
"Gila, Ned! Sudah gila kalau begitu caranya!"
Tria menjambak rambut kasar. Frustasi benar wanita itu sampai melontarkan ribuan decak kesal. Ia tak punya lagi kemampuan memaklumi suaminya. Bagi Tria, Ned lebih dari keterlaluan.
Berbanding terbalik dengan Ned yang masih belum berkomentar. Pria itu masih menganggap tiada yang salah dengan tindakannya. Sejak awal itu memang tujuan mereka, dan kalau Tria tidak sepakat maka itu masih menjadi tujuannya sepihak.
"Dari awal kita sama-sama ingin membawa Binar pulang, kan?" Ned berusaha menekankan kesepakatan mereka.
Sudah jelas, bukan? Mereka adalah sepasang suami istri gegabah yang mengusir putri sematawayang pasca dihamili oleh sahabat karib yang bejat. Mustahil jika tiba-tiba menarik kembali ucapan. Terlebih, Ned terlanjur menandatangani kepesepakatan tidak tertulis yang akan merestui pernikahan mereka.
Ia tidak bersedia.
Sebagai seorang ayah, Ned enggan menyerah begitu saja. Merestui Riswan sebagai menantu keluarga Alvero yang sah? Yang benar saja! Ia masih punya urat malu untuk tidak melakukannya.
"Kau pikir Sean bisa menjadi suami yang terbaik untuk Binar?" protes Tria masih tidak terima dengan keputusan sembrono yang diambil sang belahan jiwa.
"Dia hanya umpan," tukas Ned menyanggah, "Aku meletakkan dia di sana sebagai penabur bumbu masalah yang membuat Binar tak betah dan ingin mengakhiri pernikahan!," jelas Ned membuat Tria kian gigih mengacak rambutnya.
"Kau membuat putri kita terlihat seperti ******, Ned! Di hadapan keluarga Darmawangsa."
"Itu lebih baik dibanding merestui Riswan, Tria, terus terang."
Tria memijat tengkuk lehernya. Perdebatan yang dimulai dengan perang dingin ini sudah berlangsung lama. Wanita itu amat sangat penat bahkan hanya untuk sekadar berkomentar.
Namun, sebagai seorang ibu, ia tak mau lagi mengalah dan sepakat begitu saja. Ned sudah menyeret Binar ke jurang pernikahan yang mengerikan. Masa depan putri mereka dipertaruhkan, ia tak bisa membiarkan Ned mengambil langkah lebih gila.
"Dan apa kau pikir mengirimi Binar foto kemesraan Riswan dengan Rhea bisa menjadikan perselingkuhan itu impas?" tanya Tria masih keras kepala mempertahankan asumsinya.
"Tidakkah kau pernah berpikir kalau ini yang Rhea inginkan?" cecar Tria, "Aku bertemu dengan wanita itu, Ned, asal kau tahu saja."
__ADS_1
Sepersekian detik itu, Ned terkesiap, "Apa maksudnya?"
Tanpa disadari sang empunya, derai mata Tria berjatuhan. Wanita itu melepas penat lewat butir-butir air yang membanjiri pipinya. Cekat di tenggorokan menghalangi suaranya keluar. Ia hanya menatap Ned nanar.
"Tak pernah ada rencana, Ned," paraunya di tengah tangis sesak yang tertahan, "Rhea tak pernah merencanakan apa-apa. Wanita itu hanya mengadu kita semua. Ia membual, dan kau melancarkan niat busuk itu dengan tindakan egoismu terhadap pernikahan mereka."
Mendengar penjelasan tersebut, Ned menarik napas dalam-dalam. Pria itu mengusap wajahnya kasar. Kegelisahan telah mengambil alih kesadaran tubuhnya.
"Kenapa tidak bilang dari awal? Kau mengenalku, Tria, kau lebih dari mampu mencegahku melakukan itu semua!"
"Memangnya kau pernah menceritakan rencanamu terhadap Binar dan Riswan? Kau selalu memikirkannya sendirian, berdebat dengan asumsi-asumsi serta egomu yang enggan merestui pernikahan mereka!" amuk Tria muntap. Wanita itu purna mengabaikan derai air mata yang kian kacau berantakan.
"Selain menghamili Binar, apa Riswan pernah mengkhianati kita berdua?" tanya Tria tajam, ia menyorot manik mata Ned lekat.
"Apa kau bisa memaafkan tindakan biadapnya menghamili putri kita?" balas Ned sama bengisnya. "Bagiku itu lebih dari sekadar pengkhianatan, Tria, dia melukai harga diriku sebagai seorang ayah."
Ya, pria mana yang baik-baik saja usai mengetahui putri kandung mereka dihamili sahabat karib yang begitu dipercaya? Meski selama ini tak begitu menunjukkan, bukan berarti Ned bisa menerima. Pria itu bahkan jutaan kali lebih banyak mengutuk kegagalannya menjadi orang tua dalam bungkam.
"Maafkan aku, Ned, tapi aku sudah tidak punya harga diri lagi untuk diselamatkan. Aku akan merestui Riswan, dan menentang segala tindakanmu mulai sekarang."
Tria melengangkan langkah. Wanita itu hanyut dalam isak tangisan meninggalkan suami tercinta. Ya, sebagai ibu yang gagal melindungi putrinya juga. Tak ada lagi harga diri yang perlu Tria selamatkan. Ia terlanjur menjerumuskan putrinya pada pernikahan dengan mantan playboy kelas kakap, Riswan.
Ia adalah tokoh yang telah menghancurkan kehidupan seorang Binar. Kini, apa gunanya menyelamatkan harga diri yang tersisa?
Sementara itu, Ned yang menyaksikan kepergian sang istri terduduk lemas. Sekarang, apa yang harus dia lakukan? Ned bukan hanya dilema, ia tak bertempur dengan dirinya.
Ia terjerat dalam gejolak perasaan.
***
__ADS_1
Pedal gas kendaraan Riswan melaju tanpa aturan. Ia menyalip taksi online dari sisi kanan, sebelum membanting setir ke kiri hingga si sopir kewalahan. Mobil mereka hampir bersentuhan, namun siapa yang peduli dengan benda itu sekarang?
Riswan langsung keluar, menarik gagang pintu bagian penumpang. Binar yang menyaksikan adegan itu masih menyuguhkan tatap tajam. Perempuan itu tak terusik walau terkoyak di dalam sana.
"Turun!" satu titah dingin Riswan diperdengarkan. Pria itu juga tak mau kalah, manik matanya dingin dan dalam.
"Nggak," tentang Binar tegas. Ia tak segan menunjukkan gurat jijik, benci, serta murka terhadap Riswan.
"Turun atau aku seret keluar," ancamnya.
Rahang bahwa Binar mengeras. Ekor matanya melirik sopir taksi online yang hanya mengamati lewat spion atas. Ia tampak tak berani mencegah, Riswan memang lebih mengerikan sekarang.
"Seret aja kalo bisa!" tantang Binar geram. Lagipula mustahil Riswan tega menyeretnya.
Namun di luar dugaan. Riswan yang tak habis kehilangan akal itu lantas mendekat. Pria itu langsung meletakkan satu lengan mengelilingi punggung Binar sementara yang lain di belakang lututnya. Binar terkesiap bukan kepalang, detik berikutnya Riswan telah membopong tubuhnya beranjak dari sana.
"Mau ngapain? Turunin aku, Paman!" protes Binar berontak.
Tentu berontak itu juga tak ada artinya. Riswan mendekap erat tubuh Binar hingga melekat pada bidang dada. Dalam posisi seperti itu, Binar bisa melihat kemarahan Riswan lebih jelas. Mengakses raut datar pria itu yang bisa diartikan lebih dari sekadar murka.
Bukankah seharusnya Binar yang merasa demikian? Mengapa Riswan juga sebegitu marahnya? Untuk beberapa saat Binar hanyut mengamati Riswan.
Pria itu membuka pintu mobil bagian depan, mendudukkan Binar di sana perlahan-lahan. Tak lupa, Riswan juga memasangkan sabuk pengaman. Sosok itu bahkan menutup pintu mobil perlahan-lahan. Mengamati semua gelagat itu Binar tak berselera kabur dari sana.
Riswan berbincang singkat dengan sopir taksi online sebelum melajukan kembali kendaraan.
"Mau kabur kemana?" tanya Riswan usai beberapa meter dari sana, "Aku antar kemanapun asal bukan rumah Sean."
Hening sejenak. Binar membuang pandangan jauh pada lajur kendaraan yang terbentang di hadapan. "Pulang," bisiknya pelan.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, Riswan langsung memutar arah. Pria itu selalu paham dengan makna yang dimaksud Binar terhadap kata 'pulang'.