
Tiupan asap aroma kopi menjeda percakapan. Wanita itu bersantai menyandarkan badan, mengabaikan pria tua di hadapannya yang sudah batuk-batuk kewalahan. Responnya sederhana, hanya mengibas-ngibas asap itu ke sisi lain ruangan.
"Maaf, Greg. Aku lupa kau sudah tua," cibirnya, "Padahal dulu kau juga perokok berat. Vape gini aja sudah seperti asma, Greg, berlebihan."
Ia menyecap dan membuang embusan vape terakhirnya. Membiarkan benda itu bergelantungan di leher, sambil mencondongkan badan sedikit ke depan. Mereka berada di ruang tengah, kunjungan mendadak tanpa janji temu atau peringatan.
"Dengar, Greg. Aku lebih senang kalau kau ada di pihakku sekarang," ujarnya penuh penekanan.
Greg tampak menerka maksud dari tiap ucapan.
"Biarkan aku menikahi Riswan dan menyingkirkan bocah itu dari keluarga Darmawangsa.Aku bisa merawat anaknya, dan kita jadi keluarga yang sempurna, Greg. Bagaimana?" sambungnya.
Wanita itu memperhatikan Greg dari ujung kaki hingga kepala. Senyumnya memincing sinis mengingat sejarah panjang di antara mereka. Dulu, Greg tak selemah ini terhadap Rhea.
Pria tua bangka itu pernah gagah perkasa. Berkukasaan tinggi dan semena-mena.
"Lagipula, aku dan Riswan masih saling mencinta," bisiknya kemudian.
Amarah yang bergerombol di dalam dada membuat Greg memukul meja, "Omong kosong!" teriak pria itu murka. Tangannya gemetar, embus memburu dengan bola mata merah melengkapi air muka.
Sialnya, Rhea tertawa.
Gelegar yang menggema pada seluruh ruangan. Wanita itu sampai terpingkal-pingkal menertawakan reaksi Greg Darmawangsa.
"Kenapa, Greg? Takut, ya?" ejeknya. "Riswan bisa memberikan segalanya padaku tanpa pertimbangan. Seru, kan? Kapan lagi Wangsa Group bangkrut hanya karena satu wanita?" cecar Rhea.
Dosa yang Greg lakukan kepada Rhea amatlah besar. Kala wanita itu masih muda, tak memiliki apapun kecuali cinta membara kepada Riswan. Pria yang memiliki kekuasan penuh terhadap Riswan itu, mengusirnya.
Konyol juga. Hanya karena latar belakang keluarga yang tidak jelas. Lahir dan dibesarkan oleh keluarga pecah belah, Rhea dianggap tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Darmawangsa.
Di hari pertunangannya dengan Riswan, Greg mengirim lima orang asing ke rumah. Mencegah Rhea datang, dan mengurungnya bersama kapal pemuat barang menuju benua Eropa. Menjadikannya sebagai pihak yang melukai Riswan, menghancurkan hati sang belahan jiwa.
Lagi-lagi Rhea tertawa, "Kau paham maksudku, Greg. Aku bukan orang bodoh yang tidak berdaya."
Dia sudah lebih dari berdaya. Sebagai penerima beasiswa unggul Wangsa Group sejak sekolah menengah pertama, Greg juga tahu kecerdasan Rhea yang bukan abal-abal. Otak dan harta telah memihaknya, apa lagi kalau bukan Riswan yang menjadi tujuannya sekarang?
__ADS_1
"Jangan usik Riswan," tandas Greg tegas. "Dia tak tahu apapun soal hubungan kalian!"
Tentu saja Rhea makin terbahak-bahak. Tidak tahu apapun dia bilang? Mustahil! Riswan jelas tahu segalanya.
"Oh, ya?" sinisnya. "Apa kau lebih suka jika dendamku langsung padamu saja? Tapi gimana, ya, Greg? Kau sudah tua, nggak seru jadinya."
"Tutup mulutmu, Rhea!"
"Aku sudah kaya, Greg. Bisnisku dimana-mana, dan..."
"Kau cuma penipu! Berani-beraninya kau masih mengharapkan status dari uang busuk itu!" tukas Greg menyela. "Langkahi mayatku dulu sebelum kau mendekati Riswan!"
Kini bukan hanya tawa, Rhea memberikan tepuk tangan meriah pada kalimat Greg Darmawangsa. Wanita itu amat gembira. Seolah menyaksikan pelawak yang merangkai monolog canda.
"Cuma itu syaratnya?" tanya Rhea sambil memegangi perutnya yang terasa kram. Setelah sekian lama, baru kali ini ia tertawa begitu lepas.
Sesaat kemudian, matanya menyorot Greg tajam. Tak seinci pun bibirnya menyudutkan senyuman, "Kau pikir aku tak bisa melakukannya sekarang?"
Greg mencengkram bantalan kursi menahan ketakutan. Ia tak mengira wanita itu menjadi bengis nan kejam. Rhea bukan lagi Rhea yang sama.
"Tak perlu buru-buru, Greg. Aku ingin menikmatinya," jelas Rhea, "Jadi pikirkan penawaranku soal menyingkirkan Binar. Dendam ini tak terlalu menyakitkan jika kita bekerjasama."
"Mungkin lebih terasa seperti menyerahkan harta pada menantu idaman. Kesannya jadi lebih positif dan emosional," paparnya tenang. Seolah memang begitulah alur yang ia harapkan.
Lagipula, wanita itu telah menyusun rencana. Strategi yang dipertimbangkan mulus dengan konsekuensi yang ada.
Rhea siap merebut hati Riswan. Serta mengambil alih kekayan Wangsa Group yang dilindungi Greg mati-matian. Kehancuran apa lagi yang Rhea rencanakan? Tentu masih menjadi rahasia, yang jelas dendamnya bukan sembarang dendam.
Percakapan mereka belum selesai saat pintu jati dari rumah utama terbuka. Menyajikan Riswan dan Binar yang baru kembali dari pertikaian. Rhea membenarkan posisi badan, sementara Riswan mematung heran menyaksikan pemandangan tidak biasa.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Riswan sambil meraih telapak tangan Binar. Berharap bahasa tubuh itu bisa mencegah kesalahpahaman.
Rhea tersenyum manis, ia meninggalkan Greg menuju ke tempat Riswan dan Binar berdiri.
"Kakek Greg mengundangku, Riswan. Beliau meminta maaf soal kejadian masa lalu. Jujur, aku tak mengira kalau kakek Greg menyambut kepulanganku seramah itu."
__ADS_1
Tentu, kalimatnya disampaikan dengan tutur yang lembut. Rhea sengaja menyibak rambutnya berusaha memamerkan lekuk leher yang putih mulus.
"Oh hai, Binar," sapa Rhea mengalihkan pandang, sebab ia tak begitu butuh jawaban Riswan.
"Aku Rhea, dulu aku kenal Ned dan Tria waktu masih pacaran. Dunia ini sempit yaaa... siapa sangka kau akan menikahi Riswan?"
Binar hanya meringis hambar. Ia mengenali sosok wanita itu dengan sangat jelas.
"Sulit ya menikah dengan Riswan?" sambung Rhea masih dengan suara heboh yang antusias, "Aku merasakannya juga, dia kadang cuek dan... oh maaf, aku berlebihan ya? Bagaimanapun aku tidak bisa melupakan hubungan kami berdua, Binar. Kami nyaris bertunangan."
"Semoga kau tidak marah," imbuh Rhea sengaja.
Tentu saja sengaja! Itu adalah bentuk peringatan untuk Binar.
"Sudah?" ketus Riswan menjawab, "Kalau pertemuannya dengan kakek Greg sudah silahkan pulang. Aku dan Binar perlu istirahat."
Tipis, amat tipis, Rhea mimincingkan senyuman.
Akan tetapi raut itu segera ditepis dengan senyum tulus yang merekah lebar. Rhea mengecup pipi kanan dan kiri Binar sebagai isyarat perpisahan.
"Maaf sudah mengganggu waktu istirahat kalian. Aku pamit yaa..." gumam Rhea ramah, ia melepas Binar dan beralih pada Riswan.
Matanya menyorot pria itu lekat. Dengan sedikit berjinjit ia meraih tengkuk Riswan guna mendaratkan kecup serupa.
"Jangan lupa, Riswan..." desahnya seraya menahan pergerakan Riswan agar tak menarik diri dari sana, "Aku tidak akan kabur dan siap menunggumu perlahan-lahan."
Rhea menurunkan jemarinya menuju pundak Riswan, bergerak pelan sembari melepaskan kecup dengan senyum mesra.
Ia tahu betul kalau jantung pria itu masih betdetak untuknya. Rasa cinta Riswan bukanlah sesuatu yang bisa diubah dengan mudah. Keberadaan Binar sama sekali bukan halangan baginya.
Jauh dalam diri Riswan, selalu ada Rhea.
Hanya perlu sedikit saja keraguan, Riswan kembali dalam peluknya. Mata Riswan menjelaskan semua. Hari ketika pria itu terbuai pada dirinya di bar telah menjawab.
Rhea selalu jadi pemenangnya.
__ADS_1