
"Aku tahu kau mungkin masih mencintai Rhea, dan yah... tak seharusnya kesempatan ini berlalu begitu saja. Aku juga paham kau telah menantikan momen ini sekian lama. Tapi..."
"Aku tak berniat meninggalkan Binar, Tria, demi Tuhan," tukas Riswan meyakinkan, sebelum keraguan menyiasati relung Tria lebih banyak.
Riswan telah tamat membaca bahasa tubuh Tria, dan ia yakin jika ada sesuatu yang tidak beres dengannya. Dan apapun masalah yang menimpa, Riswan lebih dari sekadar yakin jika dirinyalah biang masalah. Ya, rumah tangga sahabat karibnya itu telah hancur total.
Satu-satunya yang bisa Riswan berikan adalah pernyataan tegas. Sebuah kepastian yang menenangkan, serta menumbuhkan rasa percaya pada masing-masing pihak.
Tria tersenyum hangat, "Terdengar tulus, Riswan."
"Aku menjunjung tinggi kesucian pernikahanku, Tria, terlepas dari kau percaya atau tidak."
Wanita itu mengangguk-anggukkan kepala. Ia tampak menarik napas susah payah, lantas mengembuskannya kasar tanpa pertimbangan. Riswan juga sadar, sejak beberapa detik silam Tria bersikeras menahan air mata. Tria hanya mengatupkan bibir rapat-rapat.
"Sekalipun tindakanku tak layak dibernarkan, tapi menikahi Binar adalah keputusan yang telah aku pertimbangkan matang-matang," sambung Riswan.
Sekali lagi Tria menghirup udara, mencuri semua oksigen yang mengitari mereka. Wanita itu mencoba menarik sudut bibirnya lebih lebar. Tak hengkang seincipun dari iris mata Riswan.
"Aku percaya padamu, Riswan. Aku ada di pihakmu sekarang."
***
Pertemuan dengan Tria sedikit banyak telah menambah tingkat kepercayaan diri Riswan. Setidaknya, dalam konteks ini, Tria tak menekan Riswan untuk menceraikan Binar. Meski demikian, Riswan tetap perlu mencari jalan keluar. Sebuah pembuktian nyata yang menegaskan bahwa foto romantisnya dengan Rhea hanyalah sandiwara.
"Sudah coba hubungi Rhea?" tanya Riswan pada Adrian yang sibuk memandangi ponsel pintar.
Pria itu sudah mual memikirkan Wangsa Group seharian, dan tugas tambahan dari Riswan sukses menambah penat. Adrian tampak memijat singkat pelipisnya, sebelum menyuarakan dengus berat. Pria itu hanya melemparkan pandangan tanpa berkomentar.
__ADS_1
"Apa maksudnya?" sahut Riswan acuh tak acuh seraya mengambil posisi di meja kerja, "Aku bukan peramal atau ahli bahasa tubuh yang bisa menerjemakan tatapan itu, Adrian. Jadi bagaimana perkembangannya? Sudah ada gambaran belum siapa yang menyebar berita bohong menyangkut aku dan Rhea?"
"Serius mau kau bawa ke ranah hukum?" sahut Adrian gamang. Nada bicaranya ragu-ragu terdengar.
Menyadari hal tersebut Riswan menghentikan aktifitas, mencurahkan seluruh perhatian pada Adrian. Dengan segenap rasa curiga, Riswan menyipitkan mata, "Siapa memang?" desaknya.
Gelagat itu jelas mengisyaratkan bahwa Adrian telah menemukan pelaku utama. Tapi siapa? Mengapa pertanyaan aneh itu terlontar dari seorang Adrian?
"Ned."
Satu jawaban singkat tanpa drama atau basa-basi ria.
Tentu, Riswan menyangkal. Pria yang sempat membeku beberapa detik itu langsung menggerlakkan seberkas tawa. Ia membuat seluruh ruangan takluk dalam bahak, tepat sebelum melempar pandangan lagi pada Adrian.
"Mustahil. Aku baru bertemu Tria dan ia tak menyinggung apapun soal fotoku dan Rhea," elaknya.
"Itu fakta, Riswan. Coba kau pikirkan saja alasan Tria mau menemuimu tiba-tiba. Kenapa dia mendadak mau merestuimu dengan mudah? Apa kau sama sekali tak merasakan kejanggalan?"
Masuk akal. Riswan yang menemukan benang merah antara ucapan Tria dengan fakta itu kembali terdiam. Sangat mungkin terjadi, kan? Lantas, mengapa Tria mengubah haluan berpihak pada dirinya? Atau jangan-jangan, semua usaha itu adalah bagian manipulasi yang sudah direncanakan?
"Bukan cuma itu, Sean yang kau perkerjakan demi Binar juga hasil campur tangan Ned untuk merusak rumah tangga kalian. Aku tidak yakin Tria terlibat, tapi aku percaya kalau dia tahu betul ulah suaminya," papar Adrian memperjelas.
Riswan menautkan jari-jemarinya. Ia menyandarkan siku pada meja, membuang tatapan kosong yang berkelana entah kemana. Kepercayaan diri yang baru didapatnya itu raib seketika. Berubah menjadi kumpulan dilema yang sulit dicerna.
Apakah Tria bisa dipercaya? Pertanyaan itu juga terlintas di benaknya. Seberapa tingkat prosentase Tria ada di pihaknya? Dan lagi, mungkinkah Tria juga memendam rencana? Sekumpulan ide yang ingin wanita itu wujudkan di luar kendali Ned Alvero serta keluarga Darmawangsa.
Dengus yang tidak kalah panjang itu kembali terdengar, Riswan menyandarkan badan pada punggung kursi sejenak.
__ADS_1
"Apa Rhea sama sekali tidak terlibat?" asumsi itu ia layangkan pada Adrian, "Apa kau tak menemukan hubungan antara Rhea dan Tria?"
"Hanya satu kali pertemuan. Sejauh ini Rhea juga tak melakukan pergerakan," jelas Adrian lugas, "Dan mungkin ada baiknya kau bicara baik-baik dengan Rhea. Sesuatu yang perlu kau selesaikan anadaikata detik ini belum menikah."
"Untuk menambah kesalahpahaman Binar? Tidak, terima kasih atas sarannya."
"Terlepas dari kau masih mencintainya atau tidak. Dia pernah mengalami masa sulit untuk mencintaimu sendirian. Aku tahu kau juga hidup dalam kesengsaraan setelah mengetahui ulah kakek Greg terhadapnya, tapi tidakkah akan menjadi lebih buruk jika semua itu terpendam seolah tak pernah ada?"
Adrian menggantungkan kalimatnya sejenak. Membaca raut Riswan yang serius mempertimbangkan ucapannya. "Kita tak pernah tahu sedalam apa hati manusia, Riswan. Dendam, benci, murka, semua terlalu abstrak untuk disiasati sekilas. Rhea punya alasan melakukannya."
"Dan karena mustahil mengendalikan dia, setidaknya kita punya kemampuan mengendalikan hal-hal yang ingin hati kita selesaikan. Bicaralah dengan Rhea, Riswan, seakan-akan kau adalah bujangan yang sangat mencintainya."
"Terus sisanya?" celetuk Riswan usai bungkam sekian lama, "Prioritasku saat ini adalah Binar dan pernikahanku, Adrian. Kekacauan ini tak akan selesai hanya dengan aku berbincang dengan Rhea!"
"Rhea akan terus menghantuimu, Riswan!" bantah Adrian gigih mempertahankan pendapat, "Kalau bukan dalam bentuk cinta, maka serupa kecurigaan yang tak akan pernah padam di relung Binar. Seperti yang sudah-sudah, perempuan itu akan dibayangi masa lalumu sepihak. Lalu mengembangkannya di kepala, seakan dia adalah penghambat cinta kalian berdua!"
"Siapa yang mau mempertahankan pernikahan begitu, Riswan? Yang benar saja!" tukas Adrian mengakhiri cecar panjangnya.
Bangkit dari duduknya, Adrian melimpahkan tatap pada Riswan yang diselimuti kekacauan. Beban pikiran pria itu jelas bertambah berkali-kali lipat. Bagaimana mungkin Riswan berani menyelesaikan masalah itu dengan lantang? Terlalu banyak luka yang Riswan toreh pada Rhea.
Masa silam kelam. Ingatan yang bahkan ingin dihapuskan dari jaringan sel-sel dalam kepala. Riswan kembali hanyut dalam keheningan, dengan ekor mata yang tak seincipun beranjak dari Adrian.
"Aku akan mencari tahu lebih banyak soal Ned dan Tria, juga Sean, atau Greg kalau memang diperlukan. Tapi tolong pikirkan asumsiku matang-matang. Semua ini tak akan pernah selesai jika kau gagal menyudahi sesuatu dalam dirimu seutuhnya."
Kalimat itu mengakhiri perdebatan sengit mereka. Memenjarakan Riswan dalam luka masa silam yang sengaja ia kubur dalam-dalam. Pria itu merenung panjang, menghadirkan pertanyaan baru yang lebih sulit dijawab.
Rhea, dapatkah Riswan menyelesaikan masa kelam dengan wanita itu dengan jujur dan terbuka? Memangnya apa yang hati Riswan inginkan? Kalau bukan cinta, kenapa ia melarikan diri dan bersikap tak pernah terjadi apa-apa?
__ADS_1