MENIKAH KARNA DENDAM

MENIKAH KARNA DENDAM
RUMAH QIAN


__ADS_3

Kini Qian dan Imel sudah berada didalam mobil dan Hugo yang merangkap sebagai pengawal sekaligus sopir pribadi, suasana didalam mobil terasa mencekam, Imel merasakan aura suram dan menakutkan saat berada didekat Qian, benar-benar bukan seperti laki-laki yang pernah Imel kenal waktu itu.


Imel berusaha duduk sejauh mungkin dengan menempel didekat jendela, dia takut berdekatan dengan Qian, apalagi saat Qian menatapnya dengan pandangan dinginnya.


"Putrimu begitu sangat cantik Satya, bagaimana perasaanmu kalau tahu putri kesayanganmu ini aku buat menderita." batin Qian, dikepalanya dipenuhi oleh rencana-rencana jahat.


"Dia kenapa natap aku sieh, mending pandangannya penuh cinta, ini dia menatap dengan pandangan mengerikan." Imel mengkeret.


"Jalan Hugo." perintah Qian dengan suara beratnya.


"Baik tuan." jawab laki-laki botak dengan tubuh kekar itu patuh.


Sepanjang perjalanan, Imel tidak bisa tenang karna memikirkan papinya yang sendirian dirumah sakit, ada sieh perawat yang selalu siap menjaganya, tapi rasanya Imel tidak bisa tenang membiarkan papinya dalam penjagaan orang lain.


"Ya Tuhan, jagalah papi, hamba serahkan papi kepadamu."


Karna fokus dengan fikirannya sendiri sehingga Imel tidak sadar kalau mobil yang membawanya kini berhenti didepan sebuah rumah besar dan megah, rumah tersebut lebih besar dan megah dari rumahnya yang disita oleh bank untuk menutup hutang perusahaan. Imel menatap keluar jendela, didepan rumah tersebut berjejer beberapa laki-laki berpakaian serba hitam, mereka sudah seperti pagar hidup.


"Laki-laki yang aku nikahi ini sebenarnya siapa sieh, kenapa begitu banyak laki-laki berpakaian hitam dan berwajah sangar yang mengelilinginya, apa dia orang jahat, pengedar narkoba, atau jangan-jangan, dia mafia." Imel semakin penasaran dengan siapa sebenarnya laki-laki yang kini telah berstatus sebagai suaminya itu.


"Turun." suara itu membuyarkan imajinasi Imel.


Sebelum Imel akan membuka pintu, pintu mobil itu sudah lebih dulu terbuka, ternyata salah satu laki-laki berpakaian hitam itulah yang membukakannya.


"Selamat malam tuan, nona."


Kompak para laki-laki itu dan memberi hormat.


Qian hanya melangkah, tanpa menggubris sapaan hormat dari pengawal-pengawalnya, Imel hanya mengikuti dibelakang, dibelakang Imel, Hugo mengikuti. Mata Imel menjelajah meneliti setiap ruangan yang dia lewati, rumah yang sangat besar dan mewah, tapi rumah itu sama mencekam dan menakutkannya seperti pemiliknya, karna sibuk meneliti, sehingga dia tidak sadar kalau Qianu kini berhenti sehingga Imel otomatis menabrak punggung kokoh Qianu.


"Awhhh." Imel mengaduh karna hidungnya terasa sakit karna membentur punggung keras Qian.


Imel mengelus hidungnya yang seketika memerah.

__ADS_1


Qian hanya menatap Imel dengan pandangan tajam, mendapat dirinya ditatap begitu, Imel menunduk, dia takut melihat tatapan Qianu yang seolah-olah ingin menelanjanginya.


Qianu mendekat yang membuat Imel reflek mundur, Qian tersenyum sinis melihat gadis kecil yang ada dihadapannya ketakutan.


"Kenapa." desis Qian dengan suara dinginnya, "Kamu takut denganku hah."


"Iya." Imel reflek menjawab sesuai dengan apa yang saat ini dia rasakan, sadar jawabannya bisa membuat laki-laki menakutkan yang berdiri dihadapannya marah, Imel buru-buru menggeleng, "Aku tidak takut kok." tapi wajah dan matanya benar-benar menampakkan hal yang sebaliknya.


"Hahaha." Qian tertawa, "Kamu tahu, memang seharusnya kamu takut kepadaku, karna semua orang takut kepadaku, karna aku tidak pernah segan-segan membunuh orang yang membuatku kesal."


Kata-kata Qian barusan semakin membuat Imel semakin mengkeret ketakutan, "Ya Tuhan, laki-laki yang seperti apa yang sebenarnya aku nikahi ini, kenapa dia begitu menakutkan seperti ini."


Qian semakin mendekat, karna tidak mau membuat Qian marah, Imel tetap berdiri ditempatnya, kini mereka benar-benar berdiri berhadapan, tidak ada jarak diantara mereka.


Dari jarak sedekat ini Qianu memperhatikan wajah Imel, tapi karna Imel terus menunduk sehingga hal itu membuatnya kesal, Qian mencengkram dagu Imel yang membuat Imel mendongak paksa, Imel hanya bisa meringis menahan sakit karna dagunya dicengkram dengan kuat.


"Aku paling tidak suka melihat orang yang aku ajak bicara tidak menatap ke arahku, kamu tahu Imel, itu tidak sopan."


"Ma...maaafkan aku." mata Imel berkaca-kaca.


Imel menggeleng.


"Itu artinya, aku bebas melakukan apapun yang aku inginkan kepadamu, apapun." kata terakhir itu benar-benar ditekan oleh Qian.


Air mata Imel merembas dari sudut matanya, dia merasa sangat sedih karna ini untuk pertamakalinya dia diperlakukan dengan sekasar ini.


"Gadis cengeng, baru begitu saja menangis, padahal aku belum melakukan apa-apa kepadamu." dengan kasar Qian menghempaskan dagu Imel, Imel yang lemah tersungkur dilantai.


"Hiks hiks." diluar keinginannya, Imel terisak, dia teringat sama papinya yang tidak pernah bersikap kasar kepadanya, laki-laki itu senantiasa memanjakannya.


Isakan Imel membuat Qian makin kesal, dia berjongkok dan semakin kuat mencengkram dagu Imel, "Aku paling tidak suka melihat perempuan menangis, jadi jangan membuatku semakin kesal."


Imel sangat berusaha menghentikan isakannya dan menghentikan air matanya, dia tidak ingin membuat laki-laki yang ada dihadapannya saat ini semakin marah dan mengasarinya.

__ADS_1


"Bagus, ternyata kamu gadis yang penurut." Qian tersenyum sinis melihat Imel menuruti kata-katanya.


"Hugo."


Hugo yang dipanggil buru-buru mendekat,"Iya tuan."


"Antarkan gadis ini ketempat tidurnya, dan beritahu dia apa yang harus dia lakukan sebagai seorang istri."


Hugo mengangguk patuh, "Baik tuan."


"Mari nona, ikut saya."


Hugo berjalan didepan, Imel buru-buru mengikuti Hugo, saat ini yang dia inginkan adalah jauh-jauh dari mahluk menyeramkan bernama Qianu.


Hugo terus berjalan sementara Imel terus mengikuti tanpa bertanya sedikitpun, Hugo berhenti disebuah pintu, dan barulah Hugo berkata, "Ini adalah kamar nona."


Imel mengangguk, "Rumah tuan Qianu memang memiliki banyak pelayan, tapi sebagai istrinya, tuan ingin anda yang melayaninya secara khusus, nona harus bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan pakaian tuan dan segala hal yang diperlukan oleh tuan, termasuk menyediakan sarapan untuknya."


Bukannya Imel tidak mau, hanya saja dia tidak bisa melakukannya, kalau hanya sekedar menyiapkan pakaiannya tentunya menurut Imel itu adalah perkara mudah, tapi menyiapkan sarapan, sudah bisa dipastikan dia tidak bisa karna selama ini Imel selalu dilayani dan tidak pernah bersentuhan dengan alat-alat dapur saking dimanjakannya dia oleh sang papi.


"Dia menikahiku hanya sekedar untuk menyiksaku ternyata, ada masalah apa dia sebenarnya dengan papi." Imel bertanya-tanya dalam hati, "Tapi kalau dia tidak membayar semua biaya pengobatan papi, papi bisa mati, jadi, tidak seharusnya aku mengeluh seperti ini, papi telah melakukan banyak hal untukku, jadi aku harus bisa melakukan apapun yang diperintahkan oleh laki-laki itu demi kesembuhan papi."


"Nona, nona jangan diam saja, apa nona mengerti apa yang saya katakan."


Imel mengangguk, "Saya mengerti."


"Dan mengenai barang-barang nona, termasuk baju seragam nona, sudah ada dikamar nona, jadi, meskipun nona berstatus sebagai istri tuan, tuan, masih mengizinkan nona untuk sekolah."


Berita itu sedikit membuatnya terhibur ditengah suasana hatinya yang tengah sedih karna diperlakukan kasar oleh Qian.


"Baiklah nona, nona sebaiknya istirahat, besok merupakan hari yang berat untuk nona."


Lagi-lagi Imel hanya mengangguk.

__ADS_1


"Dan ingat nona, nona harus bangun pagi-pagi sekali." peringat Hugo sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan Imel.


****


__ADS_2