
Imel memasuki ruangan tersebut, ruangan yang cukup besar, ada lima rak buku berukuran besar yang terdapat diruangan tersebut.
"Inikan ruangan perpustakaan biasa, gak ada yang istimewa, kenapa laki-laki kejam itu tidak membiarkan pelayannya yang lain ya yang membersihkannya, kenapa hanya orang-orang tertentu." gumam Imel.
Imel mengamati ruang perpustakaan tersebut, ada beberapa lukisan yang terpasang didinding, lukisan-lukisan itu agak aneh menurut Imel sehingga mendorongnya untuk memperhatikan lukisan itu satu persatu dari dekat.
"Kenapa semua lukisan disini pada jelek semuanya." komennya, maklumlah, diakan tidak mengerti tentang seni sehingga wajar dia berkomentar seperti itu, "Kenapa gitu laki-laki kejam itu tidak membeli lukisan tentang alam, seperti gunung, sawah atau orang menanam padi gitu, kan lebih sedap untuk dipandang." Imel fikir Qianu anak SD apa suka dengan gambar-gambar begituan.
Selesai memperhatikan lukisan-lukisan tersebut, Imel beralih melihat buku-buku yang tersusun rapi dirak, dia kembali berkomentar.
"Buku sebanyak ini emang habis dibaca semua, kalau iya, laki-laki kejam itu benar-benar pencinta buku sejati, beda dengan gue, lihat buku satu buku berukuran tebal saja bikin sakit kepala."
Sik Imel, bukannya malah mengerjakan tugasnya, dia malah sibuk mengambil setiap buku dirak hanya untuk membaca judulnya doank dan kemudian kembali ditaruh.
"Ada gak ya buku tentang putri-putri disney, masak semua buku disini bikin mata ngantuk melihatnya pada pandangan pertama."
Imel memang aneh, mana doyan Qianu membaca tentang dongeng-dongeng anak-anak begitu.
Imel menyusuri buku-buku yang terpajang dirak dengan tangannya, tangannya terhenti pada salah satu buku yang dia tarik keluar dari barisannya.
"Kayaknya nieh buku menarik deh." ucapnya melihat sampul buku yang kebetulan judulnya berbahasa Indonesia, jadi Imel bisa membacanya, tidak seperti buku-buku lainnya yang kebanyakan memakai bahasa Inggris, "Kayaknya ini buku yang menarik dan lebih bisa diterima oleh otak gue deh." Imel mengedarkan matanya kesekeliling untuk mencari tempat duduk, matanya terhenti pada sofa yang ada diruangan tersebut, "Gak ada salahnyakan kalau aku membaca sebentar supaya semangat, baru setelah itu aku mulai bersih-bersih, lagian cuma ngelap-ngelap buku dan rak yang berdebu sieh bakalan cepat selesainya, jadi aku tidak perlu terburu-buru."
Dengan pemikiran tersebut, Imel berjalan ke arah sofa, dia tidak duduk disofa sieh, dia lebih memilih duduk lesehan dikarpet dan buku yang tadi dibawanya diletakkan diatas meja.
Imel mulai membuka lembaran buku, dia memang bisa membaca, tapi tidak paham tentang apa yang tengah dibacanya tersebut, namun entah dorongan dari mana sehingga dia tetap memaksakan diri untuk membaca sampai pada akhirnya, tulisan-tulisan hitam pada lembaran putih itu membuat matanya terasa berat, Imel merasakan kantuk yang sangat, sehingga, pelan tapi pasti, Imel merebahkan kepalanya di meja, kelopak matanya mulai redup secara perlahan sehingga pada akhirnya kemudian tertutup sempurna, sekarang, gadis cantik itu benar-benar tertidur lelap, ternyata sebuah buku mampu meninabobokannya, dasar Imel.
****
Entah berapa lama Imel tertidur sehingga begitu dia terbangun, dia kaget sendiri karna dia sama sekali belum mengerjakan tugas yang diperintahkan untuknya.
__ADS_1
“Astaga ya Tuhan, kenapa aku bisa ketiduran seperti ini.”
Imel buru-buru meraih kemoceng dan membersihkan setiap rak buku dengan cepat karna kalau Qianu pulang dan melihat kalau pekerjaannya belum beres, sudah bisa dipastikan laki-laki itu akan ngamuk-ngamuk dan punya alasan untuk menghukumnya.
"Semangat Imel, semangat."
Dan ternyata, disaat kpepet begini, kemampuannya patut diacungi jempol karna dia bisa menyelsaikan pekerjaannya dalam waktu setengah jam.
“Syukurlah sudah selesai.” Desahnya lega saat melihat ruangan yang dia bersihkan terlihat kinclong.
Tepat saat Imel keluar dari ruangan tersebut, dia berpapasan dengan Qianu yang juga akan ke ruang perpustakaan itu, dibelakangnya berdiri ibu Tin.
“Saya sudah menyelsaikan tugas saya kok membersihkan perpustakaan.” Lapor Imel menunduk karna tidak mau menatap mata Qianu, setiap kali menatap mata tersebut, Imel merasa takut.
“Kamu ikut aku.” perintah Qianu yang berjalan melewati Imel menuju perpustakaan karna dia ingin melihat hasil kerja Imel.
Imel dan bu Tin mengekor dibelakang, mereka terlihat was-was, pasalnya kalau Qianu tidak puas dengan hasil kerja Imel, sudah bisa dipastikan kalau dia akan kena hukum, tidak hanya Imel sja, tapi bu Tin sudah bisa dipastikan akan kena dampaknya juga.
Saat memasuki ruangan yang menjadi salah satu ruangan paforitnya dirumah besarnya itu, Qianu mengedarkan pandangannya kepenjuru ruangan sebelum berkeliling.
Dan tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya, itu sebagai pertanda kalau dia puas dengan hasil kerja Imel, laki-laki itu kemudian pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.
Imel dan ibu Tin sama-sama mendesah lega begitu Qiaanu berlalu dari hadapan mereka.
“Syukurlah, ternyata tuan tidak komplen.”
Imel mengangguk lega, dia bersyukur karna bisa menyelsaikan pekerjaannya dengan cepat.
****
__ADS_1
Karna ini adalah hari minggu dan tentu saja hari minggu adalah hari libur, tidak hanya untuk anak sekolahan, tapi juga perusahaan-perusahaan meliburkan pegawainya, oleh karna itu, baik Qianu dan Imel saat ini sama-sama libur dan berada dirumah.
Dan saat ini Qianu ingin memanfaatkan waktu liburnya dengan berenang dikolam renang belakang rumahnya, saat ini Qianu tengah meregangkan otot-ototnya, dia hanya mengenakan celana pendek sehingga tubuh bagian atasnya benar-benar terekpos sempurna diguyur oleh sinar matahari pagi.
Imel yang membawakan jus untuk Qianu tidak mengedipkan matanya menatap punggung kokoh itu, untuk sesaat dia berdiri menyaksikan indahnya pemandangan ciptaan Tuhan itu.
"Dia begitu sempurna Tuhan, tapi kesempurnaannya tertutup karna kekejamannya, seandainya saja dia baik kayak pertamakali aku bertemu dengannya, sudah pasti aku akan cinta setengah mati kepadanya."
Saat tengah fokus memperhatikan punggung Qianu yang membelakanginya, Qianu tiba-tiba berbalik dan itu membuat Imel gelagapan karna kpergok memperhatikan Qianu.
"Duhh, kpergok lagi gue, bakalan kena hukum gak ya." was-was Imel langsung membuang pandangannya, karna Qianu sering menghukumnya sehingga membuat Imel jadi paranoid.
Kalau Qianu benar-benar menghukum Imel hanya gara-gara memandangnya, asli Qianu orangnya lebay.
"Bawa minumannya kemari." perintah Qianu.
"Iya." jawab Imel sambil menunduk.
"Ini minumannya kak." dengan masih menunduk Imel menyodorkan minuman yang ada diatas nampan kepada Qianu.
"Kamu ingat kata-kataku waktu pertama kali kamu datang kerumah ini."
"Kata-kata yang mana." batin Imel berusaha mengingat-ingat kata apa yang diucapkan Qianu saat pertama kali dia datang, "Kalau gue gak ingat dia pasti bakalan ngehukum gue."
"Aku tidak suka saat aku bicara lawan bicaraku tidak menatap ke arahku."
Imel langsung mendongak dan menatap langsung ke mata tajam Qianu.
Qianu tersenyum sinis sambil menyeruput orange jus yang dibawakan oleh Imel, jakun laki-laki itu bergerak-gerak saat cairan berwarna orange itu mengaliri tenggorokannya, dan itu sangat seksi dimata Imel, Imel sampai menelan salivanya.
__ADS_1
****