MENIKAH KARNA DENDAM

MENIKAH KARNA DENDAM
ALTAN


__ADS_3

Setelah berbasa-basi sebentar dengan pemilik pesta, kini Qianu dikeremuni oleh para pebisnis-pebisnis lainnya sehingga membuat keberadaan Imel jadi terabaikan.


"Ishh, ngapain sieh ngajak aku ikut segala, toh juga dicuekin kayak gini." ketus Imel bersungut-sungut.


Imel berdiri dipojokan karna dia tidak kenal satupun dari orang-orang yang berada ditengah-tengah pesta tersebut dengan sepiring kue dipiring yang ada ditangannya, fikir Imel, kue-kue itu bisa menetralisir moodnya yang saat ini memburuk gara-gara Qianu.


"Sampai berapa lama lagi sieh pestanya, guekan harus butuh istirahat, besok pagi-pagi gue harus bangun untuk melakukan ini itu, berangkat sekolah, pulangnya kerja lagi." Imel berkeluh kesah mengingat banyaknya pekerjaan yang harus dia lakukan, dinikahi, tapi benar-benar diperlakukan seperti pembantu oleh Qianu, dan ya seharusnya keluh kesahnya itu disampaikan sendiri pada Qianu, tapi ya begitulah, Imel hanya beraninya bicara dibelakang doank, didepan Qianu mana berani dia, hanya melihat mata tajam Qianu menatapnya saja dia mengkeret.


"Haii." 


Imel menoleh kesamping saat mendengar suara seseorang menyapanya, seorang laki-laki tinggi, tampan, memakai pakaian formal berdiri disampingnya, laki-laki itu juga tengah menatapnya sambil tersenyum manis.


"Siapa sieh, sok akrab deh." batin Imel tidak membalas sapaan laki-laki yang tidak dia kenal tersebut.


Meskipun dicuekin, laki-laki itu menyodorkan tangannya didepan Imel, "Perkenalkan, namaku Altan Dwi Purnama, panggil saja Altan." 


Imel hanya menatap tangan laki-laki yang  disodorkan tersebut tanpa berniat membalasnya, sik laki-laki bernama Altan menggerak-gerakkan tangannya sebagai kode supaya Imel menjabatnya.


Karna gak enak, akhirnya dengan tangannya yang bebas Imel menjabat tangan tersebut tanpa menyebutkan nama.


"Namanya." tuntut Altan.


"Duhh, padahal udah gue jabat tangannya juga, masak iya harus sebut nama juga, tidak bisakah dia pergi saja dan membiarkan gue sendirian, yang gue butuhkan saat ini adalah ketenangan, bukannya teman bicara, apalagi orang asing kayak gini." Imel hanya mengatakan kalimat tersebut dalam hati.


"Bolehkan aku tahu namanya." kayak Altan belum menyerah untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Imel." jawab Imel singkat.


"Hanya Imel doank."


"Iya." jawab Imel malas untuk menyebutkan nama panjangnya.


"Nama yang cantik secantik orangnya." puji Altan.


Biasanya sieh Imel akan bangga  gitu kalau mendapatkan pujian, tapi kali ini, mungkin karna moodnya yang lagi jelek kali ya sehingga tidak merespon pujian tersebut, biasanyakan dia akan baper banget kalau dipuji oleh laki-laki, apalagi kalau laki-laki itu tampan seperti yang ada disampingnya saat ini.


"Gue udah jabat tangannya, kasih tahu nama gue, lo pergi gieh sana, gue hanya ingin sendiri." lagi-lagi hanya ngusir dalam hati.


"Kalau boleh tahu, kamu datang kesini dengan siapa."


"Aku…."


"Disini kamu rupanya, aku cari kemana-mana juga." suara tajam itu membuat Imel menghentikan ucapannya.

__ADS_1


Qianu menatap tajam laki-laki yang saat ini berada didekat Imel, yang ditatap bersikap santai kayak dipantai.


"Kita balik sekarang." 


"Oh pulang ya, ayok." suara Imel terdengar antusias, pasalnya dia sudah sangat bosan ditempat tersebut, yang dia butuhkan saat ini adalah tempat tidur dan mengistirahatkan tubuh dan fikirannya yang lelah.


"Aku pergi dulu ya." pamit Imel pada Altan saat akan pergi.


Qianu mendelik kesal saat melihat Imel berpamitan sama laki-laki tersebut, "Dasar wanita ganjen, setiap ada kesempatan kerjaannya selalu saja menggoda setiap laki-laki." Qianu selalu menuduh dari apa yang dilihatnya, padahalkan apa yang terlihat belum tentu seperti yang dia fikirkan, tapi begitulah sifat manusia.


Dengan tidak sabaran Qianu menarik lengan Imel dan membawanya keluar.


"Hati-hati ya Imel, semoga kita bisa bertemu kembali." ujar Altan dengan suara yang cukup besar supaya bisa didengar oleh Imel dan otomatis juga didengar oleh Qianu.


Rahang Qianu mengeras, dia semakin kuat mencengkram lengan Imel, hal tersebut tentu saja membuat Imel meringis kesakitan.


"Kak sakit, lepasin, aku bisa jalan sendiri." rengek Imel begitu sudah jauh dari keramaian.


Namun Qianu tidak memperdulikan rengekan kesakitan Imel.


"Kak Qianu, lepasin, aku bukan kambing pakai diseret-seret segala."


"Diam, berhenti merengek." bentak Qianu yang membuat Imel langsung bungkam, Qianu benar-benar menyeramkan.


Hugo buru-buru membuka pintu belakang, Qianu langsung mendorong Imel masuk dan mengehampaskan tubuh Imel dengan cukup kuat sehingga membuat Imel mengaduh.


"Awhh." Imel merasakan bokongnya terasa sakit.


"Jalan Hugo." perintah Qianu dengan suaranya yang menakutkan saat dia sudah duduk dengan nyaman.


"Baik tuan."


"Kak Qianu kenapa marah lagi, gara-gara apa, apa karna dia lelah saat mencariku dipesta tadi." Imel menduga-duga penyebab amarah Qianu.


"Benar-benar gadis murahan." gumam Qianu tidak menjelaskan apapun.


"Maksudnya." bingung Imel, "Tidak mungkinkan gue yang dikatakan murahan sama dia." batin Imel.


Qianu mendengus, "Marayu setiap laki-laki yang kamu temui bukannya itu namanya murahan, kemarin teman sekolahmu, bahkan sekarang kamu merayu laki-laki yang baru kamu kenal, aku tidak pernah menyangka kalau gadis kecil dan terlihat lugu sepertimu ganjen dan murahan." jelasnya dengan nada tinggi.


"Astagaa, apa sieh yang diotak laki-laki ini, masak setiap laki-laki yang berbicara denganku dia anggap aku merayu laki-laki itu, benar-benar deh." Imel menggeleng, tidak habis fikir dengan jalan fikiran Qianu.


"Kenapa sieh kak, setiap laki-laki yang mengajak aku ngobrol kakak selalu berfikir kalau aku tengah merayu laki-laki tersebut, kakak bilang aku ganjenlah, murahanlah, berapa kali sieh bilang, aku tidak pernah mendekati laki-laki manapun, merekalah yang mendekatiku hanya sekedar untuk berbasa-basi." Imel berusaha menjelaskan, meskipun dia tidak yakin sieh Qianu akan percaya kepadanya, diakan dianggap selalu salah dimata Qianu.

__ADS_1


Qianu mendengus mendengar kata-kata Imel.


"Ya sebenarnya sieh, alasan utama para laki-laki mendekatiku adalah karna aku…" agak ragu juga sieh Imel mengatakannnya.


"Karna apa." kejar Qianu.


"Karna aku cantik." jawab Imel dengan suara kecil.


"Narsis sekali kamu."


"Itu fakta kok kak, aku gak narsis, kalau gak percaya, tanya saja Hugo, iyakan Hugo, aku itu cantik."


Hugo sejak tadi fokus menyetir dan pura-pura tuli tidak bisa mengabaikan pertanyaan Imel begitu saja, "Iya, nona cantik kok."


"Siapa yang menyuruh kamu bicara Hugo." bentak Qianu.


"Ehh maafkan saya tuan."


"Ya Allah yang maha kuasa, agak lain otaknya laki-laki satu ini, masak Hugo muji saja dia pakai marah segala."


****


"Aku kangen Qianu, kamu kapan datang sieh jengukin aku kemari." terdengar suara rengekan manja dari seorang gadis diseberang. 


Saat ini Qianu tengah mendapat telpon dari Agnes, anak dari sahabat papanya, orang yang sekaligus berjasa dan banyak membantunya sampai dia bisa sesukses seperti saat ini.


"Aku sibuk Nes, banyak kerjaan disini yang tidak bisa aku tinggalkan begitu saja, jadi, kapan-kapan ya." Qianu berusaha untuk bersikap sabar, dia sudah menganggap Agnes seperti adiknya sendiri meskipun dia tahu Agnes menganggapnya lebih dari sekedar kakak.


"Lebih pentingan kerjaan ya daripada aku." Agnes merajuk.


"Tentu saja kamu lebih penting Nes, kamukan adikku." sengaja Qianu mengatakan hal tersebut supaya Agnes tidak berharap lebih kepadanya.


"Tapi aku bukan adikmu Qianu, dan sampai kapanpun aku tidak mau kamu menganggapku adik." Agnes nyolot yang membuat Qianu memijit-mijit keningnya.


"Permisi kak, ini tehnya." tegur Imel dari arah pintu yang terbuka.


Qianu mengangguk sebagai kode meminta Imel untuk masuk, karna sudah mendapatkan persetujuan, Imel melangkah masuk membawa teh yang dipesan oleh Qianu.


Suara Imel barusan lumayan besar sehingga Agnes bisa mendengarnya, "Suara siapa itu Qianu, itu suara perempuankan." tanya Agnes ngegas, disini jelas dia terdengar cemburu.


"Dia hanya…" Qianu menatap Imel sekilas sebelum menjawab pertanyaan Agnes, "Hanya pelayan yang membawakanku teh Nes, jadi gak usah ngegas gitu juga."


****

__ADS_1


__ADS_2