Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
43. Ikatan Sebab Akibat


__ADS_3

"Aku gagal," begitu ujar Binar kala mereka semua berkumpul di ruang tengah. Dengan nada mantap yang seakan tak bisa lagi diganggu gugat, ia menatap Ned dan Tria bergantian. "Aku akan bercerai dengan paman Riswan," tandasnya.


Tidak ada yang menyuguhkan senyuman. Baik Ned yang sudah menghalalkan segala cara demi mendengar pernyataan barusan, maupun Tria. Sepasang suami istri itu hanya membalas tatapan Binar, menantikan kalimat selanjutnya.


"Beri aku waktu sebentar. Aku akan pergi dari rumah ini begitu rencanaku berjalan," imbuh Binar menjelaskan.


Pada dasarnya, Binar tak punya rencana. Ia bahkan belum menyusun tujuan. Bagaimana kelak ia akan tinggal bersama si kembar? Atau bagaimana cara menghidupi mereka hanya dengan penghasilan tamatan sekolah menengah pertama.


Meski demikian, Binar tak mau menjilat ludah yang sudah dibuang. Kesepakatannya dengan Ned tak bisa ditarik begitu saja. Suka tidak suka, seharusnya Binar menepatinya. Walau harus menanggung konsekuensi yang mustahil dihadapi sendirian.


"Mau kemana emang?" tanya Ned diikuti desah yang amat panjang. Pria itu membuang muka jauh dari Binar dan Tria, seraya mengacak rambut singkat. Tentu Ned paham betul jika Binar tidak memiliki kemampuan menghidupi dirinya, bocah delapan belas tahun yang tak berdaya. Mau kemana?


Binar hanya menelan saliva.


"Istirahatlah, Binar. Jangan memikirkan hal berat, kamu tahu sendiri kalau kandunganmu sensitif parah," sahut Tria dengan nada memelas.


Bagaimanapun juga, Tria amat mengkhawatirkan Binar. Tubuh yang masih sangat muda itu, terlalu rapuh untuk menghimpun calon dua manusia. Lagipula siapa yang tega menelantarkan mereka? Ned pasti cukup waras untuk tak melakukannya.


"Keputusan bercerai saja sudah cukup buat papa, jadi berhentilah memikirkan hal yang tidak berguna," tukas Ned tepat sebelum beranjak.


Pria itu ingin mencari udara segar. Merasakan sensasi dari keputusan Binar yang hendak bercerai dari Riswan. Sialnya, ia tak merasakan apa-apa. Usaha dan kerja keras untuk menghancurkan rumah tangga mereka tidak membawa kebahagiaan.


Sebetulnya, apa yang Ned inginkan?


Sementara Ned merenungi perasaannya. Berusaha keras menjalin percakapan mendalam dengan dirinya sendiri yang dilanda gamang. Tria dan Binar masih saling menatap. Kalau boleh sedikit ditarik kebelakang, adegan tersebut nyaris jarang dilakukan.


Tria lebih banyak menghabiskan hari-hari untuk mengurus bisnis serta mempercantik dirinya. Wanita itu selalu menganggap bahwa tugasnya sebagai ibu telah lebih ringan. Binar bisa mengurus diri sendiri dan tidak merepotkan. Tapi, perspektif bodoh itu rupanya menghancurkan keluarga mereka.

__ADS_1


Keluarga kecil Alvero raib sudah.


"Maafkan aku, Binar," celetuk Tria dengan bola mata yang hangat, bercampur dengan pedih dan ketulusan. Sepatah kalimat yang membuat Binar terkesiap berpuluh detik lamanya.


"Sebagai seorang ibu, seharusnya aku tidak berhak melimpahkan kesalahan padamu saja. Andai aku memperhatikanmu lebih banyak. Kalau saja aku tak memprioritaskan bisnis di atas segalanya, mungkin keluarga kita masih harmonis seperti sedia kala," papar Tria menjeleskan.


Tatapannya tampak lebih memilukan. Perasaan nanar bertumpak pada iris cokelat miliknya. Binar terenyak.


"Ini keputusanku, Ma," tukas Binar menggeleng tegas, "Tidak ada sangkut pautnya dengan mama."


Seberkas air menggenang di pelupuk matanya, Tria meraih tangan Binar ke pangkuan seraya menarik sudut bibir sekuat tenaga. "Hidup ini adalah rangkaian sebab-akibat, Binar. Keputusan yang kamu ambil merupakan akibat dari sebab yang gagal kami berikan."


"A-a-aku hanya..."


"Penasaran?"


Tria membelai lembut punggung tangan Binar, "Mungkin kamu juga merasakan kasih sayang, kehangatan, juga perhatian tulus dari Riswan," sambungnya, "Aku paham, Binar. Kami memperkenalkanmu pada Riswan sejak balita."


"Terlepas dari apapun itu, aku tidak mau kamu juga menjadi ibu yang menyesal," Tria masih setia bermonolog ria. Momen yang nyaris nihil ia lakukan kepada Binar. Barangkali ini adalah waktu yang tepat untuk saling mencurahkan isi hati dan perasaan.


"Tolong pikirkan ulang dari sebab-akibat yang akan kamu timbulkan jika bercerai dengan Riswan."


Di tengah butir-butir air yang bercucuran membasahi pipinya, bibir Binar yang bergetar menyuarakan gumam samar, "Paman masih mencintai mantan pacarnya, Ma, buat apa?"


"Pernikahan bukan cuma perkara cinta, Binar. Cinta saja tidak cukup kuat untuk menopang pondasi pernikahan. Sepasang suami-istri dituntut untuk punya segudang alasan supaya tetap bertahan dalam berbagai keadaaan. Cinta cuma bonusnya, dan kalau cuma itu alasanmu bercerai dari Riswan, buat apa juga?"


Binar makin terisak-isak. Pertahanan diri Tria yang gagal pun menuntun wanita itu untuk merengkuh putrinya. Mereka menenangkan diri dalam pelukan. Upaya penyaluran energi yang juga tak pernah Tria lakukan.

__ADS_1


"Pikirkan baik-baik, Binar, bagaimanapun ini adalah pernikahan kalian," bisik Tria.


***


Riswan menarik gagang pintu utama, lantas terdiam. Ekor matanya lekat menatap tamu yang tidak diundang. Sosok yang berdiri di ambang pintu itu canggung dibuatnya.


"Binar tidak ada," ketus Riswan, "Kami juga telah menghentikan semua pembelajaran kursusnya, kau tidak dapat emailnya?"


Tentu saja, Sean terperangah. Tiada kabar perempuan itu tiba-tiba menghilang. Kemana? Tak satupun pesan Sean mendapat jawaban. Telpon masuk juga purna diabaikan. Ada apa gerangan? Mengapa Sean mendapat diperlakukan demikian?


"Apa yang terjadi dengan Binar?" selidik Sean angkuh, ia mengabaikan status usia mereka yang terpaut amat jauh.


"Dengar, secara teknis aku boleh jadi seusia dengan orang tuamu, Nak, dan bukankah tidak sopan jika menanyakan istri bos yang memperkerjakanmu?" protes Riswan tidak sabaran. Pria itu melipat kedua tangan di dada, menunjukkan kekuasan dirinya.


"Selagi kita bicara, Sean, sebetulnya apa yang kau rencanakan? Terlepas dari siapapun yang memerintahmu datang ke tempat ini, kau pasti punya alasan tersendiri, kan?" cecar pria itu sembari menyipitkan mata.


Sejenak, hanya beberapa detik saja Sean diam. "Apa bos berhak menanyakan hal itu pada pekerjanya?" sahut Sean tak mau kalah berdebat.


Tentu saja, Riswan langsung tergerlak. Pria itu sudah cukup kacau untuk bisa dinilai waras. Hal-hal diluar rencana terus berdatangan mengusik dirinya.


"Baiklah kalau kau menolak memberi jawaban, bukan masalah. Tapi yang perlu kau garis bawahi adalah jangan berusaha menyentuh Binar, apalagi sampai mencuri ciuman. Aku tak akan tingal diam, Sean, kau tahu betul kekuasaan Wangsa Group terhadap keluarga yang kau punya."


Memang tidak seharusnya Riswan bersikap demikian di hadapan remaja. Ancaman norak yang mengandalkan harta kekayaan bukanlah tipenya. Tapi Riswan amat penasaran, kemana kiranya Sean mengadukan gertaknya untuk meminta perlindungan?


Benarkah Ned Alvero sahabatnya?


Atau? Entahlah, Riswan bahkan tidak berani menerka.

__ADS_1


"Bukan masalah juga kalau kau tak mau membicarakan keberadaan Binar. Aku pasti bisa menemukannya."


Sean langsung beranjak dari kediaman Darmawangsa. Kala itu juga Riswan menekan tombol panggilan kepada Adrian. Dengan nada dingin nan bengis ia melayangkan perintah, "Orang suruhanmu, suruh dia mengikuti Sean. Sudah saatnya tabiat buruk itu terbongkar."


__ADS_2