
Imel buru-buru bangun dari posisi berbaringnya, "Maafkan aku kak Qianu, maafkan aku, aku benar tidak bermaksud…."
Qianu menarik Imel kedalam pelukannya, laki-laki itu menyurukkan wajahnya dileher Imel yang membuat Imel merasa geli tapi dia tidak berani protes.
"Tidurlah, ini masih sangat pagi." bisik Qianu dengan suara seraknya tepat ditelinga Imel yang membuat bulu kuduk Imel seketika merinding.
Entahlah, Qianu tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya, yang dia tahu adalah, saat dia memeluk Imel, laki-laki itu bisa tidur dengan nyaman dan tidurnyapun nyenyak, selama ini Qianu sering mengalami gangguan saat tidur, dia harus minum pil penenang untuk bisa memejamkan matanya, Qianu tahu, apa yang terjadi pada dirinya disebabkan karna apa yang dialaminya saat masih remaja dulu, bayangan-bayangan masa lalu yang masih tidak bisa dia hilangkan dari fikirannya sampai saat ini.
"Tapi aku…"
Cup
Qianu mendaratkan kecupan dibibir Imel dan itu berhasil membuat Imel menutup bibirnya.
"Tidurlah, dan jangan berisik, aku ngantuk dan butuh ketenangan."
Imel reflek mengangguk, dia mengarahkan tangannya untuk menyentuh bibirnya yang dikecup oleh Qianu, itu merupakan ciuman pertamanya, meskipun terkenal sering gonta-ganti pacar, tapi dia sama sekali tidak pernah yang namanya sampai cium-ciuman, paling jauh hanya sebatas pegangan tangan doank.
"Kak Qianu menciumku, apa artinya ini, apa dia mencintaiku." batin Imel penuh harap, "Tapi tidak mungkin, dia tidak mungkin mencintaiku, selama inikan dia jahat sama aku, tapi kenapa dia tadi menciumku." Imel jadi bingung sendiri, "Ahh sudahlah, mau dia mencintaiku kek, gak kek, aku gak peduli." ujarnya pada akhirnya, dia memilih kembali memejamkan matanya dan terlelap bersama Qianu.
****
Kenyamanan yang diberikan oleh pelukan Imel membuat Qianu bangun kesiangan, sinar matahari yang menembus memasuki gorden membuat Qianu silau dan memicingkan mata, dia reflek mengangkat tangannya untuk menangkal sinar tersebut ke retinanya.
Qianu menoleh kesamping dimana gadis yang berstatus sebagai istrinya masih tertidur lelap dan melingkarkan tangannya dipinggang Qianu.
"Sial, aku kesiangan gara-gara bocah kecil ini." umpatnya, namun dia tidak benar-benar kesal sieh, bagaimana bisa kesal kalau gara-gara Imellah tidurnya jadi lelap.
"Heii, bangun." Qianu mencoba untuk membangunkan Imel, tapi gadis itu sama sekali tidak bergerak, muncul ide jail dibenak Qianu, dia menempelkan dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus dipipi putih mulus Imel, apa yang dilakukan oleh Qianu membuat Imel merasa geli, dia membuka matanya perlahan, mata cantik itu mengerjap-ngerjap silau karna sinar matahari yang menembus gorden, dan mata indah sayu itu membuat Qianu terpesona, memang sejak awal, mata itulah yang membuatnya terpesona, namun dengan susah payah dia membuang rasa sukanya mengingat Imel adalah putri dari laki-laki yang telah menghancurkan keluarganya, kini, rasanya Qianu tidak sanggup untuk menolak pesona mata polos Imel yang seperti kucing yang minta makan.
"Kenapa dia terlihat begitu menarik seperti ini sieh saat bangun tidur, aku jadi ingin memeluknya sepanjang hari." batinnya tidak lepas menatap Imel.
"Hehh, bangun tukang tidur."
Menyadari dimana saat ini dirinya berada, Imel menggeser tubuhnya menjauh, dia takut setelah kesadaran Qianu penuh laki-laki itu akan marah padanya, "Maafkan aku kak, aku…" Imel menelan ludahnya, "Sebaiknya aku menyiapkan sarapan untuk kakak." Imel bangun dan buru-buru keluar dari kamar Qianu.
"Dasar bocah." ujar Qianu yang menatap kepergian Imel.
Qianu manarik tubuhnya terduduk diranjang, badannya terasa segar karna semalam dia tidur dengan nyenyak, ini untuk pertama kalinya dia bangun dengan tubuh segar tanpa pengaruh obat tidur.
"Apa karna gadis itu yang membuatku jadi tidur nyenyak seperti semalam." tanyanya pada diri sendiri.
****
Hugo menatap Imel heran saat dia berpapasan dengan Imel ditangga saat dirinya akan menuju kamar tuannya, Hugo ingin memastikan apakah sang tuan baik-baik saja mengingat tuannya masih belum bangun juga mengingat sudah siang, biasanya Qianu tidak pernah bangun kesiangan, ya ini memang hari minggu, sang tuan memang libur, tapi setahu Hugo, Qianu tidak pernah bangun kesiangan, tuannya itu selalu bangun pagi-pagi sekali.
"Pagi Hugo." sapa Imel saat berpasasan dengan Hugo yang terus menatapnya.
Hugo bukannya menjawab sapaan selamat pagi yang dilontarkan oleh Imel, dia malah menyuarakan pertanyaannya dalam bentuk lisan.
"Nona dari kamar tuan, apa nona membawakan tuan sarapan." tanya Hugo tidak yakin mengingat Imel tidak mengenakan pakaian pelayan yang biasa dia gunakan.
Imel menggeleng, agak ragu dia menjawab pertanyaan Hugo, "Aku…aku tidur dikamar kak Qianu semalam."
"Apa." tentu saja apa yang dikatakan oleh Imel membuat Hugo terkejut, pasalnya yang Hugo tahu tuannya itu tidak pernah membiarkan wanita manapun tidur dikamarnya, bahkan Agnes sekalipun yang paling dekat dengan Qianu tidak pernah diizinkan oleh Qianu masuk ke kamarnya apalagi sampai tidur dikamar tuannya itu.
"Maksud nona, nona telah melakukan…" Hugo menyatukan jari-jari tangannya sebagai kode untuk sebuah adegan dewasa.
"Tidak seperti itu Hugo, aku hanya tidur biasa, ahh kamu itu fikirannya ngeres." Imel membantah praduga Hugo.
"Sudahlah Hugo, aku mau menyiapkan sarapan dulu untuk kak Qianu." Imel kembali melanjutkan perjalanannya meninggalkan Hugo dengan kebingungannya.
"Nona Imel tidur dikamar tuan, kenapa ini bisa terjadi." pertanyaan yang masih mengganjal dibenaknya, namun tidak mungkin untuk bertanya langsung kepada tuannya karna sudah pasti dia akan dimarahi habis-habisan.
Hugo yang tadi ingin memastikan apakah sang tuan baik-baik saja kini membelokkan kakinya kembali turun kebawah, dia tidak jadi ke kamar tuannya karna dia yakin tuannya baik-baik saja saat ini.
****
Saat ini Qianu berada ditaman belakang rumahnya yang luas, laki-laki itu saat memiliki waktu luang selalu menggunakan waktunya untuk latihan menembak.
Dorr
Dorr
Dorr
Tiga peluru yang dia tembakkan pada sasaran tidak pernah meleset dari area yang dia incar, Qianu tersenyum puas dengan kemampuannya.
Hugo bertepuk tangan, "Tuan memang benar-benar hebat."
Sementara Imel yang berada diradius beberapa meter dari Qianu menatap laki-laki itu ngeri, dia sampai menghentikan aktifitasnya menyiram tanamannya sesaat hanya untuk melihat Qianu latihan menembak.
"Ya Tuhan, aku lupa betapa mengerikannya laki-laki itu, aku dengan gampangnya menyodorkan diriku dan tidur bersamanya semalam, kalau saat tidur tiba-tiba aku ditembak gimana." Imel jadi bergidik ngeri, apalagi saat mengingat waktu dirinya harus berdiri dan meletakkan buah apel dikepalanya yang menjadi sasaran Qianu, untungnya waktu itu tembakan Qianu tepat sasaran, kalau tidak, saat ini mungkin dia sudah berada diakhirat.
"Panggil gadis itu kemari." Qianu memberi perintah pada Hugo, dia tahu Imel diem-diem sejak tadi terus memperhatikannya.
Meskipun tidak menyebut nama, Hugo tahu siapa yang dimaksud oleh tuannya dengan sebutan gadis itu.
"Baik tuan." Hugo berjalan mendekati Imel.
Imel yang sejak tadi memperhatikan Qianu diam-diam kembali melakukan aktifitasnya saat melihat Hugo mendekatinya.
__ADS_1
"Hugo mau ngapain kemari."
"Nona." tegur Hugo saat melihat Imel sibuk menyiram bunga-bunga yang ada ditaman bunga tersebut.
Imel bukannya sibuk, dia hanya pura-pura sibuk, Imel menoleh ke arah Hugo, "Ada apa Hugo."
"Tuan meminta nona untuk menemuinya."
"Ada apa Hugo, aku tidak melakukan kesalahankan." setiap dipanggil oleh Qianu, Imel selalu berfikir kalau dia tengah melakukan kesalahan.
"Saya kurang tahu nona, sebaiknya temui tuan sekarang sebelum dia marah nona, nona tahukan kalau tuan memiliki kesabaran setipis tisu."
Imel mengangguk, dia bertanya dengan takut-takut apa gerangan yang menyebabkan dirinya dipanggil karna seingatnya dia tidak melakukan kesalahan.
"Apa melihat kak Qianu latihan menembak termasuk kesalahan Hugo." Imel bertanya, hanya hal itu yang bisa dia ingat, dan selebihnya Imel merasa tidak melakukan kesalahan sama sekali.
"Tentu saja tidak nona."
"Terus kenapa Qianu memanggilku, apa gara-gara hal semalam." Imel masih terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri apa kesalahannya sampai Qianu memanggilnya.
Begitu tiba didepan Qianu, Hugo kembali pada posisinya yaitu berdiri disamping Qianu, sementara Imel, dia menunduk dan berusaha untuk mengetahui apa kesalahan yang telah dia lalukan dengan mengajukan pertanyaan.
"Kak Qianu, kenapa kakak memanggilku."
"Duduk." perintah Qianu tidak membalas pertanyaan Imel.
Imel dengan patuh duduk dikursi yang berhadapan dengan Qianu.
"Aku tidak suka melihat orang yang aku ajak bicara tidak melihat ke arahku." kata-kata yang tertanam dibenak Imel tersebut membuatnya reflek mendongak, seketika matanya langsung bertemu dengan mata Qianu, wajahnya begitu menggambarkan rasa penasarannya tentang penyebab Qianu memanggilnya, biasanyakan kalau Qianu memanggilnya itu karna dia melakukan kesalahan atau karna dia akan disuruh-suruh, dan Imel untuk saat ini lebih berharapnya Qianu menyuruhnya melakukan ini itu daripada memarahinya.
Namun ternyata, apa yang difikirkan oleh Imel tidak dua-duanya, Qianu tidak memanggilnya untuk dimarahi atau menyuruhnya untuk mengambil ini itu, Qianu hanya mendorong sebuah kartu dihadapan Imel.
Meskipun bodoh, tapi masalah uang dan apapun yang berkaitan dengan uang tentu saja Imel tahu, termasuk kartu tipis yang disodorkan oleh Qianu dihadapanya, sebuah kartu yang bernama kartu kredit, karna dulu saat masih kaya, Imel sangat sering memegang benda tersebut, bahkan dia memiliki lima kartu seperti itu saking royalnya sang papa kepada dirinya.
Imel tentu saja bingung kenapa tiba-tiba tanpa ada angin apalagi hujan badai Qianu tiba-tiba memberikannya sebuah kartu, yang ada difikiran Imel saat ini adalah, dia diminta untuk belanja bulanan oleh Qianu mumpung dia lagi libur.
Karna Imel tidak kunjung mengambil kartu yang dia sodorkan, Qianu berkata, "Itu kartu kredit, ambillah, gunakan kartu itu untuk memenuhi kebutuhanmu."
Imel dengan cepat menoleh ke arah Qianu, sumpah dia tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Qianu barusan, "Maksud kakak apa."
"Temanmu bilang, betapa kucelnya penampilanmu." Qianu mengingat apa yang dikatakan oleh Nuri saat ditelpon kemarin, "Aku tidak mau teman-temanmu menyangka aku sebegitu pelitnya sampai tidak bisa memberikan istriku uang untuk merawat dirinya."
"Ohhh." Imel meraih kartu kredit tersebut, ada rasa senang dihatinya karna bisa kembali memegang benda tersebut, "Aku fikir dia akan memarahiku atau menghukumku, ehh tahunya dia memberiku sebuah kejutan." Imel memandang kartu tersebut dengan takjub.
"Terimakasih kak Qianu."
"Hmmm."
Qianu langsung menoleh ke arah Imel mendengar apa yang disampaikan oleh pengawalnya.
Imel menunduk ketakutan, dia memang memberitahukan alamat rumah Qianu kepada para sahabatnya, tapi dia tidak pernah mengundang mereka untuk datang.
"Duhh, mereka ngapain sieh kesini, kalau kak Qian marah bagaimana." Imel jadi panik sendiri apalagi Qian kini menatapnya.
"Aku…" suara Imel tercekat, "Aku tidak pernah mengundang mereka kemari kok kak, sumpah." Imel menjelaskan berharap Qianu tidak memarahinya.
Qianu kembali menoleh kepada pengawal yang memberitahukan informasi tersebut, "Kenapa kamu tidak membiarkan mereka masuk, teman Imel tentu saja diterima dirumah ini."
"Ehhh." kaget Imel karna tidak menyangka saat mendengar respon Qianu tersebut, dia fikir Qianu akan marah tadi.
"Apalagi yang kamu tunggu, suruh mereka masuk cepat." bentak Qianu saat melihat pengawalnya itu masih betah berdiri ditempatnya.
"Ba..baik tuan." sik pengawal setengah berlari menuju gerbang untuk melaksanakan perintah sang tuan.
"Kak aku…."
"Sebaiknya kamu ganti pakaian kamu Imel, aku tidak ingin teman-temanmu melihat kamu dalam pakaian pelayan seperti itu."
"Baik kak." Imel berlalu dari hadapan Qianu untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Qianu.
"Dan kamu Hugo."
"Ya tuan."
"Perintahkan semua pelayan untuk menjamu teman-teman Imel dengan baik, perlakukan mereka bak ratu dirumahku."
"Baik tuan." Hugo juga berlalu untuk memberi intruksi kepada para pelayan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Qianu.
****
Juli, Nuri dan Gebi agak takut juga sieh saat melihat beberapa laki-laki berpakaian serba hitam yang mengiringi langkah mereka saat memasuki gerbang.
"Ini beneran rumah suaminya Imel gak sieh." Juli berbisik.
"Iya kayaknya, Imelkan kemarin ngasih tahu alamatnya." Gebi menjawab dengan berbisik pula.
"Gue takut, jangan-jangan kita salah lagi, rumah ini lebih mirip rumah mafia, dijaga oleh laki-laki berpakain serba hitam dengan badan-badan gede-gede begini, kalau rumah orang normal ya gak kayak gini, palingan cuma dijaga oleh satpam doank." Nuri menyuarakan kekhawatirannya.
Mendengar ucapan Nuri membuat Gebi dan Juli merinding ketakutan juga, "Lo benar juga Nur, gue mulai gak yakin deh, atau kemarin kita yang salah dengar kali ya."
"Tapi tadi saat kita tanya apakah ini rumahnya Imel apa gak, sik pengawal berambut cepak itu menjawab 'iya'."
__ADS_1
"Mungkin dia melakukannya untuk menjebak kita, bagaimana kalau mereka mafia penculik organ tubuh, ihhh, ngeri banget dahhh." Nuri semakin menakuti-nakuti kedua sahabatnya saja.
"Duhh Nurdinn, jangan semakin nakut-nakutin deh lo."
"Buat apa gue nakut-nakutin elo panjulll, gue juga takut banget ini."
"Apa kita kabur aja kali ya mumpung masih diluar gini, nanti kalau sudah masuk ke markasnya akan susah untuk kabur." Nuri memberi saran.
"Gimana mau kabur Nurdinnn, kita dikawal depan belakang begini."
Setelah dua menit berjalan, mereka tiba didepan rumah utama milik Qianu, mereka menatap takjub bangunan yang berdiri kokoh didepan mereka sehingga untuk sementara kekhawatiran mereka tentang mafia penjual organ tubuh terlupakan.
Pintu rumah besar itu terbuka, diambang pintu Imel terlihat berdiri dengan senyum lebar menyambut kedatangan ketiga sahabatnya.
Melihat Imel, legalah ketiga gadis remaja tersebut.
"Syukurlah, ini beneran rumahnya Imel." desah Gebi lega.
"Selamat dah jantungku dkk." Nuri mengelus dadanya.
Imel berlari menyongsong ketiga sahabatnya, tadi dia sempat takut kalau Qianu akan marah dengan kedatangan sahabat-sahabatnya itu, namun setelah Qianu memberikan izinnya, Imel begitu antusias menyambut kedatangan ketiga sahabatnya tersebut.
Mereka saling berpelukan satu sama lain.
"Busettt Mell, rumah lo sumpah lebih gede ketimbang rumah lo yang dulu." komen Nuri.
"Iya, kan gue sudah bilang sama lo pada kalau suami gue orang kaya."
"Iya sieh lo pernah bilang, tapi gue fikir gak sekaya ini Mel." takjub Juli.
Gebi menimpali, "Imel mah emang benar-benar beruntung sejak dulu, papinya orang kaya, dan sekarang dia dapat suami orang kaya pula."
"Lo juga beruntung kali Geboyy, orang tua lo jugakan orang kaya."
"Tapi lebih kaya elolah Mel."
"Ehh, papi guekan sekarang bangkrut, jadi gak kaya lagikan gue."
"Tapi lo dapat lebihkan Mel, lo dapat suami yang lebih kaya."
"Elahh lo berdua, kenapa sieh malah membahas masalah kaya begini, Mel, lo gak mau ngajakin kami masuk nieh, capek tahu berdiri terus." Nuri mengintrupsi.
"Duhh jadi lupa, ayok ahh masuk."
Mereka mengikuti Imel masuk kerumah besar tersebut, saat didalam, mereka bertambah terkagum-kagum mengingat begitu mewahnya interior rumah tersebut dan barang-barang mahal yang menjadi pemanis disetiap ruangan yang mereka lewati.
Imel membawa ketiga sahabatnya ke ruang tamu.
"Ayok duduk."
Nuri memantul-mantulkan bokongnya disofa empuk tersebut, dengan noraknya dia berkata, "Empuk banget sumpah, bokong gue sampai memantul nieh."
"Nurr, jangan kampungan gitu bisa gak sieh, jangan bikin malu deh lo." Gebi memperingatkan.
Reflek Gebi menghentikan apa yang dia lakukan.
"Rumah lo benar-benar besar dan nyaman ya Mel." puji Juli.
"Iya." jawaban yang diberikannya dilisan, jawabnya dihati, "Buat apa rumah besar dan mewah seperti ini kalau gak bahagia."
Beberapa pelayan datang membawa minuman dingin dan cemilan untuk mereka, setelah meletakkan apa yang mereka bawa, para pelayan itu kembali ke belakang, namun sebelum itu, salah satu dari mereka berkata, "Silahkan dinikmati nona, kalau nona butuh apa-apa panggil saja kami."
"Beres." ucap Nuri.
"Wiehhh senangnya, kita dilayanin bak ratu ya disini, pasti lo bahagia ya Mel."
"Gak, tentu saja gue gak bahagia, meskipun berstatus sebagai istri, tapi gue diperlakukan seperti pelayan disini" jawab Imel dalam hati, Imel hanya menanggapi pertanyaan Juli tersebut dengan senyum tipis.
"Ayok lo pada makan, kenapa malah dianggurin."
"Pasti akan kami makan Mel, tenang saja."
Karna kehausan, hal pertama yang dijangkau oleh tangan ketiga gadis remaja itu adalah orange jus.
"Uhh leganya tenggorokan gue, emang ya kalau orang kaya, jeruknya pakai jeruk impor, manis banget rasanya."
"Oh ya Mel, suami lo mana, penasaran gue ingin melihat doi." tanya Gebi yang penasaran ingin melihat Qianu.
"Kak Qianu…dia ada kok."
"Tahu gak Mel, kami kesini tuh karna penasaran ingin melihat suami lo, kak Qianu."
"Heh." desis Imel tidak habis fikir, ternyata sahabat-sahabatnya datang hanya untuk melihat suaminya doank toh, bukan untuk melihatnya, "Ada-ada saja memang mereka ini." mau heran, tapi itu sahabat-sahabatnya.
"Nuri katanya ingin tahu Mel, seganteng apa sieh suami lo itu, secarakan dari suara saja suaranya itu macho banget gitu lho."
"Jangan mengkambinghitamkan gue donk panjull, lokan juga penasaran parahkan ingin melihat suaminya Imel."
"Heh kampret, stop deh, jangan bikin malu dirumah orang bisakan lo pada." intrupsi Gebi.
****
__ADS_1