Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
10. Mereka Berantakan


__ADS_3

Sang kepala sekolah mengetuk-ngetukkan jemari di meja. Empat guru lain hanya melipat tangan sambil sesekali mendesah. Sementara perwakilan komite sekolah yang tidak sabaran sudah jutaan kali melihat jam tangan.


Nyaris sembilan puluh menit sudah mereka memberi pemakluman, dan Riswan tidak kunjung datang.


Pagi ini Binar terbangun dan mendapati pria itu sudah hengkang dari ruang kerja. Binar bersikeras mengiriminya pesan singkat. Namun usaha itu agaknya gagal, Riswan serius saat meminta Binar menyerah.


"Mana?!" cibir perwakilan komite mulai jengah, "Kebiasaan, sukanya buang-buang waktu orang. Udah jelas dong keputusannya apa?"


Kepala sekolah mendengus panjang, "Benar, Binar. Kami tidak bisa menunggu lebih lama. Setelah ini kami akan urus berkas-berkas dan mengirimnya ke tempat tinggalmu supaya mempermudah."


Binar tak punya pilihan lain kecuali menunduk pasrah. Keputusan telah dibuat, dan semua orang yang hadir di sana telah beranjak. Ia kalah telak.


Ambisinya untuk membela keadilan, menyamaratakan hukuman, atau apapun itu musnah sudah. Binar kehilangan dirinya. Perempuan itu tak punya pilihan selain menunduk pasrah.


"Masih ada waktu sampai istirahat pertama, silahkan berkemas dan pastikan tidak ada yang tertinggal," tandas kepala sekolah.


Tanpa memberi penghormatan, Binar keluar ruangan. Rupanya Adrian menunggu di sana, pria itu tak langsung pulang usai mengantarnya ke sekolah. Adrian seakan sudah menduga, dan hanya menyuguhkan senyum berharap bisa menghiburnya.


Tetapi tak menggubris Adrian, Binar menuju kelas. Ia langsung ke loker dan mengambil buku pelajaran yang sengaja ditinggal. Bisik seisi kelas mulai bersahutan, Binar menjadi tokoh utama yang dibicarakan semua orang.


Dengan gerakan kasar, Binar buru-buru mengemas. Ia ambil semua barang sekenanya. Mata Binar mulai memanas, bahkan tak satu pun teman kelas yang sudi menawarkan bantuan.


Dunia Binar berada di putaran seratus delapan puluh derajad. Titik rendah yang tak pernah ia rasakan. Hatinya kacau berantakan ketika susah payah menyeret kaki untuk beranjak.


Sesampainya pada daun pintu, Adrian langsung menyambut Binar. Pria itu bahkan tak peduli soal cibiran yang dilayangkan kepadanya. Adrian telah menjadi om-om yang menghamili siswi SMA.


Pria itu masih tersenyum tenang, mengambil alih barang bawaan Binar seluruhnya. Jauh di dalam hati Binar, ia berharap Riswan yang melakukannya. Alih-alih mengirim Adrian, Binar mau Riswan ada di sana.


Menanggung penghakiman sosial-masyarakat yang kejam. Menelan kecaman pahit di sisi Binar. Saling menguatkan dan menentang semua itu bersama.


Namun khayalan itu adalah fatamorgana. Sampai masuk ke mobil pun pria yang mendampinginya tetap Adrian. Bulir-bulir bening dari mata Binar akhirnya menetas. Ia menangis pilu begitu kendaraan dilajukan.


Kenapa harus Binar sendiri yang menanggungnya?


Sekalipun Riswan dalam keadaan mabuk saat bercinta, bukankah hubungan itu terjadi atas kesepakatan dua orang? Sampai kapan tanggung jawabnya bisa berkurang?


Adrian seperti sengaja mengelilingi kota sampai Binar puas meluapkan kesedihan. Jarak yang biasa ditempuh satu setengah jam berubah menjadi berjam-jam. Pria itu bahkan sampai terjun pada kemacetan.

__ADS_1


"Barangkali ada tempat yang pengen kamu datengin dulu sebelum pulang," ujar Adrian usai tak mendengar tangis Binar.


Seperti biasa, perempuan itu membuang pandang ke jendela. Mengamati jajaran mobil yang sama-sama tidak bergerak.


"Kenapa tadi pak Adrian diam saja?" sahut Binar malah bertanya.


Mereka bertemu pandang pada kaca spion bagian atas. Binar langsung mendapati senyum Adrian kembali merekah. Berbanding jauh dengan Riswan, Adrian memiliki garis wajah teduh dan bijaksana.


"Lagipula ada benarnya juga, Binar. Riswan kan memang om-om yang menghamili siswi SMA. Nanti biar sekalian aku sampaikan ke tersangkanya," canda Adrian ditutup gerlak.


Binar tersenyum tipis, pria itu tahu cara mengubah situasi tragis menjadi lelucon kecil.


"Aku mau pulang," sahutnya datar. Tak mengindahkan candaan dari Adrian.


Pria itu langsung mengeraskan rahang, menarik senyum sambil membuang napas.


Sejujurnya Adrian paham, bahwa makna pulang yang dimaksud Binar adalah ke rumah Nad dan Tria. Mengadu pada orang tua yang begitu mencintainya. Melepas penat dan kembali menjadi putri kesayangan.


Sialnya, itu mustahil terwujudkan. Belum ada kabar dari dua manusia itu sejak Binar menjadi sah dengan Riswan. Air mata Binar pun kembali mentas, sementara Adrian terpaksa hanyut dalam bungkam.


"Aku tahu ini remeh, tapi sebagai suami minimal bisa kan peduli sedikit. Namanya remaja kan jelas pusing kalau dihadapkan dengan masalah begini," omel Adrian.


Pria itu sudah menjadi beo yang tak acuh pada aktivitas Riswan. Lagipula siapa yang peduli dengan pekerjaan dalam situasi sekarang? Seharusnya Riswan lebih mahir membagi waktu dengan keluarga. Ia bukan lagi seorang pemuda.


"Cuma menemui pihak sekolah, masa iya menghabiskan waktu seharian?" sambungnya berhasil membuat Riswan mendengus.


Sambil melepas kacamata, Riswan menoleh pada Adrian. Pria itu tak menunjukkan air muka. Wajahnya bahkan jauh lebih berantakan dibanding biasa.


"Mengerjakan semua ini tanpa bantuanmu adalah keputusan terbaikku untuk Binar. Pengalaman dan kompetensimu menghadapi perempuan hamil juga nggak mungkin diragukan, jadi buat apa kalau aku masih repot juga?"


Adrian mengatupkan giginya menahan geram. Harus dengan cara apa baiknya agar pria ini paham? Menghadapi perempuan hamil bukam hanya soal pengalaman dan kompetensi dasar, tapi peran. Binar butuh peran Riswan di sisinya.


"Pekerjaan ini sudah membuatku lelah, Adrian. Jadi semoga tingkahmu tidak menambah beban pikiran."


Riswan beranjak, meninggalkan Adrian yang mematung di tempat.


Terus terang pekerjaan Wangsa Group menyita seluruh perhatian. Memimpin satu anak perusahaan jauh berbeda dengan mengurus belasan lainnya. Banyak yang harus Riswan pikirkan, dan ia enggan menambah Binar dalam list yang sama.

__ADS_1


Dia berharap kehidupan rumah tangganya bisa menjadi lebih sederhana.


Begitu sampai di rumah utama, Riswan langsung menuju meja makan. Lokasi yang rupanya telah dihuni lebih dulu oleh Greg dan Binar. Dua manusia yang saling diam, hanya sahut menyahut denting piring semata.


Riswan mengambil duduknya, hal yang tak membuat Binar tergerak. Perempuan itu menunduk pandang amat dalam. Hingga tak setitikpun ekspresinya bisa terlihat.


Hingga prosesi makan malam buyar. Binar lebih dulu meninggalkan ruangan. Riswan tidak paham maknanya, bukankah ia sudah memberi solusi atas permasalahan Binar?


Mendadak ucapan Adrian mengganggu pikiran. Bentuk kepedulian apa yang baiknya Riswan tunjukkan dalam keadaan seperti sekarang?


Ia mengkori Binar yang masuk ke kamar dengan sedikit berlari. Riswan buru-buru agar kamar itu tidak dikunci lagi.


"Akan aku panggil guru kompeten tingkat internasional untuk datang ke rumah, jadi nggak usah terlalu pusing soal sekolah," ujar Riswan.


Sepatah kalimat yang membuat Binar moleh padanya. Sambil duduk di tepian kasur, perempuan itu menatap lekat pada Riswan. Sepertinya Binar menangis seharian, bengkak menyelimuti kelopak matanya.


"Lagipula apa pentingnya sekolah? Aku punya kemampuan buat menyewa guru dengan kapabilitas tinggi supaya kamu tetap lanjut ke universitas," imbuhnya.


"Nggak banyak, cuma datang untuk membela aku di hadapan guru dan komite sekolah. Susah ya?"


Hilang sudah kesabarannya. Riswan mengacak rambut singkat, lantas mendengus kasar. Dia sangat lelah untuk sekadar berdebat.


"Terus kalau sudah membela mau apa? Ujung-ujungnya juga tetap keluar kan, Binar?!" Riswan meninggikan suara.


Wajar, seharusnya Binar paham betapa berat hari-hari Riswan. Pria itu bekerja juga bukan untuk bersenang-senang. Ia menyerahkan seluruh kebahagiaan dengan menikah dan mengabdi untuk keluarga.


"Bukan masalah keluar atau nggak!"


"Ya terus masalah apa?!"


Sengit mata mereka berdebat. Atmosfir panas mengurung mereka. Amarah berkecamuk dalam lelah, rumah tangga baru seumur jagung ini telah menyulitkan keduanya.


"Sudahlah, dibicarakan bagaimanapun juga nggak akan paham," keluh Binar mengalihkan pandang. Perempuan itu sengaja pura-pura tidur mengabaikannya.


Riswan yang malas menanggapi apalagi merayu pun memilih menyerah. Ia meninggalkan sepatah kata sebelum beranjak.


"Tolong pahami aku dan pekerjaan ini, Binar. Bersikap kekanakan dan dramatis nggak akan menyelesaikan masalah."

__ADS_1


__ADS_2