
Kepala pelayan pulang ke kampung halaman hari itu juga. Para koki angkat kaki dari rumah. Mansion mewah itu hanya didatangi tukang kebun dan bersih-bersih tiap pagi dan petang.
Tak banyak yang diijinkan menginap. Riswan dan Binar sepakat untuk meminimalisir akses orang luar ke sana. Apalagi sekitar dua bulan lagi si kembar dijadwalkan lahir ke dunia. Mereka menjadi orang tua overprotektif mengingat kejadian keluarga Darmawangsa di masa silam.
Sebisa mungkin, Riswan juga bekerja dari rumah. Selain merasa lebih aman, ia juga bisa mencuri-curi waktu untuk sekedar mencium Binar di tengah sesi meeting atau rapat. Tak perlu repot membungkus bekal, ia tinggal merengek agar Binar memasakkan sesuatu untuknya.
Binar juga mahir membuat kopi tanpa kafein yang nyaman bagi lambung Riswan. Perkembangan perempuan di bidang masak memasak berkembang pesat. Meski hanya tiga bulan tak tinggal di sisinya.
Seperti hari ini misalnya. Usai menyuguhkan kopi dan beberapa camilan, Binar duduk selonjor di samping Riswan. Adegan yang perempuan itu gemari adalah kala dua kakinya berada pada paha Riswan. Pria itu akan memijatnya sambil fokus mendengar saham dan perkembangan bisnis Wangsa Group di tiap daerah.
Seakan tukang pijat handal. Riswan tak ragu membaluri kaki Binar dengan minyak sementara perempuan itu bersandar pada lengan kursi sambil memejam. Momen sederhana yang kadang-kadang jadi alasan Riswan untuk menghindar datang ke kantor pusat. Ia lebih suka berduaan begini saja.
Namun tiba-tiba saja, Binar yang selalu tenang itu bergerak gelisah. Ia menarik kaki dari genggaman Riswan sambil mencengkram perutnya. Suara mengaduhnya membuat Riswan lansgung menutup rapat. Peluh Binar sebiji jagung itu bermunculan.
"Sakit, Mas, belum waktunya lahir padahal," rintihnya.
Berdasarkan ilmu yang ia pelajari dengan siaga, Riswan langsung membopong Binar menuju mobil dan berkendara secepat kilat. Ia telah menghubungi Intan, dan kegusaran makin menjadi kala air keruh merembas menyusuri kaki Binar.
Mereka berpandang, air mata Binar telah berjatuhan, "Mass..." rengeknya.
Riswan makin gelisah melajukan kendaraan. Beruntungnya Intan dengan staf medis andalannya sudah sigap menyambut kehadiran mereka. Riswan panik bukan kepalang, apa yang terjadi pada Binar?
***
Ned dan Tria sama paniknya. Suara Binar yang mengaduh terdengar menyayat relung mereka. Sementara Riswan langsung menjingkat saat Intan memanggilnya masuk ke ruangan.
__ADS_1
Mata pria itu nanar menyaksikan Binar yang seperti cacing kepanasan. Menggilat, merintih, dan memohon agar sakit itu bisa sedikit berkurang. Sementara Intan mendengus panjang, ia memutar bola mata sebal melihat reaksi Riswan.
"Belum waktunya lahir lho, Riswan," katanya ketus bukan main, "Sehari berapa kali sih sampai ketuban pecah?"
Riswan menoleh begitu Intan menyodorkan selembar kertas.
"Mau tidak mau harus operasi mengeluarkan si kembar. Kontraksinya terlalu dini dan kalau dibiarkan bisa bahaya," penjelasan singkat padat itu disampaikan dengan sedikit mendesak. Itu adalah permintaan Intan yang buru-buru harus segera dilaksanakan.
Dengan tangan gemetar, Riswan meraih bulpoin yang tergeletak di meja. Jatungnya serasa berhenti saat Binar meraung kian tak beraturan.
Lagi-lagi Intan memijat pelipisnya. Wanita itu masih dengan kekesalan tak mendasar kepada Riswan, "Dia hamil kembar di usia belia, tega-teganya masih diajak bercinta?!" protesnya menjelaskan akar masalah, "Kau ada google, kan? Kau juga bisa tanya boleh atau tidak bercinta dengan kasus kehamilan seperti Binar."
Riswan hanya bisa menangkup tangan Intan dengan wajah memelas. Ia tak tahu bagaimana harus memperbaiki masalah yang terlanjur menyebabkan akibat fatal, "Tolong selamatkan mereka, Intan."
"Itu tugasku, Riswan," acuh tak acuh Intan menyambar kertas dari genggaman Riswan.
Sejenak Intan terdiam. Ia memandang Riswan dari ujung kaki hingga kepala sebelum mendengus panjang. "Aku panggil setelah mengurus kepindahan," ujarnya.
Sesaat setelahnya, Binar digiring menuju ruang operasi yang telah disiapkan. Betapa pilu hati Ned dan Tria menyaksikan putri mereka kesakitan sebegitu hebat. Riswan yang tak lepas menggenggam tangan Binar setia menggiring sang istri guna menyalurkan kekuatan.
"Sakit, Mas..." keluh itu yang paling banyak terdengar, dan hal yang bisa Riswan lakukan hanyalah memberi kecupan.
Pria itu tak berhenti merintih dalam diam. Memohon agar Tuhan sudi memberi sebagian rasa sakit Binar kepada dirinya. Tetapi sekeras apapun meminta, Riswan tak kunjung merasakan perubahan dalam dirinya. Tak lama kemudian satu suntikan berhasil mendiamkan Binar yang mulai mengendorkan genggaman.
Riswan panik seraya menolehkan pandangan, akan tetapi Tria meyakinkan kalau rasa sakit Binar disangkal oleh obat bius menjelang persalinan. Napas Binar tampak mulai beraturan. Garis-garis wajah lelah menghiasi di sepanjang rautnya.
__ADS_1
Ia masih menggenggam erat tangan Binar, dan mungkin karena sisa kesadarannya terwan antara mimpi dan nyata. Riswan bisa mendengar gumam pelan yang dilantunkan oleh Binar.
"Paman," panggilnya seakan alam bawah sadar lebih terbiasa memanggil begitu dibanding 'mas Riswan'.
"Iya?" sahut Riswan masih berulangkali memberi kecup pada punggung tangan Binar.
"Mungkin aku nggak pernah bilang, tapi aku memang suka pada paman," katanya diikuti senyum nakal yang mengembang, "Dari sudut pandangku paman selalu terlihat keren dan berkarisma. Aku sering cari-cari alasan ke mama dan papa untuk mengundang paman datang ke rumah."
Riswan terkekeh pelan. Tentu perempuan ini akan sangat malu kalau sampai tahu Riswan mendengar pengakuan barusan. Ia juga memilih diam, dan membiarkan Binar saja yang terus berbicara.
"Aku memang pernah suka Sean, tapi jauh sebelum itu... di mataku hanya ada paman. Mungkin cuma kekaguman, begitu pikirku nggak berani aneh-aneh menilai perasaan," sambungnya.
Jauh sebelum itu? Batin Riswan sambil menyisir rambut Binar penuh kasih sayang.
"Malam itu aku baru sadar kalau perasaan itu ternyata lebih dari sekadar kekaguman," suranya makin mengecil dan serak, "Aku... aku..."
Tiba-tiba layar monitor pendeteksi detik jantung membunyikan suara melengking yang amat nyaring di telinga. Staf yang bekerja untuk Intan sontak panik bukan kepalang. Salah seorang perawat menuntun Riswan agar meninggalkan ruangan.
"Pendarahan, pendarahan," kurang lebih begitulah kalimat itu diteriakkan.
Alat pacu jantung di keluarkan begitu Riswan sampai pada ambang pintu ruang oprasi yang langsung ditutup rapat. Pria itu terduduk di lantai tanpa bisa lagi berkata-kata. Tangisnya menggema pada lorong-lorong yang hanya dilintasi dokter dan perawat.
Riswan yang frustasi berat itu tak henti memukuli dada dan kepala. Ia marah pada birahinya tanpa tahu kondisi serta keadaan. Dia murka pada dirinya yang egois enggan mengalah pada buah hati mereka.
Percumbuan panas berhari-hari terakhir berubah menjadi segerombol penyesalan. Riswan bersumpah akan mengakhiri kehidupan jika mereka bertiga gagal diselamatkan.
__ADS_1
Memangnya apa lagi yang tersisa dari kehidupan Riswan?
Kalau sampai istri yang dicinta juga dua bayi mungil mereka harus raib dari dunia, maka apa lagi yang layak diperjuangkan?