Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
52. Hubungan Suami-Istri


__ADS_3

Berulang kali, tanpa malu atau sungkan, Riswan berani mempertontonkan percumbuan mereka. Di dapur saat Binar mencoba fokus untuk memamerkan masakan. Di meja makan sesudah atau sebelum makan. Di ruang belajar, dan setiap isi rumah. Binar dibombardir kecup yang lebih sering menjelma jadi *****.


Binar yang lama-lama sama liarnya itu tak mau menolaknya juga. Ia selalu terbuai mendengar pujian-pujian Riswan terhadap tubuh berisinya.


"Aku nggak pernah meniduri perempuan yang hamil tujuh bulan, Binar," seperti itu kata Riswan tiap kali ingin mencuri birahinya.


Harus berani Binar akui memang, bahwa dibanding usianya, Riswan lebih dari perkasa. Energinya tak mudah padam. Pria itu juga mahir membuatnya merasa amat begitu dicintai dan dimajakan oleh permainan mereka.


Riswan tak pernah ragu meminta ijin atau sekadar bertanya, 'apakah boleh dipegang?' atau 'apa sudah enak?' hal-hal yang membuat Binar selalu penasaran dengan aksi pria itu selanjutnya. Apalagi dalam keadaan hamil besar, kadang-kadang mereka perlu ekstra hati-hati agar si kembar tetap tenang.


Seperti kali ini misalnya. Riswan melakukan inspeksi gila di bawah sana dengan bibirnya. Menjilat, menekan, bahkan berputar-putar. Dengan lidah lugas, ia semakin giat tiap kali lolongan lenguh Binar memenuhi seisi ruangan.


Perempuan itu mendongak. Dua tangannya mencengkram sudut meja, sementara dua kaki di buka lebar-lebar. Sesekali meja kerja Riswan membunyikan decitnya. Benda itu juga tidak tahan dengan geliat yang dirasakan oleh Binar.


"Paman..." rintihnya. Sesebutan yang membuat pria itu langsung terdiam. Membuat Binar yang berada dalam kabut nafsu terpaksa mencuri tatap Riswan yang ditutupi perut buncitnya.


Binar menunduk menghampiri wajah Riswan. Bibirnya yang licin mengatup kesal dengan panggilan Binar barusan. Hal yang membuat perempuan itu gemas dan tergoda melayangkan kecupan.


"Mas, kan?" bisiknya tepat di hadapan Riswan.


Pria itu menarik tengkuk Binar, organ lunak dalam rongga mulut Riswan itu mengabsen gigi-giginya. Tak lama pria yang tidak sabaran soal bercumbu itu membopong tubuh Binar. Meletakkan tangan kiri di pinggang sebagai penyangga, sementara yang kanan terselip di balik lutut Binar.


Jantung Binar berdegup tak karuan ketika Riswan membawanya ke ruang tengah. Membaringkan Binar pada sofa utama sebelum melucuti sisa kain yang masih melekat.


"Kalau pelayan dengar gimana?" khawatir Binar kikuk dengan tubuhnya yang sempurna tanpa busana.

__ADS_1


Riswan menarik helai-helai penutup badannya sendiri sebelum merangkak pada Binar, "Ini tengah malam, Sayang, paling-paling juga yang lewat cuma kepala pelayan. Dia haus kadang-kadang."


"Kok kamu hafal?"


Riswan terkekeh renyah, "Dia tinggal di rumah ini lebih lama darimu, Binar. Jangan cemburu padanya."


Di antara kegelapan yang hanya dihinggapi lampu teras, sepasang suami istri itu saling memandang. Walau setiap hari melakukan bukan hanya sekali dua kali saja, tapi degup jantung Binar tak bisa mengabaikan kegugupan. Apalagi saat jemari Riswan yang lihai itu memelintir puncak dada, Binar tidak bisa pura-pura tenang.


"Kalau si kembar lahir aku bisa lebih gila, Binar," keluh pria itu sambil memandangi tubuhnya, dan begitu kecupan mulai menghujani perut Binar, maka sudah tiba waktunya.


Riswan naik dengan gerakn pelan, yang tentu saja, semakin lama semakin cepat. Binar yang pada dasarnya tak begitu peduli bahkan jika raungan kenikmatannya membangunkan seisi desa. Dia memanggil-manggil Riswan berulang kali dalam persatuan.


"Mas Riswan," matanya yang setengah tertutup dan terbuka itu membuat mulut Binar ternganga. Entah berapa kalipun mencapai puncak, ia tak pernah merasa bosan.


"Ya?" sahut pria itu masih dengan kegiatannya, "Aku tadi minum obat, Sayang... jadi..."


Peluh keringat mereka mulai berjatuhan. Suara-suara mereka berubah menjadi rancauan tidak jelas. Akhir yang bukan berarti mengakhiri segalanya itu ditutup dengan kejang-kejang dari tubuh dua insan manusia.


"Aku mencintaimu, Binar," dan telah menjadi seperti budaya sakral usai percintaan, Riswan tak pernah lupa membisikkan kata itu di antara buruan nafasnya, "Terima kasih, Sayang."


***


Bukan karena mensyukuri atau suka dengan kepergian Greg Darmawangsa, tetapi rumah utama memang terasa lebih cerah dan bernyawa usai kepergiannya. Mungkin imbas dari kemesraan sang tuan, yang kemana-mana selalu mengikik kecil sebelum saling mendesah.


Lama-lama pelayan yang dipekerjakan di sana tidak terusik kerenanya. Sudah biasa. Tidak seasik saat pertama kali mempergoki percintaan mereka di rumah kaca, atau ruang belajar, atau kadang-kadang taman depan. Tubuh mereka bisa secara otomatis kabur saat dia tanda itu terdengar.

__ADS_1


Anggap saja pengantin baru, begitulah kata kepala pelayan pada pasukannya.


Tuan muda berusaha melepaskan kesedihan, jadi biarkan nona muda saja yang menenangkan, dan kata-kata lain yang bisa jadi terdengar lebih sopan atau sangat liar.


Dan tentu kesabaran mereka semua membawakan hasil. Setelah satu minggu, Riswan kembali mengurus bisnis. Mungkin ada campur tangan Adrian yang terus mengeluhkan tugasnya yang menumpuk setiap hari. Yang jelas, Binar sangat senang Riswan mau memulai kehidupan lagi.


Binar pribadi tampak sibuk berlarian ke sana kemari, seisi dapur ia jamahi. Semakin ke sini, kepala pelayan tak punya tugas, demikian juga para koki yang hanya menyaksikan.


"Kepala pelayan boleh istirahat sampai si kembar lahir ya," kata Binar seraya menabur garam, merica, dan gula dengan asiknya, "Aku sudah bicara dengan mas Riswan, lebih tenang rasanya kalau mereka ada di bawah asuhan kepala pelayan."


Wanita itu terdiam tak langsung menjawab. Mungkin ada sedikit kelegaan menyuntuh nuraninya. Binar paham, mungkin ia juga telah lama tak bertemu keluarga di kampung halaman.


"Tidak perlu buru-buru balik ke sini juga. Bukan bermaksud mengusir atau bagaimana tapi..."


Pelukan sang kepala pelayan membungkam tutur kata Binar. Wanita berwajah kaku yang selalu dibuat datar tanpa ekspresi itu mendekapnya erat. Sebisik terima kasih terus menerus ia lantunkan.


"Mulai hari ini aku juga mau mencopot aturan. Aku akan panggil Bu Minah dengan nama saja daripada sebutan kepala pelayan."


Kaca melapisi manik matanya. Pertahanan diri wanita itu pecah meski tetap susah payah disembunyikan. Binar memberi senyuman hangat, matanya kini beredar pada masing-masing koki yang menyaksikan.


"Soal koki, mas Riswan sudah ada rencana untuk dialihkan fokusnya ke perusahaan. Ada bisnis baru yang ingin mas Riswan mulai dan akan segera mengajukan proposal kerja sama ke agency kalian," papar Binar tegas, ia tampak berkarisma dengan gayanya yang kini beralih memotong sayuran.


"Aku cuma minta satu bantuan," katanya mulai mondar-mandir antara kompor dan kulkas, "Sore ini istri pak Adrian dan anak mereka datang, jadi aku harap kalian memasak menu spesial untuk terakhir kalinya."


Mereka saling beradu pandang sejenak sebelum ikut memberikan pelukan. Mereka siap melakukan yang terbaik untuk bos kecil mereka. Canda tawa tercerai berai setelahnya. Binar tak pernah mengira jika pertemanan masih bisa terjalin begitu hangat meski di luar bangku sekolah.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, Riswan yang baru bangun tampak menuju dapur menghampiri Binar. Kecup mesra pada kening membuat seisi manusia yang lebih dulu di sana cukup tahu diri untuk beranjak. Riswan mencuri beberapa makanan yang Binar masak, dan sesuai rencana, pria itu ingin membawa bekal hasil masakan istri tercinta.


__ADS_2