak pernah bertemu dengan Imel setelah Qian memutuskan untuk menikahi putri mantan atasannya yang saat ini masih terbaring koma dan tidak berdaya.


"Imell." Damar memeluk Imel, ada rasa bersalah dihatinya karna membiarkan putri kesayangan mantan atasannya itu dinikahi oleh musuh papinya, tapi toh tidak ada yang bisa dia lakukan untuk mencegah pernikahan tersebut mengingat Qianu sangat berkuasa, melawannya sama saja dengan bunuh diri. Dan sampai sekarang Imel tidak tahu pasti penyebab papinya seperti ini, cerita yang Imel ketahui adalah, kalau perusahaan papanya bangkrut dan hal itu memicu papanya mendapatkan serangan jantung mendadak, iya, hanya sebatas itulah yang Imel ketahui.


"Om kesini jengukin papi ya." tanya Imel saat Damar melepaskan pelukannya.


Damar mengangguk, "Nona apa kabarnya, apa nona baik-baik saja." tanyanya hanya sekedar bertanya mengingat Damar sudah tahu jawabannya, Imel tidak perlu menjelaskan keadaannya mengingat Damar sudah tahu dari penampilan Imel yang terlihat kucel, sangat berbeda dengan Imel yang dikenalnya dulu, gadis manja yang fashionable.


"Aku baik kok om."


"Nona berbohong lagi, saya tahu nona tidak baik-baik saja, pasti tuan Qianu memperlakukan nona dengan tidak baikkan, tapi saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu nona, maafkanlah ketidakberdayaan saya ini nona." ucapnya dalam hati, dia sedih dengan nasib dari anak yang selalu disayang dan dibangga-banggakan oleh mantan atasannya.


"Apa om selalu kesini untuk jengukin papi."


"Tidak nona, saya tidak bisa sering-sering kesini untuk menjenguk pak Satya mengingat kesibukan saya dikantor." 

__ADS_1


Damar masih bekerja dikantor Satya yang kini diambil alih oleh Qianu, dia diberi kesempatan oleh Qianu untuk tetap bekerja diperusahaan yang kini telah menjadi miliknya tersebut, Damar terpaksa menerimanya mengingat sulitnya mencari pekerjaan dan ada anak dan istri yang harus dia nafkahi.


***


__ADS_2