MENIKAH KARNA DENDAM

MENIKAH KARNA DENDAM
PERINGATAN HUGO


__ADS_3

Agnes terlihat membuka kap mobil untuk mencari tahu penyebab mobil itu mogok, pertanyaannya adalah, apakah Agnes mengerti mesin, tentu saja tidak, namun ya dia membuka kap mobil tersebut hanya sekedar iseng doank sieh atau kata lebih tepatnya adalah hanya sekedar formalitas doank.


Melihat Agnes, Imel juga ikutan turun dan berjalan mendekati Agnes dan bertanya, "Apanya yang rusak."


"Aku juga gak tahu." jawab Agnes tanpa menoleh kearah Imel.


"Disini panas lho Mel, sana mending kamu duduk didalam mobil saja."


"Ahh gak usah, aku disini saja nemenin kamu."


Gak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat didekat mereka yang membuat Agnes dan juga Imel menoleh ke arah mobil.


"Akhirnya yang ditunggu datang juga." batin Agnes sumringah saat melihat Altan keluar dari mobil tersebut, Agnes dan Altan memang sengaja merencanakan akan hal ini, dia sengaja mengajak Imel jalan-jalan, dan membuat mobil mogok supaya nanti Altan bisa menawarkan tumpangan.


"Kak Altan." ujar Imel saat melihat yang turun dari mobil yang berhenti itu adalah Altan.


"Siapa laki-laki itu Imel, apa kamu kenal." ujar Agnes pura-pura tidak kenal sama Altan.


"Dia adalah kak Altan."


"Mell, kamu ngapain disini." Altan bertanya saat dia sudah berdiri didepan Imel.


"Ini kak Altan, mobil kami mogok."


"Aduhh kasihan sekali, mana aku gak bisa mesin lagi untuk bantuin."


"Gak perlu." jawab Agnes, "Aku sudah telpon bengkel kok tadi."


"Bagulah."


"Atau gini aja, mau aku kasih tumpangan gak, kalian mau kemana memangnya."


"Rencananya kami mau jalan-jalan sieh kak."


"Jalan-jalan ya, aku bisa kok ngasih tumpangan dan nganter kalian sampai tujuan."


"Gak usah kak, kakak gak perlu repot-repot." tolak Imel.


"Oh ya kak." Imel baru ingat kalau dia belum memperkenalkan Agnes, "Ini Agnes, Agnes ini kak Altan."


Dua orang yang sudah saling kenal itu namun pura-pura tidak kenal itu saling bersalaman satu sama lain, mereka benar-benar pandai berakting.


"Jadi kalian berdua mau jalan nieh ceritanya tapi mobilnya mogok."


Imel mengangguk.


"Ya udah kalau begitu, aku antar." Altan kembali menawarkan bantuannya.


"Ehh, gak usah kak, gak usah." tolak Imel cepat, alasan utamanya menolak tawaran tersebut tentu saja karna Qianu, Imel yakin Qianu pasti akan marah-marah kalau mengetahui kalau dia pergi diantar oleh Altan meskipun mereka perginya bertiga, laki-laki itukan tidak suka saat Nuri dekat-dekat dengan laki-laki lain.


"Udahlah Mel sana ikut sama Altan saja."


"Gak, aku gak mau, ntar kak Qianu marah lagi sama aku."


"Gak akan Mell, lagiankan mobil kita mogok gini."


"Kita naik taksi saja Nes."


"Sekarang menggunakan kendaraan umum banyak orang berniat jahatnya Mel, kalau dilecehkan gimana."


Mendengar kata-kata Agnes tersebut membuat Imel bergidik ngeri.


"Sana lebih baik pergi sama Altan."


"Lho, kok cuma aku, kak Agnes gimana."


"Ya aku nungguin pihak bengkellah Mell ngambil nieh mobil, aku takutnya kalau ditinggalin begitu saja ntar dicuri orang."


"Ya udah aku juga ikutan disini saja sama kamu."


"Janganlah Mell, disini tuh panasnya luar biasa, kamu lebih baik jalan-jalan gieh, setelah seharian belajar dan belajar, kamukan butuh refresing juga."


"Kan kamu yang tadinya mau jalan-jalan Nes."


"Ya tadinya sieh, tapikan mobilnya mogok, jadi mana bisa jalan, ya aku nungguin pihak bengkelkan disini."


"Kamu mending sana dianterin sama Altan saja Mel."


Jelas Imel tidak mau, dia takut Qianu akan marah besar kepadanya, kemarin saja saat melihat fotonya berdua dengan Altan, Qianu sampai mengurungnya digudang, bagaimana kalau melihat dirinya diantarkan oleh Altan, pasti Qianu akan bertambah marah dan hukuman yang diterima pasti lebih berat daripada dihukum digudang.


"Aku gak mau." kukuhnya.


"Sik bodoh sialan ini, kenapa sieh dia bikin aku darah tinggi saja." umpat Agnes dalam hati karna ternyata Imel sangat susah untuk dibujuk.


"Aku telpon Hugo saja untuk jemput." Imel mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi nomer sopir suaminya itu.


Melihat hal tersebut membuat Agnes jadi panik, pasalnya dia berbohong sama Imel tentang mendapat izin kalau dirinya sudah mendapat izin dari Qianu padahal tidak.


"Ehh Mel, jangan telpon Hugo, tadi Hugo bilang kalau saat ini dia tengah menemani Qianu pergi untuk meninjau sebuah proyek, jadi untuk saat ini Hugo tidak bisa kamu ganggu gugat."


"Begitu ya."


"Mending sana deh kalau mau jalan-jalan dianterin sama Altan ya."


"Aku gak mau jalan-jalan, langsung pulang saja."

__ADS_1


"Ya udah, pulangnya dianterin sama Altan ya Imel." Agnes sangat berusaha menyabar-nyabarkan dirinya untuk membujuk Imel, padahal mah dia sebenarnya udah mau nampol aja dah tuh.


"Kamu jugakan Nes."


"Gak bisa Mel, kan aku harus nungguin pihak bengkel untuk ngambil nieh mobil, takutnya ntar kalau ditinggal nieh mobil bisa ilang lho, sayang lho kalau ilang, mobi mahal ini, bisa dimarahin sama Qianu kalau ilang."


"Hmmm."


"Sana lebih baik dianterin sama Altan ya."


Pada akhirnya setelah dibujuk dengan sedemikian rupa, akhirnya Imel mau juga diantar oleh Altan.


*****


"Kenapa tidak pernah bilang." ujar Altan tidak jelas saat dia sudah melajukan mobil dijalan raya bersama puluhan kendaraan lainnya.


"Bilang apa kak." bingung Imel.


"Bilang kalau kamu sudah menikah."


"Oh itu, kakak tahu darimana."


"Gak penting aku tahunya darimana, aku hanya mau bertanya, apa kamu bahagia dengan pernikahanmu dengan Qianu."


Imel bingung menjawabnya, dibilang bahagia, gak, dibilang menderita juga gak, kalau awal-awal menikah sieh iya, tapi sekarang fifty-fifty deh kayaknya, namun karna tidak mungkin memberikan jawaban seperti itu, Imel memberikan jawaban bohong, "Iya, aku bahagia."


"Kenapa kamu pakai berbohong segala Imel, tapi kamu tidak perlu khawatir Imel, karna aku akan menyelamatkanmu dari kebiadaan Qianu yang selalu menyiksamu." ucapnya dalam hati.


"Bahagia ya, tapi wajah kamu kok malah mengatakan yang sebaliknya ya."


"Ahh masak sieh, gak kok, kak Altan sok tahu nieh."


"Ohh, aku salah ya, tumben nieh analisaku salah, biasanya selalu benar."


"Namanya juga kakak manusia biasa, kadang benar, kadang salah kak."


"Iya kamu benar juga."


"Oh iya Imel, kamu jadi gak nieh mau jalan-jalan, aku siap lho jadi pengawal kamu." dalam hati Altan sangat senang karna dia bisa ngobrol lebih lama dengan Imel, dia bahkan sengaja melambatkan laju mobilnya untuk menikmati momen berdua dengan Imel lebih lama.


"Gak kak, antar aku pulang saja."


"Yah, padahal aku mau membelikan apapun lho untuk kamu Mell."


"Ehh, kak Altan tidak perlu melakukan itu kak, aku bisa beli sendiri."


"Tapi aku mau beliin kamu sesuatu sebagai tanda pertemanan kita."


"Sungguh kakak tidak perlu melakukan itu."


*****


Imel turun beberapa meter dari jarak rumah Qianu, hal itu dilakukan karna tidak mau dilihat oleh pekerja dirumah Qianu.


"Terimakasih kak Altan atas tumpangannya." Imel berterimakasih saat turun dari mobil.


"Sama-sama Mel."


Imel sudah memutar kakinya untuk pergi, namun panggilan Altan membuatnya mengurungkan niatnya untuk sementara, "Ada apa kak."


"Kalau kamu butuh sesuatu, aku harap kamu jangan sungkan untuk ngomong dengan aku."


"Iya sekali lagi terimakasih atas tawarannya kak Qianu." jawab Imel dilisan, jawab dalam hati, "Aku tidak akan meminta bantuan dari kak Altan, bisa dibunuh aku kalau sampai meminta bantuan sama kakak."


Dan setelah itu, Imel melangkahkan kakinya berjalan menuju rumah besar milik Qianu, Qianu bertempat tinggal dikawasan perumahan elit yang biasanya ditempati oleh orang-orang kaya alias orang berduit.


Altan masih berdiam ditempatnya, dia tidak berniat untuk pergi sebelum melihat memastikan Imel masuk ke gerbang rumahnya, dan begitu Imel sudah tidak terlihat dipandangan matanya, barulah Qianu menjalankan mobilnya pergi.


*****


Saat berada dikamarnya, Imel mendapat telpon dari Hugo, "Hugo." gumamnya menjawab panggilan tersebut.


"Iya Hugo."


"Nona, nona ada mana sekarang, saya ada disekolah nona sejak tadi nunguin nona, tapi nona tidak keluar keluar dari sekolah." suara Hugo terdengar panik, ya paniklah, kalau nona mudanya hilangkan dia yang bakalan diamuk oleh Qianu.


Mendengar pertanyaan Hugo membuat kening Imel mengerut, "Katanya Agnes dia sudah izin sama kak Qianu, kalau sudah izin berarti seharusnya Hugo tahu donk kalau aku dijemput oleh Agnes." ucap Imel dalam hati, "Apa Agnes bohong kali ya, tapi kalau dia bohong apa maksudnya coba."


"Nona, nona masih disanakan." terdengar suara Hugo memanggil saat tidak mendengar suara Imel.


"Iya Hugo, saya masih disini."


"Nona ada dimana sekarang, sumpah saya panik banget saat mengetahui nona tidak ada disekolah."


"Saya sudah ada dirumah sekarang Hugo."


"Oh, nona sudah ada dirumah, syukurlah, selamatlah nyawa saya."


"Hugo bukannya kak Qianu seharusnya memberitahu kamu ya kalau Agnes yang menjemputku karna dia ingin ngajakin aku jalan-jalan."


"Lho, tapi tuan gak ngomong apa-apa lho nona sama saya."


"Masak sieh."


"Iya."

__ADS_1


"Apa jangan-jangan Agnes bohong kali ya."


"Sepertinya begitu nona."


"Tapi kenapa dia pakai bohong segala." Imel bertanya-tanya pada diri sendiri.


"Nona, nona jangan bilang ya sama tuan Qianu kalau nona pulang duluan, soalnya tuan bisa marah besar sama saya kalau tidak menjalankan tugas dengan baik."


"Kamu tenang saja Hugo, saya tidak akan mengatakan apa-apa sama kak Qianu, lagian ini bukan salahmu kok, ini sepenuhnya salah saya."


"Terimakasih nona atas kerjasamanya."


"Nona, nona apa boleh saya ngasih saran."


"Boleh Hugo."


"Tapi nona jangan marah atau berfikir macam-macam tentang saya ya."


"Tentu saja Hugo."


"Nona, nona sebaiknya menjauhi nona Agnes, saya kenal wataknya nona Agnes, dia wanita licik, dia sangat pandai bersikap manis didepan orang dan menusuk dari belakang."


Imel mengut-mangut mendengar penjelasan Hugo, dia ingat kejadian waktu direstoran saat dia disamperin oleh Altan, siapa coba yang mengambil foto dirinya dan Altan lalu mengirimnya pada Qianu kalau bukan Agnes.


"Baik terimakasih Hugo atas peringatannya, kamu benar, sepertinya memang aku harus menjauhi Agnes."


"Itu pilihan yang tepat nona."


Setelah mengakhiri sambungan, Imel menghempaskan tubuhnya ditempat tidur empuknya yang biasa dia dan Qianu tiduri dengan seragam masih melekat dibadannya, Imel memikirkan peringatan Hugo.


"Jauhi nona Agnes, dia wanita yang licik." kata-kata Hugo itu terus terngiang-ngiang ditelinga Imel.


"Sepertinya memang aku harus mengikuti saran Hugo, aku tidak boleh terlalu dekat dengan Agnes."


*****


Saat ini Agnes tengah duduk santai disalah satu cafe, dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Qianu untuk melaporkan apa yang saat ini Imel lakukan bersama dengan laki-laki lain diluaran sana, membayangkan reaksi Qianu membuat Agnes tersenyum penuh kebahagian.


"Qianu pasti akan marah besar." katanya dengan penuh keyakinan.


"Halo Qianu."


"Ada apa Agnes, kamu tahukan jam segini aku lagi sibuk-sibuknya."


"Maafkan aku Qianu kalau aku mengganggu kamu, tapi ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada kamu."


"Cepat katakan."


"Istrimu sekarang tengah bersenang-senang dengan laki-laki lain Qianu."


"Apa sieh maksudmu Agnes, bicara yang jelas." Qianu terdengar gusar karna Agnes telah menggangunya dan sekarang gadis itu malah menyampaikan berita tidak penting begini.


"Istrimu itu saat ini tengah jalan berdua dengan laki-laki kaya, apa ya kata lebih tepatnya." Agnes terdiam sesaat untuk mencari kata-kata yang lebih tepat untuk menjelaskan apa yang saat ini Imel tengah lakukan, "Ohh iya, istrimu itu berselingkuh Qianu, dia berselingkuh dengan laki-laki kaya."


"Hahaha." Qianu malah tertawa menanggapi informasi yang disampaikan oleh Agnes.


Agnes tentunya heran, tidak habis fikir kata-katanya ditanggapi dengan tawa bukannya kemarahan, "Kamu kenapa ketawa Qianu, memangnya apa yang aku katakan lucu apa."


"Ya jelas luculah, pinter sekali kamu mengarang cerita."


"Aku gak ngarang cerita Qianu, ini beneran, istrimu itu selingkuh, aku lihat sendiri dia pergi dengan laki-laki itu."


"Oh ya, kalau begitu, kirim foto mereka berdua." tantang Qianu.


"Oke, kamu tunggu sebentar." Agnes memutus sambungan.


Agnes kemudian mengirim pesan pada Altan untuk meminta Altan mengirimkan fotonya saat bersama dengan Imel.


Agnes : Altan, kirimin foto kamu sama Imel sebagai bukti yang akan aku kirim pada Qianu.


Altan : Aku saat ini dikantor, Imel meminta untuk diantarkan pulang, dia benar-benar tidak mau aku ajakin jalan


"Apa." kesal Agnes saat membaca pesan balasan yang dikirim oleh Altan, "Sial, sudah aku usahakan bisa jalan sama Imel, ini sik begok itu malah menyia-nyiakan kesempatan, dasar laki-laki dungu tidak berguna." Agnes marah-marah.


Agnes kemudian memilih untuk menelpon Altan untuk meluapkan amarahnya pada Altan.


"Goblok, kenapa kamu mengantarkannya begitu saja, ajak jalan kek, muter-muter kek, bikin kek Imel itu pulang terlambat supaya dia marahi oleh Qianu."


"Habisnya gimana, aku gak tega kalau melihat Imel memelas minta diantar pulang."


"Dasar laki-laki lemah, perkara begitu doank kasihan, pakai rok saja sana."


"Heh wanita sialan." sejak tadi Altan diam dan berusaha menyembunyikan kekesalannya saat Agnes mengata-ngatainya, dan saat Agnes bilang pakai rok saja kamu, itu membuatnya meradang karna merasa dihina, "Jangan berani-beraninya kamu mengata-ngatai aku, kamu fikir aku bawahanmu sampai membuat kamu seenaknya begitu mengatakan kata-kata yang merendahkan itu." Altan tidak kalah meluapkan amarahnya sama Agnes karna tidak suka dirinya dihina, "Dan yang perlu kamu tahu Agnes, aku bisa merebut Imel dari tangan Qianu dengan tanpa bantuanmu."


"Hmm, oke oke Altan, aku minta maaf, aku sangat emosi karna tidak ada yang terjadi dirumah, semuanya adem ayem tidak sesuai dengan rencana kita." keluh Agnes.


"Asal kamu tahu ya Agnes, aku tidak mungkin memaksa Imel pergi denganku, yang ada dia suka sama aku dia pasti bakalan menjauhiku."


"Altan sialan, punya partner kayak gini kok lemah banget seih, seharusnya itu dia maksa Imel pergi dengannya, padahal aku sudah capek-capek lagi datang kesekolahnya gadis bodoh itu untuk menjemputnya dan membawanya untuk bisa bersama dengannya, ehh, ini malah kayak gini." batin Imel kesal. Agnes sebenarnya hanya memikirkan dirinya sendiri, tidak peduli apakah Imel itu suka sama Altan atau tidak, yang penting tujuaannya itu tercapai, intinya Agnes itu adalah wanita egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri.


****


Ditempat kerjanya, Qianu hanya bisa menggeleng, pasalnya apa yang dikatakan oleh Agnes benar-benar tidak berdasar, padahal dia baru saja melakukan vidio dengan istrinya itu, dan sangat jelas Imel berada dikamarnya.


"Mengganggu saja, aku harus mendengrkan cerita bebas yang dia karang." dengusnya kesal dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda gara-gara berita hoax yang disampaikan oleh sahabatnya tersebut.

__ADS_1


****


__ADS_2