Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
08. Kehidupan Baru Dimulai


__ADS_3

"Kenapa tiba-tiba berendam?!"


Riswan mondar-mandir meluapkan kekesalannya, sementara Binar sudah duduk menunduk di tepi kasur dengan pakaian lengkap. Tentu kejadian itu menimbulkan kericuhan seisi rumah. Riswan panik bukan kepalang.


"Kamu bisa pakai remote buat tutup otomatis toiletnya! Kenapa malah kunci kamar, Binar?! Kalau kejadian seperti tadi pagi, gimana?!" amuknya mengacak rambut sembarangan.


"Kamu juga sama sekali nggak makan. Maksudku, minimal kamu bisa chat aku kalau memang nggak paham sama cara kerja toiletnya!"


"Maaf," sahut Binar samar.


"Apanya yang maaf?! Nggak ada salahnya lho berendam, aku paham kalau kamu capek seharian, tapi kan..."


"Iya, maaf. Aku paham salahku dimana, nggak akan diulangi juga," tandas Binar mulai berani mendongak.


Tatapan kesal bercampur malu tampak jelas terukir pada manik mata Binar.


Ya, tentu Binar kesal dengan omelan Riswan yang tiada hentinya. Lagipula, itu juga bukan kesalahan besar. Binar tidak tahu bagaimana lagi harus menanggung rasa malunya.


Riswan yang membaca gelagat itu pun mendengus panjang. Ia terpaksa mengalihkan pandang sambil mengusap wajah kasar.


"Kalau begitu istirahatlah, biar aku yang tidur di sofa," tukasnya seraya berjalan meninggalkan Binar.


Meski tertegun sejenak, Binar membiarkannya. Ia tak berani mengambil resiko kalau-kalau terjadi sesuatu di antara mereka.


Riswan mematikan lampu kamar, pria itu langsung meringkuk sambil memeluk bantalan kursi di sana.


***


Pagi telah menjelma. Riswan sudah siap dengan pakaian kerjanya, begitu juga dengan Greg Darmawangsa. Mereka menyantap hidangan yang baru disajikan. Menu yang jauh berbeda dengan semalam.


Binar yang baru turun langsung bergabung di sana. Namun memandang menu-menu itu ia justru mual. Selera makannya menghilang.


"Aku mampir beli roti saja sekalian berangkat," cetusnya mengambil kesimpulan.


Greg dan Riswan langsung melingak.


"Apa Ned dan Tria tak pernah mengajari cara menghargai makanan?"cibir Greg dengan nada sinisnya.

__ADS_1


"Kenapa? Mual lagi ya?" timpal Riswan yang langsung dijawab oleh anggukan.


"Apa perlu aku ijinkan ke pihak sekolah?" tanya Riswan lagi memastikan.


Akan lebih buruk jika Binar mengalami baby blues di sekolah. Selain mengkhawatirkan, itu juga membahayakan bagi Binar. Bagaimana kalau dia berdiam diri di toilet seperti sebelumnya?


Mendadak Riswan menjadi over protektif pada Binar. Mungkinkah karena kehamilannya? Atau karena ia masih terbiasa menganggap Binar sebagai keponakan dari Ned dan Tria?


Entahlah. Apapun maknanya, Riswan tak ingin Binar mengalami suatu bahaya.


"Jangan terlalu memanjakannya! Bagaimanapun juga dia tetap pelajar!" sergah Greg tak mau kalah.


Tak berselera debat, Binar mencomot telur gulung dan langsung menelannya. Paling tidak, begitulah cara terbaik yang bisa dilakukan Binar untuk menghargai makanan. Ia kemudian berlalu pergi tanpa sepatah kata.


Tinggal bersama lansia dan satu pria dewasa benar-benar membuat Binar muak. Suasana hatinya pagi ini amat berantakan. Kehidupan yang baru dimulai ini sudah sangat membuatnya lelah.


***


Binar menyusuri lorong-lorong sekolah yang masih sepi senyap. Ia tak melakukan apapun lagi sambil menunggu bel masuk bersuara.


Kehidupan sekolah Binar, sebelumnya terasa menyenangkan. Dia anak yang ceria, berptestasi, aktif berorganisasi, dan berpikiran terbuka. Binar senang menjalin pertemanan, berdiskusi adalah hobi terpendamnya.


Tak jarang, mereka memperhatikan perut Binar. Seperti orang yang tak pernah menyaksikan kehamilan, mereka kemudian mendiskusikan bentuk tubuhnya.


Ada yang mengatakan makin padat, berisi, bahkan mempertanyakan usia kandungan lewat perutnya yang mulai terlihat. Semua itu diucapkan dengan lantang. Hingga Binar mampu mendengarnya dengan jelas.


Kalau boleh mengaku, alih-alih malu, Binar lebih merasa tidak nyaman. Kehamilannya memang tidak bisa dibenarkan secara adat, budaya, dan agama. Tetapi bukankah ia juga memiliki hak untuk tetap menempuh pendidikan dengan tenang?


"Binar, dipanggil ke ruang kepala sekolah," ujar sang ketua kelas singkat.


Lelaki yang biasanya akrab dengan Binar itu bahkan tak menatap mata. Ia hanya sambil lalu menyampaikan sepenggal titah. Binar pun segera beranjak, memenuhi masalah yang harus ia hadapi selanjutnya.


Yakni pihak sekolah.


Satu ketukan, dua ketukan, dan seseorang dari balik pintu mengijikan kehadirannya. Di dalam ruangan itu sudah terdapat enam guru termasuk kepala sekolah. Mereka adalah wali kelas Binar, wakil kepala kesiswaan, kurikulum, humas dan perwakilan komite sekolah.


Binar terpaksa menelan tatapan sinis yang persis sama. Ia memasuki ruangan diiringi cibiran yang lolos dari komite sekolah.

__ADS_1


"Anak jaman sekarang, ya, pergaulannya bebas. Harus pinter-pinter mendidik anak."


Susah payah Binar menelan saliva. Dia meyakinkan diri agar tetap tenang. Kepala sekolah menyuruhnya duduk di kursi kosong yang berada di bagian pusat.


Sisi kiri dan kanan Binar kini telah didominasi oleh mata-mata penghakiman. Binar diadili tanpa wali yang mewakilinya. Tapi apalagi yang Binar takutkan? Toh, orang tuanya bahkan mengusir Binar dari rumah.


"Langsung saja, Binar. Kami tidak bisa mencemarkan nama baik sekolah hanya karena mengijinkan siswi hamil menempuh pendidikan," papar kepala sekolah.


"Tentu keputusan ini bukan dibuat dengan cara gegabah. Kami mendiskusikannya dari berbagai sudut pandang, dan begitulah akhirnya kami terpaksa mengeluarkanmu dari sekolah."


Binar tahu betul kalau mustahil menghindarinya. Fakta bahwa perempuan hamil tidak bisa menyembunyikan perutnya memang sulit dimunafikkan. Lelaki justru lebih mudah, menghamili berapa perempuan pun, mereka tetap bisa bersekolah.


Pikiran konyol itu membuat Binar meringis, "Apa ada aturan tertulis yang menyatakan bahwa perempuan dalam kondisi hamil tidak boleh bersekolah lagi?"


"Masalahnya bukan tidak boleh, Binar," tukas wakil kepala bagian humas. "Kehamilanmu melanggar hukum sosial-masyarakat. Apa jadinya jika sekolah mempertahankanmu sekarang?"


"Apa lelaki yang menghamili perempuan tidak melanggar hukum sosial-masyarakat? Tidak ada tuh yang dikeluarkan dari sekolah," protes Binar gagal mengendalikan dirinya.


"Kalau memang keputusan ini hasil mufakat, tidakkah seharusnya saya dan wali sah juga terlibat?" cecarnya.


"Duh, sudah salah masih ngeyel aja," celetuk komite sekolah itu ogah-ogahan, "Terus menurutmu apa pendapat anak-anak lain soal hamil di luar nikah yang diijinkan tetap sekolah? Yang ada nanti malah jadi percontohan!"


"Dengar, Binar. Kami sudah membicarakan hal ini baik-baik dengan orang tuamu juga," wali kelas Binar menenangkan.


Jadi maksudnya, mama dan papa Binar juga ikut terlibat? Mereka tahu kalau Binar akan dikeluarkan dari sekolah dan tak melakukan apa-apa? Binar terdiam.


"Lagipula, perempuan hamil diusiamu butuh banyak istirahat," imbuh wakil kepala bagian kesiswaan yang sejak tadi bungkam.


"Masih ada banyak jalan menuju Roma, Binar. Kalau kamu begitu ingin melanjutkan pendidikan, Ibu bisa bantu cari kursus atau home schooling sebagai alternatifnya," wakil kepala bidang kurikulum mempertegas.


Binar yang sempat tergoyah oleh pengakuan kepala sekolah pun mengedar pandang. Ia tidak peduli dengan pendapat Ned dan Tria. Binar ingin memperjuangkan haknya sebagai perempuan.


Ia tidak bersedia keluar dari sekolah.


"Saya tidak bisa menerimanya. Secara hukum dan agama, suami adalah wali sah saya sekarang. Dengan hormat, saya mengajukan banding terhadap kesepakatan yang kalian putuskan."


Binar bangkit dari duduknya, "Tolong buat surat pemanggilan resmi, saya bukan penjahat yang melakukan tidak kriminal di lingkungan sekolah ini. Terima kasih."

__ADS_1


Perkara nanti Riswan bersedia hadir atau tidak, setidaknya Binar tidak pasrah pada keadaan yang menimpanya. Mau sampai kapan ketidakadilan sosial seperti ini diterapkan?


Jikalau keputusan akhirnya tidak bisa berubah. Maka minimal, Binar bisa menegakkan hukum setara pada lelaki yang menghamili perempuan. Sebagai sesama pelaku pergaulan bebas, mengapa hukum sosial-masyarakatnya berbeda?


__ADS_2