
"Sial, datang kesini cuma lihat mereka bermesraan begitu, tahu gitu ngapain juga Altan bodoh itu ngajakin double date segala." rutuk Agnes yang terus menatap ke arah Qianu dan Imel yang terus nemplok dilengannya Qianu.
"Ingin aku tarik gadis bodoh itu dan aku dorong ke jurang, sumpah aku kesel banget."
Agnes melihat Imel pergi meninggalkan Qianu, entah kemana tujuannya, jelas Agnes tidak tahu, yang dia tahu adalah bahwa, dia harus mengikuti Imel, fikirnya mungkin dia punya kesempatan ngerjain gadis itu.
Ternyata Imel ke toilet, letak toilet itu lumayan jauh, Agnes tiba-tiba punya ide untuk mengunci Imel didalam toilet, oleh karna itu dia membuntuti Imel masuk kedalam toilet untuk melaksanakan niatnya tersebut.
"Mampus kamu Imel, rasain tuh, ngedekam aja disana sampai kamu mati." gumamnya tanpa suara sebelum berlalu meninggalkan Imel didalam toilet yang telah dia kunci dari luar.
****
Imel merasa lega setelah melakukan panggilan alam, dia akan keluar, tapi sayangnya pintu toilet tersebut tidak bisa terbuka, Imel terus menarik pintu tersebut, sayangnya tuh pintu tidak mau terbuka.
"Ini kenapa sieh."
Dicoba beberapa kalipun tuh pintu masih tetap tidak bisa terbuka, "Tolongg, apa ada orang diluar." Imel berteriak.
"Tolonggg, kalau ada orang, tolong bukain donk." Imel masih menggerak-gerakkan gagang pintu tersebut.
"Ya Tuhan, kenapa bisa terkunci gini seih." keluh Imel mulai khawatir, pasalnya dia juga tidak membawa ponsel hanya untuk menghubungi suaminya.
"Kak Qianu, tolong aku kak, aku ke kunci ditoilet." Imel sudah ingin menangis sekarang.
****
Qianu tengah menikmati secangkir kopi ditengah dinginnya udara pegunungan, memang, minum yang hangat-hangat diudara dingin seperti ini memang begitu sangat nikmat.
"Qianu." tegur Agnes, wanita itu kemudian duduk disamping Qianu.
Qianu hanya menoleh sesaat ke arah Agnes sebelum mengalihkan perhatiannya ke arah pemandangan yang terbentang luas dihadapannya.
Sementara itu, Agnes tidak mengalihkan perhatiannya sedikitpun dari wajah sahabatnya itu, sahabat yang dia cintai, sayangnya Qianu hanya menganggapnya sekedar sebagai adik doank, nyesek gak tuh.
Sudah lama Agnes tidak berduaan dengan Qianu seperti ini, dan saat ini kesempatan itu ada, dia ingin menikmati indahnya alam pegunungan yang indah ini dengan laki-laki yang dia cintai.
"Indah ya Qianu."
"Hmmm." hanya itu respon dari Qianu, dan Agnes tidak kecewa karna Agnes tahu Qianu orangnya memang seperti itu.
Tanpa peringatan, Agnes tiba-tiba merebahkan kepalanya dibahu Qianu, dan rasanya sangat nyaman, dulu, Agnes bahkan bisa memeluk Qianu, tapi sekarang, setelah laki-laki itu menikahi Imel, dia sudah tidak bisa seperti dulu lagi.
Qianu tampak sudah siap untuk protes atas apa yang dilakukan oleh Agnes, tapi saat bibirnya terbuka, Agnes mendahuluinya dengan berkata, "Aku capek, jadi biarkan aku sejenak untuk meminjam bahumu Qianu, kamu bilang aku adalah adikmu, jadi, aku yakin kamu tidak keberatankan kalau aku merebahkan kepalaku."
Bahkan Agnes kini memejamkan matanya, "Ahh nyamannya, pundak dan juga pelukan Qianu merupakan tempat yang nyaman untukku." batinnya, "Pokoknya, aku harus segera menyingkirkan gadis bodoh itu dari kehidupan Qianu, akan aku buat Qianu membencinya."
"Agness, bisa tidak kamu menarik kepalamu itu, nanti kalau Altan lihat, dia bisa salah sangka."
"Dia tidak akan cemburu Qian, dia tahu kalau aku sudah menganggap kamu sebagai kakakku."
Dan ya pada akhirnya karna mengatasnamakan adik kakak sehingga Qianu membiarkan Agnes merebahkan kepalanya dipundaknya dan dia bahkan sampai melupakan Imel.
Dari jarak beberapa meter, Altan melihat Qianu dan Agnes duduk berdua, tidak hanya duduk, tapi dia bisa melihat kalau Agnes dengan manjanya merebahkan kepalanya dibahu Qianu, mereka persis seperti pasangan kekasih.
"Tapi ngomong-ngomong, Imel dimana ya, kok gak nampak sieh batang hidungnya." heran Altan, dia kemudian mengedarkan pandangannya kesegala penjuru untuk mencari keberadaan Imel, tapi sejauh matanya yang bisa menjangkau tempat tersebut, dia sama sekali tidak menemukan gadis tersebut.
"Kemana sieh dia." Altan berjalan untuk mencari keberadaan Imel, namun dia sama sekali tidak menemukannya, dia sama sekali tidak kefikiran untuk mencari Imel ditoilet.
Sampai kemudian Altan berpapasan dengan Hugo, "Hugo, kamu lihat Imel tidak."
"Bukannya nona saat ini tengah bersama dengan tuan."
"Imel tidak lagi sama Qianu."
"Ya mungkin saja nona Imel tengah melihat-lihat pemandangan karna nona begitu exited."
"Hmm, kamu benar juga sieh Hugo."
__ADS_1
Karna fikiran tersebut, tidak ada lagi salah satu dari mereka yang berniat mencari Imel, mereka tidak tahu kalau saat ini Imel sendirian, ketakutan berada ditoilet, gadis itu tengah menunggu seseorang untuk menolongnya.
****
Satu jam kemudian, karna masih belum juga melihat Imel sehingga membuat Altan kembali mencari-cari gadis itu, tampaknya memang hanya dia yang menyadari kalau Imel tidak ada diantara mereka, sedangkan Qianu dan Hugo juga Agnes tampak anteng ayem.
"Gadis itu sebenarnya kemana sieh, masak sudah satu jam belum tampak juga batang hidungnya." kini Altan mulai panik, dia kembali mencari-cari keberadaan Imel.
Dia mencari kebeberapa tempat, sayangnya dia tidak menemukan keberadaan Imel, hal itu semakin membuat Altan cemas, dia takut Imel tersesat, karna tidak kunjung menemukan keberadaan Imel sehingga Altan mau tidak mau datang mendekati Qianu yang duduk bersama dengan Agnes, kedua orang itu terlihat mengobrol, entah apa yang mereka obrolkan.
Agnes mendengus kesal saat melihat Altan yang berjalan menghampirinya dan Qianu, "Sik tolol itu mau ngapain sieh, ganggu saja."
"Qianu, kamu tahu tidak Imel dimana." cecarnya begitu tiba didekat dua orang itu.
Saat Altan bertanya tentang Imel, barulah Qianu ingat kalau dia punya istri bernama Imel, gadis itu memang sejak tadi pergi, Qianu tidak terlalu jelas mendengarkan apa yang Imel katakan saat gadis tersebut akan pergi sehingga dia tidak tahu Imel kemana, dan sampai sekarang istrinya itu belum juga kembali.
Qianu berdiri dari duduk lesehannnya, dia mengeluarkan ponsel dari sakunya untuk menghubungi Imel, dan dia mendengarkan deringan dari dalam tas yang Imel tinggalkan didekatnya, "Sialan, dia gak bawa hapenya lagi." rutuknya.
Qianu kemudian beralih menghubungi Hugo.
"Hugo, cari Imel sampai ketemu." perintahnya dan tanpa membiarkan Hugo menjawab Qianu mematikan sambungannya, dan setelah memberi perintah, dia bukannya ongkang-ongkang kaki menunggu kabar berita, tapi dia juga bangun untuk mencari istrinya.
"Sial, kenapa pada khawatir gitu seih sama gadis itu, bikin aku badmood saja." Agnes jadi kesal sendiri dah tuh.
****
Setengah jam kemudian, salah satu dari mereka tidak ada yang menemukan Imel, Qianu yang awalnya tampak baik-baik saja kini mulai dihinggapi perasaan cemas, tapi dia berusaha menutupinya.
"Kemana sieh gadis itu, hobi banget dia bikin orang khawatir kayak gini." antara kesal dan khawatir, itulah yang dirasakan oleh Qianu saat ini.
"Bagaimana Hugo." tanya Qianu saat Hugo mendekat ke arahnya.
"Maafkan saya tuan, saya belum bisa menemukan nona Imel." Hugo merasa bersalah, tapi dia janji akan menemukan Imel sampai dapat.
"Temukan dia sampai dapat Hugo." suara Qianu terdengar menyeramkan.
"Pasti tuan, saya akan menemukan nona Imel dan membawanya kembali pada tuan." setelah memberikan janji tersebut, Hugo kembali melakukan pencarian.
Namun saat kakinya melangkah menjauh, dia mendengar suara orang minta tolong dari dalam toilet, suaranya terdengar lemah, namun masih bisa didengar oleh Altan.
"Tolonggg."
"Kayak ada suara minta tolong." Altan berusaha menajamkan pendengarannya, namun suara tersebut tidak terdengar lagi, sehingga Altan berfikir mungkin dia salah dengar, "Aku salah dengar kali." oleh karna itu, Altan kembali melanjutkan langkah kakinya.
"Tolongg."
Altan kembali mendengar suara tersebut, sekarang agak lebih jelas.
"Suaranya berasal dari dalam toilet." Altan melangkahkan kakinya untuk mengecek apakah ada orang didalam toilet tersebut.
"Halooo, apa ada orang didalam.'" tanyanya.
"Kak Altan, kak Altann, ini aku kak Altan, tolongin aku, keluarkan aku dari sini kak Altan." Imel menggedor-gedor pintu toilet dari dalam begitu mengenali suara Altan.
"Imell." sahut Altan.
"Iya kak Altan, ini aku, bukain pintunya donk kak, aku dikunci dari luar, ada orang iseng yang ngunciin."
"Iya iya tunggu bentar ya Mell, sabar, aku akan membukanya."
"Iya kak cepat."
Setelah melakukan beberapa usaha yang tidak mudah, akhirnya Altan berhasil membuka pintu toilet tersebut, Altan bisa melihat wajah pucat Imel berdiri didepannya.
"Mell."
"Kak Altan."
__ADS_1
"Astaga, apa yang terjadi Imel, siapa orang iseng yang ngerjain kamu kayak gini." cecar Altan.
Imel tidak tahu siapa yang melakukan hal ini kepadanya sehingga dia menggeleng saat mendapatkan pertanyaan tersebut, "Aku takut kak Altan."
Melihat wajah Imel yang pucat dan terlihat ketakutan begitu sehingga membuat Altan reflek menarik tubuh Imel dan membawanya dalam pelukannya, Altan mengelus rambut hitam Imel, "Ssttt, jangan takut oke, sekarang aku ada disini disamping kamu, jangan takut lagi ya." Altan berusaha untuk menenangkan Imel yang terlihat ketakutan.
Imel mengangguk, tadi didalam ruangan sempit dalam waktu yang cukup lama membuatnya ketakutan, dia takut tidak ada yang menyadari ketidakhadirannya dan meninggalkan dirinya sendirian.
"Kita sebaiknya ke yang lainnya, semua orang pada panik nyariin kamu."
Altan merangkul bahu Imel dan membawanya kedepan.
****
Disaat semua orang pada sibuk mencari keberadaan Imel, Agnes tersenyum puas dalam hati karna berhasil mengerjai Imel, dia juga ikut pura-pura mencari Imel hanya supaya orang-orang tidak mencurigainya.
"Lagi apa yang sik bodoh itu didalam toilet, apa dia tengah curhat-curhatan dengan teman barunya sik penunggu toilet." membayangkan hal itu membuat Agnes tertawa jahat dalam hati.
"Biarin saja dia disana, mati sekalian jika perlu."
Tidak lama setelah mengatakan hal tersebut, Agnes melihat Altan datang bersama dengan Imel.
"Heh, ditemukan juga dia, yahh mungkin nasibnya dia masih diizinkan selamat, tapi yang penting aku puas telah ngerjain dia, lihat saja itu wajahnya pucat banget, pasti dia ketakutan terkunci selama berjam-jam didalam toilet, kasihan." ujarnya tanpa perasaan.
******
"Imell." desis Qianu saat melihat istrinya dirangkul oleh Altan, sumpah dia rasanya ingin berlari ke arah Altan dan ingin menonjok laki-laki itu karna dengan telah kurang ajarnya menyentuh Imel, namun niatnya itu harus dia pendam saat melihat wajah istrinya yang tampak pucat.
Dengan langkah lebar Qianu menyongsong ke arah kedatangan Imel dan Altan, dan tanpa basa-basi, Qianu mendorong Altan yang membuat laki-laki itu hampir saja terjungkal, untungnya dia masih bisa menjaga keseimbangan dirinya.
"Sial, aku udah nolong istrinya, dia malah dorong aku seperti ini benar-benar tidak tahu terimakasih dia itu." kesal Altan, tapi kalau difikir-fikir, Altan menolong Imelkan bukan karna Qianu, tapi semata-mata dia mencintai gadis itu.
Qianu menepuk-nepuk ringan lengan Imel, dia seolah-olah membersihkan bekas tangan Altan yang disentuh oleh Altan barusan.
"Sial, sik brengsek itu berfikir kalau aku najis apa." Altan hanya bisa mengumpat dalam hati melihat kelakuan Qianu, tapi toh dia tidak bisa berbuat apa-apakan.
Setelah itu barulah Qianu melepaskan jaket tebal yang membungkus tubuhnya dan dia pakaikan ditubuh istrinya, padahal Imel sudah memakai jaket tebal juga, tapi ya suka-sukanya Qianulah ya, dia mau ngapain saja mah bebas dia itu.
Dan setelah itu barulah Qianu merangkul bahu istrinya, "Kamu habis darimana sieh sayang hemm." ini untuk pertamakalinya Qianu memanggil Imel dengan panggilan sayang, kalau dalam kondisi normal, Imel pasti heboh saat Qianu mendengar dirinya dipanggil sayang, tapi untuk saat ini, panggilan sayang tersebut tidak terlalu dipedulikan oleh Imel, "Aku sangat khawatir mencarimu."
Imel yang sibuk dengan dengan fikirannya sendiri karna masih shock dengan apa yang menimpa dirinya hanya bisa terdiam saat Qianu menanyainya.
"Aku menemukan Imel ditoilet diujung sana, Imel dikunciin disana oleh orang iseng." Altan yang menjawab.
"Brengsek, siapa yang telah melakukan hal itu." geram Qianu yang tidak terima istrinya dikerjain sehingga membuat istrinya jadi seperti orang linglung begini, dan kalau Qianu tahu kalau Imel juga pernah sakit perut sampai masuk sakit karna ada yang memasukkan obat pencuci perut dimakanannya, Qianu pasti akan murka dan akan mencari orang yang telah berbuat jahat sama istrinya dan tidak akan melepaskannya.
Gak lama kemudian Hugo terlihat menghampiri mereka, dia terlihat lega saat melihat nona majikannya kini telah ditemukan, "Syukurlah nona telah ditemuka." namun melihat wajah Imel yang terlihat pucat, mau tidak mau membuatnya bertanya juga, "Nona kenapa."
"Hugo, cari orang yang ngerjain istriku sampai ketemu." perintah Qianu dengan suara tegas dan dinginnya, Qianu tidak akan tinggal diam kalau istrinya disakitin begini.
"Baik tuan."
Namun Imel melarang, dia buka suara untuk pertamakalinya, "Jangan."
Satu kata itu membuat Qianu menatap istrinya dengan kening mengerut, "Mell aku..."
"Kita sebaiknya pulang saja ya kak Qianu, aku tidak apa-apa kok."
"Tapi Mell, aku tidak terima kamu...."
"Pliss kak Qianu, bawa aku pulang saja ya, aku ingin istirahat, aku capek sekali." ujar Imel dengan mata memohon.
Qianu menarik nafas panjang, yang saat ini dia utamakan adalah kenyamanan Imel, sehingga dia mengiyakan keinginan Imel yang ingin pulang dan tidak ingin memperpanjang masalah ini, Qianu pada akhir terpaksa menuruti keinginan istrinya, membiarkan hal ini terjadi seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Qianu mengangguk, "Baiklah, kita pulang sekarang." Qianu kemudian menuntun Imel menuju mobil.
Hugo dan Altan mengikuti dibelakang.
__ADS_1
"Apa ini kerjaannya nona Agnes ya." Hugo menduga-duga.
****