
"Kak Qianu." Imel berteriak heboh saat melihat suaminya itu keluar dari pesawat, gadis itu begitu antusias saat melihat sang suami, dia begitu sangat kangen dengan Qianu.
"Imell." gumam Qianu saat melihat Imel ikut menjemputnya, "Kenapa gadis itu dibiarkan ikut oleh Hugo." batinnya, dia lebih senang kalau Imel berada dirumah saja menunggunya.
Imel yang kangen sama suaminya itu reflek berlari menyongsong Qianu saat laki-laki itu turun dari pesawat, Imel langsung menubrukkan tubuhnya ditubuh tegap sang suami.
"Aku kangen kak Qianu." rengeknya manja.
Qianu juga kangen, sangat kangen, tapi dia itu gengsi untuk mengakuinya sehingga dia tidak membalas pernyataan kangen dari Imel sehingga dia hanya diam saja bak patung.
Imel yang sama sekali tidak mendapatkan respon dari Qianu mengurai pelukannya, "Kak Qianu kok diam saja sieh, aku bilang aku kangen, kak Qianu gak kangen memang sama aku."
"Gak." jawabnya acuh tak acuh yang membuat bibir Imel jadi manyun.
"Ishh, dasar menyebalkan." rutuk Imel dalam hati.
Hugo kemudian berjalan mendekat ke arah tuannya dan memberi sapaan selamat datang, "Selamat datang tuan."
Bukannya menjawab sapaan selamat datang yang dilontarkan oleh Hugo, Qianu malah berkata, "Hugo, siapa yang menyuruhmu membawanya kemari."
"Ehh itu tuan..."
"Aku yang minta om Hugo untuk mengajakku, emang kenapa, emang aku gak boleh menjemput suamiku sendiri." potong Imel sebelum Hugo menyelsaikan ucapannya.
"Sejak kapan kamu memanggil Hugo dengan panggilan om." lha, malah hal itu yang ditanyakan oleh Qianu.
"Sahabat-sahabatku memanggil Hugo dengan panggilan om, kata mereka gak sopan kalau aku hanya manggilnya dengan panggilan Hugo doank, jadinya aku juga manggilnya om juga."
Hugo merasa takut kalau tuannya marah kalau mengetahui Imel memanggilnya dengan embel-embel om, sehingga Hugo buru-buru menjelaskan, "Saya sudah meminta nona supaya jangan memanggil saya dengan panggilan om tuan, tapi nona kukuh manggil saya dengan panggilan om."
"Kenapa kamu harus memberitahukan saya akan hal itu Hugo, saya rasa itu bukanlah suatu hal yang penting."
"Maafkan saya tuan, saya fikir tuan bakalan marah kalau nona memanggil saya dengan panggilan om."
"Kamukan sudah tua Hugo, jadi memang sudah seharusnya Imel memanggilmu dengan panggilan om." setelah mengatakan kalimat tersebut, Qianu jadi terkekeh sendiri, padahal gak ada yang lucu lho dari kalimat yang baru saja dia lontarkan, entahlah, tapi mungkin bagi orang yang dengan wajah datar kayak tembok seperti Qianu, kata-katanya itu cukup lucu sampai membuatnya tertawa, ya lebih baik tertawa sieh daripada dia marah-marah.
Melihat Qianu yang tiba-tiba tertawa, Imel dan Hugo saling melempar pandangan, mereka memikirkan hal yang sama, dimana letak lucunya sehingga Qianu sampai tertawa begitu.
"Kenapa kalian memandangku begitu, kalian menganggap aku orang aneh." ketus Qianu begitu tawanya mereda.
"Tentu saja tidak, kakak itu tampan tahu gak." alibi Imel supaya tidak kena semprot.
"Huhhh, basi." responnya, sepertinya kata-kata Imel tidak membuatnya tersanjung.
"Kak Qianu ayok kita sebaiknya pulang." Imel melilitkan tangannya dilengan Qianu.
"Lepasin Imel, aku bisa jalan sendiri tanpa perlu kamu tuntun, aku itu sehat wal'afiat." tolak Qianu, dia akan melepaskan tangan Imel yang melilit di lengannya, namun ternyata Imel sangat kuat mencengkram lengan Qianu sehingga tidak semudah itu untuk melepaskannya.
"Aku tahu kak Qianu, aku hanya tidak ingin jauh-jauh dari suami aku." Imel mengedipkan matanya genit yang membuat Qianu berjengit.
"Niehh bocah kenapa jadi genit begini seih." batinnya heran, namun yang dia katakan adalah,
"Tapi bisa tidak kamu tidak usah meluknya kenceng begini Imel."
Imel sedikit mengendurkan pelukannya, "Nahh, sudah aku kendurkan tuh, ayok kita jalan kak."
"Hmmm." pasrah Qianu pada akhirnya dan membiarkan Imel melakukan apa yang dia inginkan.
Sementara Qianu dan Imel duduk dikursi belakang sedangkan Hugo duduk dikursi pengemudi siap untuk menyopiri pasangan pasutri tersebut.
Dalam perjalanan, Imel juga melaporkan tentang Agnes dan Altan yang saat ini tengah berpacaran, "Kak Qianu tahu tidak."
"Tidak." jawab Qianu spontan yang membuat Imel mendengus kesal.
"Ihh kak Qianu nieh menyebalkan banget deh main potong-potong aja, denger dulu." rengeknya manja, entah dorongan dari mana sehingga Imel ingin bermanja-manja begitu, terakhir kali dia bermanja-manja saat kondisi papinya masih baik-baik saja, laki-laki itu tentu saja dengan sangat senang hati memanjakan putri semata wayangnya.
"Kamu tidak usah memberitahuku, pasti sesuatu yang tidak pentingkan." duga Qianu.
"Ini penting kak Qianu, makanya dengarkan dulu donk ahh." Imel jadi sebel karna Qianu tidak mau mendengarkan kata-katanya.
__ADS_1
"Meskipun itu penting, aku tidak mau mendengarnya."
Imel tidak peduli, meskipun Qianu bilang tidak mau mendengarkan apa yang akan dia katakan, toh gadis itu tetap bercloteh juga, "Agnes berpacaran dengan kak Altan."
Qianu yang tadinya tidak mau mendengarkan kata-kata Imel, kini dia memberikan perhatian sepenuhnya ke arah Imel, dia tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh istrinya itu.
"Agnes pacaran dengan Altan." ulangnya hanya untuk memastikan apakah pendengarannya baik-baik saja.
"Iya, kak Agnes pacaran dengan kak Altan, kerenkan, mereka itu benar-benar pasangan yang serasi lho." lapornya.
"Hmmm." hanya itu respon Qianu, dia memang kaget dengan berita yang disampaikan oleh istrinya itu, tapi hanya sekedar itu, tidak lebih, mau Agnes pacaran dengan siapa saja dia tidak peduli.
"Kok hmm doank sieh responnya kak Qianu, gak asyik banget."
"Terus kamu maunya aku gimana Imel."
"Ya kaget kek gitu, atau bilang 'omg, akhirnya sahabatku punya pacar juga'."
Qianu mendengus mendengar kata-kata Imel, "Itukan bukan hal yang penting, jadi ngapain aku menanggapinya dengan lebay begitu, ada-ada saja kamu itu."
"Ihhh, benar-benar gak asyik deh kak Qianu ini, gak kayak aku dan sahabat-sahabatku, kalau salah satu dari kami yang pacaran, pasti pada heboh tuh."
"Itu karna aku bukan bocah seperti kalian, jadi jangan sama-samakan aku dengan kamu dan sahabat-sahabatmu itu Imel."
"Iya iya, siapa juga yang mau nyama-nyamain, orang kamu sudah tua, kami masih sangat belia." desis Imel dengan suara kecil, tapi masih bisa didengar oleh Qianu meskipun tidak terlalu jelas.
"Apa kamu bilang Imel."
"Ahh tidak tidak, aku tidak bilang apa-apa lho kak, aku hanya bilang kalau kak Qianu tampan." dustanya.
"Dasar bocah."
Hugo yang duduk dibalik kemudi hanya bisa menahan senyumnya, karna ini untuk pertamakalinya bossnya meladeni hal yang tidak penting seperti ini.
****
"Ihh kak Qianu, selesai mandi, tidak bisakah dia meletakkan handuk bekasnya ditempat yang seharusnya, main lempar-lempar saja, dasar menyebalkan, untung aku cinta." protes yang hanya dia ucapkan dalam hati saja.
Ternyata Qianu sudah mengenakan celana boxer dibalik handuk yang tadi dia lemparkan diwajah Imel, dia membuka lemari untuk mencari pakaian, Imel buru-buru berlari ke arah Qianu.
"Kak, aku ada sesuatu untuk kakak."
Qianu otomatis menghentikan kegiatannya saat mendengar kata-kata Imel, sebelum Qianu sempat buka suara, Imel lebih dulu mengambil paperbag yang berisi baju couple yang dia belikan kemarin saat berjalan-jalan dengan sahabat-sahabatnya, sedangkan dia sendiri sudah mengenakannya, dia ingin Qianu juga mengenakannya supaya mereka kembaran gitu.
Imel menyerahkan paperbag yang ada ditangannya kepada Qianu, "Kakak pakai baju ini ya."
Raut bingung jelas tergambar diwajah Qianu , "Ini baju apaan."
"Ya baju kak, baju kaos, bukan baju adat." canda Imel garing.
Qianu mengeluarkan baju kaos berwarna putih itu dari dalam paperbag, dia membentangkannya didepan wajahnya dan melirik sesaat ke arah Imel, lebih tepatnya sieh ke arah badan Imel yang juga mengenakan baju yang sama seperti yang ada ditangannya, Qianu terlihat mengernyitkan keningnya, dari ekpresinya, dia sepertinya tidak setuju untuk mengenakan baju tersebut.
"Itu baju couple kak, sama seperti yang aku kenakan, pakai ya kak, agar kembaran denganku." jelas Imel dengan penuh harapan kalau Qianu akan mengenakan pakaian yang dia belikan.
"Aku gak mau." dengan tanpa perasaanya Qianu melemparkan pakaian itu ke wajahnya Imel sama seperti saat dia melemparkan handuk barusan, bedanya kalau tadi Imel cuma sekedar kesal doank, kini Imel marah, marah karna pemberiannya sama sekali tidak dihargai oleh suaminya.
Qianu berfikir bahwa memakai baju kembaran seperti itu merupakan hal yang konyol.
Dan Qianu dengan tanpa perasaannya membuka lemari untuk mencari pakaian yang akan dia kenakan yang sesuai dengan seleranya.
Imel mengambil baju yang dilemparkan oleh Qianu yang jatuh dibawah kakinya, dia memang tidak mengatakan apa-apa, tapi dari ekpresinya, jelas Imel terlihat begitu marah dengan apa yang dilakukan oleh Qianu.
Imel berjalan ke arah tempat tidur dan membanting tubuhnya ditempat tidur empuknya, dia rasanya ingin menangis saja.
Qianu menoleh kebelakang dan melihat Imel dengan bahu bergetar ditempat tidur, melihat hal tersebut membuat Qianu merasa bersalah, dia yang tadinya akan mengenakan pakaian yang tadi diambilnya dilemari mengurungkan niatnya tersebut, dia berjalan mendekati Imel ditempat tidur.
Imel yang saat ini berusaha menahan tangisnya bisa merasakan saat tempat tidur bergetar, dia yakin Qianu yang naik ketempat tidur, Imel bisa merasakan kalau lengannya disentuh, disusul kemudian Imel merasakan bibir Qianu yang basah menyentuh pipinya, kemudian Imel bisa mendengar suara bisikan Qianu ditelinganya, "Maafkan aku."
Meskipun meleleh dengan perlakuan Qianu yang menurut Imel sangat manis, namun dia pura-pura jual mahal dengan menyueki Qianu dan pura-pura memejamkam matanya.
__ADS_1
"Maafkan aku pliss, mana bajunya aku pakai sekarang."
Imel tidak bisa nyuekin Qianu begitu saja saat merasakan sensasi kasar dikulit pipinya dari cambang halus yang tumbuh dirahang Qianu, Imel merasa kegelian.
"Kak Qianu sana jauh-jauh, geli tahu."
Namun Qianu bukannya menuruti kata-kata Imel, dia malah makin senang menggosok-gosokkan cambangnya dipipi Imel yang membuat Imel cekikikan.
"Kak Qianu, hentikan, geli tahu."
"Aku tidak akan berhenti sampai kamu memaafkan aku."
"Iya iya ampuni aku kak Qianu, geli, hentikan." Imel sudah tidak tahan menahan geli.
"Maafkan aku dulu, baru aku berhenti."
"Hmm iya, aku memaafkan kak Qianu, hentikan kak."
Barulah Qianu menjauhkan wajahnya dari Imel, Imel sampai memegang perutnya karna kegelian.
"Mana bajunya sekarang aku kenakan."
"Tadikan katanya gak mau."
"Ya sebenarnya aku gak mau, tapi daripada melihat kamu ngambek, ya sudahlah aku terpaksa mengenakan pakaian konyol itu." itu jawaban yang Qianu berikan dalam hati, jawaban yang dia berikan dilisan adalah, "Iya aku berubah fikiran, sekarang mana, sini bajunya aku pakai."
Imel menyerahkan pakaian yang tadi dilemparkan Qianu ke wajahnya kembali ke tangan Qianu, "Niehh."
Qianu merasa konyol saat dirinya mengenakan pakaian couple tersebut, tapi dia terpaksa mengenakannya hanya untuk membuat Imel tidak ngambek, dia rela mengenakan pakaian tersebut.
“Sial, hanya demi bocah kecil ini aku rela mengenakan pakaian seperti ini.” Batinnya gusar namun tentu saja hal tersebut tidak dia tampakkan.
Sedangkan Imel, gadis itu terlihat tersenyum, dia terlihat bahagia saat melihat suaminya mengenakan pakaian yang sama seperti dirinya.
“Baguskan kak.”
“Hmmm.” Gumamnya yang berarti tidak bagus.
“Kok hmm doank sieh kak, kakak tidak suka ya, kakak terpaksa ya mengenakan pakaian yang aku belikan.” Ada rada-rada mau ngambek nieh kayaknya.
“Iya bagus, aku suka kok mengenakannya.” Qianu berbohong demi menyenangkan hati Imel.
Imel tersenyum lebar, namun Qianu yang merasa tertekan.
“Kak Qianu tampan banget.” Imel memuji.
Namun Qianu tidak merasa tampan sama sekali saat mengenakan pakain tersebut, dia hanya merasa konyol.
“Kak Qianu, aku lapar, kita turun kebawah yuk, sepertinya makan malam sudah disiapkan oleh para pelayan.”
Karna Qianu lapar setelah melakukan perjalanan jauh dan dia juga merasa lapar, sehingga dia mengiyakan ajakan Imel.
Saat mereka tiba dimeja makan, Agnes sudah duduk menunggu mereka disana, dan Agnes tidak lepas menatap Qianu, dia tentu saja heran, kok bisa-bisanya Qianu yang berwibawa begitu mau-maunya mengenakan pakaian konyol begitu, tuhkan Agnes juga berfikir kalau pakaian couple begitu adalah pakaian konyol.
“Jangan bilang Qianu mengenakan pakaian tersebut karna bocah kecil ini.” Suara hati Agnes, “Sialan, apa sieh sebenarnya kelebihan gadis bodoh ini sampai Qianu begitu nurut sama dia, aku sepertinya harus cepat bergerak, aku tidak ingin Qianu semakin mecintai sik bodoh ini sehingga nantinya akan sangat sulit untuk dipisahkan.”
“Sial, Agnes pasti mentertawakan aku mengenakan pakaian konyol begini, mana ada tulisan mama papanya lagi.” Qianu merasa nelangsa.
“Malam Nes.” Sapa Imel duduk disalah satu kursi sedangkan Qianu duduk disampingnya.
“Hmmm.” gumamnya sebelum mengomentari pakaian yang mereka kenakan.
“Baju kalian bagus, kapan belinya.” Tanya Agnes sekaligus meledek.
“Ohh ini, ini adalah baju couple lho, kemarin aku membelinya, bagus ya.”
“Iya.” Jawaban Agnes dilisan, sedangkan dihati dia berkata, “Bagus dan cocok dikenakan oleh anak-anak labil bin alay kayak kamu Imel."
****
__ADS_1