MENIKAH KARNA DENDAM

MENIKAH KARNA DENDAM
MAAFKAN AKU KAK QIANU


__ADS_3

Sementara itu dirumah besar milik Qianu, begitu pulang dari kantor, Qianu langsung berjalan menuju kamarnya, karna menurut informasi yang dikatakan oleh Hugo kalau istrinya sudah berada dirumah setelah mengerjakan tugas dari rumahnya Juli.


Qianu sudah berharap akan menemukan istrinya dikamar, sayangnya saat dia tiba, dia tidak menemukan siapa-siapa disana, karna berfikir kalau istrinya itu saat ini tengah ada dikamar mandi sehingga Qianu melangkahkan kakinya ke kamar mandi, sayangnya, Qianu juga tidak menemukan Imel disana.


"Imel dimana, apa dia ada ditaman belakang kali ya." fikirnya, dan Qianu berusaha untuk menghubungi nomer Imel, namun, Qianu mendengar suara deringan ponsel Imel berada dikamarnya, otomatis Qianu menurunkan ponsel dari telinganya saat menemukan ponsel milik sang istri tergeletak begitu saja ditempat tidur.


"Itu bukannya ponsel Imel." Qianu meraih ponsel tersebut, "Kalau ponsel Imel ada dikamar, itu berarti gadis itu ada dibawah."


Lewat telpon rumah yang memang dia peruntukkan untuk mempermudahnya saat menginginkan sesuatu, Qianu memerintahkan Hugo untuk mencari keberadaan Imel yang dijawab dengan patuh oleh Hugo.


Namun 10 menit kemudian, Hugo memberi laporan kalau ternyata Imel tidak bisa ditemukan dimanapun diseantero rumah.


"Yang benar saja, kamu bilang istriku itu ada dirumah sehabis mengerjakan tugas dari rumahnya Juli." Qianu memarahi Hugo atas informasi yang diberikan oleh Hugo tersebut.


"Maafkan saya tuan, memang nona Imel ada dirumah saat saya pergi menjemput tuan."


"Tapi buktinya istriku tidak ada dirumah Hugo, dimana dia sekarang hah."


"Maafkan saya tuan, saya tidak tahu, tapi saya akan mencari nona sampai ketemu tuan." takut Hugo saat melihat sang tuan yang terlihat menyeramkan.


"Memang kamu harus mencarinya Hugo, temukan dia dengan selamat dan utuh, dan begitu gadis nakal itu ketemu, bawa dia menghadapku, dia selalu saja pergi tanpa berpamitan, dia memang benar-benar minta untuk dihukum, awas saja dia nanti."


"Baiklah tuan saya akan pergi mencari nona muda bersama dengan yang lainnya." Hugo segera pergi dari hadapan tuannya, takut dia kalau lama-lama akan kena tangan melayang.


"Selalu saja pergi tanpa kabar begini, dia tidak tahu apa betapa khawatirnya aku." desis Qianu.


****


Saat semua orang dibuat khawatir dengan dirinya yang tidak ada dirumah, saat ini Imel dan Altan dalam perjalanan pulang,  Imel merasa puas karna bisa memakan apa yang dia inginkan.


"Kapan-kapan mau lagi gak aku ajakin untuk makan mi instan ditempat barusan."


"Tidak usah kak Altan, terimakasih atas tawarannya, nanti aku beli stok mi instan yang banyak agar aku bisa masak mi instan tiap hari dirumah." tolak Imel.


Altan tentu saja kecewa mendengar penolakan yang dilontarkan oleh Imel, padahal dia berharap kalau Imel mengiyakan ajakannya.


Dan saat ini mobil milik Altan memasuki pekarangan rumah Qianu, dan saat melihat Imel yang keluar dari mobil milik Altan, beberapa pelayan yang berada diteras depan terlihat lega begitu melihat kedatangan nona muda mereka, mereka menyongsong kedatangan Imel.


"Nona Imel, nona darimana saja nona, nona tahu tidak kalau tuan Qianu marah-marah sejak tadi mencari keberadaan nona." lapor salah satu pelayan.


"Astaga, matilah aku." Imel memukul keningnya karna dia tidak izin sama suaminya itu sebelum pergi, "Duhh gimana ini ya, pasti dia marah besar dan akan menghukumku." Imel jadi takut sendiri, dia takut kalau dia akan dikurung digudang seperti waktu itu.


"Kenapa Mell." tanya Altan yang tahu-tahunya sudah berada didekat Imel sekarang.


"Kak Qianu."


"Qianu." ulang Altan heran saat Imel menyebut nama suaminya itu, "Ada apa dengan Qianu."


"Dia marah karna aku tidak izin sama dia, mana ponsel aku tinggalin dirumah lagi, pasti dia nelpon aku untuk menanyakan dimana keberadaanku." benar-benar cemas deh sik Imel.


"Masak hanya gara-gara ini dia marah sama kamu sieh Mell, toh kan sekarang kamu sudah pulangkan." kata Altan saat melihat raut cemas yang tergambar diwajah Imel.


"Ternyata benar yang dikatakan oleh Agnes, kalau Qianu memang sering menyiksa Imel, masak karna keluar begini doank sampai Imel kelihatan ketakutan begitu."  seketika Altan ingin melindungi Imel dari Qianu yang nantinya bakalan ngamuk-ngamuk pada Imel.


"Kak Altan mah tidak tahu saja bagaimana suamiku itu, dia orangnya emosian." suara hati Imel.


"Mmm, ya sudah deh kak Altan, terimakasih ya karna telah membawaku makan mi instan, aku sebaiknya masuk untuk menemui suamiku dulu."


"Mell, aku temenin ya." wah, ini sieh namanya cari mati, sudah perginya tidak izin, dan Qianu pasti akan bertambah marah saat mengetahui kalau Imel perginya bareng Altan, bisa dicemplungin Imel dikolam buaya.


"Eh eh, gak perlu kak Altan, kak Altan mending balik gieh sana, kakak tidak perlu khawatir, aku bisa kok mengatasi suami aku sendiri." lisannya, dihatinya Imel berkata, "Kak Altan ikut masuk dan menjelaskan sama kak Qianu, itu sama saja dengan kak Altan meminta kak Qianu untuk mencemplungkan aku dikolam buaya."


"Tapi Mell, aku..."


"Aku bilang gak apa-apa ya gak apa-apa kak Altan, sana mending balik saja, aku bisa mengurus ini semua sendiri." setelah mengusir Altan, Imel langsung berlari masuk ke rumah besar milik suaminya tersebut.


Sedangkan Altan, tidak serta merta pergi begitu saja, dia memilih menunggu diluar saja, dan kalau seandainya terjadi apa-apa, dia bisa langsung masuk untuk menolong Imel nantinya.


"Tuan Altan kenapa masih berada disini." salah satu pelayan itu bertanya sama Altan.


"Emangnya kenapa, gak boleh kalau saya disini." sewot Altan yang merasa kesal sendiri saat mendengar pertanyaan dari pelayan tersebut.


"Gak kok tuan, maaf kalau saya salah." pelayan itu menunduk karna kena marah oleh Altan, meskipun Altan bukanlah majikan mereka, tapi mereka tetap menghormati orang yang memiliki uang, karna uang adalah segalanya.


****


Saat berada didalam, Imel berpapasan dengan Irma, Irma juga tampak khawatir, apalagi saat melihat sang nona.


"Nona muda, nona dari mana saja tho, tuan sangat khawatir dengan nona."


"Sekarang Qianu ada dimana kak Irma."


"Tuan saat ini ada diruang kerjanya nona."


"Terimakasih kak Irma, aku akan menemui kak Qianu kalau begitu."


"Baik nona."


Imell dengan langkah lebar menjalankan kakinya ke ruang kerja Qianu, saat Imel tiba diruang kerja suaminya itu, ruangan tersebut tampak tertutup rapat.


Dan sebelum masuk, Imel menarik nafas panjang lalu kemudian menghembuskannya, itu dia lakukan sampai beberapa kali, dan setelah agak tenang, dia berkata pada dirinya sendiri, "Oke Imel, jangan takut, semuanya akan baik-baik saja, jelaskan semuanya dengan baik-baik sama Qianu, dia bukan manusia yang tidak punya hati yang akan menghukummu begitu saja." Imel mencoba untuk menghibur dirinya dengan kata-katanya sendiri meskipun Imel tentu saja tidak yakin mengingat sebelum-sebelumnya kalau dia melakukan kesalahan Qianu selalu saja menghukumnya meskipun yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan kecil, "Semoga suasana hati kak Qianu lagi baik saat ini." harap Imel.


Imel menarik nafas untuk yang terakhir kalinya, menghembuskannya dan barulah dia meraih gagang pintu dan mendoronganya perlahan, dari pintu yang terbuka sedikit Imel mengintip ke dalam, dia bisa melihat punggung lebar dan kokoh milik suaminya berdiri membelakanginya.


Dengan langkah pelan Imel memasuki ruang kerja Qianu, dan begitu sudah berada didekat Qianu, Imel melingkarkan tangannya dari belakang untuk memeluk Qianu.


"Maafkan aku kak Qianu, maafkan aku karna telah pergi tanpa izin, aku benar-benar minta maaf, maafkanlah aku kak Qianu." Imel benar-benar berharap kalau Qianu kali ini berbaik hati dan tidak asal main hukum saja seperti sebelum-sebelumnya yang selalu Qianu lakukan.


Sedangkan Qianu yang tidak menyadari kehadiran Imel tentu saja kaget saat sebuah tangan mungil yang ternyata adalah milik istrinya tiba-tiba memeluknya dari belakang, Qianu memang sangat marah karna Imel pergi diam-diam tanpa memberitahu siapapun, ditambah lagi ponselnya juga ditinggalkan dirumah, itukan membuat Qianu khawatir, tapi melihat Imel memeluknya dari belakang dan melafalkan kalimat maaf berulangkali membuat Qianu menjadi luluh, rasa marah itu perlahan saja memudar, tapi meskipun begitu, tetap saja dia belum mau buka suara untuk menanggapi permintaan maaf dari Imel.


"Jangan marahin aku pliss, maafkanlah aku kak Qianu sayang." rayu Imel yang kini mulai meletakkan dagunya dibahu sang suami.


Namun Qianu masih tetap bungkam, dia sengaja melakukan hal tersebut agar ada efek-efek dramatisnya gitu.


"Kak Qianu kenapa diam aja sieh, jangan marah kakak."


Setelah bebarapa detik setia dengan kebungkamannya, Qianu akhirnya buka suara juga, "Kamu habis darimana Imell." dan seperti biasa, suara itu dingin dan datar.


"Hmm, makan mi instan." Imel memberi jawaban jujur.


Mendengar jawaban Imel barusan membuat Qianu langsung berbalik menghadap Imel, "Kamu habis makan mi instan." ulangnya tajam seolah-olah makan mi instan adalah sebuah dosa besar.


Imel mengangguk takut saat mendengar nada suara Qianu, fikirnya, dimana coba letak kesalahan makan mi instan.


"Mengkonsumsi mi instan itu tidak baik tahu Imel untuk kesehatan, kenapa kamu makan makanan yang seperti itu sieh."


Imel memang agak bodoh sieh, tapi dia tahu kok kalau mi instan memang tidak baik untuk kesehatan, tapi menurutnya Qianu berlebihan, kalau cuma makan mi instan cuma sekali doankkan gak apa-apa.


"Aku pengen kak."


"Kalau kamu ingin makan mi, kamu bisa meminta para pelayan memasakkan kamu mi yang lebih sehat Imel."

__ADS_1


"Duhh, ribet banget deh kak Qianu ini, kalau ada yang praktis, kenapa harus dibikin ribet segala." kata-kata yang hanya diucapkan oleh Imel dalam hati.


"Tapi aku pengennya mi instan kak yang biasa dijual diwarung-warung itu."


Qianu mendengus mendengar jawaban dari istrinya itu, "Tapi itu tidak sehat Imel, lain kali jangan pernah makan makanan yang seperti itu, kamu mengertikan Imel."


Diluar Imel mengangguk, tapi dihati tentu saja dia akan makan mi instan lagi, dan tentunya itu akan dia lakukan diam-diam tanpa sepengetahuan Qianu,


"Kamu sama siapa perginya."


"Duhh, kalau aku bilang aku perginya sama kak Altan dia pasti marah, kak Qianu pasti mengatakan kalau aku wanita ganjen, tapi kalau bohong juga percumakan, beberapa pelayankan barusan melihat aku dianterin sama kak Altan, duhh, kenapa sieh aku tidak mempertimbangkan semuanya terlebih dahulu sebelum pergi dengan kak Altan, sekarang kalau sudah begini, aku harus bagaimana menjelaskannya sama kak Qianu. Imel tampak diam, dia mempertimbangkan baik dan buruknya.


"Kenapa kamu diam Imel, aku tanya, kamu sama siapa perginya." Qianu mengulangi pertanyaannya.


"Kak Altan." akhirnya Imel memilih jujur saja daripada Qianu tahunya dari orang lain.


"Dia lagi." sangat jelas kalau Qianu tidak suka mendengar pengakuan dari sang istri.


"Kak Qianu jangan marah ya, aku mau pergi sama kak Altan karna kak Altan tahu dimana tempat menjual mi instan yang enak, lagiankan juga kak Altan itu pacarnya Agneskan, jadi kakak tidak perlu khawatir tentang kak Altan."


"Hmmm."


"Kak Qianu tidak marahkan."


Qianu tampak diam tidak merespon.


"Kak Qianu, kak Qianu tidak marahkan."


"Hmmm."


"Beneran tidak marah kak." Imel bertanya sekali lagi untuk meyakinkan dirinya.


"Iya bawell."


Begitu mendengar kalau dia mendapat pengampunan dari yang mulia raja, Imel tersenyum lebar dan langsung melingkarkan tangannya memeluk tubuh Qianu yang besar dan berotot akibat dari bentukan dari seringnya ngegim, Imel kemudian berjinjit, niatnya sieh mau mencium Qianu.


Cup


Satu kecupan mendarat dipipi Qianu.


Imel mencium pipi suaminya itu, "Aku sayang kak Qianu." lisannya tersenyum.


"Jangan mancing-mancing Imel."


"Kalau kak Qianu mau, kenapa gak, mau ngapain aja bebaskan, sudah halal juga." lha ini sik Imel malah nantangin dia.


"Hmm, baiklah kalau kamu yang minta, jangan salahkan aku kalau kamu tidak bisa berjalan."


Qianu mengangkat tubuh Imel dan mendudukkannya diatas meja kerjanya, saat dia akan mencium Imel, tiba-tiba Hugo datang sehingga membuat aktifitas yang akan mereka lakukan jadi tertunda.


"Tuan saya...." Hugo langsung menghentikan ucapannya saat melihat tuannya saat ini tengah bersama dengan sang istri, dan pasangan suami istri itu sepertinya akan bermesraan.


Hugo dan yang lainnya memang ditugaskan mencari Imel kembali ke rumah besar saat dikabarkan oleh salah satu pelayan dirumah itu kalau orang yang dicari sudah kembali, makanya Hugo dan yang lainnya kembali ke rumah.


"Maafkan saya tuan, saya tidak tahu kalau saat ini tuan tengah bersama dengan nona." Hugo merasa takut karna telah mengganggu tuannya, apalagi dibawah tatapan mengerikan yang diberikan oleh Qianu.


"Hugo, kamu punya sopan santunkan, tidak bisakah kamu mengetuk terlebih dahulu kalau mau masuk."


"Maafkan saya tuan, tapi ruang kerja tuan terbuka." memang benar terbuka karna saat masuk Imel tidak menutupnya.


Imel yang saat ini tengah duduk diatas meja turun, dia berusaha untuk menenangkan suaminya supaya tidak memarahi Hugo.


"Kak Qianu, jangan marahin om Hugo, masak hanya karna hal sepele begitu kak Qianu marah-marah sieh." Imel mengelus lengan suaminya, berharap dengan begitu amarah sang suami sirna.


"Baiklah Hugo saya memaafkan kamu karna istri saya, dan sekarang, apa yang ingin kamu katakan." kini suara Qianu terdengar normal.


"Sebenarnya saya ingin memastikan tuan kalau nona Imel sudah berada dirumah atau tidak, soalnya tadi saya ditelpon oleh salah satu pelayan yang mengabarkan kalau nona Imel sudah kembali."


"Seperti yang kamu lihat Hugo, bukankah istriku sekarang sudah ada didekatku."


"Iya tuan, saya sangat senang mengetahui kalau nona Imel telah kembali."


"Terus, kamu tahukan apa yang harus kamu lakukan sekarang Hugo."


"Ahh iya tuan, maafkanlah saya, saya akan pergi, permisi tuan." pamit Hugo.


"Hmmm."


"Kak Qianu bisa tidak kakak itu jangan galak-galak, bikin orang takut saja."


"Seorang atasan itu memang harus berwibawa Imel agar dihargai oleh bawahannya."


"Itu tadi namanya galak kakak, bukannya berwibawa."


"Sudahlah, jangan bahas hal tidak penting begitu, sebaiknya kita melanjutkan apa yang sempat tertunda barusan."


"Gak mau ahh, aku mau ke kamar." tolak Imel mentah-mentah, gadis itu langsung pergi meninggalkan Qianu begitu saja.


"Astaga wanita satu ini, kenapa dia bisa begitu menyebalkan setelah memancingku." rutuk Qianu mengikuti Imel, "Imell, Mell, kita lakukan dikamar oke."


"Aku capek kakak, besok saja ya."


"Tadi mancing-mancing, gimana sieh kamu itu, memberi harapan palsu saja."


"Kita lakukan dikamar ya Imel."


"Tidak mau kak, aku capek."


Mereka mengobrolkan hal tersebut sambil jalan sehingga para pelayan yang kebetulan berlalu lalang berhenti hanya sekedar untuk mendengarkan percakapan majikan mereka, menyadari para pelayan dirumah kini menjadikan dia dan Imel sebagai pusat perhatian membuat Qianu memarahi mereka.


"Apa yang kalian lihat hah, kerjakan saja pekerjaan kalian, kalian fikir kami main drama yang layak untuk kalian tonton."


Para pelayan itu buru-buru menunduk dan merasa bersalah, "Maafkan kami tuan."


"Kenapa masih disini, bubar, kalian disini tuh digaji untuk bekerja ya, bukan untuk menguping pembicaraan majikan kalian."


"Astaga laki-laki itu, bisa tidak dia jangan marah-marah begitu, kan kasihan para pelayan jadi ketakutan begitu." desis Imel tanpa suara.


"Sekali lagi, kami minta maaf tuan." setelah mengucapkan permintaan maaf untuk yang kedua kalinya, para pelayan itu bubar dan kembali melakukan aktifitas mereka masing-masing.


Sementara itu Imel kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar yang diikuti oleh Qianu yang masih terus merengek meminta jatah.


****


Altan : Nes, apa Imel baik-baik saja


Agnes yang saat ini tengah duduk dikursi meja riasnya mendengus saat membaca chat yang dikirim oleh Altan.


"Kenapa sik tolol ini menanyakan keadaan Imel kepadaku, aku mana peduli apakah dia baik-baik saja atau tidak, tapi aku berharapnya sieh dia sakit parah dan pada akhirnya mati." hal itulah yang sangat diharapkan oleh Agnes.


Agnes : Aku gak tahu dan tidak mau tahu

__ADS_1


Altan : Kok gitu sieh Nes


Agnes : Emang kenapa sieh kamu nanya kayak gitu, yang jelas setahu aku ya Altan, wanita yang kamu cintai itu saat ini tengah baik- baik saja


Ternyata Agnes tidak tahu kejadian yang terjadi sore tadi karna sejak Altan pamit pulang dia mengurung diri dikamar.


Altan : Ya aku fikir sahabat kamu itu akan memarahi Imel atau lebih parahnya adalah memukul Imel, makanya aku bertanya sama kamu


Agnes : Emang ada apaan sieh ini sebenarnya


Altan : Akhh sudahlah kalau kamu tidak tahu, malas banget aku menjelaskannya


"Dasar laki-laki resek." umpat Agnes dan tidak membalas pesan itu lagi, Agnes sekarang lebih memilih fokus untuk menempelkan masker diwajahnya, wajahnya jauh lebih butuh diperhatikan daripada harus meladeni Altan.


"Haus." ucapnya berdiri dan berjalan menuju dapur untuk minum.


Disaat bersamaan, Imel yang  juga kehausan karna dia dan Qianu melakukannya sampai dua kali, meskipun sebenarnya malas turun dari tempat tidur karna tubuhnya terutama daerah dibagian selangkangannya terasa pegal-pegal, tapi Imel memaksakan dirinya untuk kedapur untuk mengambil air minum.


Saat dia lagi membuka kulkas untuk mengambil air minum, Imel merasakan pundaknya disentuh dari belakang yang membuatnya memutar tubuhnya ke belakang, dan yang terjadi adalah, "Akhhhhhh." Imel menjerit kencang saat melihat mahluk berambut panjang dengan wajah putih dan juga memakai gaun putih panjang tepat berdiri dihadapannya, Imel tentu saja tidak tahu kalau itu adalah Agnes, dan Agnes yang melihat Imel berteriak juga reflek ikutan berteriak.


"Akhhhh." dua wanita itu saling adu teriak yang membuat kehebohan dan seisi rumah yang saat ini tengah pada beristirahat keluar dari kamarnya.


Setelah sadar Imel takut kepadanya, Agnes berusaha untuk memberitahu Imel kalau itu adalah dirinya.


Agnes menempelkan telunjuknya dibibirnya, "Sssttt, Imell, ini aku, ini aku Agness."


Imel otomatis menghentikan jeritannya.


"Agness."


"Iya, ini aku Agnes Imel."


"Ya Tuhan Agnes, bikin jantungku copot saja." Imel memegang jantungnya, dimana dia bisa merasakan kalau organ dalamnya itu berdetak dengan sangat cepat.


Hugo dan beberapa pengawal dan juga pelayan, dan tidak ketinggalan Qianu juga datang ketempat terjadinya sumber keributan.


"Ada apa ini, apa yang terjadi Imel, ada yang berniat jahat kepadamu." cecar Qianu menatap ke arah sang istri.


Imel menggeleng, "Tidak ada kak, aku hanya mengira kalau Agnes adalah hantu karna dia memakai masker."


"Ini adalah kesalahpahaman Qianu." Agnes turut menimpali.


"Astaga kalian itu bikin panik seisi rumah saja." antara lega dan kesal itulah yang saat ini Qianu rasakan, saat mendengar suara jeritan Imel dari atas membuat jantungnya mau copot saja, dia fikir ada yang berniat menyakit Imel, makanya dia buru-buru berlari kebawah.


"Syukurlah, saya fikir tadi terjadi apa-apa sama nona." Hugo juga mendesah lega.


"Sebaiknya kalian bubar sekarang, lanjutkan saja istirahat kalian." perintah Qianu kepada para pekerjanya dan semua yang ada disana langsung pada membubarkan diri.


"Mell, ayok kita naik ke atas." ajak Qianu.


"Kak Qianu duluan saja, nanti aku akan menyusul."


"Baiklah, tapi jangan lama-lama Imel."


"Iya."


Setelah kepergian Qianu, kini fokus perhatian Imel tertuju pada Agnes yang saat ini tengah meneguk air putih.


"Kenapa melihatku seperti itu." heran Agnes.


"Pantesan kamu cantik dan memiliki kulit yang sehat, kamu rajin maskeran kayak gini."


"Kamu mau aku kasih gak masker yang sering aku pakai agar kamu memiliki kulit dan cantik sepertiku." tawar Agnes yang tiba-tiba saja terlintas niat jahat diotaknya.


"Bolehkah."


"Tentu saja boleh."


"Akhh senangnya aku kalau kamu mau berbagi masker denganku."


"Kamu tunggu sebentar Imel, aku akan mengambilkannya untukmu."


"Terimakasih Agnes."


Imel membawa botol berukuran sedang berisi masker, tentunya ada sesuatu yang dicampur didalam botol masker tersebut, sesuatu yang tentunya bukanlah merupakan hal yang bagus.


"Nahh ini Imel rahasia kecantikan kulitku, pakailah agar kamu bisa secantik diriku."


Imel mengambil botol masker pemberian Agnes tersebut dengan wajah cerah, dia sudah membayangkan memiliki wajah glowing seperti Agnes.


"Terimakasih Agnes, kamu baik sekali."


Senyum jahat tersungging dibibirnya Agnes, dia sudah tidak sabar melihat reaksi masker tersebut diwajahnya Imel.


"Setelah aku memakai masker pemberianku itu Imel, siap-siap saja melihat wajah cantikmu menjadi hancur."  Agnes tersenyum jahat dalam hati.


Imel kembali ke kamarnya dengan membawa botol masker pemberian Agnes.


Dan begitu tiba dikamarnya, Imel yang ingin mendapatkan kulit wajah secantik Agnes mulai mengenakan masker tersebut diwajahnya.


"Itu kamu pakai apa sieh." Qiani melirik ke arah Imel.


"Maskeran, agar aku makin cantik." beritahu Imel.


"Padahal sudah cantik juga."


"Kak Qianu bilang apa barusan."


"Tidak ada."


"Ishh, padahal jelas-jelas aku dengar dia ngomong barusan."


*****


Saat bangun keesokan paginya, Imel merasakan agak gatal dikulit wajahnya.


"Duhh, kok gatal gini sieh wajahku." Imel menggaruk kulit wajahnya, namun bukannya hilang gatalnya, wajahnya tambah gatal.


"Kok gatal banget sieh."


Imel berjalan ke arah cermin, dia bisa melihat wajahnya dipantulan cermin, wajahnya terlihat memerah, Imel kaget melihat hal tersebut.


"Astaga, apa yang terjadi dengan wajahku, kenapa jadi memerah begini sieh." Imel ingin menangis rasanya saat melihat kulit wajahnya yang putih kini memerah, mirip seperti daging sapi mentah.


"Oke, gue harus tetap tenang, gue yakin kalau cuci muka pasti wajah gue akan kembali normal." Imel berusaha untuk menenangkan dirinya, oleh karna itu dia buru-buru ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, namun Imel ternyata salah, wajahnya bukannya membaik, tapi tambah memerah, kini mata Imel berkaca-kaca saat melihat pantulan dirinya dicermin.


"Apa yang terjadi sieh sebenarnya ini dengan wajahku." tanyanya sambil memegang wajahnya yang kini terasa panas setelah terkena air.


"Apa gara-gara masker itu kali ya." Imel menduga-duga.


"Apa tipe kulitku tidak cocok kali ya dengan kandungan yang terdapat dalam masker itu." Imel masih betah didepan cermin melihat wajahnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2