Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
27. Tentang Kopi Hitam


__ADS_3

Hari-hari Binar berlalu begitu saja.


Karena sibuk dengan kegiatan kursusnya, ia juga jarang bersinggungan langsung dengan Greg Darmawangsa. Lagipula, sejak bertemu dengan Rhea, pria itu lebih banyak diam. Memilih tidak komentar pada apapun yang Binar lakukan.


Ia boleh ikut memasak, menyiapkan hidangan juga merekomendasikan menu-menu yang biasa dikelola oleh kepala pelayan.


Kadang kala, Binar juga berkebun atau sekadar jalan-jalan menikmati halaman mewah mansion mewah. Perempuan itu menjadi lebih aktif dibanding biasanya.


Hal ini didukung dengan kondisi kandungan yang tidak serewel awal kehamilan. Suasana hatinya juga membaik seiring padatnya kegiatan. Binar sempat berpikir kalau, tidak seburuk itu juga menjadi istri rumah tangga.


Ia bebas memiliki banyak ketertarikan. Tidak seperti bangku sekolah, Binar punya kesempatan untuk memilih hard skill yang ingin ia dalami tanpa kurikulum atau ujian. Kapan lagi dia punya kesempatan demikian?


Perihal lain yang membuat hari-hari Binar menjadi menyenangkan adalah keberadaan Riswan yang beberapa hari terakhir bekerja di rumah.


Mengandalkan telpon satu pihak ke pihak lainnya. Adrian yang semula bertugas mengawasi Binar pun kembali ke posisi awal. Menjabat sebagai kepanjangan tangan Riswan dalam setiap situasi dan kondisi pekerjaan.


Sedikit masalah saja, Riswan langsung mengomeli Adrian.


Sejak saat itu, Binar memiliki kebiasaan aneh untuk menguji Riswan. Tentang kopi hitam. Minuman yang konon tidak lagi diminum oleh suaminya, namun tiga hari berturut-turut malah ditenggak habis oleh Riswan.


Detik ini pun demikian. Binar mengulangi kebiasaan itu sambil mendekati Riswan.


Kalau boleh mengaku, Binar penasaran. Mengapa Riswan yang selalu menerima suguhan kopi buatan Tria itu, tak minum kopi di rumah? Dan mengapa pula ia tak melayangkan protes tiap kali Binar membuatkannya?


Dengan kacamata yang setia bertengger di hidungnya, pria itu sibuk mengetikkan sesuatu lewat tablet pintar. Jemarinya lugas merangkai kata. Lalu meneguk kopi pemberian Binar perlahan-lahan.


Tentu Binar selalu menyaksikan adegan itu dengan saksama. Memastikan kopi buatannya ditenggak tuntas oleh Riswan tanpa sisa.


Tanpa bicara apa-apa, ia mengamati raut Riswan dalam bungkam. Masih dari jangkauan mata Binar, pria itu kemudian menelan habis kopi hitam dengan satu tarikan napas.


Sambil mendorong kacamatanya, Riswan terengah. Menepis sudut bibirnya yang basah, lalu melirik keberadaan Binar yang mulai mengganggunya. Riswan lanjut pada pekerjaan, meski sepatah yang terlontar tertuju pada Binar.


"Aku sibuk, Binar. Bicaranya nanti saja," begitu katanya.


Tapi tak peduli pada peringatan, Binar kian gigih menatap Riswan, "Katanya nggak suka kopi hitam?" tanya Binar langsung pada tujuan. Ia ingin menyudahi pertanyaan di kepala.


Pandangan Riswan beralih ke satu berkas, lantas kembali menyalinkan isinya pada tablet dengan saksama, "Bukan nggak suka," celetuknya menyempatkan diri menjawab, "Perutku sensitif tiap minum kafein berlebihan. Jadi mending nggak minum aja sekalian."


Mengikuti alam bawah sadar yang terkejut mendengar pengakuan Riswan, Binar menyambar cangkir itu kesal.

__ADS_1


Spontan saja, ia meninggikan suara, "Terus kenapa dihabiskan?!"


Acuh tak acuh Riswan mendengus pelan. Pria itu menatap Binar sejenak dan menunda aktifitasnya, "Kamu yang buat."


"Dih, terus perutnya gimana? Maksudku, efek gara-gara minum kafein apa?" tanya Binar panik bukan kepalang.


Tiga hari.


Apa yang terjadi pada Riswan pasca meminum kopi buatannya selama tiga hari?!


"Bisa diatasi, Binar. Bukan hal berbahaya," sahutnya sembari mengambil akses diri dari Binar. Pria itu melanjutkan kesibukan, memantik emosi Binar meningkat.


"Bisa diatasi itu yang gimana, Paman? Aku juga ngerasa bersalah dong ngasih paman kopi terus-terusan," cecarnya.


Riswan menarik kacamatanya, dan mengusap wajah kasar. Ia meletakkan segala fokus pada Binar.


"Kembung sebentar, parah pun palingan diare aja. Aku lebih suka susu protein tinggi dicampur kepingan coklat, jadi mulai sekarang kamu bisa berhenti buat kopi tawar yang belum panas," paparnya tenang.


"Kenapa diam aja sih, Paman? Harusnya bilang dari awal! Kalau gini kan aku nggak enak sendiri jadinya," keluh Binar.


Rasa bersalahnya bukan sekadar kopi hitam, melainkan juga kebodohan Binar yang tidak mengetahui apa-apa.


"Terus tiga hari ini kondisi paman gimana?! Atau jangan-jangan paman kerja di rumah karena nggaj enak badan? Aku telpon dokter pribadi paman, ya?"


"Sttt..." Riswan mendekat agar bisa meraih punggung tangan Binar. Pria itu mencoba memberi ketenangan, menjaga Binar dari rasa bersalah yang berlebihan.


"Aku suka kopi juga. Lagian sayang dong kalo dibuang," bisiknya seraya memberi genggaman, "Sama sekali nggak ada hubungannya sama keputusanku kerja dari rumah, Binar. Aku baik-baik aja."


"Minimal kan paman bilang!"


Gemas dengan amarah Binar, Riswan mencubit pipi perempuan itu singkat. Senyum manisnya merekah. Ia memang jauh lebih romantis ketimbang biasanya.


"Aku seneng kok kamu buatkan, jadi kita hapus aja semua masalahnya. Oke?" ujarnya mengajukan kesepakatan.


"Janji ya lain kali langsung bilang," sahut Binar mempertegas kesepakatan.


Riswan mengangguk mantap.


"Janji juga kalau nggak enak badan langsung cerita?"

__ADS_1


Ia meringis lagi sebelum menganggukkan kepala.


Pria itu kemudian mengacak singkat rambut Binar. Lantas kembali menghadapi berkas-berkas kerjanya yang menjulang. Binar pribadi belum beranjak, ia memastikan sekali lagi bahwa Riswan baik-baik saja.


"Ini hari terakhirku bekerja di rumah, Binar. Besok aku ada perlu di beberapa kota di Kalimantan. Aku juga nggak bisa ngajak kamu kemana-mana, jadi daripada di hotel nganggur mending di rumah aja lanjut belajar. Kamu nggak keberatan, kan?"


Binar diam sejenak.


"Berapa lama?" hanya dua kata itu yang terlintas dalam pikirannya.


"Tujuh hari paling lama. Kabar baiknya aku sudah ada tutor baru untuk menemanimu belajar," imbuh Riswan dengan wajah sumringah.


Namun Binar belum tergerak untuk melengkungkan senyuman. Perempuan itu memikirkan kemungkinan terburuk yang akan melanda dirinya kala Riswan tak ada di rumah. Kegelisahan menjamahnya.


"Nggak boleh ya aku ikut aja?" tanya Binar menggelar penawaran.


Pria itu mengatur napas, tampak serius mempertimbangkan permintaan Binar. Kemudian menatap istrinya penuh kelembutan, sambil bersuara tenang penuh kebijaksanaan.


"Kalau nyusul aja gimana? Tiga hari pertama aku harus pindah-pindah kota. Takutnya kamu kelelahan."


"Aku nggak mau di rumah sendirian," rengek Binar memelas, membuat Riswan kembali mendaratkan belaian lembut pada puncak kepalanya.


"Greg juga nggak ganggu kamu lagi kan sekarang? Kamu nggak bisa ikut aku terus-terusan, Binar."


"Paman sengaja kerja di rumah karena udah ada rencana mau pergi, ya?" tuduh Binar.


Pasti itu menjadi rayuan Riswan agar Binar mengijinkan perjalanan bisnisnya. Kecurigaannya terasa makin nyata kala mata Riswan menghindar. Pria itu bahkan sampai membuang muka.


"Jadi ini cuma trik supaya aku sepakat?" desak Binar menggalahkan kecurigaan.


Pertanyaan itu membuat Riswan menjatuhkan pandang. Ada segelintir nanar yang ia tunjukkan kepada Binar.


"Aku tulus ingin menemanimu, Binar. Terserah mau dianggap apa. Yang jelas perjalanan bisnisku sudah mutlak, kalau perlu aku kirim ke kamu juga salinan jadwalnya."


Nada dingin itu terlontar kemudian. Menyisakan suasana mencekam di antara mereka. Persetan dengan suasana hati yang membaik dan bisa dikendalikan! Nyatanya Binar lah yang menyebabkan suasana mereka kacau balau seketika.


Lagi-lagi Binar hanya menundukkan kepala. Hanyut dalam pertikaian yang disebabkan oleh curiganya yang selalu berlebihan.


Sial, sampai kapan dia mau jadi sebab dari akibat hubungan mereka?

__ADS_1


__ADS_2