Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
54. Bilik Kamar


__ADS_3

Secercah cahaya putih menyentuh pelupuk mata yang langsung menyipit. Ekor matanya berlarian menyiasati sebelum menemukan sosok yang menggenggam tangannya erat sekali. Apapun yang terjadi, tubuhnya terasa hancur berkeping-keping. Ia terasa seperti tengah bermimpi.


"Halo, Sayangku..." ujar pria itu pelan, walau belum terbiasa dengan kilau cahaya, Binar tahu itu suara Riswan.


"Pam..." suara Binar tercekat, matanya langsung terbuka begitu mendapatkan kembali seluruh ingatan, "Mas Riswan, anak-anak?" tanyanya panik memastikan, dan wajah teduh Riswan yang tenang itu berusaha tidak mengalirkan raut muka.


Telapak tangan Riswan membelai puncak kepala Binar, "Terima kasih sudah selamat, Sayang," senyum hangatnya mengembang, "Kabar baiknya kalian semua selamat."


Binar mengekori manik mata Riswan guna mencari kalimat lanjutan. Lalu apa kabar buruknya? Kenapa sangat lama? Perempuan itu bukan tipe orang penyabar.


"Kabar buruknya mereka premature dan belum bisa ikut kita pulang sekitar dua sampai tiga bulan."


"Tapi sehat semua, kan? Nggak ada yang kurang."


Riswan hanya memberi anggukan singkat, "Laki-laki semua."


Napas lega baru terdengar sesaat setelahnya. Riswan lagi-lagi mengecup punggung tangan Binar, "Ned dan Tria lagi sibuk ambil foto mereka biar kamu bisa lihat."


"Sudah mas kasih nama?"


Kini kepalanya ganti bergeleng menjawab, "Kalian bisa selamat saja aku sudah senang. Maaf aku baru tahu kalau ternyata bercinta dengan ibu hamil berakibat fatal. Aku kena marah Intan."


Binar tergerlak untuk kali pertamanya. Namun terpaksa harus sedikit tertahan, sebab bekas jahitan terasa ngilu meski masih ada sisa bius di sana.


"Mungkin karena kasus kehamilanku, Mas. Nggak semua ibu dapat pantangan yang sama," sahut Binar membalas kecupan Riswan lewat punggung tangan, "Lagipula aku suka. Aku nggak mau mas Riswan merajuk lama-lama cuma karena trauma."


Riswan mendekatkan wajah lantas mengecup bibir Binar, kini pandangan mereka saling mengunci lamat.


"Sejak kapan kamu mulai suka aku, Binar?" tanyanya penasaran. Riswan ingin sekali mendengar lanjutan kalimat Binar di ruang operasi yang terjeda.


Akan tetapi dengan lucunya manik mata perempuan itu berlarian. Ia berusaha menghindari pertanyaan Riswan yang menuntut dan mendesak. Binar diserang lagi dengan satu kecupan, "Jawab, Sayang, aku mau dengar."


Gurat pipi Binar dijamah semu merah. Ia melirik jauh ke plafon kamar guna menyembunyikan rasa malunya. "SMP mungkin, waktu mas Riswan mulai sering menginap karena harus bolak-balik ke luar negeri."


"Waktu aku belum sewa apartemen itu?"

__ADS_1


"Waktu kakek Greg heboh nyuruh mama papa buat maksa paman kerja di IndoGood."


Riswan tidak bisa menyembunyikan gelitik perutnya. Bagaimana mungkin bocah SMP itu menyukainya sebagai lelaki dan pria? Dan lebih aneh lagi, bagaimana mungkin bocah itu menjadi istri yang paling ia cinta sekarang?


"Mas Riswan juga suka aku, kan?" tanya Binar tak mau malu sendirian, "Aku tahu kalau mabuk dan datang ke rumah malam itu bukan tanpa alasan."


Kini giliran Binar yang memenjarakan mata Riswan. Pertanyaan sama yang belum terselesaikan itu meminta haknya. Sekarang Riswan menenggelamkan kecup lebih panjang pada punggung tangan Binar. Ada pengakuan yang jelas terlukis di sana.


"Kamu menggodaku, Binar. Secara sadar atau tidak."


"Aku hanya pakai baju nyaman di rumah," elak Binar yang sebetulnya ia akui kebenarannya.


Ia tahu betul jika Riswan pemain wanita. Binar selalu sengaja memilih pakaian tipis atau ketat tiap kali kehadiran Riswan diumumkan oleh Ned dan Tria. Naluri manusia mereka sama-sama kuat, dan oleh karenanya... sekalipun waktu diulang, malam itu tak akan terhindarkan.


Riswan menjulurkan leher agar lebih mudah *******. Ia tak pernah tahu jika putri kecil sahabatnya ini begitu candu menggairahkan. Lengan Binar sudah terkalung pada tengkuk guna memperdalam kecupan. Mereka tak pernah bosan melakukannya.


Baru saja tangan Riswan menyusup pada baju rumah sakit yang kancinya sukses terlepas. Ia menangkup gundukan dada ketika sebuah suara ikut campur dalam ritual sakral mereka.


"Payudara itu mau kulatih untuk menysui si kembar, tolong jangan diapa-apakan dulu sementara," Intan bertolak pinggang menyaksikan mereka berdua.


"Bukan cuma Riswan sepertinya. Binar, tolong jangan main-main dulu sementara. Sampai jahitannya mengering, aku harap kalian komitmen untuk saling menghormati kesembuhan."


"Siap, Dokter."


"Mungkin dua tiga hari kau bisa pulang. Kabari aku kalau sudah buang angin ya... dan ingat. Tunda dulu adegan panasnya!"


Mereka sama sama tergerlak.


"Aku bicara sebagai dokter, Binar, Riswan."


"Iya, Intan," Riswan meyakinkan. "Dan apa aku boleh minta waktu privasi 15 menit sebelum kau melatihnya?"


Intan memutar bola mata. Wanita itu langsung beranjak. Meninggalkan pasangan kasmaran yang entah sejak kapan lebih mirip seperti perangko dengan amplopnya. Tak heran kalau Ned dan Tria sudah mencapai taraf pasrah. Mereka hanya khawatir Binar hamil lagi tak jauh dari kelahiran si kembar.


"Jangan lupa konsulutasikan alat kontrasepsi juga!" teriak Intan sebelum resmi menghilang.

__ADS_1


Lagi-lagi Riswan dan Binar tergerlak. Pria itu naik ke atas ranjang rumah sakit yang untungnya tidak ringkih dan modah koyak. Ia tak punya pilihan lain kecuali ikut berbaring di samping Binar. Merengkuh perempuan itu sambil menenggelamkan diri di ceruk lehernya.


Binar merasakan embus napas Riswan yang susah payah menahan nafsunya. Akan tetapi disaat yang sama ia menikmati irama itu menelusup masuk ke indra pendengaran.


"Setelah si kembar sudah agak besar," kata Riswan, "Aku harap kamu bisa kembali belajar dan mengejar keterlambatan sekolah, Sayang."


Sopan betul Riswan menyampaikan maksud agar tak terdengar mengatur apalagi memaksa. Binar khusyuk mendengarkan. Ia memandang langit-langit kamar lebih lekat.


"Terserah mau ambil bidang apa, menekuni minat yang mana, asal masa mudamu berjalan sebagaimana mestinya. Aku sudah cukup senang," sambung pria itu dengan amat lembutnya.


Cara bicara yang bahkan lebih halus dari milik Ned sang ayah. Riswan memperlakukan Binar dengan amat sangat sopan terlepas dari jarak umur mereka. Binar mengecup puncak kepala Riswan sebagaimana yang biasa pria itu lakukan. Air matanya merebak tiba-tiba.


"Mungkin kalau mau belajar sedikit lebih keras aku bisa jadi dokter Intan," sahut Binar renyah. Ia menekan suara agar tangis bahagia itu tidak didengar Riswan.


"Oh ya?" namun pria yang sudah menyadari perubahan gelagat Binar itu mengangkat kepala. Ia mengusap air mata yang jatuh dengan ibu jarinya, "Aku dukung seribu persen keputusanmu mencapai mimpi dan cita-cita."


Tetapi bukannya mereda, butir-butir itu semakin deras. Masih dengan tingkat kesabaran yang sama, Riswan setia menepisnya. "Kenapa?" tanya Riswan ingin tahu mengapa air mata itu tak disertai kepedihan.


"Mas Riswan tahu kan kalau aku nggak pernah menyesali pernikahan kita?"


Ia mengangguk diikuti matanya yang menutup sekilas.


"Mas Riswan juga tahu kan kalau omonganku yang kasar itu nggak sungguhan?"


Dihiasi senyuman, anggukan serupa Riswan kembali disuguhkan.


"Mas Riswan tahu kan kalau aku juga cinta sama mas?"


Pertanyaan itu berhasil membekukan Riswan. Ini adalah pernyataan cinta pertama yang Binar lakukan secara gamblang. Perempuan itu menangkup pipi Riswan, lantas mendaratkan kecup pada keningnya berdetik-detik kemudian.


"Nggak bermaksud berlebihan, tapi sepertinya aku sudah jatuh cinta sejak mas Riswan datang melamarku ke rumah. Terima kasih, Mas, aku sangat bahagia bisa memiliki Mas Riswan."


Hati Riswan terenyak. Pria itu juga baru sadar bahwa ucapan terima kasih bisa terdengar begitu menyenangkan. Ia memeluk Binar, menenggelamkan perempuan itu dalam dada bidang.


Pernikahan mereka mungkin masih terlalu dini untuk dintarakan selamat. Mereka bisa saja menghadapi masalah yang jauh lebih besar suatu saat. Akan tetapi Riswan ingin mengucapkan selamat pada dirinya.

__ADS_1


Selamat, selamat, kau berhasil menjaga pernikahan ini sesuai janji di hadapan Tuhan.


__ADS_2