
"Mohon maklum, dia mengirimku karena tak bisa meninggalkan pelantikannya di Wangsa Group."
Pria itu berusaha mencuri ekspresi Binar lewat kaca spion atas. Kemudi yang pelan memudahkannya untuk bolak-balik melirik Binar. Meski perempuan itu sama sekali tidak berkomentar.
Ia malah membuang pandangan. Hanyut pada pepohonan yang selintas saja terjangkau mata. Perasaan Binar masih bercampur amarah, dia memutuskan untuk pulang pasca meluapkan emosi di ruang kepala sekolah. Binar terlalu kesal, hingga tak selera melanjutkan pelajaran.
"Aku Adrian. Kita pernah bertemu walau tak sempat berkenalan," sambung pria itu masih mencoba mencairkan suasana.
Tentu Binar pernah melihatnya. Pria yang lima tahun lebih muda dari Riswan itu sering muncul di beberapa pertemuan. Memang tidak memperkenalkan secara formal, tapi Riswan memang senang membanggakan Adrian pada tiap perbincangan.
"Mulai sekarang, aku yang ditugaskan untuk bertanggung jawab atas kebutuhanmu, Binar. Riswan terlalu sibuk untuk bisa mengurusnya. Lagipula aku juga lebih pengalaman."
Binar menelan saliva, sementara Adrian meringis hambar. Adrian pribadi juga tidak tahu penyebab Binar pulang sekolah lebih awal. Ia tidak sempat bicara dengan pihak sekolah karena Binar buru-buru mengajaknya pulang.
Tapi raut wajah perempuan itu amatlah jelas. Masalah yang lebih besar agaknya kembali menerkam Binar.
"Aku sudah menikah, dan putriku baru umur delapan bulan. Kalau ingin tanya-tanya soal kehamilan, boleh banget datang ke rumah."
Adrian mencoba untuk menyetarakan cara bicaranya dengan remaja. Pria itu tak akan tanya mengapa, apalagi meminta Binar untuk menjelaskan secara rinci kejadian yang dialaminya. Bagi Adrian, yang terpenting adalah perasaan Binar, ibu hamil tak boleh banyak pikiran.
"Awalnya memang berat, tapi aku percaya kalau hanya orang spesial yang ditunjuk untuk bisa merasakannya. Kehamilan bukan hal yang dialami sembarang orang, Binar, percayalah."
Penghiburan yang Adrian katakan itu menyebabkan pelupuk mata Binar basah. Genangan air yang semula hanya tercekat di tenggorokan, berdesakan untuk menetas. Sekali lagi Binar menelan saliva susah payah, kemudian mengambil udara lebih banyak.
Baru kali ini ada seseorang yang menguatkan hatinya. Terdengar indah dan penuh ketulusan. Kalimat itu berhasil menghangatkan batin Binar yang gelisah.
"Sekolah mengeluarkan saya, tapi saya tolak," ujar Binar pada akhirnya.
Sebagian dugaan Adrian benar, namun pria itu tak menyangka kalau Binar menentang.
__ADS_1
"Lalu apa rencanamu, Binar?" tanya Adrian masih dengan nada yang tenang.
"Riswan. Saya mau dia datang sebagai pembela sekaligus wali sah yang menyatakan kalau saya tidak bersalah. Papa dan mama tak berhak menyepakati kebijakan pihak sekolah, Pak Adrian. Bagaimanapun saya tak bisa hanya duduk diam dan terima begitu saja."
Masih lewat spion atas, Binar membalas tatapan Adrian. Binar tahu betul betapa gila ide yang dipaparkan olehnya. Tapi ia butuh Riswan, alasan tunggal yang bisa membuat Binar bisa mempertahankan sedikit harga dirinya di hadapan pihak sekolah.
Adrian pun tersenyum singkat. Pria itu memandang lurus ke jalan raya. Ia menarik napas perlahan-lahan, lalu mengembuskannya dengan tempo serupa.
"Sebagai tangan kanan, aku cuma bisa mendukungmu, Binar. Aku ada di pihakmu sekarang."
Walau kecil kemungkinan, Adrian enggan menanam keputusasaan. Ia bisa melihat kilat semangat yang membara dari mata Binar. Sebagai orang yang jauh lebih dewasa, Adrian ingin menghormati keputusannya.
Tak ada lagi percakapan di antara mereka. Binar yang terlalu gembira dengan dukungan Adrian pun hanyut dalam pikiran. Dia harus memikirkan strategi jitu untuk meluluhkan Riswan.
Pria itu wajib bersedia.
***
Binar berinisiatif membuat secangkir kopi hitam. Dengan mengumpulkan keberanian, ia mengetuk ruang kerja Riswan. Pria itu menurunkan kacamata begitu mendapati Binar telah melengang langkah.
Pria itu tak lantas meletakkan tablet pintarnya. Ekor mata Riswan bahkan tidak melirik Binar lagi barang sekejap. Wali sah yang begitu ia harapkan, telah mengabaikannya.
"Aku buatkan kopi, barangkali ada rencana begadang lebih lama," celetuk Binar membuka kata.
Jangankan jawaban, pria itu masih tenggelam dalam pekerjaan. Garis-garis wajahnya tampak tegas. Disertai kerut kening yang tak beranjak sejak Binar berdiri di sana.
Pria yang telah menjadi suaminya itu tampak jauh berbeda jika sudah bergelut dengan pekerjaan. Binar akui jika Riswan punya banyak pesona. Aura yang selalu berubah sesuai dengan aktifitas tubuhnya.
"Ada apa?" dengus Riswan. Tentu tanpa memandang, seolah tengah berbincang dengan tablet pintar.
__ADS_1
"Aku menolak dikeluarkan dari sekolah. Tolong bantu aku datang ke sekolah sebagai wali sah," jelas Binar lugas. Ia segan dianggap mencuri waktu Riswan.
Lagipula, secara teknis lebih sulit bicara dengan pria itu dibanding Ned dan Tria. Emosi Riswan sulit dibaca, belum lagi perbedaan usia yang signifikan membuat Binar kesulitan mengolah kata.
"Untuk apa Riswan melakukannya?"
Suara serak dari daun pintu ikut menjawab. Binar tak menyadari sejak kapan pria tua itu ada di sana, Greg Darmawangsa. Hal yang membuat Riswan memutar bola mata malas dan terpaksa meletakkan tablet di nakas.
"Dia baru saja resmi dilantik sebagai pemimpin eksekutif Wangsa Group, bagaimana bisa ke sekolahmu sembarangan? Apa kau tidak memikirkan citranya?" cecar Greg sudah masuk di tengah ruangan.
"Sekolahku bukan tempat sembarangan, Kakek," sangkal Binar, "Toh, memang paman Riswan suamiku sekarang, satu-satunya wali sah yang bisa bertanggung jawab."
"Aku tidak peduli. Keluar dari sekolah juga bagian dari konsekuensi yang harus kau lunasi!"
Binar meringis, "Konsekuensi?" cibirnya sinis, "Bukankah kehilangan citra diri juga konsekuensi yang pantas ditanggung Riswan setelah menghamili?!"
"Cukup, Binar!" tandas Riswan mengambil alih. Pria itu melempar kacamata sembarangan, lantas menatap lekat ke arah Binar.
"Lupakan soal sekolah. Aku akan mencarikanmu guru kompeten untuk tiap bidang pelajaran," papar Riswan tegas. Dengan mata kantuk yang teramat lelah, ia masih bisa menunjukkan kemarahan.
"Bukan karena aku enggan menanggung konsekuensi, tapi kuharap kau paham soal prioritasku terhadap bisnis. Jadi keluarlah dan jangan pernah bicara lagi denganku masalah ini."
Sulit dipungkiri bahwa Binar terpukul dengan keputusan yang Riswan adili. Ia tak gencar mengunci manik mata Riswan yang setajam bilah. Meski di sudut matanya, ia telah mendapati Greg yang tersenyum puas.
"Keluar, Binar. Ada yang perlu aku dan Greg bicarakan," ketus Riswan.
Air muka dingin yang begis dan kejam. Binar tak pernah melihat raut itu sebelumnya.
Dengan segenap ketidakberdayaan yang membelenggu dada, Binar meninggalkan ruangan. Ia menggigit bibir bawah kuat-kuat. Berharap bisa menahan tangis yang kembali menyapa.
__ADS_1
Harapan yang Adrian berikan musnah sudah. Sepertinya Binar terpakasa menyerah pada keadaan. Entah apa yang akan terjadi esok hari di sekolah. Binar pasrah.
Perempuan itu mengunci pintu kamar dan meringkuk dalam tangisan. Hatinya hancur berantakan. Sampai kapan ia bertanggung jawab melunasi konsekuensi yang ada?