MENIKAH KARNA DENDAM

MENIKAH KARNA DENDAM
MULAI SEKARANG, TIDURLAH DENGANKU


__ADS_3

"Masyaallah." gumam Nuri dengan bibir terbuka memandang ke arah tangga.


Otomatis, Imel, Juli dan juga Gebi menoleh kearah yang dilihat oleh Nuri.


Ternyata Nuri melihat Qianu yang baru turun dari lantai atas, laki-laki itu terlihat tampan meskipun hanya dengan pakaian kasual dan meskipun tanpa senyum yang menghiasi wajahnya.


"Itu kak Qianu ya Mel suami lo." tanya Juli berbisik ditelinga Imel.


Imel mengangguk, Imel hanya berharap kalau suaminya itu bersikap baik kepada sahabat-sahabatnya.


"Tampan banget sumpah." puji Gebi sambil berbisik pula.


"Iya." Nuri turut menimpali, "Kalau gue dijodohin dengan cowok kayak gini, gue juga mau banget."


"Apaan sih lo pada."


"Halo semuanya." sapa Qianu begitu tiba didekat gadis-gadis remaja tersebut.


"Halo kak." jawab ketiga gadis itu kompak dan tidak berkedip menatap ketampanan Qianu, selain tampan, laki-laki itu juga terlihat berkharisma.


"Perkenalkan, saya Qianu Bharata, suami Imel." Qianu memperkenalkan dirinya dengan menyunggingkan senyum tipis dibibirnya, benar-benar sebuah senyum yang sangat tipis bahkan tidak kelihatan kalau dia lagi tersenyum.


"Saya Nuri kak." 


"Saya Juli."


"Dan saya Gebi."


Mereka memperkenalkan diri mereka satu persatu.


"Sayang." Qianu menoleh ke arah Imel, suaranya begitu sangat lembut, Imel bahkan sampai merinding mendengarnya.


"Ehh iya." jawab Imel agak linglung karna berfikir bukan dia yang dipanggil oleh Qianu.


Imel yang dipanggil sayang malah ketiga sahabat Imel yang baper dan menjerit dalam hati.


"Busett, romantis amet sieh kak Qianu, bikin iri saja." Nuri.


"Pengen donk dapat suami seromantis kak Qianu." Gebi.


"Andai saja pacar gue seromantis kak Qianu, pasti dah gue bahagia banget." Juli.


"Buat sahabat-sahabatmu nyaman disini, oke."


"Ehh iya." Imel agak kikuk juga sieh, agak sungkan dia diperlakuan Qianu dengan lembut begini karna biasanya laki-laki itu selalu saja bicara keras kepadanya.


"Dan kalian." Qianu kembali menoleh ke arah ketiga sahabat Imel, "Jangan sungkan, anggap saja seperti rumah kalian sendiri."


"Iya kak, terimakasih." jawab mereka kompak.


"Sayang, aku diruang kerjaku oke, kalau kamu butuh-butuh apa-apa, cari aku disana."


"Iya kak."


"Semuanya, nikmati hari kalian dengan baik, aku tinggal dulu."


"Iya kak."


"Ahhh syukurlah dia bersikap baik kepada sahabat-sahabatku." lega Imel dalam hati saat melihat punggung Qianu berlalu menuju ruang kerjanya.


"Gilaaa, suami lo tidak hanya tampan, dan juga kaya, tapi baik dan ramah banget Mel, romantis lagi." puji Nuri.


"Entahlah apa yang merasukinya, gue juga heran kenapa dia tiba-tiba baik begitu." jawab Imel dalam hati.


"Lo sama kak Qianu udah begituan gak Mel." tanya Gebi kepo.


"Maksud lo apa Geb." tanya Imel tidak mengerti.


"Itu lho Mel, melakukan hubungan suami istri." Juli yang memperjelas maksud Gebi.


"Diakan tidak benar-benar nganggep gue sebagai istrinya, gak mungkinlah dia nyentuh gue." lagi-lagi itu hanya jawaban yang diberikan dalam hati daonk oleh Imel karna tidak mungkin baginya menceritakan kehidupan rumah tangganya yang sebenarnya meskipun itu sama sahabat-sahabatnya sendiri, yang Imel lisankan adalah, "Mau tahu aja lo."


"Dihh pelit, masak gitu doank gak mau ngasih tahu."


"Kalau gue pernah emang kenapa."


"Ya kami cuma mau tahu doanklah, jadi gimana, enak gak rasanya." cecar Nuri.


"Kalau lo segitu mau tahunya, nikah donk sono."


"Ogah, gue belum siap lahir bathin untuk menikah, gue masih mau bebas kemana-mana."


"Nikah itu enak lho." ujar Imel bohong.


"Ya enaklah di elo, lokan beruntung Mel, udah dapat suami tampan, kaya, baik lagi, maka nikmat mana lagi yang akan kau dustakan."


"Iya benar, sik Cahyo ini emang selalu hoki hidupnya." Juli menimpali.


"Kalian hanya tidak tahu saja apa yang terjadi dengan gue, kalau kalian tahu yang sebenarnya, kalian tidak mungkin mengatakan kalau gue beruntung." desah Imel nelangsa.


Ketiga sahabat Imel memutuskan pulang saat sore hari, saat akan pulang, Qianu memaksa sahabat-sahabat Imel supaya diantar oleh Hugo, awalnya mereka menolak, tapi karna dipaksa, mereka akhirnya menerima tawaran Qianu juga.


"Byee Imel." mereka melambai saat akan memasuki mobil yang akan mengantarkan mereka pulang ke rumah masing-masing.


Imel berdiri didepan teras mengantarkan kepergian ketiga sahabatnya dan membalas lambaian tangan mereka, sedangkan Qianu berdiri disampingnya dan merangkul bahu Imel, dia benar-benar memposisikan dirinya sebagai suami yang baik saat ini.


"Byee." Imel membalas lambaian tangan sahabat-sahabatnya, "Hugo, bawa mereka selamat sampai tujuan ya, awas lho jangan sampai lecet." Imel berpesan kepada pengawal sekaligus sopir pribadi suaminya.


"Baik nona."


"Kamu jangan khawatir sayang, Hugo bisa diandalkan kok."


Imel merinding mendengar Qianu memanggilnya sayang.


"Byee Imel, ketemu disekolah ya besok, ingat lho jangan telat." teriak Nuri saat mobil mulai bergerak.


"Iya."

__ADS_1


****


Saat Imel akan membaringkan tubuhnya dikasur sederhananya, Imel mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar, itu seperti bukan ketukan sieh, tapi lebih kepada gedoran.


"Siapa sieh, ganggu orang yang mau istirahat saja." dengus Imel kesal. 


"Nona, apa nona sudah tidur." itu adalah suara bariton milik Hugo.


"Hugo, mau ngapain dia malam-malam begini." 


"Nona, saya tahu nona belum tidur." 


Imel turun dari tempat tidurnya dengan malas-malasan, dan melangkah menuju pintu.


"Ada apa sieh Hugo, kerjaanku sudah beres semua, aku mau tidur." desah Imel ketus saat membuka pintu.


"Maaf nona, tapi nona disuruh oleh tuan ke kamarnya." Hugo menyampaikan amanat dari tuannya.


"Hah, ngapain."


"Nanti nona tahu sendiri."


"Hmmm baiklah aku akan kesana." Imel mendesah berat, malas sebenarnya dia kekamar Qianu, dia sudah ngantuk berat, tapi ya begitulah, dia tidak mungkin untuk menolak perintah dari yang mulia rajakan.


"Tidak bisakah dia membiarkanku istirahat dengan tenang, sudah malam begini masih saja dia merepotkan orang." keluhan yang hanya Imel katakan dalam hati.


****


Tok


Tok


Imel mengepalkan tangannya mengetuk pintu kamar Qianu.


"Masuk." perintah Qianu dari dalam.


Imel mendorong pintu tersebut perlahan, dia menemukan punggung Qianu yang berdiri membelakanginya dengan menggunakan piyama tidurnya.


"Apa kakak memanggilku." 


"Hmmm."


"Ada apa ya kak."


"Masuk Imel, jangan berdiri dipintu."


Imel mendekat, menunggu apa yang akan Qianu perintahkan padanya.


Qianu berbalik dan menghadap Imel, "Mulai sekarang, tidurlah dengaku."


"Hah." kata-kata Qianu membuat Imel terkejut, "Ini apa maksudnya."


"Wajahmu terlihat tidak senang, kamu keberatan tidur denganku." Qianu terlihat tidak suka melihat raut wajah Imel.


Imel bukannya tidak suka, lebih kepada kaget saja.


"Hmm baguslah."


"Apa sieh yang sebenarnya terjadi, kenapa dia tiba-tiba berubah seperti ini." Imel dibuat bingung dengan perubahan sikap Qianu.


"Mmm kak Qianu." Imel agak ragu sebenarnya untuk mengatakannya, "Tidur maksudnya apakah kita harus begitu." 


"Begitu apa maksudmu."


"Itu lho kak, melakukan hubungan suami istri." 


"Kamu jangan kegeeran Imel, kamu tidur dikamarku bukan berarti aku sudi untuk menyentuhmu." Qianu hanya meminta Imel tidur bersamanya hanya karna saat tidur bersama dengan Imel dia bisa tidur tanpa bantuan obat tidur, selain itu juga dia bisa tidur dengan nyenyak saat tidur bersama dengan Imel.


Imel jadi malu sendiri mendengar kata-kata Qianu, diakan tidak bermaksud apa-apa bertanya begitu, diakan cuma sekedar bertanya doank.


Qianu berjalan ke arah tempat tidur, dia berbalik saat menemukan Imel masih berdiri ditempatnya, "Apa yang kamu tunggu Imel, apa kamu mau berdiri disana sampai pagi."


"Ehh tidak kak." Imel buru-buru menyusul Qianu ke tempat tidur.


Tidak seperti malam kemarin saat dia datang karna ketakutan ke kamar Qianu dan meminta Qianu dekat-dekat dengannya, kali ini Imel tidur diujung ranjang, dia tidak mau dekat-dekat dengan Qianu.


Saat kondisi hati dan tubuhnya normal seperti ini, rasanya aneh saat Imel tidur bersama dengan laki-laki dalam satu tempat tidur, yah meskipun laki-laki itu adalah suaminya sendiri sieh, suami yang sejak awal pernikahan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.


"Jangan ditepi tempat tidur juga Mel, ntar kamu jatuh." peringat Qianu yang melihat Imel yang tidur ditepi tempat tidur.


"Gak apa-apa kok kak, aku gak akan jatuh kok, aku kalau tidur emang kayak gini kok."


"Hmm terserah kamulah."


Tiba-tiba ponsel Imel yang dia letakkan dinakas samping tempat tidurnya berbunyi nyaring.


"Siapa sieh yang nelpon malam-malam begini." batin Imel memanjangkan tangannya untuk meraih ponselnya.


"Isshh, kak Altan, bisa tidak dia menelpon lihat situasi dan kondisi dulu." Imel merijek panggilan tersebut.


Ponsel Imel kembali berdering, "Isshh apa-apaan sieh dia, gak ngerti banget deh jadi orang, kalau panggilan dirijek itu berarti orang yang ditelpon merasa terganggu." Imel kembali merijek panggilan tersebut.


"Peraturan pertama saat kamu tidur dikamarku, matikan ponselmu, aku tidak mau terganggu hanya karna bunyi dari ponselmu." ujar Qianu dengan suara dinginnya memperingatkan Imel.


"Iya kak maaf." Imel mematikan ponselnya.


Tempat tidur itu terasa bergerak saat Qianu membaringkan tubuhnya.


****


Yang Imel ingat semalam adalah dia tidur sejauh mungkin dari Qianu, dan sekarang, kenapa dia tiba-tiba memeluk Qianu seperti ini, Imel buru-buru menjauh.


"Astaga, kenapa aku jadi berakhir memeluk kak Qianu begini sieh." batin Imel, dia buru-buru bangun dan melakukan tugas-tugasnya seperti biasa, dan mungkin karna sudah terbiasa sehingga dia mengerjakan tugasnya dengan cepat, bahkan dia sudah menghidangkan sarapan dimeja makan untuk Qianu, Imel menepuk-nepuk tangannya saat semua pekerjaannya beres dan menatap hasil kerjanya dengan puas.


"Oke semuanya beres, sekarang saatnya mandi dan pergi kesekolah."


Saat dia akan menuju kamarnya yang terletak dibelakang, Hugo menahannya.

__ADS_1


"Maaf nona."


"Ada apa Hugo, aku mau siap-siap ke sekolah."


"Apa tuan sudah bangun."


"Mana aku tahu, saat aku bangun dia masih tertidur dengan pulas."


"Kenapa nona tidak membangunkannya."


"Kenapa harus dibangunin, biasanyakan tuanmu itu bangun sendiri."


"Saya minta tolong nona, tolong lihat apakah tuan sudah bangun atau tidak."


"Kenapa tidak kamu saja yang ke kamarnya Hugo."


"Saya tidak dibiarkan masuk ke kamar tuan soalnya, ayoklah nona tolong saya, tuan harus ke kantor soalnya."


"Kamu merepotkanku saja Hugo." ketus Imel, meskipun begitu dia tetap melangkahkan kakinya menuju kamar Qianu.


Dan saat dia membuka kamar Qianu ternyata laki-laki itu tengah bersiap-siap dan saat ini tengah berdiri didepan cermin besar dikamarnya sehingga dia bisa melihat pantulan Imel dari kaca.


"Aku disuruh Hugo untuk memastikan apakah kakak sudah bangun atau tidak."


"Kenapa kamu tidak membangunkanku hah."


"Ehh itu…biasanyakan kakak bangun sendiri."


"Mulai sekarang, saat kamu bangun, kamu harus membangunkanku juga, mengerti kamu Imel."


"Iya kak, maafkan aku."


"Hmmm."


"Aku permisi kak."


"Ehh siapa suruh kamu keluar." 


Imel reflek menghentikan langkahnya.


"Pasangin dasiku." Qianu menyerahkan dasi ditangannya kepada Imel.


"Baik kak." Imel mengambil dasi yang disodorkan oleh Qianu.


Qianu sangat tinggi, bahkan Imel tidak sampai sebahunya, sehingga hal itu membuatnya kesulitan saat akan memasangkan dasi tersebut dikerah kemeja Qianu, bahkan saat Imel berjinjit sekalipun sama sekali tidak membuat Imel dengan mudah menjangkau kerah baju Qianu.


"Aduhh, bisa tidak kak Qianu menunduk sedikit saja."


"Kamu jadi orang pendek banget sieh."


"Ya kakaknya saja yang kelebihan tingginya." balas Imel, "Kak, ayok nunduk biar gampang aku masangin dasinya."


"Hmmm." Qianu menuruti keinginan Imel, dia agak membungkukkan tubuhnya.


Dari jarak sedekat ini Qianu bisa melihat wajah Imel dengan sangat jelas, wajah gadis itu benar-benar mulus, bahkan pori-pori wajahnyapun tidak kelihatan, ditambah lagi pipi Imel yang kemerahan membuat Qianu jadi gemes sehingga reflek saat Imel selesai memasangkan dasi tersebut dikerah kemejanya, Qianu mencium pipi Imel.


"Kak Qianu." Imel memegang pipinya, kaget sieh dengan perbuatan Qianu.


"Apa, kamu tidak suka aku cium." 


"Ehh gak kok, aku…gak apa-apa kok kak." ujarnya salting.


"Aku…aku keluar kalau gitu aku kak, aku mau siap-siap."


"Hmmm." kali ini Qianu membiarkan Imel keluar.


****


Dan seperti biasanya, Hugo datang menjemput Imel disekolahannya, Hugo kali ini bukannya membawa Imel pulang ke rumah, tapi pergi kesuatu tempat.


"Hugo, ini kita mau kemana sieh, inikan bukan jalan menuju rumah." herannya karna dia sudah hafal jalan menuju rumah Qianu.


"Kita memang bukan mau pulang ke rumah nona, tuan menyuruh saya untuk membawa nona untuk makan siang bareng."


"Emang ada apa Hugo, tumben banget."


"Tuan ingin saja makan siang bareng nona."


"Ohh." imbuhnya, "Tuanmu itu tidak bisa ditebak ya Hugo, kadang dia baik, kadang dia jahat banget." Imel mengeluarkan apa yang dia fikirkan.


"Tuan sebenarnya orang yang baik nona."


"Baik ada jahat-jahatnya gitu, kayak permen nano-nano ya Hugo banyak rasanya." canda Imel yang membuat Hugo terkekeh.


"Ahh nona bisa saja."


"Kamu bisa tersenyum dan tertawa Hugo."


"Iya bisalah nona, meskipun pekerjaan saya mengharuskan saya serius, tapikan saya tetap manusia yang bisa tersenyum dan tertawa."


"Tapi tuanmu itu juga manusia Hugo, dia susah sekali untuk tersenyum apalagi tertawa."


"Itu mungkin karna apa yang telah tuan alami dimasa lalu sehingga membentuk karakter tuan sehingga menjadi seperti itu."


"Hugo."


"Iya nona."


"Kamu udah lama bekerja untuk kak Qianu."


"Sudah lumayan lama nona, memang kenapa."


"Apa kamu tahu kenapa Qianu membenciku."


Tentu saja Hugo tahu, tapi dia tidak mungkin mengatakannnya pada Imel, "Tuan bukannya membenci nona, hanya saja, nona anaknya tuan Satya Cahya Abadi, orang yang telah menghancurkan keluarga tuan dimasa lalu sehingga nona harus ikut menanggung perbuatan dari papi nona." batin Hugo, ada rasa kasihan juga dibenak Hugo melihat Imel yang tidak tahu apa-apa harus menanggung akibat dari perbuatan papinya dimasa lalu.


"Tuan tidak membenci nona, itu hanya perasaan nona saja." kata Hugo untuk menjawab pertanyaan Imel.

__ADS_1


****


__ADS_2