MENIKAH KARNA DENDAM

MENIKAH KARNA DENDAM
AKU KANGEN


__ADS_3

Begitu pulang dari rumah sakit, semua pelayan dikumpulkan oleh Hugo, meskipun dia memiliki dugaan kalau dalang dibalik sakitnya Imel adalah Agnes, tapi tetap saja Hugo harus memberikan sedikit pelajaran kepada para pelayan terutama yang bertugas dibagian dapur supaya tidak tledor dan kejadian seperti ini terulang kembali, karna kalau tuan mereka tahu sang istri kesakitan karna menyantap makanan yang mereka hidangkan, habislah mereka, kemungkinan Qianu tidak hanya memecat saja, tapi parahnya sudah pasti akan menjebloskan kepenjara.


Para pelayan itu berjejer, mereka hanya bisa menunduk karna tidak berani menatap mata Hugo yang terlihat menyeramkan.


"Jadi siapa yang bertugas dibagian memasak hari ini." tanyanya dengan suara meninggi.


Dengan takut-takut, dua pelayan yang usianya sekitar 40 tahunan maju, pelayan itu terlihat gemetaran karna ketakutan.


"Kami Hugo."


Hugo menilai sejenak dan mengangguk, "Siapa yang bertugas menghidangkannya." Hugo kembali bertanya.


Kembali 3 orang wanita, salah satunya adalah Irma, gadis yang akrab dengan Imel tampak maju kedepan, wajah ketiga orang itu nampak pucat, selain takut dimarahi Hugo, mereka tentunya juga takut kalau hal ini sampai terdengar sampai telinga tuan mereka, karna kalau itu terjadi, biasanya Qianu tidak akan pernah memberi ampun kepada orang yang menurutnya melakukan kesalahan, tapi dalam hal ini, para pelayan itu merasa memang tidak melakukan kesalahan, entah apa yang terjadi sehingga istri tuan mereka bisa sakit perut begitu sehingga sampai dilarikan kerumah sakit.


"Kalian tahu apa salah kalian." Hugo memulai sesi introgasinya.


Yahh mereka tahu, tapi para pelayan itu memilih diam, mereka hanya tahu kalau nona majikan mereka tiba-tiba sakit perut setelah menyantap makanan yang mereka hidangkan.


"Nona sakit setelah menyantap masakan yang kalian hidangkan, apa sebenarnya yang kalian masukkan ke makanan itu hah." bentak Hugo yang membuat para pelayan mencicit ketakutan.


Hugo sieh sudah tahu kalau ada yang memasukkan obat pencuci perut dimakanan itu, dan disini tersangka utama yang Hugo curigai adalah Agnes, Hugo sedikitpun tidak pernah berfikir kalau hal itu dilakukan oleh pelayan karna Hugo yakin para pelayan akan berfikir lima kali kalau mau mencelakai sang nona yang sangat dicintai oleh tuannya, karna Qianu biasanya tidak akan segan-segan untuk menghukum siapa saja yang berani menyakiti orang yang dia sayang, dan untungnya dia tidak tahu masalah ini sehingga Hugolah yang menanganinya untuk saat ini.


Salah satu pelayan yang bertugas memasak hari itu membuka suara untuk menjawab pertanyaan Hugo, "Sumpah demi Tuhan Hugo, kami tidak memasukkan apa-apa, mana berani kami mencelakai nona muda, lagian mana mungkin juga kami berfikir untuk mencelakai nona muda karna nona orangnya sangat baik." suara pelayan itu terdengar bergetar dibawah tatapan tajam Hugo.


"Benar tuan, mana mungkin kami mencelakai nona muda." yang lain menimpali.


Hugo percaya dengan apa yang dikatakan oleh pelayan tersebut, tapi Hugo masih menahan mereka disana, "Dokter bilang, nona mengkonsumsi obat pencuci perut secara berlebihan, tapi nona tidak mungkin mencelakai dirinya sendiri, jadi kemungkinan, ada yang memang berniat mencelakai nona dengan memasukkan obat itu kedalam makanan yang nona makan."


Para pelayan saling melempar pandangan satu sama lain mendengar apa yang dikatakan oleh Hugo, bertanya-tanya siapakah gerangan yang memasukkan obat itu ke makanan nona.


"Dan untungnya nona sudah baik-baik saja, dan dengan kebaikannya, nona meminta saya untuk tidak memberitahukan akan hal ini kepada tuan, dan kalau tuan sampai tahu, kalian tahu sendirikan apa yang akan terjadi."


Para pelayan itu kompak bergidik ngeri.


"Oleh karna itu, saya memperingatkan sama kalian, sebelum menghidangkan makanan sama nona muda, pastikan makanan yang kalian hidangkan aman sebelum disajikan, saya tidak mau hal ini terulang kembali, karna sepertinya ada yang berniat jahat sama nona muda, ada yang tidak suka dengan nona muda dirumah ini."


Kembali para pelayan itu hanya saling melempar pandangan satu sama lain, bertanya-tanya siapakah yang tidak menyukai sang nona muda sehingga berniat untuk mencelakainya.


"Dan untungnya nona muda orang yang baik, dia tidak ingin apa yang menimpanya sampai terdengar ditelinga tuan, sehingga saya peringatkan sama kalian, jangan pernah ungkit-ungkit tentang hal ini lagi."


Para pelayan itu mengangguk patuh sekaligus bersyukur karna nona muda mereka sangat baik karna melindungi mereka.


"Mulai sekarang berhati-hatilah, kalau ada yang terlihat mencurigakan, cepat laporkan pada saya."


Para pelayan itu kembali mengangguk, "Baik Hugo." jawab mereka serempak.


"Sekarang kalian boleh beristirahat."


Para pelayan itu bubar dengan kelegaan didada mereka, mereka benar-benar beruntung karna memiliki nona muda yang baik.


****


Imel sebenarnya sudah gak apa-apa sieh, hanya saja dia masih sedikit lemas sehingga dia memutuskan untuk tidak masuk sekolah hari ini, dan kerjaanya seharian ini adalah mengurung diri dikamarnya dan bermain ponsel, ya nonton youtubelah, main sosial medialah, main gamelah, intinya, benda pintar tersebut mampu membuat orang betah seharian berada dikamar.


Saat tengah asyik bersosial media, sebuah chat masuk ke ponselnya yang dikirim oleh Altan.


Altan : Aku dengar kamu sakit ya kemarin sampai dibawa kerumah sakit


Imel : Kak Altan tahu darimana


Altan : Agnes yang ngasih tahu


"Apa mereka sudah sedekat itu ya sampai tukeran nomer ponsel segala, atau mungkin saat ini mereka tengah pdkt." batin Imel, "Tapi baguslah, Agneskan gak punya pacar, aku harap mereka bisa jadian."


Altan : Jadi gimana kabarnya kamu sekarang


Imel : Aku sudah baik kok


Altan : Aku khawatir banget tahu gak sieh saat Agnes memberitahuku kalau kamu dilarikan ke rumah sakit


Imel : Gak ada yang perlu dikhawatiran kak Altan, aku sudah baik-baik saja kok


Altan : Ingin banget rasanya jengukin kamu, tapi sayangnya Qianu pasti tidak akan mengizinkan aku untuk menjenguk istrinya


Imel : Terimakasih kak Altan karna kakak ada niat mau jenguk, tapi itu gak perlu kak Altan karna aku benar-benar sudah baik-baik saja, saking baiknya, disuruh muterin GBK 10 kali aku sanggup


Altan : Iya aku percaya kamu sudah baik-baik saja, hanya saja, aku ingin melihat kamu hanya untuk membuatku tenang


"Kak Altan kok jadi berlebihan gini ya."


Karna malas untuk menanggapi chat yang dikirim oleh Altan, Imel memilih mengabaikannya dan melanjutkan main game diponselnya.


Altan : Mell


Altan : Napa diem Imell


"Ishh, suka-suka guelah, mau gue diam atau itu bukan urusan elo." desis Imel, "Lagian kenapa lo malah ngchat gue, kenapa gak ngechat Agnes yang merupakan gebetan elo." Imel berfikir kalau Altan dan Agnes tengah pdkt

__ADS_1


Altan : Gue denger-denger, suami kamu lagi keluar negerinya ya karna urusan bisnis.


"Pasti Agnes nieh yang ngasih tahu lagi."


Imel : Iya.


Imel menjawab sekedarnya.


Altan : Mmm Imel, maukah kamu aku ajak nonton atau hanya sekedar untuk jalan-jalan


Imel : Maaf ya kak, aku gak bisa


Imel menolak tegas.


Altan : Kenapa


Imel : Kakak fikir saja sendiri, ya kali aku pergi dengan laki-laki lain saat aku sudah punya suami, ntar orang berfikir aku wanita gak benar lagi


Altan : Kan kita perginya sebagai teman Imel


Imel : Aduhh maaf kak Altan, aku gak bisa, aku mau istirahat.


Dengan begitu Imel mengakhiri chatnya dengan Altan, "Apa-apaan sieh sik Altan itu, pdktnya sama Agnes, yang diajakin pergi malah aku." dumelnya.


*****


"Aku kangen kak Qianu." desah Imel, ternyata gadis itu benar-benar sudah mencintai suaminya itu meskipun dia gak tahu apakah perasaanya berbalas atau tidak, dan seperti biasa, kalau Qianu pergi, dia selalu saja merindukan laki-laki itu, rasanya ada sesuatu yang kurang saat dia tidur sendirian seperti ini ditempat tidur besar yang biasanya mereka tiduri bersama, rasanya hampa.


"Kak Qianu kenapa sieh selalu saja tidak menghubungiku kalau dia pergi kayak gini, menyebalkan sekali, akukan kangen sama dia." Imel ngomel sendiri.


Imel sampai gak bisa tidur karna kangen sama suaminya itu, Imel bangkit dari posisi tidurnya dan berjalan menuju lemari, dia mengambil pakaian yang sering dikenakan oleh Qianu, Imel kemudian mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian Qianu yang diambil, pakaian itu kebesaran untuk ukuran tubuhnya karna Qianu memang memiliki tubuh tinggi dan besar.


Imel menyilangkan tangannya didadanya seolah-olah Qianulah yang tengah memeluknya, "Uhhh kangennya aku." saat mengenakan pakaian Qianu, dia seperti dipeluk oleh suaminya itu.


Krukkk


Perut Imel tiba-tiba saja berbunyi nyaring, "Duhh lapar lagi." keluhnya sambil memegang perutnya, ya wajar saja dia lapar, saat makan malam tadi dia hanya makan sedikit.


Untuk mengganjal perutnya yang terus meronta-ronta, Imel turun untuk mencari makan, ini sudah tengah malam sehingga suasana rumah besar itu lenggang, para pelayan sepertinya sudah pada beristirahat supaya besok bisa menyambut hari yang baru.


Imel berjalan ke dapur, dia membuka kulkas mencari sesuatu yang bisa meredakan perutnya yang sejak tadi terus meronta-ronta, Imel menemukan puding yang tersisa tinggal setengahnya, dia mengambilnya dan membawanya ke meja dan melahapnya, saat tengah asyik menyantap pudingnya, Imel mendengar ada suara yang mendekat, Imel kok tiba-tiba jadi takut karna berfikir itu adalah maling.


"Siapa itu, jangan-jangan maling lagi, duhh gimana ini."


Suara langkah itu semakin mendekat dan Imel menarik nafas lega karna mengetahui kalau orang yang dia sangka maling ternyata adalah Agnes.


"Agness, aku fikir siapa."


"Belum tidur Mell." ujarnya mengambil tempat duduk berhadapan dengan Imel.


"Gak bisa tidur." jawab Imel sekenanya.


Pandangan mata Agnes terarah pada pakaian yang melekat ditubuh Imel, seketika matanya melotot saat mengetahui kalau pakaian yang dikenakan oleh Imel adalah pakaian milik Qianu, Agnes tidak hanya tidak suka Imel memiliki Qianu, gadis itu juga tidak suka melihat Imel mengenakan barang milik Qianu, "Brengsek, kenapa gadis bodoh itu mengenakan pakaian Qianu sieh, membuat mood gue buruk saja." umpatnya dalam hati.


"Apa kamu baik-baik saja Mel." Agnes bertanya supaya dianggap peduli, dan yang paling penting adalah supaya dia tidak dicurigai.


"Iya, seperti yang kamu lihat."


"Aku masih berbaik hati karna tidak langsung menyingkirkan kamu Imel, aku mau membuat kamu menderita secara perlahan karna kamu telah mengambil apa yang seharusnya menjadi milikkku, dan setelah itu, kamu akan aku singkirkan tanpa ampun." batin Agnes jahat.


"Agnes."


"Hmmm."


"Kamu dan kak Altan dekat ya." tanya Imel ingin tahu.


"Dekat bagaimana." bingung Agnes, saat ini dia tidak berniat dekat dengan laki-laki manapun karna laki-laki yang dicintai adalah Qianu seorang.


"Maksud aku pdkt gitu, kalian sepertinya sudah tukeran nomer ponsel tuh."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Imel, membuat Agnes mendapatkan sebuah ide, sehingga dia mengiyakan apa yang dikatakan oleh Imel, "Iya, kami memang lagi proses pdkt Mel."


Imel reflek tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Agnes, dia sangat senang tentu saja mengetahui berita tersebut, "Benarkah, aku doakan semoga kalian jadian ya Nes, Altan sepertinya laki-laki yang baik, tampan lagi."


Agnes tersenyum kecut, "Dasar gadis bodoh, tidak bisakah dia melihat kalau laki-laki dungu itu menyukinya, mereka sama-sama bodoh, ya wajarlah kalau mereka klop."


"Qianu kapan baliknya Mell." Agnes mengganti topik.


"Sepertinya seih lusa."


Agnes mengangguk, dia berfikir selama Qianu masih berada diluar negeri, dia harus membuat Imel mengalami beberapa masalah.


*****


Imel tertidur nyenyak malam ini, memakai pakaian milik suaminya merupakan hal yang tepat karna Imel seperti dipeluk oleh suaminya itu dan dia merasa nyaman dan hangat.


Dan kalau kemarin dia memilih untuk tidak masuk sekolah, sekarang dia sudah rapi dengan mengenakan seragam putih abu-abunya, kalau dulu diawal pernikahan Imel terlihat kucel dan dekil, kini Imel kembali seperti dulu, cantik dan bersinar.

__ADS_1


Dan seperti biasa, Hugolah yang bertugas mengantarkan nona majikannya itu sampai depan sekolah, karna tuannya telah mempercayakannya untuk menjaga hal yang paling berharga dalam hidupnya sehingga Hugo memastikan kalau dia menjaga Imel dengan nyawanya sekalipun.


"Terimakasih Hugo." tidak lupa Imel selalu berterimakasih saat Hugo membukakan pintu mobil untuknya.


"Nanti saya jemput nona."


Imel mengangguk sebelum berjalan memasuki sekolahnya, tempatnya menuntut ilmu hampir dua tahun belakangan ini.


Belum juga jauh, sebuah suara yang tidak ingin didengarnya menyapanya, "Pagi cantik, hari ini matahari bersinar cerah ya, secerah wajah cantikmu." gombal Rio.


Hugo yang sudah siap membuka pintu mobil mengurungkan niatnya mendengar cowok remaja seusia nona mudanya itu menggoda nona mudanya, sejenak Hugo memperhatikan, dan dia bisa melihat kalau nona majikannya terlihat tidak nyaman dengan cowok itu.


Imel terlihat jiijik, "Apaan seih lo Rio, sono lo jauh-jauh dari gue." usir Imel.


"Duhh cantik-cantik galak ya, tapi aku makin gimana gitu ya, makin tertantang untuk mendapatkan hati neng Imel."


"Ishhh." desis Imel dongkol, sejak putus, Rio selalu saja mengganggunya seperti ini, "Heran gue, kok gue dulu bisa-bisanya ya pernah pacaran dengan laki-laki modelan kayak gini."


Rio mencolek dagu Imel yang membuat Imel meradang, "Apaan sieh lo Rio, gak sopan banget lo main sentuh-sentuh."


Rio malah mengedipkan matanya dan tersenyum genit, "Ada yang pernah bilang gak sama lo Mel, semakin lo galak, lo semakin cantik, kecantikan lo fool."


Imel akan kembali memaki Rio, namun sebelum sempat dia melakukannya, Hugo yang entah darimana datangnya memelintir tangan Rio, hal itu membuat Rio mengaduh heboh.


"Aw aw."


"Jangan pernah berani ganggu nona muda saya." Hugo memperingatkan.


"Aduhh sakit, lepasin sialan."


Tentu saja Hugo tidak melepasakan tangan bocah ingusan itu, apalagi bocah itu mengumpat, Hugo malah makin kenceng menekan pergelangan tangan Rio.


"Akhhhh." Rio berteriak sehingga membuat para siswa yang tengah berjalan untuk memasuki sekolah seketika pada berhanti untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Imel yang malu karna menjadi pusat perhatian berusaha untuk menghentikan Hugo, "Hugo hentikan, kita jadi pusat perhatian Hugo."


"Bocah ini harus meminta maaf dulu sama nona, baru saya akan melepaskannya."


"Ayok minta maaf sama nona Imel." perintah Hugo.


"Saya tidak bersalah, ngapain saya minta maaf."


Jawaban Rio tersebut membuat Hugo semakin murka sehingga dia makin keras menekan tangan Rio.


"Akhhh sakit sialan." Rio memekik kesakitan, cowok itu sudah benar-benar seperti cewek saja dah.


Beberapa siswa yang menyaksikan hal tersebut pada tertawa melihat hal tersebut.


"Apa yang kalian tertawakan sialan." umpat Hugo yang membuat para siswi yang tadi mentertawakannya terdiam seketika.


Sementara Imel masih berusaha untuk membujuk Hugo untuk melepaskan Rio, "Hugo sudah Hugo, lepasin Rio."


"Tidak akan saya lepaskan nona sebelum bocah kurang ajar ini meminta maaf sama nona." Hugo kukuh tidak mau melepaskan Rio meskipun itu Imel yang memintanya.


"Ayok minta maaf sama nona muda."


"Maafkan gue Mell."


"Yang benar minta maafnya." bentak Hugo.


"Gue salah Mel, gue benar-benar minta maaf."


Sebenarnya Imel sangat kesal dengan kelakuan Rio yang menjengkelkan dan selalu mengganggunya itu, tapi karna tidak tega melihat Rio kesakitan begitu sehingga dia berkata, "Iya, gue memaafkan elo Rio." itu hanya supaya Hugo melepaskan Rio saja.


Mendengar kata-kata nona mudanya, barulah Hugo melepaskan tangannya.


"Sialan." Rio mengumpat dengan suara pelan karna tidak ingin didengar oleh Hugo.


"Kenapa kamu masih berdiri sini, enyahlah dari hadapan saya." usir Hugo.


Rio mendesis kesal yang kalau diartikan maknanya begini, "Siapa juga yang mau berlama-lama didekat elo, dasar botak jelek sialan." dengan memendam kedongkolan dan rasa malu karna telah dipermalukan oleh Hugo didepan anak-anak SMA PERTIWI Rio melangkah masuk memasuki sekolahnya, sebanarnya Rio ingin mengancam Hugo, tapi mengingat betapa besar dan sangarnya Hugo sehingga membuat Rio tidak berani melakukan itu.


Dan para siswa lainnya yang tadi pada menonton pertunjukan gratis tersebut sekarang pada bubar satu persatu.


"Nona, nona sebaiknya masuk sekarang."


"Baik Hugo." jawab Imel, "Tapi Hugo, lain kali kamu tidah usah seperti tadi lagi."


"Tidak bisa nona, tuan memerintahkan saya untuk menjaga nona, jadi siapapun yang berniat jahat dan mengganggu nona harus berhadapan dengan saya." untuk kali ini Hugo tidak mematuhi Imel.


"Tapi ini masalah sepele Hugo, aku bisa menyelsaikannya sendiri."


"Nona menganggap apa yang dilakukan oleh bocah sialan itu sepele nona, anak itu menganggu nona, dan saya tidak mungkinkan tinggal diam."


"Terserah kamu deh Hugo." Imel mulai kesal juga sehingga dia memutuskan untuk masuk.


"Ingat ya nona, kalau ada yang mengganggu nona, bilang sama saya agar saya langsung memberinya pelajaran." teriak Hugo agar bisa didengar oleh Imel yang semakin menjauh, dan hal itu semakin membuat Imel semakin malu saja karna beberapa para siswa melirik ke arahnya.

__ADS_1


"Sialan, sik Hugo itu membuat gue malu saja."


****


__ADS_2