Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
06. Hari Pernikahan


__ADS_3

Kemarin, usai mengantar Greg, Adrian langsung diperintahkan untuk menuju lokasi pernikahan. Memeriksa dan memastikan lagi apa yang dimaksud Ned dengan 'mempersiapkan pesta pernikahan'.


Ternyata Ned menyiapkan secara maksimal. Bahkan sangat sempurna jika disebut sebagai upacara pernikahan dadakan.


Hari ini Riswan sudah mengenakan tuxedo putihnya. Ia duduk di ruang tengah sambil memainkan ponsel pintar. Berita pernikahannya sudah tersebar, Riswan membaca satu per satu ucapan selamat dari berbagai pihak.


Akan tetapi ekor matanya terusik ketika menyadari Binar yang tak kunjung keluar. Perempuan itu sudah di dalam kamar mandi lebih dari satu jam. Tanpa ada gemricik air yang terdengar.


Ia pun mendekat. Satu ketukan, dua ketukan, kemudian suara muntah terdengar dari dalam. Tanpa berpikir panjang Riswan menarik gagang pintu dan bersyukur Binar tidak menguncinya.


Telah mengenakan gaun pernikahan, Binar terduduk di lantai menghadap kloset tak berdaya. Kedua tangannya memegangi pinggiran kloset untuk menyangga badan. Sementara matanya memandangi Riswan yang berjalan mendekat.


"Maaf, tapi aku tidak bisa menahannya," kata Binar putus asa.


Pelupuk mata bengkaknya sudah banjir air bening. Riswan baru mengacak rambutnya kala Binar muntah lagi. Perempuan itu tampak lemas tak berenergi. Ia berhasil mengeluarkan seluruh makanan yang disantap sejak kemarin.


"Aku ambilkan minyak kayu putih," Riswan nyaris beranjak kalau saja pergelangan tangannya tidak ditahan.


"Nggak bisa. Nanti tambah mual."


"Terus biasanya gimana?" ia jongkok menyetarakan pandangan dengan Binar.


Sayu mata Binar berusaha memberikan jawaban, ia menggeleng pelan, "Dibiarkan muntah gitu aja."


Riswan berdecak pelan. Ponsel pintarnya bergetar menunjukkan nama Adrian. Lelaki itu pasti menanyakan posisi mereka.


"Terus kamu mau aku bantu apa?"


Lagi-lagi Binar menggelengkan kepala. "Nggak ada. Nanti juga hilang."


"Nantinya kapan? Ini sudah terlambat lho, Binar," keluh Riswan tak menemukan solusi di kepala.


Seumur hidup, Riswan tidak pernah melihat perempuan hamil. Ibunya sudah lama meninggal, dan ia tak memiliki sanak saudara yang datang dalam keadaan mengandung. Jadi apa yang harus Riswan lakukan?


Binar kembali memuntahkan isi perutnya. Riswan yang menyaksikan itu pun tak tega, ia memutuskan untuk menepuk-nepuk punggung Binar.

__ADS_1


Tubuh mungil Binar gemetar tiap kali mulutnya ingin menyalurkan rasa mual. Adegan yang menyentuh nurani Riswan. Ia pun inisiatif melonggarkan resleting gaun Binar. Tangan lebarnya kemudian memberikan pijatan-pijatan kecil berharap bisa mengurangi kemualan Binar. Riswan memutuskan ikut duduk dan mengabaikan Adrian.


"Gimana kalau kamu saja yang ke datang? Satu pengantin lebih baik dibanding tidak keduanya, kan?" kata Binar sambil memijat sendiri dada depannya.


"Nggak lucu, Binar. Kalau tamunya pulang ya kita tinggal rayakan sendiri saja," sahut Riswan asal.


"Aku nggak bisa berangkat. Kepalaku pusing dan~" Binar terlunglai lemas.


Riswan membulatkan mata. Ia meraih Binar dan berusaha menyadarkannya. Namun tubuh yang tidak bertenaga itu tak memberikan jawaban. Binar pingsan di hari pernikahan mereka.


***


"Tidak bisa, Adrian, kita di rumah sakit sekarang... Bukan dibatalkan, kami tetap melakukan sumpah pernikahan sesuai rencana... Aku nggak tahu sampai jam berapa, dia belum sadar... Bagikan saja sovenirnya dan tunggu aku datang."


Riswan menutup telpon dan masuk ke bilik Binar. Seorang dokter tampak menyuntikkan cairan ke tubuh Binar, lantas memandang Riswan.


"Hanya kelelahan. Usahakan jangan sampai banyak pikiran, keadaan tubuh yang seperti ini berbahaya untuk kandungan," jelas sang dokter.


"Dia boleh pergi kalau infusnya habis," tandasnya sebelum meninggalkan Riswan seorang diri.


Ia mendengus kecil. Tanpa berusaha meminta kursi, Riswan duduk pada tepian kasur tempat Binar berbaring. Riswan bukan tidak pernah memperhatikannya, tapi tubuh Binar terlihat lebih kecil dari biasa.


Jemari Binar bergerak samar. Riswan menyambutnya, ia mendekatkan wajah pada Binar yang baru mengerjapkan mata.


"Apa yang dirasakan sekarang?" tanya Riswan sambil merapikan helai-helai rambut Binar.


Binar tampak susah payah meraih kesadaran. Ia berusaha membaca keadaan, mengingat detail perihal yang terjadi padanya. Kemudian suara serak Binar yang lemah mencoba bicara. Ia terbata.


"Per-nikah-annya?"


"Adrian yang atur. Kita tunggu infusmu habis dulu, baru menyusul," sahut Riswan menarik diri dari Binar.


Lalu Binar bergerak menyentuh perutnya, mengisyaratkan sesuatu pada Riswan yang langsung ia pahami tanpa penjelasan.


"Sehat. Dia baik-baik saja."

__ADS_1


Senyum manis Binar mengembang. Respon yang membuat Riswan memutar bola mata. Kalau memang khawatir pada bayinya, Binar harus menjaga kesehatan, kan? Bukan malah terkapar tak berdaya di rumah sakit seperti sekarang.


"Buat apa dia sehat kalau kamunya sakit-sakitan?" cibir Riswan tak tahan.


"Aku sudah berusaha makan banyak, tapi tetap saja terbuang saat mual," sahut Binar mulai pulih seutuhnya.


"Sudah lama?"


Binar menunduk, "Baru satu minggu."


Decak Riswan kembali terdengar. Ia merasa kesal, sebab tak bisa ikut menanggung penderitaan Binar. Bagaimanapun juga Riswan ingin ikut bertanggung jawab, ia tak kuasa membiarkan anak delapan belas tahun itu menanggung semua.


Ada sedikit rasa bersalah. Kalau tahu begini, ia tak mungkin mengatakan hal buruk pada Binar saat mengatakan kehamilannya tempo hari.


"Lagipula bukan maslah. Google bilang kalau semua ibu mengalaminya. Teman-temanku juga sama, morning sickness bukan hal yang berbahaya," celoteh Binar seakan berhasil membaca cemas yang tersirat di wajah Riswan.


Namun dengan segala jurus, pria itu membuang muka. Ia mencibir dalam gumam.


"Teman-teman apanya! Anak SMA tahu apa soal kehamilan?"


"Bukan teman sekolah, Paman! Grup terbuka di sosial media kan banyak!" protes Binar kesal. Mendadak ia seperti punya banyak tenaga.


"Cih, kemarin-kemarin juga nggak panggil paman," ejek Riswan berhasil memantik emosi pada Binar.


"Ya terus aku mesti gimana? Panggil kakek, gitu?" timpal Binar tak mau kalah.


Riswan memincingkan mata, "Barusan pingsanmu pura-pura ya? Kalau punya tenaga sebesar itu buat teriak ya harusnya nggak pingsan!"


"Aku nggak teriak! Kamu yang menyebalkan!"


"Sama saja! Ini kan kamu lagi teriak!"


Giliran binar yang membuang muka. Perempuan itu mengubah posisi badannya menjadi miring ke arah yang berlawanan dengan Riswan. Tiba-tiba ia perasaan kesal menghantuinya, Binar ingin menyalak pada semua kalimat yang Riswan ucapkan.


Belakangan ini, roller coaster perasaannya sering berubah derastis. Kadang amat mudah sedih dan menangis, atau bahagia sebelum tiba-tiba emosi. Binar juga bingung dengan dirinya sendiri, ia merasa asing.

__ADS_1


"Berjanjilah padaku jangan pingsan lagi. Aku nggak mau hal yang lebih buruk terjadi. Kalaupun memang nggak bisa dihindari, minimal, aku adalah orang pertama yang kamu hubungi."


Kalimat panjang dari Riswan itu membuat Binar terdiam. Emosi dalam dirinya terbawa suasana. Binar menoleh beberapa saat kemudian, tapi Riswan sudah menghilang. Binar pun hanyut dalam lamunan, merasakan desir hangat menyentuh hatinya.


__ADS_2