MENIKAH KARNA DENDAM

MENIKAH KARNA DENDAM
APA YANG TERJADI IMEL


__ADS_3

Sepulang sekolah, dan dengan diantar oleh Hugo, dan juga ketiga sahabatnya Imel pergi ke dokter kulit untuk memeriksakan keadaan kulitnya, dan Imel meminta Hugo untuk tidak memberitahukan perihal hal ini kepada Qianu, awalnya Hugo tidak setuju, tapi setelah dipaksa oleh Imel, akhirnya Hugo setuju juga.


Dan setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter kulit yang dia datangi, sik dokter mendiagnosis kalau Imel alergi terhadap kandungan masker yang dia kenakan, dokter itu mengatakan hal tersebut karna dia tidak melihat masker itu secara langsungkan, padahalkan memang ada zat kimia berbahaya yang memang dimasukkan oleh Agnes ke masker tersebut.


Dan sebelum pulang, Imel dikasih salep oleh sik dokter dengan harapan kalau kulit sang pasien akan kembali normal.


"Kalau setelah memakai salep yang saya berikan nona tidak kunjung sembuh juga, nona bisa datang kemari lagi."


"Baik dokter." balas Imel sebelum keluar dari ruangan sang dokter.


"Apa kata dokter Mell." tanya Gebi begitu Imel keluar dari ruang dokter.


"Katanya gue alergi gitu."


"Tuhkan benar dugaan gue." sahut Juli.


"Gue dikasih salep sama dokter itu, ya gue berharap sieh gue bisa cepat sembuh." harap Imel.


"Amin." kompak ketiga sahabatnya mengaminkan.


*****


Dan sepanjang hari itu, kerjaan Imel hanya mengurung diri dikamarnya, dia malas keluar, dia berdiam diri dikamar dan meratapi wajahnya, bukannya malah semakin membaik setelah memakai salep tersebut, tapi malah makin parah saja, dan tambah parahnya, wajahnya juga gatal-gatal dan itu membuat Imel frustasi dan menangis sepanjang hari, kulitnya yang kemarin masih cantik dan fress kini menjadi jelek dalam seketika.


Beberapa pelayan berusaha untuk membujuk Imel untuk makan, tapi Imel tidak menanggapi sama sekali, sejak pulang dari dokter kulit, Imel langsung berjalan menuju kamarnya, dan sejak saat itu dia tidak keluar-keluar kamar, dan tidak mau makan.


Para pelayan yang takut kena marah Qianu berulang kali mengetuk pintu kamar sang majikan dan memintanya untuk makan, namun, mana bisa Imel makan saat suasana hatinya tengah gundah gulana begitu.


Saat para pelayan tengah membicarakan kenapa nona mereka tidak mau keluar kamar dan tidak mau makan, Agnes datang dan bertanya apa yang tengah dibicarakan oleh para pelayan.


"Kalian membicarakan apa."


"Mmm, itu nona, nona Imel sejak sepulang sekolah tidak mau keluar kamar, nona bahkan belum makan." salah satu pelayan itu menjawab.


"Emang dia kenapa."


"Kurang tahu nona."


"Sudahlah, dia itu udah gede, kalian tidak perlu membujuknya begitu, kalau dia lapar sendiri nanti pasti akan turun kok."


"Tapi kami takut nona akan sakit dan kalau itu terjadi, tuan Qianu pasti akan marah sama kami."


"Tapi yang kalian suruh makan gak maukan, kalau orang yang gak mau makan, ya mana bisa dipaksa."


Para pelayan itu terdiam, mereka jadi bertanya-tanya, kenapa nona majikan mereka tiba-tiba saja tidak mau makan, tidak seperti biasanya.


"Kalian sebaiknya bubar, ngapain ngumpul disini, kerjakan saja sana tugas kalian." usir Agnes.


Dan para pelayan itu membubarkan diri sesuai dengan intruksi Agnes.


"Kok aku penasaran ya ingin mengetahui apa yang terjadi dengan sik bodoh itu, aku lihat ahh." mendengar laporan dari pelayan tersebut membuat Agnes penasaran dengan apa yang tengah dialami oleh Imel dan hal itu membuatnya berniat untuk melihatnya secara langsung.


Agnes kok jadi kesel ya saat melihat pintu kamar yang ditempati oleh Imel dan Qianu, dia membayangkan apa yang dilakukan oleh Imel dan Qianu didalam kamar tersebut, dan itu membuat hatinya terasa sakit.


"Seharusnya kamar ini menjadi kamarku dan Qianu, gadis bodoh itu tidak pantas bersanding dengan Qianu, aku yang seharusnya pantas menjadi pendamping Qianu." suara hati Agnes merintih.


Tok


Tok


Meskipun sangat tidak menyukai Imel, tapi Agnes masih menghargai Qianu sehingga dia mengetuk pintu kamar.


"Akukan sudah bilang tidak lapar, kenapa sieh kalian bebal sekali." Agnes bisa mendengar suara teriakan Agnes dari dalam.


"Ini aku Imel, Agnes, bukan pelayan." beritahunya.


"Ada apa." Imel tidak menyembunyikan keketusannya begitu mengetahui kalau yang mengetuk pintu itu adalah Agnes, karna Imel beranggapan, gara-gara Agneslah sehingga wajahnya jadi rusak begitu.


"Aku cuma ingin lihat keadaan kamu saja Mell, para pelayan bilang kamu menolak untuk makan."


"Iya, aku memang tidak mau makan, aku gak lapar."


"Mell, apa aku boleh masuk."

__ADS_1


"Gak."


"Ahh kayaknya gadis bodoh itu benar-benar lagi badmood, tapi gara-gara apa." Agnes bertanya-tanya, "Ahh iya aku tahu." gumam Agnes, "Apa gara-gara wajahnya kali ya, haha, bisa jadi." Agnes tertawa puas tanpa suara, "Sepertinya efek dari zat aku masukkan ke masker itu bekerja dengan cepat."


"Ya sudahlah Mell terserah kamu saja."


Setelah mengatakan hal tersebut, Agnes berlalu dari depan kamar tersebut.


*****


Hugo yang saat ini tengah menunggu Qianu mendapat kabar dari kepala pelayan dirumah sang tuan yang mengabarkan kalau Imel tidak keluar-keluar dari kamar semenjak dia pulang, dan Hugo juga mendapat kabar kalau Imel menolak untuk makan.


Laporan itu disampaikan oleh Hugo kepada tuannya saat Qianu sudah duduk didalam mobil saat mereka akan pulang.


"Tuan."


"Hmm." respon Qianu yang fokus sama ponselnya.


"Saya mendapat kabar, katanya nona tidak keluar kamar sejak saya mengantarkannya pulang, dan nona juga menolak untuk makan."


Begitu mendengar informasi yang disampaikan oleh Hugo, Qianu langsung mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang saat ini dipegangnya.


"Apa yang terjadi Hugo."


"Saya kurang tahu tuan." Hugo sebenarnya ingin memberitahu kalau sepulang sekolah dia mengantarkan nona majikannya ke dokter kulit, tapi mengingat pesannya Imel, Hugo kembali menelan kata-katanya kembali.


"Nona mengurung diri apa itu ada hubungannya dengan kedatangannya ke dokter kulit kali ya." duga Hugo.


Dan begitu Hugo menghentikan mobilnya, Qianu langsung turun dan berjalan cepat ke kamar, dia mendorong pintu, saat dia memasuki kamar, kamarnya tampak gelap gulita dan Qianu bisa mendengar suara isakan dengan jelas.


"Imell." panggil Qianu sambil meraba tembok untuk mencari seklar lampu dan menyalakannya.


Begitu kamar tersebut terang benderang, Qianu bisa melihat kalau istrinya duduk ditempat tidur dengan kaki ditekuk dan dengan wajah yang dibenamkan disana, apa yang dilihatnya membuat Qianu semakin khawatir, dia melangkah dengan cepat ke tempat tidur.


"Imelll, apa yang terjadi." tanyanya saat dia sudah duduk disamping Imel.


Imel menggeleng, dia tidak mau mengangkat wajahnya karna dia tidak mau Qianu melihat wajahnya yang bisa dikatakan hancur.


"Mell, katakan padaku apa yang terjadi denganmu hemm." desak Qianu tidak sabaran.


"Mell, jangan buat aku khawatir kayak gini, kamu sakit, ayok kita kerumah sakit ya." bujuknya.


"Aku tidak sakit kak."


"Terus kenapa kamu menangis kayak gini."


Imel diam tidak menjawab.


"Mell, angkat wajahmu, kamu tahukan tidak sopan bicara dengan orang tanpa melihatnya."


Imel menggeleng, dia benar-benar tidak mau memperlihatkan wajahnya, dia sangat malu.


"Imell, jangan membuatku marah." suara Qianu terdengar menyeramkan, dan ternyata berhasil membuat Imel mengangkat wajahnya.


Betapa terkejutnya Qianu saat melihat wajah Imel, selain memerah, wajah mulus istrinya juga ditumbuhi bintik-bintik.


"Imel, wajah kamu...."


"Hu hu hu." Imel menangis keras.


"Kenapa dengan wajah kamu Imel, kenapa bisa seperti ini." Qianu baru menyadari, tadi pagi saat Imel mengenakan masker mungkin untuk menutupi wajahnya.


"Aku tidak tahu kak, tapi setelah menggunakan masker yang diberikan oleh Agnes semalam dan paginya wajahku sudah memerah kayak gini." lapor Imel, tadinya dia tidak ingin membahas tentang masker tersebut apalagi membawa-bawa nama Agnes, tapi kuat feling Imell kalau mungkin saja Agnes memasukkan sesuatu yang berbahaya dimasker yang diberikan kepadanya, meskipun dokter kulit yang dia datangi berspekulasi kalau dia alergi, tapi kalau alergi tidak mungkin separah inikan bentukan kulitnya.


"Apa." Qianu jelas marah mendengar penuturan Imel.


"Mana maskernya."


Imel menunjuk meja rias, "Iya yang botol transpran yang isinya berwarna putih."


Qianu berdiri dan berjalan kemeja rias dan mengambil botol masker tersebut, Qianu langsung membawa botol itu keluar untuk menemui Agnes.


****

__ADS_1


Para pelayan yang berpapasan dengan Qianu langsung menyingkir untuk memberikan jalan kepada Qianu yang terlihat tergesa-gesa, mereka juga takut karna wajah Qianu terlihat menyeramkan.


"Tuan kenapa ya, kok kayaknya dia sangat marah."


"Ya mana aku tahu, kenapa bertanya padaku."


Para pelayan itu menatap punggung tuannya yang berjalan ke arah kamarnya Agnes.


"Tuan sepertinya ke kamar nona Agnes, mau ngapain ya."


"Itu bukan urusan kita, mending kita kedapur saja sekarang, tidak baik terlalu kepo dengan urusan tuan, kalau dipecat gara-gara kekepoan kita gimana coba."


"Ahh iya benar juga, ayok kita sebaiknya melanjutkan pekerjaan kita saja, kita disini digaji untuk bekerja, bukan untuk menggunjing majikan kita."


Para pelayan itu pada membubarkan diri.


Dan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Qianu mendorong pintu kamar yang ditempati oleh Agnes, Agnes terlihat sedang duduk diatas tempat tidurnya dengan buku ditangannya, Agnes agak terkejut saat melihat Qianu tiba-tiba nyelonong masuk ke kamarnya.


"Qianu, ada apa, kenapa kamu main masuk saja tanpa permisi, bagaimana kalau saat ini aku lagi ganti baju." protes Agnes.


Dan tanpa membalas kata-kata Agnes, Qianu melemparkan botol masker yang ditangannya ditempat tidur Agnes.


"Apa yang kamu berikan kepada istriku hah." bentaknya.


Agnes menatap botol masker yang dilempar oleh Qianu tersebut, dan tanpa rasa berdosa sedikitpun dia menjawab, "Itu masker Qianu, aku juga menggunakan masker itu."


"Apa yang telah kamu campurkan kedalam masker itu Agnes."


"Tidak ada." jawab Agnes polos.


"Tidak mungkin, kalau kamu tidak memasukkan apa-apa, mana mungkin wajah Imel bisa rusak seperti itu." suara Qianu kini meninggi.


Agnes tertawa dalam hati saat mendengar apa yang dikatakan oleh Qianu, "Syukurinlah, lagian itu balasan karna dia telah dengan beraninya merebut kamu dariku."


"Benar Qianu, aku tidak memasukkan apa-apa dimasker ini, lagian istrimu itu bertanya apa rahasia kecantikanku dan aku jawab, rahasia kecantikanku adalah masker ini, dan aku memberikannya pada Imel." Agnes masih kukuh tidak mau jujur.


"Baiklah, aku percaya padamu Agnes karna kamu sudah aku anggap sebagai adikku sendiri, tapi, aku ingin kamu membuktikan kebenaran kata-katamu itu, aku ingin kamu mengaplikasikan masker ini diwajahmu." tantang Qianu untuk membuktikan kebenaran kata-kata Agnes.


Sama saja dengan bunuh diri kalau dia memakai masker itu, bisa-bisa wajahnya bernasib sama dengan Imel, oleh karna itu Agnes berusaha berkelit, "Aku semalam sudah pakai masker Qianu, jadi tidak mungkinkan aku pakai masker lagi, keseringan memakai masker juga itu tidak baik untuk kulit, bisa menyebabkan kulit wajah jadi kering."


"Pakai Ness untuk membuktikan kata-katamu kalau kamu memang tidak mencampur apa-apa di masker ini." tandas Qianu tidak bisa dibantah.


Disini, raut wajah Agnes mulai tampak ketakutan, tapi dia berusaha untuk tidak terlihat panik, kalau tidak, kejahatannya akan terbongkar, intinya dia harus mencari cara supaya Qianu tidak memaksanya untuk memakai masker yang telah dia campur dengan bahan kimia tersebut.


"Oh ya aku baru ingat kalau aku ada janji dengan Altan, aku harus pergi sekarang Qianu, kamu sebaiknya keluar ya, aku mau ganti baju dulu."


"Agness." suara Qianu terdengar horor, "Apa yang telah kamu lakukan hah kepada Imel."


"Aku tidak melakukan apa-apa kepada istrimu itu Qianu, kenapa sieh aku yang kamu tuduh saat wajah istrimu bermasalah begitu, emangnya satu-satunya yang dia dipakai adalah masker pemberianku ini, tidakkan, diakan memakai beberapa produk kecantikan, ya siapa tahu wajahnya jadi bermasalah saat mengenakan salah satu dari produk kecantikan miliknya itu." Agnes mencoba membela diri habis-habisan.


"Makanya, kalau kamu benar-benar tidak memasukkan sesuatu disana, kamu pakai masker itu."


"Tapi aku...aku.." suara Agnes bergetar, tidak mungkin dia memakai masker itu karna sudah pasti kulitnya akan rusak, dan mengakui kesalahanpun rasanya tidak mungkin mengingat pasti Qianu akan marah besar kepadanya.


Melihat Agnes yang terlihat ketakutan begitu membuat Qianu yakin kalau memang sahabatnya itu telah memasukkan sesuatu yang berbahaya dimasker yang dia berikan kepada Imel, dan itu membuat Qianu marah karna Agnes telah berbuat jahat pada istrinya.


Qianu mendekat ke arah Agnes, pandangan matanya begitu sangat tajam dan itu berbahasil mengintimidasi Agnes yang membuat Agnes reflek mundur ke belakang.


"Kenapa kamu melakukan semua ini Agnes, kenapa kamu menusukku dari belakang hah, padahal aku sudah menganggap kamu sebagai adikku sendiri, dan kamu malah menyakiti istriku seperti ini."


Mendengar luapan emosi Qianu membuat keberanian Agnes muncul, dia dengan badan tegap dan mata tajam membalas tatapan Qianu, "Iya, memang aku memasukkan bahan kimia berbahya dimasker yang aku berikan kepada Imel, itu aku lakukan karna aku sangat membenci istrimu itu, dia telah merebut kamu dari aku, dan aku fikir dia pantas menerima semua itu."


"Apa kamu bilang." Qianu mengepalkan tangannya saking geramnya, kalau saja Agnes bukan perempuan, sudah habis Agnes ditangannya, selain itu juga, Qianu benar-benar tidak menyangka kalau sahabatnya itu seperti duri dalam daging, padahal Qianu benar-benar menyayanginya sudah seperti adik kandungnya sendiri, dia bahkan menampung Agnes dirumahnya sendiri tanpa batas waktu yang dia tentukan, dan ini balasan Agnes kepadanya, benar-benar air susu yang dibalas dengan air tuba, "Kamu telah mencelakai istriku Agnes, teganya kamu, padahal aku sudah menganggap kamu seperti adikku sendiri, kenapa kamu melakukan hal ini hah sama Imel, kenapa kamu menganggapnya sebagai musuh padahal dia selalu baik kepadamu."


"Itu semua aku lakukan karna aku mencintamu Qianu, aku tidak rela melihat kamu bersama dengan gadis bodoh itu, aku ingin kamu bersamaku."


Plakk


Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat dipipi mulusnya Agnes sehingga membuat wajah Agnes sampai oleng kesamping, reflek Agnes memegang pipinya yang kena tampar barusan, pipinya kini terasa panas.


"Beraninya kamu bilang istriku wanita bodoh, asal kamu tahu Agnes, Imel 1000 kali jauh lebih baik daripada kamu, itulah kenapa aku memilihnya, sikap sombong dan angkuhmu itulah yang membuatku tidak pernah melirik kamu sama sekali."


Kata-kata Qianu memang cukup menyakitkan, dan sebagai seorang wanita yang mencintai Qianu, Agnes rasanya ingin menangis saat dirinya dibandingkan dengan wanita lain didepan wajahnya sendiri, tapi Agnes berusaha menahan tangisnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2