
"Kalo itu yang paman mau, ya kenapa nggak?"
Tak sekalipun terbayangkan di kepala jika Binar menjawab demikian. Telah Riswan tunjukkan segala bentuk ketulusan. Ia haturkan pula lewat bahasa-bahasa tubuh yang dilembutkan. Tapi kenapa Binar tak kunjung memahaminya?
Walau bukan bagian dari rencana, meminang Binar tak pernah menjadi lelucon bagi Riswan. Saling selingkuh secara sadar dan terang-terangan juga bukan kehidupan rumah tangga yang dia harapkan. Binar bersikap seolah-olah pernikahan sakral ini tiada artinya.
Kenapa?
Apakah faktor usia mempengaruhi jalan pikirannya yang bisa dibilang belum dewasa?
"Intan cuma kebetulan, Binar. Terserah mau percaya atau nggak," tandas Riswan sebelum kembali ke kasurnya. "Aku capek kalo masih harus berdebat."
Ia tak mengada-ada. Fakta bahwa pertemuannya dengan Intan memanglah tidak disengaja. Intan merupakan dosen tamu yang dipanggil untuk mengisi praktikum di sana. Ajaibnya, Tuhan mengijinkan wanita itu melihat Riswan dan rombongan kecelakaan.
Hanya itu saja. Sebatas itu kebersamaan mereka. Riswan mengucapkan banyak terima kasih pada Intan yang menghubungi Adrian, juga terhadap kemudahan penanganan Riswan selama pemeriksaan. Tak lebih tidak kurang.
Jadi, sebenarnya apa yang Binar lihat?
"Aku nggak bisa percaya, Paman," sahut Binar seraya berbalik hendak meninggalkan Riswan.
"Mau kemana?" cegahnya.
"Aku tunggu di luar. Kalo ada apa-apa panggil aja."
Tak sampai Riswan melakukan pencegahan kedua, Binar telah melengang langkah. Dalam situasi itu, ia menertawakan dirinya. Untuk apa datang kalau hanya menunggu di luar?
Niat untuk istirahat sejenak itu pun ia urungkan. Riswan lebih tertarik mengintip kebersamaan sang istri dengan lelaki yang dilantik sebagai tutor barunya. Mereka tampak dekat, hal yang membuar Riswan kian gigih mengejek diri sendiri.
Ia tidak menduka jika keputusannya merekrut teman sekolah Binar sebagai tutor malah menjadi bumerang. Ingin hati Riswan membahagiakan Binar. Menyuguhkan nuansa nostalgia yang persis seperti di sekolah umum biasa.
Akan tetapi Riswan malah menanggung geram. Ia mejadi pihak sial yang menyaksikan romansa remaja dari kaca kamar. Mereka bahkan tak ragu memamerkan mesra. Lelaki itu secara terang-terangan menunjukkan ketertarikan pada Binar.
Sialan. Gumam Riswan seraya menggenggam erat telapak tangannya. Bagaimana mungkin bocah-bocah itu mempermainkan pernikahannya? Terlebih lagi Riswan baru mengalami kecelakaan, berani-beraninya mereka bertindak demikian?
Riswan menarik gagang pintu kamar. Membuka sedikit hingga hanya matanya yang terlihat. Posisi duduk Binar yang berseberangan dengan kamar membuatnya langsung menyadari keberadaan Riswan. Manik mereka beradu sekilas.
"Aku lapar!" ketus Riswan, "Bawakan nasi goreng, mi goreng, es jus, dan pencuci mulut yang segar."
Berdiri malas, Binar memutar bola mata, "Serius bakal makan sebanyak itu?"
"Dari kemarin belum makan."
__ADS_1
Binar mendengus.
"Aku temani," celetuk lelaki itu lembut. Membuat Riswan panik dan menarik pintu hingga menunjukkan sebujur tubuhnya secara utuh.
"Nggak jadi," tukas Riswan sebelum Binar memberi jawaban.
"Jadinya lapar atau nggak sih?" protes Binar mulai emosi.
"Aku mau bersihin badan. Gerah."
"Yaudah, aku panggilin susternya."
"Kamu aja."
Binar terdiam.
"Iya, kamu aja. Ngapain panggil suster segala? Kan kamu walinya. Buruan, kakiku pegel berdiri kelamaan."
Acuh tak acuh, Riswan membalikkan badan. Dalam hati ia memuji dirinya yang cerdas menyeret Binar masuk ke dalam. Perempuan itu terpaksa mengekorinya, sambil menghentak-hentakkan kaki kasar.
"Terus maunya gimana?" tanya Binar kesal, sementara Riswan telah berbaring sambil melepas dua kancing baju rumah sakit yang ia kenakan.
"Nggak tau. Pokoknya aku gerah."
Tak berhenti sampai sana, Binar mengambil wadah seadanya. Menakar air dari toilet, lantas merendam handuk kecil yang tersedia di almari. Tanpa ekspresi, ia membuka sisa kancing Riswan dengan teliti.
"Minggir," seru Binar kala melepas pakaian itu dari lengan kanan menuju kiri. Pakai rumah sakit itu sukses tersampir, dan handuk basah tanpa diperas pun mengambil alih tubuhnya yang tak berbusana lagi.
"Binar!" jeritnya memekik.
Air menetes menyebabkan kasur Riswan terasa banjir. Sementara sang pelaku terlihat tidak peduli.
"Katanya gerah," Binar menimpali.
Riswan menarik handuk itu dan melemparnya ke lantai. Meski sedikit kesal dengan tindakan kali ini, Riswan hanya mendengus kecil. Ia meraih baju rumah sakitnya untuk menghangatkan diri, mengabaikan Binar yang masih menatapnya dingin.
"Buatkan aku susu hangat," ujar Riswan berganti titah, "Suruh tutor baru itu sekalian buat beli makanan yang tadi aku sebutkan."
"Dan jangan ikut beli makanan itu atau kupecat dia," sambung Riswan mempertegas.
Tanpa jawaban, Binar membuang napas panjang. Perempuan itu kemudian beranjak. Masih dengan hentakan langkah kaki yang amat keras. Riswan memperhatikan tingkah itu sambil tertegun sejenak, sesulit itu kah menikahi putri kecil sahabatnya?
__ADS_1
Ia memanggil perawat untuk membersihkan kasurnya. Sementara dirinya duduk di sofa menantikan kehadiran Binar. Pikiran Riswan berkelana, menyiasati segala tragedi yang terjadi dalam hidupnya.
Dosa satu malam yang mengantarkannya pada pernikahan. Melepas masa lajang usai mencicipi berbagai macam wanita. Riswan juga tidak begitu yakin pada pilihannya. Apakah jalan hidup begini kelak akan disesalinya juga? Atau justru menjadi pilihan terbaik dari segala keputusan yang ada?
Riswan juga penasaran.
Bertaruh kehidupan atas pernikahan. Ia bukan hanya bersumpah di hadapan Ned dan Tria, tetapi Tuhan. Namun apa artinya itu semua jika Binar tak menghormati pernikahan mereka? Percuma.
Terlalu banyak pihak yang menentang pernikahan mereka. Keteguhan prinsip mereka dipertanyakan. Cinta? Bukan perkara itu lagi yang perlu mereka pertanyakan.
Bagaimana dengan masa depan anak-anak?
Seharusnya Binar paham betul apa yang akan terjadi jika mereka memutuskan berpisah. Mustahil Riswan merelakannya. Keluarga Darmawangsa punya kekuatan penuh mengambil alih hak asuh anak.
Apakah kekacauan semacan itu pernah terlintas dalam benak Binar?
Ekor mata Riswan beralih pada sosok yang dibicarakan oleh kepala, Binar. Ia menyuguhkan cangkir ke hadapan Riswan. Tanpa sepatah kata perempuan itu lagi-lagi berpaling hendak meninggalkannya.
"Kemana lagi sekarang?"
Masih tidak berkomentar. Binar yang memunggungi pria itu hanya diam di tempat. Menahan pergerakan, menanti kata selanjutnya.
"Terus terang aku penasaran, Binar. Kenapa pada akhirnya kamu memutuskan untuk menikah?"
Detik berganti menit dan Binar belum mengubah posisi. Riswan bisa mendapati sosok sang istri yang menunduk sedalam mungkin. Tangannya memeluk perutnya sendiri.
"Memangnya kapan aku punya kesempatan memilih?"
Riswan tak berkutik. Kalau mau diingat kembali, segala keputusan memang Riswan yang ambil. Melamar Binar, membawa Greg untuk meminang, dan belum sampai Binar menjawab, Tria mengusirnya dari rumah.
Tapi...
"Pertanyaannya aku ganti," cetus Riswan tanpa toleransi, "Kenapa memilih bercinta denganku dibanding melarikan diri?"
"Semua nggak akan terjadi andai kamu menamparku dan mengunci pintu sampai pagi," imbuh Riswan masih tak habis pikir.
Selain Riswan yang memang tersulut birahi, apa yang dirasakan Binar sampai rela disetubuhi?
Kalau mau dikoreksi, puncak dari segala keputusan hanyalah satu malam ini. Mereka pernah sama-sama begitu ingin. Malam panas yang sulit mereka pungkiri.
"Paman sendiri?" Binar berbalik dengan pelupuk mata telah didesaki air, "Aku tau paman sempat sadar sebelum semua itu terjadi. Kenapa nggak berhenti?"
__ADS_1
Dan untuk kesekian kali, Riswan tak mampu berkata-kata lagi.