MENIKAH KARNA DENDAM

MENIKAH KARNA DENDAM
MELAKUKANNYA LAGI


__ADS_3

"Hiks hiks." Imel menangis saat melihat foto dirinya dan papinya diponselnya, sesungguhnya Imel benar-benar kangen sama papinya, terakhir kali dia kerumah sakit, Qianu benar-benar marah sama dia, hal itu membuatnya takut untuk ke rumah sakit melihat keadaan papinya.


"Papi, maafkan Imel pi, Imel bukannya tidak mau menjenguk papi, tapi Imel tidak diizinin oleh kak Qianu, kak Qianu bisa marah sama Imel kalau aku ke rumah sakit, padahal aku kangen banget sama papi." Imel mencurahkan isi hatinya.


"Papi baik-baik saja ya disana, Imel sayang sama papi."


Qianu tiba-tiba masuk, melihat hal itu, Imel menghapus air matanya, dia tidak ingin Qianu melihatnya menangis, laki-laki paling tidak suka melihatnya menangis, sebagai gantinya, Imel berusaha untuk tersenyum, dia bangun dan menyongsong kedatangan Qianu.


"Kak Qianu baru pulang." katanya dan membantu Qianu untuk melepas jas kerja yang sikenakan oleh suaminya.


"Kamu kenapa, kamu habis nangis." tanya Qianu saat melihat mata Imel yang memerah.


"Ehh, gak kok." jawab Imel gugup.


"Kenapa matamu memerah."


"Ini kelilipan kok kak." dustanya, dia kemudian berjalan untuk meletakkan jas Qianu.


Saat menggantung jas tersebut, tiba-tiba Imel merasakan sebuah tangan melingkari perutnya dan pundaknya terasa agak berat karna ternyata Qianu meletakkan dagunya dipundak Imel.


Imel agak kaget melihat kelakuan manja suaminya, tidak seperti biasanya, meskipun heran dengan sikap Qianu, tapi toh Imel membiarkannya karna dia tidak berani melepaskan belitan tangan Qianu, takut Qianu marah.


"Aku kangen." gumam Qianu.


"Kak Qianu kenapa sieh, kok dia jadi aneh begini." Imel hanya bisa bertanya dalam hati.


Qianu kemudian mengendus-endus rambut Imel, "Harum, aku suka aromamu, aroma strobery, kamu suka strobery."


Imel mengangguk menjawab pertanyaan Qianu.


Qianu kemudian membalikkan tubuh Imel supaya menghadap ke arahnya, dia ingin sekali melihat wajah Imel, tangannya yang besar dia arahkan ke wajah Imel, "Kamu cantik sekali." ini untuk pertamakalinya Qianu memuji istrinya itu, biasanya sieh gengsi.


"Tumben banget kak Qianu muji, biasanya juga wajahnya lempeng dan datar, padahal ini aku gak pakai apa-apa lho."


"Apa kamu bahagia bersamaku." tiba-tiba saja Qianu melontarkan pertanyaan tersebut, entah apa yang terjadi kepadanya.


Fifty-fifty, itu yang ingin dikatakan oleh Imel, tapi karna tidak mau membuat Qianu marah sehingga dia menjawab, "Iya, aku bahagia bersama kakak." Imel tidak menampik, dia mencintai Qianu, tapi dia tidak tahu bagaimana perasaan Qianu kepadanya, laki-laki itu kadang bersikap baik dan lembut kepadanya, tapi kadang juga kasar dan kejam, dia bahkan tidak segan-segan untuk menghukum Imel dan perlakuan Qianu itu membuat Imel tidak bisa menyimpulkan bagaimana perasaan Qianu kepadanya.


Qianu kemudian mengangkat tubuh Imel dan membawanya ketempat tidur, laki-laki itu membaringkan tubuh Imel ditempat tidur.


Ini memang bukan yang pertamakalinya mereka melakukannya, tapi tetap saja Imel terlihat gugup dan deg-deg, apalagi saat melihat Qianu membuka kancing kemejanya satu persatu, begitu kemeja itu lepas sepenuhnya dari tubuh Qianu, Imel menelan ludah saat melihat betapa sispecknya tubuh sang suami.


"Kamu suka." goda Qianu saat melihat Imel sama sekali tidak berkedip saat melihat tubuhnya.


Imel langsung membuang muka, sumpah dia merasa sangat malu.


"Ngapain malu, lihat aja mumpung aku mengizinkan."


"Apaan sieh kak Qianu." desis Imel, wajah gadis itu memerah.


Qianu naik ketempat tidur, hal itu membuat Imel semakin gugup.


"Aku ingin melakukannya lagi, apa kamu tidak keberetan." Qianu bertanya.


Imel reflek mengangguk untuk mengiyakan keinginan Qianu, dan sore itu untuk kedua kalinya mereka melakukannya, Qianu benar-benar memperlakukan Imel dengan sangat lembut yang membuat Imel terlena dan pasrah dibawah cumbuan Qianu.


Begitu mereka selesai melakukannya, Qianu memeluk tubuh Imel, dia berulangkali mencium kepala Imel.


"Mell."


"Hemm."


"Besok aku harus pergi keluar negeri."


Imel yang berada dalam pelukan Qianu mendongak menatap Qianu, "Kakak akan keluar negeri." Imel mengulangi.


"Iya, cuma 3 hari, apa kamu mau ikut." ajaknya.


Imel menggeleng, tidak mungkinkan dia  ikut soalnya dia harus sekolah.


"Kenapa gak mau ikut, kamu gak mau ya berada didekatku."


"Akukan sekolah kak, masak iya aku absen, bisa tidak naik kelas aku."


"Ahh iya benar juga."


"Selama aku pergi, baik-baik disini, jangan nakal-nakal."


"Iya." patuh Imel.


"Hugo tidak ikut denganku, dia aku tugaskan untuk menjagamu disini, jadi selama aku pergi, kamu harus nurut sama dia."


"Akukan bukan anak kecil pakai dijaga segala, aku bisa menjaga diriku sendiri." batin Imel.


"Apa kamu mengerti Imel."


"Iya kak."


****


Saat Imel tengah berada dikantin bersama dengan sahabat-sahabatnya, Imel mendapat chat dari Qianu.


Qianu : Aku lagi dibandara, sebentar lagi aku akan berangkat.


Imel : Semoga selamat sampai tujuan kak


Qianu : Ingat ya pesanku, jangan nakal, kamu harus nurut sama Hugo selama aku tidak ada


Imel : Iya kak Qianu, kakak tenang saja, aku gadis baik-baik kok, jadi gak mungkin nakal, dan tentunya karna aku tidak ingin kena masalah, tentunya aku akan nurut sama dia


 Qianu : Gadis baik


"Suami lo Mell." tanya Juli.


"Iya, dia ngasih tahu gue kalau sebentar lagi dia bakalan berangkat keluar negeri."

__ADS_1


"Asyik ya Mell punya suami kaya."


"Biasa aja, kan sejak kecil gue udah kaya, jadi saat mendapatkan laki-laki kaya, ya perasaan gue biasa aja."


"Jadi ingin deh gue punya suami orang kaya, gak apa-apa deh duda asal kaya raya." cloteh Nuri.


"Kaya belum tentu membuat lo bahagia Nur."


"Ya bisalah, kalau gue punya suami kaya, guekan bisa membeli apapun yang gue inginkan." tandas Nuri, "Mell, suami lo punya teman orang kaya gak, suruh donk dia ngenalin ke gue."


"Ntar gue tanyain saat dia balik dari luar negeri." jawab Imel hanya untuk membuat Nuri senang.


"Oke gue tunggu deh berita baik dari lo."


"Ngebet banget lo ya kayaknya nikah sama orang kaya." sahut Gebi yang sejak tadi lebih memilih fokus dengan makanannya.


"Untuk saat ini seih belum berniat nikah Geb, tapi ya minimalnya punya pacar dululah."


Saat itu, terlihat Rio yang merupakan mantan pacar Imel berjalan ke arah meja yang mereka tempati.


"Rio tuh Mell, kayaknya tuh anak mau nyamperin elo deh." Juli memberitahu dengan mengedikkan dagunya ke arah kedatangan Rio.


Reflek mereka bertiga menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Juli, mereka bisa melihat kalau Rio berjalan ke arah mereka.


"Mau ngapain sieh sik brengsek itu." 


"Mau ngapain lagi, mau ngajak lo balikanlah Mel, kayaknya tuh anak masih belum bisa move on tuh dari lo."


"Hai semuanya, hai Imel." Rio menyapa dengan antusias begitu tiba dimeja yang ditempati oleh keempat gadis tersebut, dan tanpa minta persetujuan, Rio duduk dikursi yang tersisa.


"Lo mau ngapain kesini Rio."


"Ketemu Imellah." jawab Rio yang kini menatap Imel.


"Lo mau ngapain ketemu gue."


"Kangen."


"Ishhh, najis lo ya."


"Najis-najis gini, lo pernah lho Mel nyium gue."


"Idihh kapan, gak pernah, jangan fitnah lo ya."


"Lo ganggu aja deh Rio, mending lo pergi gieh, Imel juga gak sudi lihat wajah elo." usir Gebi.


"Kalau gue gak mau gimana."


"Kenapa sieh lo Rio menyebalkan begini."


"Itu karna gue cinta sama lo Mell, balikan yuk." ajaknya santai.


"Gak." tandas Imel cepat.


"Karna gue ilfil sama lo."


"Lo mah gitu ya Mell, habis manis sepah dibuang, dulu aja lo nyium-nyium gue dan tiap hari bilang I LIVE YOU."


"Jangan ngadi-ngadi deh lo Rio."


"Rio, lo pergi dengan suka rela atau gue seret." tegas Nuri yang merasa terganggu dengan kehadiran Rio ditengah-tengah mereka.


"Gue akan pergi kalau Imel berjanji mau nonton sama gue."


"Dihh, gak sudilah gue."


"Kok gitu sieh, padahal tiketnya sudah gue beli lho."


"Egp."


"Tuhh, lo denger sendirikan Rio, Imel itu gak mau nonton sama lo."


"Lagian ya Rio, lo itu jadi cowok gak ada harga dirinya banget, orang gak cinta sama lo masih saja lo kejar."


"Itu karna gue cinta mati sama Imel, gue gak akan berhenti ngejar Imel sampai Imel mau kembali sama gue." lha nieh cowok malah ngotot, bikin orang emosi saja.


"Miunnnn, Raskinnnn, sini lo." Nuri berteriak saat melihat dua teman kelas mereka itu terlihat memasuki area kantin.


Duo tengil itu langsung bergegas ke arah TKP saat mendengar nama mereka dipanggil.


"Lo kenapa manggil-manggil kami Nurdin." Raskin bertanya saat sudah berada didekat yang ditempati oleh empat sekawan itu.


"Niehh, lo singkirin nyamuk satu ini." tunjuknya pada Rio.


"Sialan lo." umpat Rio karna dia tidak suka dipanggil nyamuk.


"Ada upahnya gak nieh, ogah bangetlah bekerja kalau gak ada imbalannya." sahut Miun yang tidak mau rugi.


"Ntar Imel nraktir lo."


"Lha kok gue." protes Imel.


"Ya elolah, emang siapa lagi, nieh nyamukkan gangguin elo."


"Ya ya, ntar gue traktir lo berdua asal lo singkirin dululah dia."


"Oke, beres."


Miun dan Raskin bersiap melakukan apa yang diperintahkan, namun sebelum mereka melakukannya, Rio lebih dulu berdiri.


"Oke oke, gue pergi." Rio menyerah pada akhirnya, daripada diseret, ya mendingan dia pergi dengan suka rela.


"Dari tadi kek."


"Tapi ingat ya Mell, gue pergi bukan berarti gue menyerah untuk mendapatkan cinta elo."

__ADS_1


"Ke laut lo sana, dasar laki-laki sinting."


Miun dan Raskin kini ikutan bergabung dengan gadis-gadis itu.


"Mell, traktirannya donk."


"Riokan pergi sendiri, jadi hangus donk traktirannya."


"Diakan pergi gara-gara kita." 


"Ya udah deh, lo pesan aja sana gue yang traktir."


"Nahh gitu donk, ini baru sip."


****


"Ini kesempatanku untuk mencelakai Imel mumpung Qianu pergi." batin Agnes, rencana jahat sudah tersusun rapi diotaknya yang licik.


Dan Agnes mulai merencanakan niat jahatnya makan malam, dia memasukkan obat pencuci perut disup ayam yang dihidangkan oleh para pelayan.


Agnes tersenyum jahat saat membayangkan Imel yang kesakitan begitu sup ayam tersebut masuk ke lambungnya.


Dan setelah memasukkan bubuk pencuci perut tersebut, Agnes mengambil tempat duduk disalah satu kursi dan menunggu Imel turun.


Gak lama kemudian, Imel terlihat turun dari lantai dua dan berjalan ke arah ruang makan, disana dia menemukan Agnes yang duduk sendirian, Imel yakin Agnes saat ini tengah menunggunya.


"Hai Mell." sapa Agnes pura-pura manis lengkap dengan senyum palsu yang membingkai bibirnya.


"Hai Agnes." balas Imel dan juga ikutan duduk disalah satu kursi.


"Sebaiknya kita mulai makan." ajak Agnes yang mulai menuangkan nasi dan mengambil lauk pauk ke piringnya, kecuali sup ayam karna dia sudah menuangkan bubuk pencuci perut kedalamnya.


"Kenapa bengong Mel, ayok makan."


"Iya." Imelpun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Agnes, tanpa rasa curiga Imel mengambil sup ayam dan menuangkannya dipiringnya.


"Yess, mampus lo Imel." Agnes begitu senang saat melihat Imel mengambil sup ayam.


Sadar kalau Agnes sejak tadi memperhatikannya, Imel yang sudah siap untuk makan mengurungkan niatnya, dia menoleh kearah Agnes terlebih dahulu.


"Kenapa kamu ngelihat aku terus, ada yang salah ya." tanyanya.


"Eh gak kok, gak ada yang salah kok Mel, ayok makan."


"Hmmm." Imel kemudian mulai memasukkan sendok ke mulutnya, dan tanpa merasakan adanya sesuatu yang lain dia mulai mengunyah.


"Hahaha, sebentar lagi kamu akan mampus Imel." 


Awalnya sieh tidak ada yang terjadi, tapi setelah beberapa suapan, Imel merasakan perutnya terasa tidak enak.


"Perutku kenapa, kenapa tiba-tiba sakit begini." Imel mulai memegang perutnya.


"Duhh sakit banget." Karna tidak tahan, Imel berlari ke arah kamar mandi terdekat disalah satu kamar tamu dilantai bawah.


"Haha." Agnes tertawa puas, "Itu baru permulaan Imel, kamu akan marasakan penderitaan yang lebih dari itu karna berani-beraninya kamu merebut Qianu dariku."


****


"Duhhh, apa yang salah sieh, apa aku salah makan ya." ucap Imel yang sejak tadi bolak balik masuk ke kamar mandi, wajahnya kini memucat.


Irma yang sejak tadi memperhatikan Imel yang bolak-balik masuk kamar mandi akhirnya mendekati Imel untuk menanyakan pada gadis itu apa yang sebenarnya terjadi.


"Nona muda, apa yang terjadi dengan nona."


"Aku juga gak tahu kak, perutku sakit banget."


"Apa nona salah makan."


"Aku hanya makan makanan yang dihidangkan oleh pelayan doank kok tadi." Imel menjelaskan.


"Aduhhh." Imel kembali berlari memasuki kamar mandi, gadis itu benar-benar kelihatan menderita.


"Nona Imel jadi seperti ini karna makan masakan yang dimasak oleh pelayan, tapi kok bisa." heran Irma.


Irma kemudian bergegas untuk memberitahu Hugo tentang keaadan Imel, bukankah yang bertanggung jawab saat Qianu pergi adalah Hugo.


Dua menit kemudian, Hugo bersama dengan Irma kembali, wajah Hugo terlihat panik saat mendengar apa yang disampaikan oleh Irma barusan.


Hugo mengetuk pintu kamar mandi, "Nona Imel, apa nona masih ada didalam."


"Iya Hugo." terdengar suara sahutan dari dalam.


"Nona, apa yang sebenarnya terjadi, saya dengar nona sejak tadi bolak-balik kamar mandi."


Dari dalam kamar mandi Imel menggeleng, namun kemudian dia sadar kalau Hugo tidak bisa melihatnya sehingga dia menyahut, "Aku juga tidak tahu Hugo, tiba-tiba saja aku jadi sakit perut begini."


Beberapa menit kemudian saat Imel tidak ada tanda-tandanya akan keluar, Hugo kembali mengetuk pintu kamar mandi.


"Nona, apa nona masih lama didalam." tidak ada sahutan.


"Nona Imel, apa nona mendengar kata-kata saya." masih tidak ada sahutan.


"Nona, jawab saya nona." Masih konsisten tidak ada jawaban, hal itu tentu saja membuat Hugo dan juga Irma panik.


"Jangan-jangan terjadi sesuatu sama nona Hugo."


"Minnggir Irma." perintah Hugo karna dia akan mendobrak pintu kamar mandi.


Irma menyingkir untuk memberi ruang pada Hugo.


Hugo mengambil jarak agak jauh dan mengambil ancang-ancang, dan setelah itu, dia berlari ke arah pintu dan menubrukkan tubuhnya, hanya dengan sekali sentakan pintu kamar mandi itu terbuka, dan betapa kagetnya Hugo dan juga Irma saat melihat tubuh Imel tergeletak tidak berdaya dilantai kamar mandi.


"Ya Tuhan nona." Hugo langsung mengangkat tubuh nona manjikannya dan membawanya dalam gendongannya, dia berniat membawa Imel ke rumah sakit.


****

__ADS_1


__ADS_2