MENIKAH KARNA DENDAM

MENIKAH KARNA DENDAM
GALAU


__ADS_3

Dan seperti biasa, Qianu selalu disambut hangat oleh keluarga Wiratama, laki-laki setengah baya itu sudah menganggap Qianu seperti anaknya sendiri, sehingga tidak heran saat mengetahui Qianu kembali kenegara tempatnya bermukim dia sangat senang dan mengundang Qianu makan malam dirumah besarnya, Ardan Wiratama bahkan menyambut kedatangan Qianu diteras depan rumahnya secara khusus, laki-laki itu tampak tersenyum lebar saat melihat Qianu yang turun dari mobilnya.


Ardan Wiratama merentangkan tangannya menyambut kedatangan Qianu, "Selamat datang putra kebanggaanku, selamat datang kembali." ucapnya saat Qianu berjalannya menyongsongnya dan memberikan pelukan kepada laki-laki yang sudah Qianu anggap sebagai pengganti papanya yang sudah meninggal.


"Apa kabar om Ardan." tanya Qian saat menguraikan pelukannya dari laki-laki tersebut.


"Om baik-baik saja Qianu, sangat baik saat mengetahui kepulanganmu kembali." Ardan Wiratama menepuk bahu Qianu, "Senang melihatmu bisa kembali."


"Terimakasih om."


"Ayok kita masuk, tante Tia sudah menunggumu didalam, lebih-lebih lagi Agnes, putriku itu sangat senang mengetahui kamu kembali, dia bahkan marah-marah sama om karna tidak memberitahu kedatanganmu lebih cepat supaya dia bisa menjemputmu dibandara katanya."


Qianu hanya tersenyum tipis menanggapi cletukan om Ardan, sampai mereka tiba diruang tamu, disofa empuk dan mahal itu duduk dengan anggun seorang wanita cantik yang cukup berumur, dialah nyonya Tiara Wiratama yang merupakan istri Ardan Wiratama, wanita itu tampak senang saat melihat kedatangan Qianu, wanita itu langsung berdiri untuk menyambut kedatangan Qianu.


"Halo tante Tiara." sapa Qianu dan memberikan pelukan dan ciuman pada wanita yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri itu.


"Akhirnya kamu pulang juga sayang setelah sekian lama tidak pernah kembali." kata Tiara, "Kamu tahu tidak, ada yang senantiasa menunggu kepulanganmu kembali."


Qianu hanya menanggapi dengan datar, dia tahu siapa yang dimaksdu oleh tante Tiara, "Aku kembali untuk urusan pekerjaan tante." beritahu Qianu.


"Oh ya, itu berarti kamu tidak akan tinggal disini."


Qianu menggeleng.


"Agnes pasti akan sangat kecewa mendengar hal ini, anak itu sangat merindukanmu, kalau tidak dalam masa menyelsaikan studynya, tante yakin dia pasti sudah menyusul kamu."


Qianu diam tidak menanggapi kata-kata tante Tiara.


"Qianuuuu." terdengar suara nyaring yang berasal dari arah tangga, reflek semua orang yang berada diruangan tersebut menoleh ke arah datangnya sumber suara.


Seorang gadis cantik berkulit putih bersih, tinggi semampai bak model dan mengenakan gaun cantik dan mewah tersenyum lebar menatap ke arah Qianu, sangat terlihat dengan jelas kalau gadis itu sangat senang bertemu dengan Qianu, sehingga dia berlari menyongsong ke arah laki-laki yang selalu dia rindukan tiap malam, gadis yang tidak lain adalah Agnes itu menubruk tubuh Qianu dan memeluk tubuh kokoh Qianu dengan sangat erat, seakan-akan kalau dia melepaskan tubuh itu maka tubuh itu akan menghilang seketika.


"Aku kangen." desis gadis itu yang hanya bisa didengar oleh Qianu.


"Hmmm." Qianu hanya bergumam menanggapi ucapan Agnes.


Apakah Qianu kangen sama Agnes, jawabannya tentu saja tidak, Qianu tahu sejak dulu Agnes menyukainya, tapi Qianu tidak pernah menggubris perasaan Agnes kepadanya karna dia hanya menganggap putri dari sahabat papanya itu tidak lebih dari seorang adik saja, sehingga wajar Qianu tidak menanggapi curahan hati Agnes yang merindukannya.


"Jangan pergi lagi, tetaplah disini bersamaku." kalimat yang lagi-lagi hanya bisa didengar oleh Qianu dan Qianu tentu saja tidak menanggapi kata-kata Agnes mengingat dia akan kembali ke Indonesia.


"Karna Agnes sudah disini, ayok sebaiknya kita mulai saja makan malamnya." ajak mama Tiara.


"Iya, ayok kita ke meja makan." sahut om Ardan, "Qianu, Tiara telah menyiapkan makanan kesukaan kamu, tantemu dibantu oleh Agnes." kata Om Ardan sebagai informasi.


"Terimakasih tante, maafkan kalau kedatanganku merepotkan tante."


"Ahh tentu saja tidak merepotkan Qian, tante malah senang lho."


"Terimakasihnya sama mama doank nieh, sama akunya gak." Agnes memanyunkan bibirnya, dia pura-pura ngambek.


Om Ardan dan tante Tiara tertawa melihat kelakuan putri mereka.


"Iya Agnes, terimakasih banyak oke karna kamu turut ngenbatuin tante nyiapin makanan kesukaan aku."


"Tentu saja aku akan melakukannya, apa sieh yang gak aku lakukan untuk kamu."


"Sudah-sudah, ayok sekarang kita makan." tante Tiara menggiring mereka menuju meja makan.


Agnes yang saat ini tidak mau jauh-jauh dengan Qianu melilitkan tangannya dilengan Qianu dan menggandeng laki-laki itu menuju meja makan, Qianu membiarkan apa yang dilakukan oleh Agnes.


Acara makan malam itu berjalan dengan hangat dan mereka makan sambil ngobrol.


"Jadi Qianu, kamu rencananya sampai kapan disini." Ardan menanyakan hal tersebut.


Pertanyaan papanya itu seketika membuat Agnes menoleh dengan cepat ke arah Qianu, untungnya tidak sampai membuat tulang lehernya keseleo, Agnes memandang Qianu tajam dan menuntut jawaban dari pertanyaan papanya barusan.


"Begitu acara makan malam ini berakhir, aku akan langsung terbang kembali ke Indonesi om." jawab Qianu santai, dia tidak tahu apa efek dari kata-katanya itu membuat gadis yang duduk disampingnya menatapnya tajam.


"Apa." suara Agnes melengking, "Kamu akan kembali ke Indonesia, bukannya kamu kembali untuk menetap."


Qianu melirik sekilas ke arah Agnes sebelum kembali fokus menghadap depan, "Tentu saja tidak Agnes, aku datang bukan untuk menetap, aku kembali karna ada masalah perusahaan yang harus aku selsaikan." lagi-lagi jawaban itu santai kayak dipantai.


Perih sekali hati Agnes saat mendengar hal ini, laki-laki yang selalu dia rindukan siang dan malam, laki-laki yang selalu dia tunggu-tunggu kedatangannya dan setelah berbulan-bulan menunggu dan siksa dengan kerinduan yang sangat dalam, dan begitu laki-laki yang dia rindukan kembali, ternyata laki-laki itu kembali untuk sesaat, siapa yang tidak marah coba, dan itulah yang dirasakan oleh Agnes, sangat jelas gadis itu memancarkan kemarahan dimatanya, meskipun begitu, dia berusaha untuk membujuk Qianu untuk tetap tinggal, namun terlebih dahulu dia berusaha untuk mengontrol emosinya yang mulai mendominasi, setelah agak tenang, barulah dia bicara, "Qianu, tidak bisakah kamu tinggal, hemm, apa sieh yang menarik disana sampai kamu buru-buru ingin kembali." Agnes bertanya pelan berharap Qianu membatalkan niatnya untuk kembali ke Indonesia, dia berharap Qianu menetap supaya dia bisa selalu bersama dengan Qianu setiap saat, karna dia sudah tidak sanggup menahan rindu yang menggebu-gebu dihatinya.


"Ada seorang gadis kecil bermata lebar yang membuatku ingin kembali, gadis kecil yang bisa menghangatkan hatiku yang sudah lama membeku." tentu saja Qianu memiliki kesadaran untuk tidak mengatakan hal tersebut dengan terang-terangan, biar bagaimanapun, dia harus menjaga perasaan Agnes.


"Maafkan aku Agnes, aku tidak bisa tinggal karna ada perusahaan disana yang tidak bisa aku lepas, perusahaan itu butuh penanganan dariku secara langsung." alibinya dengan mengkambinghitamkan nama perusahaan.


Agnes kini dengan terang-terangan menampakkan kekesalannya, dia bahkan memukul meja makan yang membuat meja bergetar hebat dan spontan membuat piring-piring dan gelas-gelas dimeja tersebut ikut bergetar sehingga menimbulkan bunyi yang agak berisik.

__ADS_1


"Kamu kok jahat sieh sama aku, salah aku apa Qianu sampai kamu membuat aku menderita seperti ini, kamu tahu tidak aku selalu merindukan kamu siang malam, dan kamu dengan santainya bilang akan kembali lagi tanpa memikirkan perasaanku, kamu benar-benar laki-laki yang tidak punya perasaan." Agnes meluapkan amarahnya, dia berharap Qianu mengerti akan perasaannya, dia harap Qianu mau tinggal dinegara ini bersamanya.


"Agnes, apa-apaan sieh kamu itu, duduk kamu Nes." perintah mama Tiara melihat tingkah putrinya yang tidak bisa mengendalikan emosinya.


Dengan masih menahan kekesalan Agnes kembali mendudukkan bokongnya, rasanya dadanya sesak, dia ingin berteriak, dia tidak ingin Qianu kembali, dia ingin Qianu tetap tinggal bersamanya karna dia sangat mencintai laki-laki itu.


Qianu menghembuskan nafas panjang, dia ingin bilang kalau dia hanya menganggap Agnes hanya sebatas sebagai adek saja, tidak lebih, tapi tidak mungkin mengatakan hal itu secara gamblang didepan kedua orang tua Agnes.


Akhirnya Qianu hanya bisa meminta maaf, "Maafkan aku Nes, tapi aku harus kembali, perusahaan membutuhkanku disana." Qianu masih saja mengatasnamakan perusahaan mengingat tidak mungkin Qianu membawa-bawa nama Imel, tambah tidak mungkin mengatakan kalau dirinya sudah menikah, sudah pasti hal tersebut akan membuat Agnes makin histeris.


"Jahat kamu Qianu, jahat." teriak Agnes tidak terima mendengar keputusan final dari bibir Qianu, setelah itu Agnes berlari meninggalkan meja makan, gadis itu benar-benar sakit hati dan marah sama Qianu, wajah cantiknyapun kini berantakan karna makeupnya yang luntur akibat air matanya yang mulai jatuh dengan deras membasahi pipinya.


"Agnesss." panggil mama Tiara, "Tante susul Agnes dulu ya Qianu, kamu lanjutkan makannya sama om."


"Iya tante." angguk Qianu, "Dan saya minta maaf tente, om karna menyebabkan Agnes menangis seperti ini."


"Bukan salahmu Qianu." tante Tiara tentu saja tidak menyalahkan Qianu dalam hal ini, "Anak itu saja yang terlalu berlebihan dan selalu saja menuntut orang untuk selalu mengerti dia."


"Qianu." panggil Ardan begitu istrinya sudah berlalu, mendengar namanya dipanggil, Qianu menoleh ke arah Ardan Wiratama


Qianu bisa melihat wajah Ardan Wiratama terlihat serius, "Om sebenarnya tidak setuju kalau kamu kembali ke Indonesia, om ingin kamu disini, kamu urus perusahaanmu disini sekaligus membantu om juga, biarkan perusahaan yang ada Indonsia diurus oleh orang kepercayaanmu." Ardan Wiratama mengeluarkan isi hatinya, hal ini sebenarnya tidak hanya menyangkut masalah perusahaan saja, tapi Ardan meminta Qianu tetap tinggal demi putri tunggalnya yang dia tahu cinta mati sama Qianu.


Dulu sebelum kembali ke tanah airnya, Qianu juga berniat tinggal hanya untuk sementara sampai dendam orang tuanya terbalaskan, tapi siapa sangka takdir berkata lain, pertemuannya dengan Imel yang merupakan putri dari laki-laki yang telah menghancurkan keluarganya telah mencuri hatinya saat pertemuan pertama, meskipun dia sudah berusaha menekan perasaannya mati-matian, bukannya malah menghilang, tapi perasaan itu semakin kuat sampai dia rasanya tidak mau kehilangan gadis kecil yang selalu memberikannya sebuah kenyamanan, ironis memang mengingat ayah dari gadis yang telah memberikannya kenyamanan itulah yang telah menghancurkan keluarganya sehingga membuat mama dan papanya pergi jauh meninggalkanya.


"Tapi aku harus tetap kembali om." kukuh Qianu.


"Apa yang membuatmu ingin kembali, bukankah dendammu sudah terbalaskan Qianu, bukankah kamu sudah berhasil menghancurkan Satya Cahya Abadi." cecar Ardan Witama karna dia tidak yakin penyebab Qianu ingin kembali ke Indonesia adalah perusahaan yang telah dia ambil alih dari Satya.


"Putri dari Satya Cahya Abadi yang membuatku ingin kembali om, gadis itu bisa membuatku tersenyum, bisa menghilangkan mimpi buruk yang sering aku alami setiap malam, dia sudah seperti obat untukku, ayahnya yang memberikan rasa sakit, tapi anaknya yang menjadi obat, ini memang sungguh gila." ujarnya dalam hati, Qianu tidak mungkin mengatakan secara blak-blakan tentang Imel, karna sudah bisa dipastikan kalau Ardan tahu tentang Imel yang merupakan anak dari Cahya Satya Abadi yang dinikahinya, Ardan Wiratama sudah pasti akan menentang hubungannya dengan Imel.


"Seperti yang sudah aku bilang diawal om, Qianu harus kembali karna perusahaan disana benar-benar butuh aku untuk turun langsung untuk menanganinya, aku harus meyakinkan para klien supaya tidak membatalkan kerjasama yang telah terjalin sebelumnya saat Satya Cahya Abadi yang memimpin perusahaan." jelasnya dengan sangat meyakinkan, dan itu berhasil membuat Ardan Wiratama percaya.


"Hmm, kamu benar Qianu, perusahaan itu memang masih sangat membutuhkan kamu."


"Iya om, oleh karna itu, aku tidak bisa lama-lama hanya sekedar bersantai atau bernostalgia karna ada perusahaan yang menunggu untuk aku kembangkan supaya menjadi perusahaan yang semakin besar."


"Om percaya kamu pasti bisa melakukannya Qianu, om tidak pernah meragukan kemampuanmu."


Qianu mengangguk.


Dan setelah acara makan malam itu, Qianu memerintahkan Hugo dan anak buahnya untuk langsung ke bandara karna mereka akan kembali malam ini.


****


Saat bangun dari tidurnya, Imel meraba-raba tempat tidur dengan harapan bisa menemukan tubuh Qianu terbaring disampingnya, sayangnya, Imel harus menelan kekecewaan saat tangannya hanya menyentuh ruang kosong dan tidak menemukan tubuh yang dicarinya.


"Dia benar-benar tidak pulang semalam." mendung menggayut diwajah Imel.


Imel dengan cepat mencari ponselnya yang entah ada dimana saat ini, yang jelas tempat tidur besar itu terlihat sangat berantakan, Imel menemukan ponselnya dibawah bantal, dia membuka ponselnya berharap pesannya dibaca atau di balas oleh Qianu, sayangnya, pesan yang dia kirim semalam masih sama, centang satu abu-abu, tiba-tiba saja Imel ingin menangis, dia merindukan Qianu, dia merindukan tangan kokoh yang dia dapati tiap pagi memeluk perutnya dengan posesif, dia rindu saat memperhatikan wajah Qianu saat laki-laki itu tengah tertidur nyenyak, hal tersebut membuat Imel kembali merebahkan tubuhnya kembali ketempat tidur, dia benar-benar menangis karna merindukan Qianu.


"Kak Qianu, hiks hiks, kamu dimana kak, kenapa kamu tidak menghubungiku sama sekali."


Padahal kemarin saat mengetahui kalau Qianu pergi dia senangnya minta ampun dan sekarang dia malah nangis-nangis karna kangen.


*****


Sepanjang hari itu Imel terlihat tidak bersemangat, tiap 10 menit sekali dia memeriksa ponselnya berharap Qianu menghubunginya atau hanya sekedar membalas chatnya, sayangnya, laki-laki tersebut seperti tertelan bumi, alias tidak ada jejaknya sama sekali.


Sahabat-sahabat Imel saling lempar pandangan saat melihat Imel terlihat murung saat mereka tengah menghabiskan waktu bersama dikantin saat jam istirahat.


"Kak Qianu masih belum ngehubungin elo Mel." Gebi bertanya.


Imel menggeleng lemah, sejak tadi bukannya memasukkan bakso bulat itu kemulutnya dia hanya mengaduk-ngaduknya saja.


"Lo gak usah khawatirin kak Qianulah Mel, suami lo itu pasti saat ini baik-baik saja, dia tidak menghubungi elo saat ini pasti karna dia sibuk banget makanya sampai ponselnya dimatiin segala." Juli mencoba menghibur.


"Hmmm." hanya itu tanggapan Imel.


"Mending lo makan deh Mel, ntar lo sakit lagi, sejak tadi lo cuma ngaduk-ngaduk tuh bakso terus."


"Benar Mel, lokan harus tetap sehat, supaya nanti saat kak Qianu balik, lo punya tenaga ekstra untuk memberi pelayanan maksimal pada kak Qianu."


"Ahh lo Nur, bisa gak sieh jangan nyebut-nyebut hal begituan, kita itukan masih dibawah umur."


"Elah sok-sok'an, padahal fim paforit elo fifty shades of grey."


Gara-gara sik Miun sialan itu sehingga mata suci ketiga gadis remaja itu jadi terkontaminasi, ya kecuali Imel seih ya yang udah ngerasain dan praktik langsung sama suaminya sendiri.


"Ehh, dengar-dengar ada lanjutannya tuh film." beritahu Gebi.

__ADS_1


"Ohh ya." antusias Nuri.


"Iya, mungkin Miun punya tuh, pinjem aja sama tuh anak."


"Lo donk yang pinjem."


"Elahh kok gue, lo yang doyan film begituan."


"Idihh munafik emang lo ya Geb."


"Heh sialan, pada geser otak lo ya, sahabat lo lagi bermuram durja saat ini elo malah ngebahas film begituan."


Nuri dan Gebi menghentikan ocehannya tentang film yang menceritakan kisah cinta Anastasya Stell dengan sik Christian Grey dan beralih memfokuskan diri pada permasalahan Imel.


"Jul, obat galau itu apa ya."


" Ya mana gue tahu, kenapa lo malah nanya gue."


"Ya jelaslah gue nanya elo, diantara kami berempatkan yang paling berpengalaman dalam hal inikan adalah elo, gimana caranya lo menghilangkan kegalauan elo saat kak Ari pergi ninggalin elo sampai lo bisa sekuat dan setegar sekarang." Nuri bertanya bukan bertanya untuk meledek, tapi dia memang seriusan nanya.


Juli mengangkat bahu untuk menjawab pertanyaan Nuri, "Gue juga sejujurnya kalau ditanya sieh gak tahu, diawal-awal rasanya sangat berat dan nyesak saat orang yang kita cintai menghilang tanpa kabar dan bahkan sampai sekarangpun tidak tahu kabarnya gimana, tapi yang gue ketahui adalah, kalau hidup itu harus tetap berjalan, bagaimanapun sedihnya kita, kita tidak boleh terpuruk dan putus asa, dan lama-lama, gue jadi terbiasa deh, intinya ya, semua penyakit itu ada obatnya, dan obat dari sakit hati adalah ya waktu." Juli mengakhiri pidatonya.


"Noh lo dengar tuh apa yang dikatakan oleh suhu Mel, Juli saja mampu melewati masa-masa tersulit dalam hidupnya, masa lo baru ditinggal kayak sehari doank sudah seperti orang yang hidup segan dan matipun tidak mau."


"Mending diem deh lo Nur, lo belum ngerasain yang namanya jatuh cinta sieh, ntar lo kemakan omongan lo sendiri baru dah tahu rasa."


"Jangan doain yang kayak gitu juga kali Jul, jahat amet dah lo."


"Makanya jangan ngeledek Imel lo."


"Gue gak ngeledek, hanya apa ya namanya...menasehati mungkin."


"Lagak lo menasehati segala"


Dan Imel tetap konsisten dengan kemurungannya sampai jam sekolah berakhir, bagaimanapun usaha Juli dan Nuri membuatnya tersenyum tidak membuahkan hasil sama sekali.


Dengan merangkul Imel, Juli dan Nuri berjalan keluar, dipintu gerbang, terlihat begitu ramai oleh para siswi yang berkerumun seperti semut, entah apa yang saat ini tengah mereka saksikan.


"Ada apaan sieh tuh, kenapa pada berkerumun digerbang sieh, menghalangi jalan orang saja." desis Nuri.


"Apa RM ke sekolah kita kali ya." kata Nuri tidak masuk akal, ya kali leader boyband BTS itu nyasar ke sekolah mereka.


Sedangkan Imel tetap bisu, rasanya sangat malas untuk berkomentar.


"Daripada penasaran kayak gini, mending lihat yuk."


Nuri menarik tangan Juli dan Imel untuk melihat sumber kehebohan yang membuat para siswi SMA PERTIWI memblokir jalan utama.


"Misi, misi, ada air panas ini." Nuri berusaha mencari celah supaya bisa mendapat akses kedepan, sangat sulit karna para siswi tersebut sudah seperti tembok berlin yang susah untuk diruntuhkan.


"Ya Tuhan, tampan sekali, kekasihnya siapa sih itu."


"Dia itu bukan manusia, tapi malaikat yang dikirim oleh Tuhan ke dunia ini."


Imel bisa mendengar suara kekaguman yang dilontarkan oleh para siswi-siswi tersebut, sampai pada akhirnya karna tenaga Nuri yang sudah seperti tenaga kuli berhasil membuat mereka menerobos para siswi tersebut dan bisa melihat apa yang tengah menjadi pusat perhatian anak-anak tersebut.


Disana, didepan, seorang laki-laki tampan berpakaian serba hitam dan memakai jaket hitam berdiri didepan sebuah mobil, laki-laki itu membawa buket bunga ditangannya.


"Oh my god, itu kak Qianu Imel, sua..." Nuri langsung menghentikan ucapannya, jelas saja pernikahan Imel dan Qianu tidak boleh diketahui oleh teman-temannya yang lain.


"Sialan, tampan amet gila, gak heran gue lo jadi murung, gak enak makan karna mikirin sik doi." komen Juli.


Imel hanya bisa menganga, dia benar-benar tidak menyangka laki-laki yang sejak kemarin dia fikirkan sehingga membuatnya tidak bisa melalukan apapun dengan baik kini berdiri dihadapannya, berdiri dengan gagahnya membawa buket bunga mawar merah, Imel hanya bisa membeku ditempatnya saat Qianu berjalan mendekatinya, wajah laki-laki itu seperti biasa datar tanpa sedikitpun senyum diwajahnya, dibalik kacamata hitamnya dia memandang lurus ke arah Imel, sesungguhnya, kaca mata itu menyembunyikan kerinduan yang sejak kemarin dia tahan.


"Kak Qianu nyemperin lo Melll." beritahu Juli, meskipun tidak diberitahu Imel juga tahu kali, orang dia punya mata.


"Ini kok kayak drama-drama korea gitu ya." timpal Nuri, "Gila ya, kok gue yang malah deg-degan."


Sementara siswa lainnya para grasak-grusuk.


"Ehh, sik tampan itu mendekat, dia mau nyamperin siapa sieh kira-kira."


"Duhh, beruntung banget dah tuh cewek pacaran dengan cowok sesempurna ini."


"Masyaallah, dari dekat makin tampan saja."


Imel masih belum bereaksi apa-apa, dia merasa ini seperti mimpi melihat Qianu datang tiba-tiba menjemputnya setelah satu setengah hari dibuat galau akut dengan Qianu yang tidak ada kabarnya sama sekali, benar-benar sebuah kejutan yang tidak terduga."


****

__ADS_1


__ADS_2