MENIKAH KARNA DENDAM

MENIKAH KARNA DENDAM
DINGIN, PELUK AKU


__ADS_3

Agnes dan Altan berencana pergi menghabiskan minggu itu dengan liburan didaerah pegunungan, Imel yang mendengar rencana tersebut tentu saja terlihat antusias, karna bisa dibilang, dia hanya pernah sekali ke gunung selama ini.


"Gunung kak Altan, waaa pasti seru banget itu." antusiasnya sambil jejingkrakan.


Altan ikutan senang melihat Imel tersenyum begitu, "Ahh menggemaskan sekali dia itu, melihatnya senang begitu aku jadi ikutan bahagia."


"Bisa tidak gak usah lebay begitu Mell, biasa ajakan bisa." bisik Qianu ditelinga istrinya.


"Iya maaf kak Qianu, habisnya aku antusias banget sieh."


Mereka memakai dua mobil, Agnes dan Altan menggunakan mobilnya Altan, sedangkan satunya lagi menggunakan mobilnya Qianu yang tentunya disopiri oleh Hugo, Altan sieh menyarankan kalau mereka menggunakan satu mobil saja, tapi hal tersebut langsung ditentang oleh Qianu yang tidak mau semobil dengan Altan dan Agnes, jadinya deh mereka menggunakan dua mobil.


Jarak yang mereka tempuh lumyan jauh, tapi Imel begitu exited sehingga sepanjang perjalanan, dia tidak henti-hentinya memandang keluar jendela melihat pemandangan hijau yang terhampar disepanjang jalan yang mereka lewati karna sekarang mereka sudah memasuki kawasan pegunungan sehingga tidak heran disepanjang jalan yang mereka lewati suasananya hijau alami dan membuat mata menjadi adem.


"Indah banget ya." puji Imel, udara dingin pengunungan mulai menusuk kulitnya sampai ke tulang-tulangnya.


"Indah banget ya sampai kamu melupakan pemandangan yang jauh lebih indah yang ada disamping kamu." sindir Qianu karna sejak memasuki area pedesaan dimana kawasan wisata yang mereka tuju berada, Imel fokusnya menatap keluar dan nyuekin dia habis-habisan.


Mendengar kata-kata Qianu membuat Imel membalikkan tubuhnya ke arah Qianu, Imel tersenyum karna menyadari apa yang dikatakan oleh Qianu benar adanya, Imel mendekatkan tubuhnya ke arah suaminya dan merangkul lengan Qianu, "Maafkan aku suamiku, kalau aku sejak tadi nyuekin kamu." Imel sekarang mengistirahatkan kepalanya dipundak suaminya itu.


"Dingin ya, ingin dipeluk agar hangat." rengeknya manja.


"Jangan mulai deh, kamu tidak lihat ada Hugo."


"Ya gak apa-apa, iyakan om Hugo, orang kita sudah sah begini kok, jadi boleh kok kalau mau ngapain aja dan dimanapun oke-oke saja." wah, Imel sepertinya urat malunya sudah putus tuh.


"Tentu saja tidak apa-apa nona."


"Tuhkan, om Hugo bilangnya gak apa-apa." ujarnya, "Ayok peluk kak, kedinginan aku ini." kini Imel melingkarkan tangannya ditubuh Qianu, tangannya tidak bisa memeluk tubuh Qianu seutuhnya.


"Peluk." rengeknya.


Akhirnya Qianu menyerah juga mendengar rengekan Imel sehingga dia membalas pelukan gadis tersebut yang membuat Imel tersenyum.


"Kasihan banget ya om Hugo, dia tidak ada yang meluk, dia pasti sangat kedinginan."


"Jangan meledek Hugo." balas Qianu memperingatkan Imel.


Bukannya mendengarkan kata-kata suaminya, Imel malah berkata, "Makanya Hugo, cari pacar donk agar ada yang meluk kamu kayak gini, biar hangat gitu, kan asyikk."


"Sudah aku bilang jangan meledek Hugo, bandel banget sieh kamu."


Hugo menimpali, "Sudah saya bilang nona, saat ini saya tidak berniat pacaran dulu, saya mau fokus untuk bekerja dan melayani tuan dan nona dulu."


"Tahu gak kak, dirumah kak Aguskan..."


"Siapa Agus." potong Qianu cepat.


"Kakaknya Juli kak, sahabat aku, dia sudah menikah kak, jadi kak Qianu tidak perlu cemburu begitu."


"Geer banget seih kamu, siapa juga yang cemburu." dalihnya.


"Cemburu juga gak apa-apa kak, aku senang kok kalau kak Qianu cemburu, cemburu itu tandanya cinta."


"Aku bilang tidak cemburu ya tidak cemburu."


"Iya iya deh, kak Qianu tidak cemburu, hanya jeoluse saja gitu."


Qianu mendengus, "Suka-suka kamu deh Imel."


Imel kemudian melanjutkan kata-katanya, "Dirumahnya kak Aguskan ada ART yang bernama mbak Atun, cantik dan bodynya oke, nah, Juli berusaha untuk menjodohkan om Hugo dan Artnya itu, sayangnya om Hugo seleranya tinggi, dia maunya yang kayak Selena Gomez gitu kak." jelas saja ini fitnah, Hugokan tidak pernah bilang begitu, jangankan bilang begitu, mimpi saja tidak.

__ADS_1


"Benar itu Hugo, tipe kamu yang seperti Selena Gomez, wahh gaya sekali kamu ya." Qianu malah percaya lagi dengan kata-kata Imel barusan.


"Tidak tuan, jelas saja itu tidak benar, mana mungkin saya yang hanya seorang bodygourd begini tipenya yang seperti Selena Gomez begitu, jangan percaya dengan kata-kata nona tuan, nona hanya mengada-ngada." Hugo buru-buru membantah.


"Jangan pernah ngarang cerita lagi." Qianu menjawil hidung mungil Imel.


"Hehe, maaf."


"Makanya kak, bilangin sama om Hugo untuk cari pacar, Agnes saja sudah punya pacar tuh, pasti saat ini dimobil dia dan kak Altan lagi berpelukan kayak gini."


"Sudahlah, jangan campuri urusan pribadi Hugo, biarkanlah dia mencari pacar kapanpun dia mau."


"Tidak bisa kak, kita itu harus ikut campur dalam urusan pribadi om Hugo terutama tentang pasangan hidup." kukuh sekali kayaknya sik Imel ini, "Om Hugokan telah banyak berjasa untuk kita, om Hugo bilang dia ingin bekerja dulu dan mamastikan kalau kehidupan kak Qianu dan aku baik-baik saja, kurasa kehidupan kita baik-baik saja tuh, jadi sudah saatnyalah kita juga memikirkan om Hugo, kasihankan om Hugo tidak ada yang memperhatikan dia kalau lagi sakit."


"Terimakasih atas perhatiannya nona, tapi...."


"Imel benar Hugo." potong Qianu karna berfikir kalau apa yang dikatakan oleh Imel ada benarnya, "Kamu jangan sibuk bekerja saja, fikirkanlah kehidupan pribadimu juga, kamu butuh pendamping hidup supaya ada yang memperhatikanmu, lagipula umurmu sudah lebih dari cukupkan, nanti kamu tidak produktif lagi dan tidak bisa memberikan keturunan."


Imel terkekeh mendengar kata-kata Qianu barusan.


"Kalau kamu menikah, aku pastikan akan membuat pesta pernikahan besar-besaran dan mewah untukmu, sebagai bonus atas pengabdianmu selama ini." janji Qianu.


"Nahh tuh, masak om Hugo tidak tergiur sama sekali sieh, kak Qianu akan membuatkan pesta meriah untuk om Hugo lho."


"Ini tuan dan nona lagi kesambet apaan sieh, tiba-tiba pada ngebet gitu ingin aku cepat nikah." suara hati Hugo.


"Iya tuan, nona, saya pasti akan menikah kok, tapi untuk saat ini tidak dulu."


"Kalau om Hugo sudah siap, bilang ya, nanti aku kami kenalin dengan ARTnya kak Agus kakaknya Juli."


"Iya nona." diiyain saja sama Hugo agar cepat selesai urusan, pasalnya nona majikannya entah kelebihan baik atau bagaimana sehingga akhir-akhir ini doyan sekali menjodoh-jodohkannya, padahalkan dia bisa cari sendiri.


"Secantik apa sih sik Atun-Atun itu sampai kamu begitu gencar mempromosikan dia, secantik Syahrini."


"Yang benar saja." lisan Qianu tidak percaya.


"Lihat saja sendiri kalau tidak percaya."


"Aku gak punya waktu untuk melihat sesuatu hal yang tidak penting begitu."


"Habisnya sieh kak Qianu gak percaya gitu."


*****


Pemandangan alam daerah pegunungan memang sangat indah, deretan perbukitan yang yang jadi latar belakang pemandangan benar-benar membuat takjub indra penglihatan, hal itu juga yang terjadi dengan Imel, gadis itu tidak hentinya mengagumi keindahan ciptaan Tuhan itu, Qianu juga begitu, tapi rasa kagumnya hanya dia pendam dalam hati saja, tidak sampai dia suarakan.


"Masyaallahh, cantik bangetkan kak, kak Qianu gak nyeselkan ikut kemari."


"Hmmm."


"Ehh kita foto donk, dengan bukit itu tuh yang jadi latar tempat kita berfoto, pasti keren banget deh tuh."


Qianu jelas saja menolak, "Kamu saja yang foto sendirian, aku gak mau."


"Kak Qianu suka gitu, ayok kak foto bareng, mumpung kita disini ya, sebagai kenang-kenangan kak." Imel membujuk.


"Aku bilang aku gak mau."


"Ishh, selalu saja begitu, menyebalkan sekali." manyun.


"Baiklah baiklah, ayok kita foto bareng."

__ADS_1


Bibir Imel yang maju dua senti kini berubah kembali normal setelah mendengar persetujuan Qianu.


"Minta tolong sama siapa yang motoin." Imel mencari-cari siapa yang bisa dimintain tolong untuk memfoto dirinya dan Qianu.


Pilihan Imel terhenti pada Agnes yang kebetulan lewat didepan mereka.


"Agnes."


"Ishh, ngapain sieh dia manggil-manggil." dengus Agnes, "Perasaanku jadi tidak enak."


Agnes terpaksa berhenti karna panggilan Imel barusan, "Ada apaan Mell."


"Agnes, tolong fotoin aku sama kak Qianu ya." pinta Imel dengan santainya, dia tidak tahu apa kalau permintaannya itu membuat Agnes meradang.


"Apa katanya, dia minta untuk difotoin, yang benar saja, memangnya aku tukang foto apa."


"Ya Agnes ya, tolong fotoin, sebentar saja." paksa Imel.


"Hmm, baiklah." ujarnya setengah hati.


Imel kemudian menyerahkan ponselnya kepada Agnes, "Tolong ambil foto yang bagus ya."


"Hmmm."


"Ayok kak Qianu, Agnes yang akan motoin kita."


Imel sudah siap berpose, namun sayangnya, posisi Qianu memang agak renggang darinya, "Kak Qianu ini gimana sieh, kita itukan mau foto, bukannya musuhan, dekat-dekatan donk kak." Imel menarik lengan Qianu supaya lebih dekat dengannya.


Dan Qianu seperti tidak punya inisiatif sendiri, laki-laki itu murni hanya berdiri tanpa berniat bersikap mesra sedikitpun, hal itu tentu saja membuat Imel kembali protes, "Ihh kak Qianu ini gimana sieh, gak kayak gini juga kali, yang romantis dikit kek."


"Kamu maunya apa sieh Mell, tadi kamu merengek-rengek ngajakin foto, sekarang sudah foto bareng, kamu maunya banyak banget."


"Banyak maunya gimana sieh, akukan cuma minta kak Qianu bersikap mesra dikit, lagian gak dosa lho kak pegang-pegang, kitakan muhrim, jangan posenya kayak patung gitu donk kak."


"Terus, kamu maunya aku gimana Imell." Qianu jadi gemes sendiri.


Imel meraih tangan Qianu dan melingkarkannya dipundaknya, "Nahh kayak gini donk kak biar mesra."


Sudah memfoto pasangan pasutri itu membuat Agnes kesal, sekarang, ditambah lagi harus melihat mereka mesra-mesra begitu, kan terbakar cemburulah dia.


"Lama amet sieh, capek aku nieh nungguin kalian yang sejak tadi belum siap-siap sejak tadi, jadi difoto gak." protes Agnes ketus, padahal suasana didaerah pegunungan itu sejuk, tapi badannya kok jadi tiba-tiba panas begini, ya mungkin saja pengaruh dari panasnya hati, makanya sampai terbawa ke permukaan kulitnya.


"Iya iya bentar."


"Ayok kak yang mesra, senyum juga ya kak agar bagus hasilnya."


"Hmmm."


Agnes benar-benar mengambil foto dengan setengah hati, tapi mungkin karna yang difoto orangnya cantik dan tampan sehingga hasilnya jadi bagus begitu.


Dan saat Imel melihat hasil jepretan Agnes, dia memberikan pujiannya, "Wahh bagus banget sumpah, makasih ya Agnes." ujarnya, dia kembali mendekati Qianu untuk memperlihatkan hasil foto yang diambil oleh Agnes.


"Lihat kak Qianu, bagus bangetkan kak hasilnya." senyum-senyum sendiri.


"Baguskan kak." ulang Imel karna tidak ada respon dari Qianu.


"Iya bagus." Qianu mana peduli bagus apa gaknya.


"Kak Qianu tampan banget lho disini, lihat deh kak."


"Itu akunya saja yang memang tampan orangnya."

__ADS_1


"Hmm iya iya, suamiku yang tampan."


****


__ADS_2