
Mau dipikir bagaimanapun, Rhea benar.
Untuk apa Binar mengharapkan cinta dari seseorang yang terjebak masa lalunya? Sulit dipungkiri bahwa Binar juga ingin memiliki suami yang mencintainya. Seperti yang sudah ia katakan, Binar menanggung sumpah besar di hadapan Ned sang ayah.
Binar tidak mau jika pernikahan ini hanya sebatas pelunas tanggung jawab. Rumah tangga palsu demi anak semata. Apalagi, potensinya merebut hati Riswan nyaris tidak ada.
Ia tak punya peluang. Riswan akan selalu mencintai Rhea. Binar tak bis memenangkan hati Riswan seutuhnya tanpa nama Rhea di sana.
Namun, bagaimana mungkin Binar mencari suami lain di dalam pernikahan mereka? Lelaki macam apa yang berani menggoda perempuan hamil yang merupakan istri sah Riswan Darmawangsa?
Binar mendesah panjang, apakah berlebihan jika Binar ingin dicinta dan mencintai seseorang? Dia masih belia, tidakkah wajar kalau emosi membara seperti itu menjadi bagian paling menggebu dalam jiwa?
Terserahlah, siapapun boleh menganggapnya kekanakan. Mungkin tidak perlu sampai mengharapkan cinta Riswan, tapi yakin bisa menghadapi gelegar cemburu akibat masa lalu yang belum kelar?
Perempuan mana yang sanggup demikian?
Mohon maaf saja, Binar tidak bisa. Kehadiran Rhea amat mengganggunya. Fakta bahwa Riswan tak menampik wanita itu secara terang-terangan juga susah diterima.
Perasaan Binar berantakan. Riswan yang berada nun jauh di sana membuat gusar kian mengembang. Bagaimana baiknya pernikahan ini terlaksana?
Lamunan panjang itu tergugah oleh ketukan dari pintu kamar. Binar buru-buru membuka. Mendapati sang kepala pelayan memberi penghormatan.
"Tutor baru yang dibicarakan Tuan Riswan barusan datang, Nona."
Tutor baru yang dibicarakan Riswan? Binar mengetnyit sebentar. Pikirannya kacau balau hingga tak ingat Riswan pernah mengatakannya. Gelagat yang langsung dibaca oleh kepala pelayan, wanita itu mempertimbangkan kata agar Binar lebih paham.
"Teman belajar. Sebelum pergi ke Kalimantan, Tuan Riswan berpesan kalau akan datang teman belajar untuk nona. Sekarang sedang menunggu di ruang belajar."
Tutor baru sebagai teman belajar.
Ya. Binar ingat Riswan pernah mengatakannya. Ia mengangguk paham pada kepala pelayanan. Mengucapkan terima kasih lantas bersiap menemui tutor barunya itu di lantai dasar.
Sejujurnya satu tutor matematika yang Riswan berikan saja itu sudah cukup merangkap berbagai ilmu lainnya. Fisika SMA dia paham, kimia juga tahu beberapa bidang, dan ajaibnya lagi tutor itu menggunakan bahasa asing agar Binar terbiasa dengan sistem kurikulum luar negeri.
__ADS_1
Lebih dari cukup dan Riswan mengirim teman belajar lagi?
Ia mendorong pintu dan mendapati tutor barunya itu sibuk menulis di papan. Sosok lelaki yang membelakangi Binar. Acuh tak acuh dia mengambil duduk sampai sang tutor menoleh lebih dulu padanya.
Akan tetapi, Binar terkesiap. Tutor yang menyandang status sebagai teman belajar itu tersenyum ramah padanya.
Binar tidak salah lihat, kan?
Lelaki itu adalah tokoh yang pernah disinggung sebelumnya. Tak sempat dikenalkan sebagai seseorang, sebab Binar tak mengira pertemuan ini akan terlaksana. Dia mendekati Binar, sampai jarak mereka hanya disekat oleh meja belajar.
"Hai," sapanya, "Aku dengar mereka mencari teman belajar dan kebetulan kualifikasiku sesuai jadi..."
"Buat apa ikutan daftar?" sela Binar datar.
Meski mereka pernah sangat dekat, dan Binar sempat menaruh hati pada lelaki itu di tahun ajaran baru sekolah menengah atas, ia tak paham maksudnya. Untuk apa Sean si ketua kelas mendaftar sebagai teman belajar?
Latar belakang Sean juga kaya raya. Uang bukanlah sesuatu yang ia perjuangkan. Lantas apa? Mengapa ia tiba-tiba muncul di hadapan Binar?
Sean tersenyum nanar. Lelaki itu paham betul dengan reaksi Binar. Namun dia tak punya pembelaan, hanya dengan begini Sean bisa bertemu lagi dengan Binar.
Namun, "Aku nggak mau bahas soal itu, Sean," ketus Binar seraya tersenyum kecut, "Pertanyaanku sekarang, kenapa kamu daftar? Mau malu-maluin aku yang hamil dan nggak bisa lanjut sekolah? Atau mau menyaksikan langsung masa depanku yang berantakan pasca jadi istri orang? Iya?!"
Getir senyum Sean kian mengembang. Ia tak menyangka jika begini sambutan Binar terhadapnya. Kemana sosok ceria yang selalu sumringah tiap kali bercengkrama dengannya? Binar telah banyak berubah.
"Aku datang ke rumahmu, Binar. Berusaha mencari informasi dari orang tuamu yang cuma bungkam. Aku juga nggak nyangka kalo kamu beneran menikah!" papar Sean membela dirinya.
"Ya terus buat apa?!"
"Buat memastikan kebahagiaanmu dengan mata kepala," tandas Sean.
Mereka beradu pandang. Dua manusia yang acap kali dituding berkencan. Sepasang teman dekat yang terpisah oleh keadaan tidak terduga.
Kala itu Sean syok berat. Bagaimana mungkin Binar yang hilang tanpa kabar tiba-tiba dihamili oleh pria yang jauh lebih tua? Sean marah, kecewa, benci dan dilema. Ia bahkan tak tahu caranya bersikap normal.
__ADS_1
"Fine. Aku bisa ngerti kalo usia kita ini haus akan rasa penasaran dan berpotensi terjun ke pergaulan bebas. Itu nggak penting lagi buatku sekarang, jadi tujuanku datang cuma ingin memastikan. Apa kamu bahagia dengan hidup yang sekarang?"
"Terus kalo aku nggak bahagia, kamu mau apa?"
Sean terdiam seketika.
"Dan apa tadi kamu bilang? Pergaulan bebas yang aku lakukan sampai hamil begini nggak penting buatmu sekarang? Berarti perkara ini pernah jadi penting, kan?" cecar Binar.
Perempuan itu sengaja menyerang Sean agar kalah telak. Perasaannya terlanjur menjadi campur aduk berantakan. Harga diri Binar bahkan terluka, ia terlampau malu disaksikan oleh Sean dalam keadaan perut membesar.
"Aku sudah jadi istri orang, Sean. Anakku juga kembar. Jadi bisakah kamu pergi dari hidupku selamanya? Seolah kita nggak pernah saling kenal," imbuh Binar memelas.
Terus terang, ada gurat rindu yang terpendam di benak Binar. Percakapan-percakapan kecil yang mereka jalin berdua. Juga canda tawa di sela-sela pergantian jam belajar. Adegan mereka berdebat soal pelajaran, atau apapun yang menyangkut Sean.
Ya, Binar rindu lelaki itu seutuhnya.
Tetapi bukan sekarang. Setidaknya sampai ia berhasil melahirkan dan berdamai dengan kehidupan rumah tangga. Sampai saat itu, Binar tak punya keberanian bertemu Sean.
"Aku mau memberimu kebahagiaan, Binar," sahut Sean di tengah heningnya ruangan. Manik matanya menjamah seisi wajah Binar. Lamat menenggelamkan diri di sana.
"Memang benar, aku sempat terusik dengan keputusanmu yang bercinta sembarangan. Tapi aku baru menyadari perasaanku setelah kamu nggak ada. Aku cuma butuh kamu mengisi hariku seperti yang sudah-sudah."
Binar tak mampu berkata-kata. Suara lembut Sean menelusup hingga relung dada. Meluber hangat dalam benaknya.
Degup jantung Binar dibuat tak beraturan, kala Sean membuat jarak mereka kian terpangkas.
"Aku siap menjadi seseorang yang berada di sisimu, Binar. Menjadi suami serta ayah untuk si kembar. Walau nggak se-kaya Riswan, aku berani menjajikan kebahagiaan di pernikahan kita."
Apa maksudnya?
Mengapa Sean berkata demikian?
Binar hanya menelan saliva susah payah. Kehadiran teman belajar ini lebih dari sekadar mengejutkan, tetapi juga membuat akal sehatnya tertawan.
__ADS_1
"Aku juga menyukaimu, Binar. Itu adalah jawabanku untuk pernyataan yang kamu ungkapkan. Jadi aku harap masih tersisa sedikit kesempatan, menyusun masa depan denganmu bersama-sama."
Gulana, merana. Binar sampai tak sanggup beranjak dari iris mata Sean. Membangun masa depan dengan Sean? Memangnya boleh ya Binar berharap demikian?