
Kini hanya tinggal Imel yang ada diruangan papinya, sementara Damar sudah pulang.
Imel menatap tubuh papinya yang terbaring dibankar dengan banyaknya selang yang terpasang dibeberapa bagian tubuh laki-laki itu untuk membuatnya tetap bertahan hidup.
"Hai papi." sapa Imel tersenyum miris memandang papinya, Imel benar-benar kasihan dengan kondisi papinya, kondisi papinya masih sama saat Imel terakhir kali melihatnya, tidak ada tanda-tanda sedikitpun kalau kondisi papinya akan membaik.
"Putri kesayanganmu datang papi, maafin Imel ya pi kalau Imel baru datang jengukin papi, Imel ingin datang tiap hari, tapi laki-laki kejam itu tidak mengizinkan Imel untuk jengukin papi, ini saja Imel datangnya diem-diem." Imel curhat, "Oh ya pi, ini Imel bawain bunga buat papi, Imel taruh sini ya pi." Imel mengeluarkan bunga lili yang dibawanya itu dari buketnya dan menaruhnya dipas yang ada dinakas.
"Nahh, jadi harum dan indahkan kamar papi, tidak hampa lagi kayak hati Imel."
Imel kini duduk dikursi yang tadi diduduki oleh Damar, Imel meraih tangan papinya yang tergeletak disamping tubuhnya yang tidak berdaya.
"Bangun pi, papi kenapa betah tertidur kayak gini, Imel kangen sama papi, kangen dimanjain sama papi." Imel mencium tangan papinya, air matanya jatuh tidak terbendung.
"Imel gak punya siapa-siapa pi selain papi, papi jangan coba-coba ya ninggalin Imel, Imel bisa marah lho sama papi." ancamnya bercanda.
Imel menceritakan banyak hal kepada papinya meskipun laki-laki itu tidak bisa mendengarnya apalagi merespon setiap kata-katanya, namun hati Imel terasa lega begitu mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini hanya bisa dia tahan sendiri, saking asyiknya menceritakan tentang apa yang dialaminya akhir-akhir ini sampai Imel lupa waktu.
"Astagaa, aku sudah lama disini."
Imel merogoh tasnya untuk mencari ponselnya, dia mendesah lega saat mengetahui tidak ada panggilan yang masuk dari Qianu, dan chatpun juga tidak ada.
"Syukurlah dia tidak menelpon atau mengechatku." syukurnya.
"Pi, Imel balik dulu ya, Imel sudah terlalu lama disini, kalau laki-laki jahat itu mengetahui aku disini, dia bisa menghukumku." setelah mencium tangan papinya, Imel buru-buru pergi sebelum gelap mulai merayap, karna kalau sudah gelap, akan susah untuk mencari angkutan umum.
Imel berlari dikoridor rumah sakit, karna terburu-buru sampai dia menabrak seseorang yang membuat baik Imel ataupun orang yang ditabrak sama-sama terjatuh dilantai dingin rumah sakit.
Imel tidak punya waktu untuk mengaduh, dia langsung bangun dan meminta maaf karna dia yang salah dalam hal ini.
"Maafkan saya kak, saya tidak sengaja, saya buru-buru soalnya."
"Makanya lain kali kalau jalan hati-hati donk, punya mata itu dipakai, kamu fikir…" laki-laki yang ditabrak oleh Imel menghentikan ocehannya saat melihat siapa yang menabrkanya, laki-laki yang tadinya terlihat kesal itu kini menyunggingkan senyum lebar yang tentunya membuat Imel heran.
"Hehh, nieh orang kenapa malah senyum-senyum gini sieh, padahalkan tadi marah-marah." bingung Imel dalam hati.
"Imelll."
"Lha, kok dia tahu nama gue." makin heranlah Imel.
__ADS_1
Laki-laki yang ternyata adalah Altan itu berdiri, "Imel, kamu masih ingat aku gak." tanyanya.
Imel menggeleng, "Gak." jawabnya tanpa rasa bersalah, Imel memang kayak gitu, kalau hanya sekali bertemu, jangan harap bisa ingat sama orang.
Altan agak kecewa juga mendengar pengakuan Imel yang sama sekali tidak ingat sama dirinya, oleh karna itu, dia berusaha mengingatkan Imel, "Aku Altan Mel, yang dipesta waktu itu, yang ngajak kamu kenalan itu, ingatkan."
"Ohh iya kak Altan." Imel mulai ingat.
"Aku sangat senang bisa ketemu dengan kamu lagi Mel." gak perlu ngomong gitu, itu sudah jelas dari raut wajah Altan.
Tidak merespon apa yang dikatakan oleh Altan, Imel berkata, "Mmm kak Altan, aku buru-buru, aku pergi dulu ya." Imel akan pergi, namun Altan meraih lengannya untuk menghentikan Imel.
"Tunggu Mel."
"Apaan kak, aku buru-buru ini."
"Boleh aku minta nomer kamu gak."
"Buat apa."
"Untuk hubungin kamulah Mel."
"Tapi kak, lepasin dulu tangannya."
"Ohh iya." Altan melepaskan tangannya dari lengan Imel.
Imel menyebutkan sederet angka yang dicatat oleh Altan, Altan tersenyum cerah begitu berhasil mendapatkan nomernya Imel.
"Nanti aku hubungin ya Mel."
"Hmm." gumam Imel tidak peduli mau dia dihubungin atau tidak, "Ya udah ya kak Altan, aku pergi dulu." Imel buru-buru ngacir sebelum dia ditahan lagi oleh Altan.
"Ahhh akhirnya doaku dijawab juga oleh Tuhan, bisa ketemu lagi sama gadis cantik itu, bonusnya dapat nomernya lagi." ujar Altan antusias sembari melepas kepergian Imel yang semakin menjauh.
****
Imel berdiri dipinggir jalan untuk menunggu angkutan umum, namun baru lima menit berlalu, sebuah mobil hitam yang sudah sangat Imel hafal berhenti tepat didepannya.
"Kak Qianu, duhh, kenapa dia bisa tahu aku disini." batin Imel menelan ludahnya, dia dengan segera memfungsikan otaknya untuk mencari-cari alasan apa yang akan dia katakan saat Qianu nanti bertanya kepadanya.
__ADS_1
Dari kaca mobil yang terbuka Imel bisa melihat wajah Qianu yang mengeras karna menahan amarah, Qianu paling benci saat apa dia katakan dilanggar.
"Mampus dah gue."
Hugo keluar untuk membuka pintu untuk Imel, "Ayok masuk nona."
Imel tidak bergeming sama sekali dari tempatnya berdiri saking takutnya melihat Qianu, "Nona, ayok masuk." Hugo mengulangi kata-katanya dengan suara agak besar.
"Ba…baik." Imel tergagap saking takutnya, entah hukuman apa yang akan dia dapatkan.
Sepanjang dalam perjalanan pulang, Qianu tidak membuka bibirnya sedikitpun, pandangan laki-laki itu lurus kedepan dengan sorot mata tajam, itu semakin membuat Imel ketakutan.
Dan begitu tiba dirumah, tanpa basa-basi, Qianu menarik lengan Imel dengan kasar dan membawanya masuk rumah, para pengawal dan juga para pelayan yang melihat Imel diseret hanya bisa menundukkan wajah.
Qianu menyeret Imel dan mendorong tubuhnya ke sofa, "Apa yang kamu lakukan hah, aku sudah mengizinkanmu keluar bersama dengan teman-temanmu dan kamu malah menyalahkan gunakan kebaikanku." suara Qianu menggelegar di seantero ruangan, siapapun yang mendengar suaranya sudah pasti ketakutan.
"Siapa yang mengizinkan kamu ke rumah sakit, bukannya sebelumnya aku sudah melarang kamu."
"Aku…aku…" suara Imel mencicit,m karna ketakutan, "Aku kangen papi kak, aku ingin lihat keadaannya." jawab Imel berharap Qianu mengerti.
"Hmmm, kamu benar-benar membuat aku marah Imel, kamu fikir karna aku bersikap lunak, kamu bisa melanggar apa yang aku katakan."
Imel hanya diam tidak tahu harus menjawab apa.
"Papimu akan menerima akibat dari perbuatanmu."
Mendengar hal tersebut, Imel mendongak, matanya melebar mendengar ancaman Qianu.
Qianu mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya dan melakukan sebuah panggilan dengan seseorang.
"Lepaskan semua alat bantu yang menunjang kehidupan Satya Cahya Abadi sekarang juga." perintahnya tanpa belas kasih.
"Jangannnn." teriak Imel menjerit histeris, karna kalau hal itu dilakukan, sudah bisa dipastikan papinya akan mati, Imel merangkak mendekati Qianu dan memeluk kaki Qianu, apapun akan dia lakukan untuk papinya, Imel tidak mau sampai papinya mati.
"Aku mohon kak Qianu, jangan lakukan itu, maafkanlah aku kak, tolong jangan lepaskan alat-alat yang menunjang kehidupan papi, aku mohon kak, kasihanilah papi." Imel menghiba dengan hujan air mata berharap Qianu meminta orang yang dia telpon saat ini membatalkan apa yang diperintahkan oleh Qianu.
Qianu tersenyum sinis, menatap Imel yang menghiba dan memohon kepadanya.
***
__ADS_1