
Imel membuka pintu yang sekarang menjadi kamarnya, sebuah ruangan yang kecil, didalamnya hanya ada tempat tidur kecil, lemari kecil dan juga meja kecil, semuanya serba kecil, sangat berbanding terbalik dengan kamarnya dirumahnya yang dulu, besar, mewah dengan fasilitas lengkap.
"Bersyukurlah Imel, jangan mengeluh, diluar sana banyak kok orang yang lebih tidak beruntung dari kamu." Imel berusaha untuk menghibur dirinya.
Namun meskipun begitu, air matanya tidak bisa dia tahan, bukan karna kamarnya yang kecil, tapi dia ingat sama papinya, yang saat ini Imel harapkan hanya satu yaitu kesembuhan papinya.
"Imel akan melakukan apapun untuk kesembuhan papi, termasuk melakukan apapun yang disuruh oleh laki-laki kejam itu." batin Imel mantap.
Imel membaringkan tubuhnya ditempat tidurnya, tempat tidur itu terasa keras, namun karna Imel kelelahan, lelah secara fisik dan juga perasaan, sehingga tidak butuh waktu lama baginya untuk terlelap dan membawanya ke alam mimpi.
Imel merasa dia baru tidur sebentar saat dia merasakan guyuran air membasahi wajahnya, Imel terbangun dengan kaget.
"Heh bangun, dasar pemalas." bentak sebuah suara berat.
Imel menoleh ke arah sumber suara dimana didepannya berdiri dengan angkuh seorang Qianu yang sudah rapi dengan stelan formalnya, tangannya memegang gelas, gelas yang airnya digunakan untuk menyiram Imel.
Imel reflek bangun, dia mengelap wajahnya.
"Kamu disini bukan untuk tidur, kamu fikir rumahku hotel hah." Qian membentak.
"Maafkan aku, aku ketiduran."
"Hugo."
"Iya tuan."
"Apa yang kamu lakukakan, apa kamu tidak memberitahu gadis manja ini tugas-tugasnya hah." nama Hugo jadi ikut kena seret.
"Saya semalam memberitahu semua apa yang harusnya dilakukan oleh nona Imel tuan."
"Apa benar yang dikatakan oleh Hugo." Qian menanyai Imel untuk mengkonfirmasi.
"Benar, sekali lagi saya minta maaf karna saya ketiduran." Imel merasa takut dengan kemarahan Qianu.
"Kalau maaf berlaku, penjara tidak akan berfungsi."
Kata-kata tersebut membuat Imel takut, dia yakin Qianu akan melakukan sesuatu kepadanya.
"Hugo."
"Iya tuan."
"Apa hukuman bagi pemalas seperti gadis ini." Qian memang paling tidak suka apa yang dia perintahkan diabaikan sehingga dia tidak segan-segan untuk memberi hukuman.
"Aku mohon, jangan hukum aku, aku tidak akan ketiduran lagi, aku benar-benar kelelahan semalam sehingga membuat aku ketiduran." Imel menghiba, dia ingat dengan kekejaman yang terpencar dari mata Qianu semalam seolah-olah dia bisa melakukan apapun tanpa berfikir.
"Tidak ada kata maaf, setiap kesalahan harus mendapatkan hukuman yang setimpal, bukan begitu Hugo."
"Iya tuan."
Dari balik baju formal yang dia kenakan, Qian mengeluarkan sebuah pistol, melihat pistol yang ada ditangan Qian membuat Imel bergidik ngeri, bagaimana tidak, sudah pasti Imel berfikir kalau dirinya akan ditembak, wajah Imel seketika pucat karna ketakutan.
__ADS_1
Imel merangkak dan memeluk kaki Qian, "Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf, jangan tembak aku." Imel mulai menangis.
Qian tersenyum sinis melihat gadis itu menghiba, dia mendorong lututnya yang dipeluk oleh Imel sehingga membuat Imel terjengkang kebelakang.
"Hugo, bawa dia ke taman belakang."
"Baik tuan." patuh Hugo.
Setelah memberi perintah, Qian berjalan keluar dari kamar Imel.
"Ayok nona kita ke taman belakang." ajak Hugo dengan suara agak lembut, dia merasa kasihan juga dengan gadis kecil yang menangis karna ketakutan.
"Aku tidak akan dibunuhkan Hugo."
"Tentu saja tidak nona, tuan tidak sejahat itu hanya karna kesalahan sepele sampai membunuh nona."
"Tapi...tapi kenapa dia membawa pistol Hugo, aku benar-benar takut."
"Tuan memang harus tetap membawanya untuk keselamatannya."
"Maksudmu, tuanmu itu punya banyak musuh begitu."
"Sudahlah nona, jangan banyak tanya, kita sebaiknya ke taman belakang sebelum tuan bertambah marah dan benar-benar membunuh nona."
Imel yang ketakutan mendengar kata-kata Hugo dengan tergesa-gesa berjalan keluar menuju taman belakang.
*****
Dan kini, Imel sudah berdiri dengan membawa Apel merah ditanganya, Imel memandang apel itu dengan terheran-heran.
"Baik tuan."
"Nona, ayok ikut saya."
Tanpa banyak bertanya, Imel mengikuti Hugo.
Hugo berhenti beberapa meter dari jarak Qianu berdiri, melihat Hugo menghentikan langkahnya, Imel reflek berhenti.
"Silahkan nona berdiri ditengah."
Imel menurut patuh.
"Letakkan apel yang nona bawa diatas kepala nona."
"Meletakkan apel ini dikepalaku." ulang Imel.
"Iya nona."
Perasaan Imel sudah mulai tidak enak, "Tapi...tapi kenapa aku harus meletakkan apel ini dikepalaku."
"Karna tuan akan latihan menembak, menjadikan apel yang nantinya nona letakkan dikepala nona sebagai sasaran." jawab Hugo dengan gambalang tidak memperdulikan raut ketakutan diwajah Imel.
__ADS_1
"Apa, dia tidak seriuskan Hugo, kamu bilang dia tidak akan membunuhku."
"Tuan memang tidak akan membunuh nona, tuan hanya akan menembak apel yang ada ditangan nona itu."
"Itu sama saja dengan membunuhku, tuanmu itu sakit jiwa Hugo, bagaimana kalau aku yang tertembak."
"Nona, mohon turuti apa yang dikatakan oleh tuan, kalau nona membantah seperti ini maka tuan akan semakin marah."
"Tapi...tapi…."
"Percayalah nona, kemampuan tuan Qianu tidak perlu diragukan, dia sering juara menembak saat masih menjadi pelajar, jadi, bisa dipastikan nona akan baik-baik saja." Hugo berusaha menenangkan, biar bagaimanapun, Hugo maklum kalau gadis kecil yang kini ada dihadapannya ini tentu saja sangat ketakutan memikirkan akan keselamatannya.
"Apa yang kalian lakukan, kenapa kalian malah asyik ngobrol, kalian berdua mau aku tembak beneran." terdengar suara teriakan Qianu yang kini sudah mengokang senjata apinya.
"Ayok nona, jangan buat tuan semakin marah."
"Tapi aku takut Hugo."
"Percayalah nona tidak akan kenapa-napa, tuan benar-benar ahli dalam menembak."
"Kalian benar-benar minta untuk ditembak ternyata." Qian mengarahkan senjatanya kepada dua orang tersebut.
"Ayok nona cepat."
Imel berdiri ditempat yang ditunjukkan oleh Hugo dan meletakkan apel yang dari tadi dibawanya dikepalanya, Imel hanya berharap apa yang dikatakan oleh Hugo benar kalau Qian memang jago menembak.
Dari jarak beberapa meter, Qian tersenyum puas saat melihat Imel ketakutan dengan tubuh bergetar.
"Kondisikan tubuhmu kalau kamu tidak mau tertembak." teriak Qian.
Imel berusaha untuk menghentikan getaran tubuhnya, itu adalah reaksi alami dari tubuh manusia saat ketakutan.
"Ya Tuhan, tolong hambamu ini, hamba masih belum mau mati, hamba masih banyak dosa."
Imel memejamkan matanya saat Qian mengarahkan mocong pistol ke arahnya, lebih tepatnya sieh ke arah apel yang ada diatas kepala Imel.
Door
Tembakan itu berhasil membuat apel dikepala Imel hancur karna terkena peluru, suara itu tembakan itu sekaligus mengagetkan Imel, sehingga membuatnya terjatuh tidak sadarkan diri.
"Nona." Hugo bergegas mendekati Imel, difikirnya tuannya salah sasaran.
"Sial." umpat Qianu.
Qian langsung berlari, dia berfikir tembakannya melenceng.
"Nona, bangun nona." Hugo menepuk-nepuk pipi Imel.
"Apa dia terkena tembakanku Hugo." tanya Qian khawatir begitu dia sudah berada didekat Imel yang tergeletak, laki-laki itu langsung duduk disamping kepala Imel.
"Nona Imel hanya pingsan tuan, dia sepertinya kaget mendengar suara tembakan."
__ADS_1
Mendengar hal tersebut, diluar keinginanya Qian terlihat lega, tanpa basa-basi dia langsung mengangkat tubuh Imel dan membawanya masuk ke rumah.
*****