Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
30. Telpon Darurat


__ADS_3

Sean.


Berbicara dengan lelaki itu, jujur, Binar tak pernah merasa bosan. Selain cerdas mengolah kata, Sean juga mahir menciptakan lelucon-lelucon seru yang membuat Binar tertawa. Ia punya segudang cara untuk membuat Binar gembira.


Entahlah, dibanding memusingkan alasan Riswan yang merekrut siswa SMA tanpa gelar, ia lebih suka mensyukuri keberadaan Sean. Binar merasa kembali menjadi siswi seutuhnya. Terlebih, Sean sama sekali tak menyinggung status maupun kehamilan.


Lelaki itu hanya bersikap lugu, seolah tak ada sesuatu yang menimpa Binar persis seperti dulu.


"Aku merindukanmu, Binar, sungguh," ujar Sean ditengah-tengah materi pembelajaran berlangsung.


Ya. Riswan telah mengatur jadwal seminggu lima kali untuk Sean menemani Binar mengenbangkan kemampuan bahasa. Dalam silabusnnya, Riswan bukan hanya menuntut mahir dan lancar dalam berbicara, tetapi juga diskusi sekaligus menggelar perdebatan.


Namun, kala mereka asik saling menyalahkan kosa kata, Sean malah mengungkapkan sesuatu yang membuat Binar terdiam.


"Aku kehilangan momen berharga di sekolah tanpamu," sambung Sean seraya mendekatkan wajah pada perempuan itu.


Binar bisa dengan mudah mengakses manik mata Sean. Samar-samar ingatannya mengulas satu hari ketika ia menyatakan perasaan. Di suatu petang, usai mengerjakan tugas sekolah, Binar membuka suara.


"Aku suka kamu, Sean," kala itu Binar susah payah menekan suara agar tak bergetar. Sean yang tadinya tertawa renyah menjadi kaku seketika, "Kamu suka juga nggak?" tanyanya.


Konyol memang. Binar pernah seberani itu terhadap perasaannya. Ia sempat menjadi remaja naif yang tergoda merasakan cinta monyet juga. Meski pada akhirnya hanya ditertawakan oleh Sean.


"Binar," panggil Sean pelan, menyadarkan Binar dari lamunan masa silam. Jemari lelaki itu menyusuri helai-helai rambutnya. Ada tatapan sendu menyertai iris mata.


Binar merasakan getar aneh dalam dirinya. Ia bahkan mengijinkan jemari Sean menyusuri pipi menuju rahang. Jarak mereka kian dekat, debur napas Sean menyapu kulitnya.


Namun...


*Kringg...*


Dering telpon masuk menyelamatkan nafsu liar mereka. Nama Adrian tertera pada layar. Hal yang membuat Sean sontak menarik diri menjauh dari Binar.


"Halo, Pak Adrian ada apa?... Apa?!... Yaudah biar aku aja yang ke sana... Iya, Pak Adrian lanjut aja kerja nggak masalah... Oke, Pak... Iya, makasih..."


Sambungan telpon terputus. Binar tampak sangat terkejut.


"Kenapa?" tanya Sean yang sejak tadi menyimak gelagat perempuan itu.


Sean bisa melihat jelas tangan Binar yang gemetar. Binar mencengkeram ponsel pintar berusaha keras menenangkan dirinya.

__ADS_1


"Maaf. Kita tunda dulu belajarnya," ujar Binar pelan.


Dalam sekejap, perempuan itu tampak tak bertenaga. Kabar buruk apa yang ia dengar? Kalau boleh mengaku, Sean ikut cemas dibuatnya.


"Fine, Binar. Tapi kenapa ekspresimu sampai segitu kagetnya?"


"Suamiku kecelakaan," sahut Binar lugas. Ia menarik napas dan mengembuskannya perlahan-lahan, "Aku harus ke Kalimantan sekarang juga."


"Sendirian?"


Mereka kembali berpandang. Anggukan kecil dari Binar menjadi jawaban mutlak yang membuat Sean langsung membuang muka. Lelaki itu mengacak rambut singkat, lantas menjatuhkan pandang pada Binar seutuhnya.


"Aku antar," tandas Sean tegas. "Gila aja ngebiarin kamu pergi sendirian. Nggak, pokoknya aku ikut ke Kalimantan."


"Dia suamiku, Sean, dan..."


"Bodo amat! Aku masih waras, Binar. Mana mungkin ngelepas kamu pergi gitu aja?!"


"Tapi..."


"Buruan siap-siap, aku tunggu di depan."


***


Gagal menghubungi Riswan, Binar tak henti berkomunikasi dengan Adrian yang mengurus sisa pekerjaan. Bersama dengan Sean, Binar memesan taksi online untuk membawa ke rumah sakit tujuan. Begitu sampai, mereka langsung bergegas menuju ruangan yang dimaksudkan Adrian.


Meski hanya kecelakaan mobil biasa, dan tidak begitu parah. Riswan harus menginap di rumah sakit untuk melakukan perawatan. Akan tetapi segala panik itu tertahan, kala ekor mata Binar menatap sosok yang tengah bersama Riswan di ambang pintu kamar.


"Kenapa?" tanya Sean tak digubris oleh Binar.


Mata perempuan itu menyipit tajam. Melamatkan pandang pada wanita yang tersenyum ramah pada Riswan. Walau tak begitu jelas, Binar yakin kalau dia adalah dokter Intan.


"Itu suamimu?" Sean terus bertanya.


Iya. Sahut Binar dalam diam.


Pria yang konon baru mengalami kecelakaan itu merekahkan senyum cerah pada Intan. Bahkan sesekali mereka terlihat bercanda. Sahut menyahut seakan dunia milik berdua.


Setelah Rhea, apakah Intan juga menjadi momok dalam pernikahan mereka?

__ADS_1


"Binar?" panggil Sean tak lantas menyerah, "Kamu mau istirahat dulu, mungkin? Kita baru sampai dan..."


Belum selesai Sean menamatkan kalimatnya, Binar yang mendapati kepergian Intan langsung melangkah. Ia masuk ke kamar rumah sakit yang dihuni Riswan. Bantingan kasar dari pintu itu sontak membuat Riswan terkesiap.


"Astaga, Binar. Kamu sedang apa?" celetuk Riswan heran. Ia baru saja duduk di kasurnya ketika Binar datang.


"Paman yang sedang apa?!" teriak Binar murka.


Tak perlu khawatir soal pasien lainnya. Adrian menyiapkan ruang privasi kelas atas yang hanya dihuni Riswan seorang. Fasilitasnya mirim hotel berbintang. Binar bahkan yakin kalau suaranya tak sampai keluar.


Wajah bingung Riswan, membuat Binar menyeringai tajam.


"Pantes aja tiga hari di Kalimantan nggak mau diganggu," imbuhnya mencibir pria itu.


"Kamu ngomong apa sih?" Riswan bangkit, "Kalo capek istirahat. Aku juga nggak ada niatan kecelakaan, Binar. Maaf udah buat kamu datang ke Kalimantan."


Riswan dengan kakinya yang pincang, serta perban yang membebat kepala itu berusaha meraih pergelangan tangan Binar. Ingin hati ia menuntun sang istri ke kasurnya untuk duduk sejenak. Namun tepis kasar membuat Riswan tak bisa berkata-kata.


Sebetulnya, ada apa?


"Dokter Intan," ketus Binar kemudian. "Kamu ada main apa sama dokter Intan, Paman?! Kenapa dia ada di sini sementara aku nggak?!!"


"Nggak sengaja, Binar..."


"Basi! Alasanmu itu udah basi, Paman!" bentak Binar menyela ucapan Riswan.


Binar menatap Riswan tajam. Perempuan itu memangkas habis jarak mereka hingga nyaris tanpa jeda. Sebelah bibirnya terangkat, ejek, menghina, ikut serta membaur dalam air muka.


"Kenapa? Bingung kepergok selingkuh, iya? Belum nemu alasan? Atau jangan-jangan sebentar lagi si Rhea juga datang?" cecarnya. "Nggak sengaja gimana? Udah jelas ini di luar kota! Mustahil bisa ketemu tiba-tiba!"


Tentu saja Riswan menyanggah segala tuduhan Binar lewat manik mata. Hanya saja, ia berusaha keras menahan amarah. Menenangkan diri pada emosi Binar yang terlanjur meledak. Memilih untuk meredamnya dalam bungkam.


"Emang bener ya, Paman. Manusia nggak akan pernah bisa berubah!"


"Kamu datang sama siapa?" sahut Riswan pada akhirnya, dengan suara datar.


Kalimat tanya yang membuat raut wajah Binar berubah seratus delapan puluh derajad. Manik matanya yang setajam bilah tampak goyah berlarian.


"Kenapa? Bingung ya cari alasan?" sindir Riswan memutar balikkan kata. "Atau kita sama-sama selingkuh aja sekalian?"

__ADS_1


Sepasang suami istri itu berdebat dalam keheningan. Sementara sosok lelaki di ambang pintu setia mengintip dari kaca transparan. Ruangan itu seketika sepi senyap, dengan suasana mencekam yang sulit diterjemahkan.


__ADS_2