
Karna tidak ingin menceritakan yang sebenarnya kepada Agnes, Imel memilih berbohong dengan mengarang cerita bebas.
"Ya begitulah, kak Qianu menikahiku karna dia sangat mencintaiku, cinta pada pandangan pertama lebih tepatnya." ujarnya diakhirnya cerita.
Imel tidak tahu apa sepanjang dirinya yang mengarang bebas, hati Agnes rasanya terbakar, seperti ada tungku api yang dinyalakan dihatinya yang panasnya menggelegak.
"Sebucin itukah Qianu sama gadis bodoh ini, heran aku, kok bisa-bisanya Qianu mencintai gadis bodoh ini, aku fikir Qianu memiliki selera tinggi dalam memilih cewek, apalagi dalam mimilih pendamping hidup." batinnya sambil menahan amarah dalam hatinya.
"Kamu bukannya masih sekolah Mel, kenapa menikah, kenapa tidak menikmati masa mudamu." Agnes tidak menyembunyikan keketusan dalam nada suaranya saat menanyakan hal tersebut.
"Habisnya gimana donk ya, yang namanya juga jodoh gitu." jawab Imel senyum-senyum gaje yang membuat Agnes ingin menjambak rambut gadis yang telah merebut laki-laki yang dia cintai.
"Disini banyak lho cowok-cowok tampan, kamu kalau mau cari pacar pasti gak akan susah Nes, secara kamu itu cantik." puji Imel sembari menatap wajah putih mulus Agnes, meskipun Imel sendiri cantik, tapi dia begitu terpesona dengan kecantikan Agnes, karna Agnes tidak hanya cantik saja, tapi gadis itu juga terlihat smart, anggun dan juga berkelas.
"Iya memang gak susah, bahkan banyak laki-laki yang pada ngantri untuk mengambil hatiku, sayangnya laki-laki yang aku cintai malah menikahi gadis bodoh seperti kamu." ingin rasanya Agnes meneriakkan kata-kata tersebut didepan wajah Imel.
Karna Agnes tidak merespon kata-katanya barusan, Imel kembali berkata, "Agnes, mau gak aku kenalin dengan guru disekolahku, dia singgle lho, muda dan tampan pula." Imel malah mempromosikan Gurunya, belum sempat Agnes buka suara, Imel kembali ngoceh, "Namanya pak Firman, dia guru idola lho disekolahku, banyak teman-temanku yang ngefans sama pak Firman, jadi gimana, mau ya aku kenalin sama pak Firman."
"Sampai kiamatpun aku tidak mau sama laki-laki lain, aku hanya mencintai Qianu, dan kamu tahu gadis bodoh, aku akan merebutnya dari kamu dan aku akan membuat Qianu mencampakkanmu dan bahkan membencimu." ujarnya dalam hati, Agnes memang benar-benar berniat jahat.
"Gak terimakasih, aku bisa cari sendiri." tandasnya cepat.
"Ohh ya udah kalau kamu gak mau."
"Tapi nanti kalau kamu berubah fikiran, jangan malu untuk bilang sama aku ya." Imel masih saja berusaha membujuk Agnes.
"Aku tidak akan berubah fikiran Mel, jadi jangan buang-buang waktumu untuk membujukku."
"Ya siapa tahu aja gitu."
"Aduhhh." Imel tiba-tiba memegang perutnya.
"Kenapa." Agnes bertanya hanya sebagai sebuah formalitas doank, bukannya dia peduli.
"Aku lapar nieh, kita berhenti dulu ya untuk makan."
"Hmm, oke."
"Kamu mau makan apa, makanan Indonesia, Eropa, Jepang, China atau..."
"Terserah."
"Baiklah kalau begitu."
"Pak, cari tempat makan terdekat." pinta Imel pada salah satu pengawal Qianu yang mengantarkan mereka, biasanya sieh Hugo yang bertugas mengantarkan Imel kemana-mana kalau mau pergi, tapi kali ini Hugo tidak bisa karna dia tengah ada tugas lain.
"Baik nona."
Laki-laki itu menghentikan mobilnya disalah satu restoran yang ditunjuk oleh Imel, restoran yang menyajikan makanan-makanan khas Indonesia.
*****
Dan kini, Imel dan Agnes tengah menikmati makanan yang mereka pesan masing-masing, Imel sieh lahap makannya, tapi Agnes kayak tidak menikmati makanannya.
"Nyesal aku, kenapa aku tidak pilih restoran Eropa saja tadi."
Orang tua Agnes merupakan orang Indonesia asli, tapi mereka sudah lama tinggal diluar negeri saat Agnes masih berusia 3 tahun, apalagi mamanya juga tidak pernah memasak masakan Indonesia lagi dirumah mereka sehingga sangat wajar lidah Agnes tidak sesuai dengan makanan Indonesia.
"Aku mau ke toilet dulu."
"Baiklah."
Agnes berjalan meninggalkan Imel untuk mencari toilet.
Saat Imel tengan asyik-asyiknya menyantap makanannya, sebuah suara terdengar menyapanya.
"Hai."
Imel menghentikan suapannya dan menoleh ke arah sumber suara, Imel bisa melihat seorang laki-laki tampan tersenyum kepadanya, laki-laki itu adalah Altan, Altan terlihat senang melihat Imel, dia sering menelpon dan juga mengechat Imel, tapi gadis itu tidak pernah mengangkat panggilannya dan tidak pernah membalas satupun pesan-pesan yang dikirimnya.
"Kak Altan."
"Imell." gumam Altan, "Akhh gadis ini benar-benar cantik dan begitu menggemaskan, wajar kalau aku tidak bisa move on dari dia, wajahnya selalu terbayang-bayang tiap malam difikiranku."
"Aku boleh duduk Mel."
"Mmm." Imel agak ragu juga sieh, tapi dia tidak enak juga untuk menolak, pada akhirnya terpaksa dia mengiyakan, "Iya, duduklah kak Altan."
Altan mengambil tempat duduk berhadapan dengan Imel, "Kamu sendirian disini."
Imel menggeleng, "Sama teman kak."
"Pacar maksudmu."
"Bukan, teman kak, perempuan."
"Ohh, baguslah kalau begitu." Altan terlihat lega mendengar jawaban Imel.
Imel memperhatikan wajah Altan yang saat ini tepat didepannya, "Kak Altan cakep, cocok sama Agnes yang cantik, kenapa tidak aku comblangkan saja mereka ya." niat Imel dalam hati.
"Mell."
"Iya kak."
__ADS_1
"Aku tidak mengganggu kamukan."
"Tentu saja tidak kok kak."
"Baguslah kalau begitu."
"Kakak mau makan gak, aku pesanin ya."
"aku pesan sendiri saja." Altan melambaikan tangannya ke arah pelayan yang kemudian berjalan mendekatinya.
Setelah memesan makanan, Altan kembali mengarahkan perhatiannya sepenuhnya kepada Imel, sumpah dia senang banget bertemu dengan Imel.
"Mmm, kak Altan, bisa gak kak Altan jangan mandangin aku terus." Imel merasa risih juga dipandang terus.
"Aku hanya ingin menyimpan wajah kamu difikiran aku sebanyak-banyaknya."
"Ehh, maksudnya." Imel jadi bingung mendengar kata-kata Altan.
"Iya, aku ingin menyimpan wajahmu, karna sepertinya kita tidak akan bertemu lagi dalam waktu dekat."
"Maksud kak Altan apa, aku gak ngerti."
"Ya habisnya kamu itu cuek maksimal, ditelpon gak diangkat, dichat dicuekin dan cuma diread doank, padahal janjinya gak bakalan cuek dan akan membalas chat kalau aku ngechat, ehh tahunya." keluh Altan menyuarakan isi hatinya.
"Ehh itu..." Imel terdiam berusaha untuk mencari alasan, tidak mungkinkan dia dengan terang-terangan mengatakan kalau dia malas menjawab telpon dan juga membalas setiap chat yang dikirim oleh Altan, bisa sakit hati Altan, "Aku sibuk kak, banyak tugas sekolah soalnya." ujarnya memilih bohong.
"Sibuk banget ya sampai balas chat saja tidak sempat."
"Hmm, iya begitulah." jawab Imel merasa tidak enak hati.
Saat itu, seorang pelayan datang menghampiri meja yang mereka tempati untuk mengantarkan makanan pesanan Altan.
"Selamat menikmati mas." pelayan wanita itu tersenyum manis kepada Altan, terlihat banget kalau sik pelayan tertarik sama Altan.
"Terimakasih mbak."
Sebelum Altan menyantap makanannya, Altan berkata, "Mell, kita ini temankan." pertanyaan yang pernah dia tanyakan waktu itu.
"Iya."
"Jadi aku mohon, balaslah chatku, jangan sekedar diread doank."
"Baiklah." jawab Imel ragu.
"Awas ya kalau kamu bohong, kalau bohong aku sumpahin gak jomblo seumur hidup lho."
"Orang aku udah laku kok." batinnya, Imel jadi senyum-senyum sendiri.
"Kenapa senyum-senyum."
"Janji ya Mell kamu akan balas pesan aku."
"Iya." lisannya, "Tapi gak janji ya." suara hatinya.
"Apa setelah ini kita bisa bertemu lagi."
Imel tidak langsung menjawab, dia memikirkan untung ruginya, "Mmm, iya kapan-kapan ya kak." akhirnya kata-kata itu yang dia ucapkan.
Meskipun jawaban Imel tidak memberi kepastian, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Altan berharap kalau Imel mau menemuinya kembali.
****
"Ukhh sial, baru juga sehari rasanya aku sudah tidak tahan melihat gadis bodoh yang dinikahi oleh Qianu itu, panas banget hatiku sumpah." dumel Agnes mencuci tangannya diwastfel.
"Baiklah, tapi aku tidak boleh menyerah, aku harus segera memisahkan mereka dan menyingkarkan sik bodoh itu dari kehidupan Qianu, pokoknya hanya aku yang boleh bersama dengan Qianu." ujarnya berbicara didepan cermin.
Setelah memperbaiki riasan make upnya, Agnes keluar dari toilet dan kembali ke mejanya, namun dia langsung menghentikan langkahnya saat melihat Imel saat ini tidak sendiri.
"Siapa laki-laki yang bersama dengan gadis bodoh itu, mereka terlihat begitu akrab." Agnes bertanya-tanya.
Agnes bisa melihat Imel tertawa bersama dengan laki-laki itu, "Aha, aku tahu." Agnes menjentikkan jarinya sebelum mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya, dia mengeluarkan benda pipih multifungsi itu dari sana, mengaktifkan fitur kamera dan mengarahkannya kepada Imel.
Agnes mendapat foto yang bagus, foto yang tengah memperlihatkan Imel tengah tersenyum pada laki-laki yang ada dihadapannya itu, begitu juga sebaliknya, dan kalau dilihat secara kasat mata, Imel dan Altan tampak seperti sepasang kekasih yang tengah kasmaran.
Agnes tersenyum puas saat melihat hasil jepretannya, gak tanggung-tanggung, gadis itu lansung mengirimnya pada Qianu, "Aku yakin, Qianu pasti marah melihat kelakuan istri kecilnya berduaan dengan laki-laki lain." Agnes tersenyum licik, "Sepertinya aku harus menyiapkan kupingku untuk mendengar pertengakaran hebat sepulang dari sini."
Agnes bukannya kembali menemui Imel, tapi dia malah berjalan ke arah pintu keluar dan berniat untuk meninggalkan Imel.
****
Imel jadi khawatir dengan Agnes karna gadis itu tidak kunjung kembali juga, "Duhh, Agnes kok belum balik-balik juga ya, masak iya sieh dia kesasar." Imel celingak-celinguk mencoba untuk melihat apakah Agnes sudah datang apa belum.
"Kamu cari siapa Mel." Altan bertanya saat melihat Imel yang terlihat gelisah.
"Teman yang datang bersamaku itu lho kak, katanya dia ke toilet, tapi kok belum kembali juga sampai sekarang." khawatir Imel, "Apa jangan-jangan dia kesasar lagi tidak bisa menemukan toilet."
"Umur berapa sieh teman kamu itu."
"Sekitar dua puluh limaan tahun."
"Astaga, aku fikir anak TK, masak setua itu bisa kesasar sieh."
"Siapa tahukan."
__ADS_1
"Mmm, kak Altan, aku mau lihat dia dulu ke toilet ya."
"Aku temenin ya."
"Gak perlu, kak Altan disini saja."
"Ini bukan alasanmu untuk kaburkan Mel."
"Apaan sieh kak Altan, ya gak lah."
Imel kemudian meninggalkan Altan untuk mencari Agnes ditoilet.
Dan saat tiba ditoilet, gadis yang dia cari ternyata tidak ada disana.
"Kok Agnes gak ada disini, kemana dia, apa benar dugaanku kalau dia kesasar." Imel jadi panik, dia ingin menghubungi Agnes, sayangnya dia tidak punya nomer gadis itu.
Karna Agnes yang dicari tidak ada, Imel bergegas kembali ke mejanya, dia harus pulang sekarang, fikirnya mungkin Agnes sudah balik duluan.
"Kak Altan aku duluan ya." Imel mengambil tasnya dan menyampirkannya dipunggungnya dan langsung tancap gas meninggalkan Altan begitu saja.
"Mell." Altan menandaskan air putih digelasnya sebelum bergegas mengejar Imel.
Saat tiba diparkiran, Imel juga tidak menemukan sopir dan juga mobil yang mengantarkannya, "Apa Agnes sudah pulang duluan kali ya, sopir yang mengantarkan kami juga gak ada disini." batinnya.
"Tapi kenapa dia pulang duluan, kenapa gak ngasih tahu aku coba."
Altan datang menyusul Imel diparkiran, laki-laki itu kemudian bertanya kenapa Imel tiba-tiba pergi dengan tergesa-gesa.
"Mell, ada apaan sieh, kenapa kamu main pergi saja."
"Teman aku kak, dia gak ada ditoilet, dan saat aku cek, mobil dan sopir yang mengantarkan kami juga gak ada." beritahu Imel.
"Teman kamu itu sudah pulang duluan kali Mel."
"Hmm, sepertinya sieh."
"Sebaiknya aku juga pulang deh, aku mau lihat apakah dia pulang beneran atau gak."
Saat Imel akan membalikkan tubuhnya untuk ke jalan raya, Altan menarik lengan Imel yang membuat tubuh Imel kembali berbalik menghadapnya, "Kamu mau naik apa."
"Taksi."
"Aku antar ya."
Karna dalam keadaan panik sehingga Imel mengiyakan begitu saja tawaran Altan, "Baiklah kalau kak Altan tidak keberatan."
"Tentu saja aku tidak keberatan."
"Ayok, itu mobilku." Altan menunjuk mobil berwarna hitam pekat.
Imel mengikuti Altan ke arah mobil yang dia tunjuk.
****
Saat dalam perjalanan, Imel menerima pesan masuk diponselnya, ternyata pesan itu dikirim oleh Qianu.
Qianu : Kamu dimana sekarang
Imel : Dalam perjalanan pulang kak
Qianu kemudian mengirim foto yang dikirim oleh Agnes kepadanya dengan caption.
Itu apa maksudnya, kenapa bisa kamu bersama dengan laki-laki itu
"Ya Tuhan." Imel menepuk keningnya pelan, heran deh dia siapa yang tidak punya kerjaan memfoto dirinya dengan Altan, "Siapa sieh orang iseng yang mengambil fotoku dengan Altan, mana nieh foto aku dan Altan terlihat seperti sepasang kekasih lagi saling melempar senyum satu sama lain, kak Qianukan bisa salah paham ini."
Imel : Itu tidak seperti yang kakak bayangkan kok, aku bisa menjelaskannya.
Qianu tidak membalas, dan hal itu membuat Imel mendesah berat.
Altan reflek menoleh saat mendengar suara ******* Imel, dia bisa melihat wajah Imel terlihat tegang.
"Mell apa kamu tidak apa-apa."
"Aku gak apa-apa kok." bohongnya.
"Kenapa wajah kamu terlihat tegang begitu."
"Ahh aku beneran tidak apa-apa kok." masih kukuh dia berbohong yang membuat Altan tidak mendesaknya lagi untuk menjawab.
Imel kembali mengirim pesan kepada Qianu.
Imel : Dia kak Altan kak, kami tidak sengaja gitu bertemu terus kami ngobrol
Imel berharap suaminya itu tidak marah dan mau mengerti, tapi ternyata, Qianu sama sekali tidak membalas pesannya.
"Apa dia marah benaran sama aku."
Imel : Kak Qianu, jangan marah ya
Imel : Balas donk kak, jangan kayak gini
Namun ternyata Qianu tidak kunjung membalas pesannya juga, hal tersebut membuat Imel frustasi.
__ADS_1
*****