
"Hugo, itu Qianu dan gadis bodoh itu mau kemana." tanya Agnes saat melihat Qianu dan Imel dalam satu mobil.
"Saya kurang tahu nona."
"Masak tidak tahu sieh, kamukan bodygourd kepercayaannya Qianu, dan kenapa juga kamu tidak ikut dan malah disini." cecar Agnes.
"Bagaimana saya mau ikut nona, tuan Qiannya hanya mau pergi berdua dengan nona Imel." Hugo dengan sabar menjelaskan, dia tahu Agnes cemburu melihat tuannya dan nona mudanya pergi berdua.
"Ahh, dasar payah kamu Hugo."
"Kalau saya tidak menghargai tuan Qianu, sudah saya tampar mulutmu itu nona, berpendidikan tinggi seih, tapi mulutnya itu tidak ikut disekolahkan." batin Hugo menahan kekesalannya, Agnes memang wanita angkuh dan sombong yang selalu bersikap tidak sopan pada orang yang dibawahnya, berbeda dengan Imel yang selalu ramah pada setiap orang tanpa melihat statusnya.
Agnes terlihat mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Qianu, sayangnya Qianu mematikan ponselnya karna dia tidak ingin diganggu oleh siapapun untuk saat ini.
"Brengsekk, Qianu malah mematikan ponselnya lagi." Agnes mengumpat, gadis itu terlihat marah, wajahnyapun memerah.
Hugo terlihat bersusah payah menahan senyumnya saat melihat Agnes kesal, dan Agnes melihat hal tersebut dan membentak Hugo, "Kenapa kamu senyum-senyum kayak gitu Hugo, kamu mentertawakan saya hah, berani kamu mentertawakan saya."
"Tidak nona, tentu saja saya tidak mentertwakan nona.'" Hugo ngeles.
"Dasar botak jelek sialan kamu Hugo." umpatnya sebelum kembali masuk kedalam rumah dengan membawa rasa sakit hatinya.
"Untungnya tuan Qianu tidak pernah merespon perasaan nona Agnes, siapa juga yang bakalan mau sama wanita galak seperti macan betina seperti itu, hihh, ngeri." Hugo yang tinggi besar dan berperawakan tegap dan memiliki wajah sangarpun bergidik ngeri dengan kegalakan Agnes.
****
Imel tidak bertanya sama sekali kemana Qianu akan membawanya, karna memang biasanya Qianu tidak akan pernah mau menjawab kalaupun ditanya, sehingga yang dia lakukan adalah mengalihkan perhatiannya pada luar jendela untuk menikmati keindahan kota dimalam hari yang dihiasai oleh lampu-lampu jalan yang berjejer disepanjang jalan yang mereka lewati.
Qianu ternyata membawa Imel makan malam disebuah restoran bernuansa romantis, saat mereka memasuki restoran, restoran itu terlihat kosong, kosong dalam arti yang sebenarnya karna tidak ada satupun pengunjung yang terlihat makan malam disana.
"Kak Qianu, kenapa restoran ini kosong." tanyanya menyuarakan keheranannya.
"Kenapa kamu bertanya sama aku, aku mana tahu kalau restoran ini kosong." jawabnya bohong, padahal dia yang khusus memboking restoran ini hanya untuk menebus rasa bersalahnya pada Imel karna telah mengurung gadis itu digudang.
__ADS_1
"Masak sieh restoran semewah ini dan semahal ini bisa kosong melompong, apa makananya tidak enak kali ya."
"Sudah, gak usah fikirkan akan hal itu, ayok sebaiknya kita masuk." Qianu kemudian menarik tangan Imel memasuki restoran.
Mereka benar-benar dilayani bak raja dan ratu oleh pelayan restoran, ya Imel tahu sieh memang pelayan sebuah restoran memang sudah seharusnya bersikap ramah dan sopan kepada para pengunjungnya, tapi ini keramahan dan kesopanannya benar-benar diluar batas, namun toh pada akhirnya Imel tidak mau memikirkan akan hal itu dan akhirnya dia memilih untuk menikamati makanannya dan menikmati pelayanan yang diberikan oleh para pelayan yang melayaninya.
Qianu dan Imel benar-benar makan dengan penuh khidmat, sehingga tidak tercipta obrolan sedikitpun diantara mereka berdua, Qianu sebenarnya ingin membuka obrolan, tapi sayangnya, gengsinya lebih gede, sampai pada akhirnya saat mereka memutuskan pulang setelah selesai menikmati makan malam mereka yang membosankan, tempatnya saja yang romantis, tapi tidak dengan perlakuan Qianu yang membosankan dan kaku, namun Imel tidak masalah akan hal itu karna dia beranggapan kalau Qianu tidak mencintainya meskipun mereka pernah melakukan hubungan suami istri.
Dan kini mereka sudah berada kembali didalam mobil, suasananya masih sama, hening dan sepi kayak dikuburan, bahkan kalau ada jarum yang jatuh sudah pasti bisa terdengar bunyinya.
"Bagaimana makan malamnya." setelah sekian lama jadi batu, akhirnya Qianu buka suara juga.
"Biasa aja." jawab Imel menjawab sesuai dengan fakta.
Seharusnya makan malam ini sebagai permintaan maaf Qianu kepada Imel, sayangnya, meskipun tempatnya romantis dan Qianu bahkan rela menggelontorkan dana yang cukup banyak untuk memboking restoran tersebut, sama sekali tidak meninggalkan kesan apapun untuk Imel, karna Qianu sama sekali tidak mengungkapkan permintaan maafnya secara lisan karna Qianu konsisten dengan kegengsiannya yang maha tinggi melebihi puncak gunung efrest, emangnya tanpa dikasih tahu Imel akan tahu apa maksud Qianu mengajaknya makan malam.
"Apa kamu tidak suka aku ajak keluar."
"Terus kenapa kamu diam saja dari tadi, kamu tidak terlihat senang."
"Aku senang kok." Imel berusaha meyakinkan Qianu, "Dan masalah aku yang diam saja sejak tadi, gimana aku mau bicara kalau kak Qianu sendiri terus diam kan."
Qianu mengguk membenarkan kata-kata Imel.
Diluar tengah hujan deras, bunyi hujan terdengar merdu diatas atap mobil, suara hujan itu benar-benar sangat menenangkan, hal itu membuat Imel ingin cepat sampai rumah dan membaringkan tubuhnya ditempat tidur karna kalau hujan lebat kayak gini biasanya bisa bikin tidur lelap dan mimpi indah pastinya.
Saat tengah membayangkan dirinya diatas tempat tidur dan membayangkan mimpi indah yang akan dia rasakan, tiba-tiba mobil berhenti seketika.
"Sialan." Imel mendengar Qianu mengumpat.
"Ada apa kak."
"Mogok." beritahu Qianu seperlunya.
__ADS_1
"Dasar Hugo sialan, kenapa dia tidak memeriksa mobil ini terlebih dahulu sebelum membiarkan aku mengendarainya, awas saja nanti kamu Hugo."
"Terus ini gimana kak." Imel melihat keluar, dan sekelilingnya itu terlihat sepi, apalagi disaat hujan begini, Imel jadi takut, takut membayangkan hal-hal yang tidak dia inginkan terjadi disaat sepi begini.
"Kak, aku takut." karna ketakutan dengan fikirannya sendiri, Imel memeluk lengan Qianu.
"Sudah gak usah cengeng kamu Imel."
"Tapi disini sepi kak, mana hujan lagi, kalau ada begal bagaimana."
"Mereka tidak akan berani kalau melihatku." jawab Qianu, "Yang ada mereka yang akan lari ketakutan."
"Ihh, yang benar saja." desis Imel tidak percaya.
Qianu berusaha untuk menelpon Hugo untuk meminta bodygourdnya itu untuk menyuruh pihak bengkel untuk memperbaiki mobilnya, tapi sayang nomer Hugo ternyata tidak aktif.
"Kamu benar-benar membuat aku marah Hugo." desisnya yang membuat Imel menjauhkan tubuhnya seketika dari Qianu.
"Awas saja kamu nanti, sudah membiarkanku naik mobil rongsokan begini, malah sekarang kamu sengaja tidak mengaktifkan nomermu." suudzon saja sik Qianu ini, siapa tahu ponsel Hugo mati karna kehabisan bateri.
Qianu bisa sieh menelpon pihak bengkel, sayangnya, dia tidak pernah mau bersusah-susah untuk menyimpan nomer bengkel, karna Hugolah yang selalu melakukan hal itu untuknya.
"Apa kamu punya nomer bengkel yang bisa dihubungi." Qianu bertanya sama Imel.
Yang dijawab oleh Imel dengan gelengan, "Gak ada kak, yang ada hanya nomer tukang pijat."
Qianu mendengus kasar, "Aku gak nanya nomer tukang pijat Imel."
"Terus ini gimana kak."
"Kayaknya aku yang terpaksa turun tangan."
****
__ADS_1