
"Mau kemana?"
Ned tiba-tiba muncul di antara keributan Tria dan Binar. Pria itu membuat mereka saling melirik tegang. Tak ada satupun dari mereka mau mengalah untuk menjelaskan keadaan.
"Aku cuma tanya loh, bukan mau menerkam," imbuh Ned disertai dengus yang amat panjang. "Kemana? Biar aku yang antar."
Ned menyambar kunci mobil dari genggaman Tria, membuat wanita itu sontak langsung melirik Binar. Ada apa gerangan? Kurang lebih begitulah arti tatapan dua manusia itu menerka-nerka.
"Kenapa? Acaranya batal?" tanya Ned lagi usai menarik pintu kemudi di bagian depan. "Periksa kandungan, kan? Kalian pikir aku tidak dengar?"
"Ned, maksudku..."
"Aku juga penasaran, Tria. Apa aku dilarang melihat cucu kembar kita?" tukas Ned pada sang istri datar.
Sejak perdebatan sengit di antara keduanya, mereka saling menghindar. Bahkan entah sudah berapa hari tepatnya mereka nihil berbincang. Tapi kalimat Ned sukses membuat senyum Tria mengembang, wanita itu beralih mengambil alih kursi penumpang.
"Binar, kau duduk belakang," teriaknya riang, "Tentu saja kau boleh, Ned, bagus kalau kau penasaran."
Sepanjang perjalanan, Tria khusyuk menebar energi keceriaan. Wanita itu memutar lagu dan bersenandung gembira. Binar yang mencuri ekspresi Ned dari kaca spion atas pun ikut melengkungkan senyuman. Ned tampak leluasa menikmati suasana.
Tentu Binar tak pernah membayangkan akan bertemu dengan titik balik yang sedemikian rupa. Kedua orang tuanya merestui keberadaan si kembar. Meski seiring dengan itu Binar masih menanggung sebongkah beban. Perihal perinkahannya dengan seorang Riswan.
Di luar kesadarannya, Binar membuang napas panjang. Hal yang sontak membuat Ned melirik spion atas, mencuri reaksi Binar diam-diam. "Apa musiknya terlalu keras?" tanya Ned mencoba menerjemahkan makna dari ekspresi Binar.
"Eh? Ganggu ya?" spontan Tria mengecilkan volume pengeras suara.
Menyadari gelagatnya mengusik Ned dan Tria, Binar langsung menggelengkan kepala, "Bukan, aku hanya... tiba-tiba kepikiran. Bukan masalah besar kok, serius."
"Kau bisa membicarakannya pada kami, Binar. Kalau tidak keberatan," sahut Ned menegaskan.
Ya, tidak seperti sebelum-sebelumnya, Ned tak berani memaksa Binar menyampaikan seluruh masalah. Bagaimanapun putri kecilnya itu berstatus sebagai istri seseorang. Tak semua masalah rumah tangga bisa dibicarakan dengan Ned dan Tria.
__ADS_1
"Tentu, Pa," jawab Binar singkat seraya melengkungkan senyuman. Ia tak mau membuat keluarga kecil yang harmonis ini menjadi cemas. Untuk sementara ia ingin menikmatinya juga.
Tak ingin memperpanjang perkara, Ned dan Tria pun bungkam. Laju kendaraan menjadi satu-satunya suara yang berkehendak di gendang telinga. Sampai pada mobil mereka terpakir di lantai dasar, mereka tetap setia pada bungkam.
"Hai, Binar," seruan hangat Intan memecah canggung yang menyelimuti mereka, "Hai Ned, Tria, aku harap kalian masih mengingatku juga."
Tria menerima ciuman pipi kanan dan kiri yang Intan suguhkan, membuat wanita itu memberi tepukan singkat pada pundaknya, "Senang bertemu denganmu, Intan. Bagaimana aku bisa lupa? Kau teman organisasi konyol yang menyenangkan."
"Jangan ingatkan aku soal itu, Tria," keluh Intan, "Ned, apa kabar? Kalian sungguh masih tampak serasi dan mesra."
"Aku hanya melakukan yang terbaik, Intan," Ned tersenyum sekenanya.
Intan lantas berjalan menuju tempat pemeriksaan, "Kemarilah, Binar," ajaknya, "Kalian juga harus melihatnya, bukan? Si kembar sangat sehat dan menggemaskan," jelas Intan antusias.
Tak berlangsung lama. Intan menjelaskan kondisi dan posisi si kembar. Tidak menunjukkan kejanggalan, Tria membuang napas lega. Sementara Ned hanya memajang wajah datar sejak monitor USG menampilkan buah hati Binar. Entah, tiada yang bisa menerka isi kepala pria itu sekarang. Binar pribadi bahkan hanya takut-takut mengamati dari kejauhan.
"Maaf tidak mengundang kalian ke pernikahanku," Intan berbasa-basi seraya meresepkan vitamin yang bagus untuk kesehatan kandungan Binar.
"Selamat, Intan. Turut gembiara atas pernikahan kalian," Tria membalas penuh suka cita.
Perpaduan emosi yang melebur pada wajah Intan, ternyata tak hanya tertuju pada Riswan. Wanita itu memang mudah malu-malu dan tersipu pada siapa saja. Fakta menarik yang membuat Binar menundukkan pandangan, pikirannya tertawan, 'bagaimana jika sungguh tak terjadi apapun antara Rhea dan Riswan?'
"Selamat, Intan. Semoga lancar dan sehat sampai persalinan," Tria yang mahir merespon itu sukses membuat warna merah kian mempertegas aksen dirinya pada pipi Intan.
"Terima kasih banyak, Tria," sahut Intan tak lepas menyuguhkan senyuman, wanita itu menyodorkan dua lembar kertas, "Aku tambahkan beberapa jenis vitamin untuk Binar, semoga dia juga selamat sampai persalinan."
Prosesi pemeriksaan berlalu amat cepat, tak sebanding dengan kalut isi kepala Binar. Perempuan itu bahkan tak memiliki kuasa atas kesadarannya berjalan menuju apotik tempat penebusan obat. Binar terus melamunkan sosok Riswan.
Apakah semuanya hanya salah paham semata? Tetapi mengapa kesalahpahaman itu terasa begitu nyata? Seolah-olah Riswan memang ingin mewujudkan cinta bersama Rhea.
Lagi-lagi dengus kasar Binar terdengar, membuat Ned yang duduk di sampingnya tergerak untuk angkat bicara.
__ADS_1
"Dulu papa sangat khawatir pada kesehetan mamamu, Binar. Dia hamil saat kami masih kuliah," celetuknya membuat Binar langsung menolehkan pandang.
Pria itu tak lekang menatap punggung sang istri yang antri mengambil obat, ada nanar terlukis di sana.
"Papa juga merasa bersalah. Padahal dia selalu peduli pada penampilan dan kecantikan tubuhnya," getir senyum Ned mengambang di udara, "Pasti berat kan, Binar? Papa nggak bisabayangkan bagaimana rasanya mengandung bayi kembar di usia yang begitu muda. Tubuhmu pasti remuk redam."
Tak menjawab sang ayah, butir-butir air menggenangi pelupuk mata Binar. Pandangannya masih menyusuri sisi samping Ned yang belum beranjak. Pria itu setia pada seorang Tria.
"Papa bahkan menangisi mamamu setiap malam. Kakinya yang membengkak, hormon-hormon tubuh yang membuatnya merasa tidak nyaman, dan banyak perubahan lain yang terjadi secara signifikan. Sekalipun bayi itu kelak akan amat kucinta, papa tak berhenti melantunkan maaf padanya."
Ned menoleh tepat ketika air mata Binar jatuh membasahi pipinya, "Papa tak pernah siap melihatmu demikian, Binar, jujur saja."
Bibir Binar bergetar, "Maafkan Binar, Pa," cicitnya lemah. Perempuan itu bahkan gagal mengendalikan sesak yang bergemuruh dalam dada.
"Buat apa maaf?" Ned menyorot datar, masih gigih memepertahankan raut yang ia tunjukkan sejak berada dalam ruang pemeriksaan.
"Binar mengecewakan mama dan papa," paraunya terdengar seperti bisiskan.
Tria yang menyaksikan hal tersebut tak mampu melangkah. Wanita itu memutuskan untuk menguping dari kejauhan. Relungnya ikut terenyak, air mata Tria ikut luruh bersama putri kecilnya.
"Papa nggak menuntut kamu menanggung kekecewaan kami, Binar," Ned tak tergerak pada pilu yang membenggu putri kecilnya. Pria itu teguh menatap Binar, mengunci manik mata yang berlapis air deras.
"Tapi tolong pikirkan buah hati yang kelak akan kamu besarkan. Jangan sampai kamu menanggung kekecewaan mereka usai bercerai dari Riswan."
Sesungguk Binar kian terdengar. Mengundang beberapa pasang mata tergoda untuk mengamati mereka. Akan tetapi Ned peduli apa? Pria itu menarik napas dalam sebelum menghaturkan kalimat terakhirnya.
"Menerima maaf dari seseorang selalu lebih mudah, Binar. Namun bagaimana kamu bisa memaafkan dirimu sendiri jika semua itu terlanjur kamu pilih sebagai keputusan?"
"Semoga kamu bisa sedikit lebih bijaksana."
Detik itu juga Ned melengang langkah. Menyisakan raungan Binar yang tak lagi mampu dipendam. Tria sontak berlarian, wanita itu merengkuh sang buah hati erat-erat.
__ADS_1
Kalau sudah begini, apa yang harus Binar lakukan? Bercerai, kah? Atau bertahan?
Entahlah, entah. Perempuan itu tenggelam dalam isak tangisnya.