
*Bukh*
Siapa yang peduli soal kemanusiaan? Pria itu terlalu kalap untuk mampu mengedepankan hukum sosial masyarakat. Satu pukulan itu sukses mendarat, membuat sang pelaku langsung terengah-engah diburu napas.
Riswan yang tidak sabaran itu pada akhrinya mengikuti Sean. Jawaban yang diungkap Adrian memang benar adanya. Dalang di balik kehancuran rumah tangganya memang Ned Alvero, sahabat sekaligus ayah mertuanya.
Ned tersungkur ke semak-semak. Mereka berada di sebuah taman kota yang kebetulan sepi pengunjung di jam makan siang. Sudut bibir Ned langsung berdarah, sementara Sean yang menyaksikan hal tersebut mematung di tempat.
"Kau pikir aku menikahinya buat senang-senang?" amuk Riswan diikuti tawa cibiran, "Dan kau pikir Binar bisa lebih bahagia kalau menikahi bocah ingusan ini?! Gila, Ned! Gila!"
Satu pukulan itu tak lantas membuat Ned terkapar. Pria itu bangkit dan mencengkram kerah baju Riswan sekuat tenaga. Kalap matanya menyorot Riswan tajam, "Di antara kita cuma kau yang gila, Riswan. Kau bahkan tak layak menyandang gelar manusia."
Terbatuk nyaris kehabisan udara, Riswan menarik paksa tangan Ned dari lehernya. Akan tetapi gerak Ned jauh lebih cepat, gesit menghajar pipinya tanpa jeda. Tidak terima dengan pukulan itu, Riswan membalas. Adu fisik sengit yang mustahil untuk dicegah.
Sean yang tak ingin terkena imbas pun melakukan panggilan pada pihak kepolisian. Lelaki itu lantas pergi dari sana. Ia menghilang.
Nyaring sirine kepolisian bahkan gagal melerai keduanya. Sepasang insan yang pernah sangat dekat melebihi saudara. Dua anak adam yang dahulu kala amat lengket dan sulit dipisahkan. Bagaimana bisa berakhir begini adanya?
Tak banyak yang bisa polisi lakukan terkait kegaduhan yang mengganggu kenyamanan masyarakat. Pihak investigasipun hanya menanti mereka saling meminta maaf. Namun ego yang bercampur keangkuhan itu terlalu kuat mendarah daging pada diri mereka.
Riswan menyambar jasnya, lebih dulu beranjak. "Tidak terbukti melanggar, kan?" tanyanya seraya menyerahkan selembar kartu nama, "Tolong hubungi pengacaraku saja kalau butuh apa-apa."
Pihak kepolisian yang bingung hanya memandang Ned dan Riswan bergantian. Membuat Riswan ikut melirik Ned yang tak sedikitpun bergerak, "Tunggu apa?" celetuknya, "Harus ya damai sambil salaman?"
Ekor mata Ned menelisik Riswan, kalimat itu jelas tertuju padanya. Pria itu memandang pihak kepolisian sebelum beranjak. Mereka beriringan melangkah ke luar dari sana.
Tentu tiada percakapan. Siapa yang sudi membuka perbincangan usai babak belur saling menghantam? Ned bahkan sengaja melebarkan langkah guna menghindari Riswan. Hal yang membuat Riswan secara spontan berhenti di tempat.
Pria itu memandangi punggung Ned yang kian menjauh darinya, seraya berteriak, "Traktir aku makan!"
Ned memutar bola mata.
__ADS_1
"Jangan pura-pura tuli, Ned. Traktir aku makan!" sambung Riswan masih dengan nada suara yang sama.
"Aku tidak lapar."
"Siapa yang mengajakmu makan? Kubilang traktir aku makan!" rengek Riswan masih berusaha keras mencuri perhatian.
Dengus Ned terdengar pasrah, tanpa menoleh pria itu bergumam sedikit lantang, "Aku bayar makan, kau minumnya."
***
Walau diiringi desis lirih dan mengaduh tiap menyuap nasi, Riswan menghabiskan makannya dengan penuh ambisi. Sementara Ned hanya memandangi makannya, tepat sebelum Riswan mengambil alih mangkok itu dari jangkauan mata. Ned menelan saliva sambil menyandarkan badan.
Mulut penuh Riswan mengunyah makanan itu gegabah. Seolah sangat kelaparan. Ned dengan segala ketenangannya lagi-lagi menghela napas, ia bersindekap dada.
"Apa pelayanmu resign dadakan?" cibir Ned sarkas, Riswan tampak amat serakah melahap makanan.
"Dari kemarin--uhuk uhuk..." Riswan tersedak dengan mulut penuhnya, membuat Ned menyodorkan minuman tanpa banyak bicara. Riswan bahkan memukuli dadanya sekilas agar butir-butir nasi itu tercerna lebih cepat, "Dari kemarin aku belum makan, malah kau ajak bertengkar. Lapar kan jadinya."
Riswan terdiam sejenak. Pria itu berhenti dari aktifitas makannya. Sambil meletakkan segala peralatan makan, ia menyeret matanya kepada Ned yang acuh tak acuh mengamatinya.
"Tak bolehkah kau percayakan Binar padaku saja?" cetus Riswan menyampaikan gusar hati yang sejak lama tertahan, "Aku tak akan menanyakan alasanmu berusaha menghancurkan pernikahan ini, itu sudah jelas. Tapi apa sama sekali tidak ada kesempatan bagiku untuk mempertahankannya?"
Ned tidak menduga Riswan berani mengatakan hal itu padanya. Sepersekian detik itu ia dibuat tercekat. Hanyut dalam belenggu iris Riswan yang mengiba penuh kesungguhan.
"Meski terdengar kurang ajar, aku hanya ingin menikah satu kali untuk selamanya, Ned. Asal kau tahu saja," ujar Riswan menambah penjelasan.
Kali ini Ned membuang napasnya perlahan-lahan, lantas menelan saliva tanpa mengurangi seincipun sorot mata dari Riswan. "Kalau begitu biar aku yang tanya alasannya, Riswan," Ned menjeda kalimatnya sejenak, "Kenapa kau meniduri Binar?"
"Dia putriku yang paling berharga, dan bagaimana mungkin kau tega melakukannya?" cecar Ned masih dalam kendali akal sehat. Ia bahkan tak menunjukkan air muka. Ned tidak mengisyaratkan apapun kecuali ucapannya yang lugas.
"Aku tak pernah menganggapnya ******, Ned," sahut Riswan gamang. Ia mengantisipasi kecurigaan itu dari diri seorang Ned.
__ADS_1
Ned memincingkan senyuman, "Bukan masalah ****** atau apa, kenapa bisa? Sejak kapan kau melihat Binar sebagai wanita? Dia baru delapan belas tahun loh, apanya yang menggoda?"
Sebagai sesama pria, Ned tahu betul jawaban Riswan. Tak lain dan tak bukan adalah gairah. Akan tetapi satu hal yang tidak bisa diterima logikanya adalah bagaimana bisa? Sosok gadis yang bahkan ikut Riswan saksikan tumbuh kembangnya. Bagaimana bisa mengundang nafsu jiwa?
Riswan menundukkan kepala, ia menarik akses Ned ke manik matanya, "Terjadi begitu saja, Ned, kau tidak pernah benar-benar tahu kapan menginginkan seseorang."
Senyum kecut Ned kian mengembang, "Tadi apa kau bilang, mempercayakan Binar padamu saja? Kau bahkan tak bisa membela dirimu di hadapan Binar kalau sudah menyangkut Rhea. Apanya yang mempertahankan pernikahan?"
"Kau tahu betul, Ned, tidak terjadi apapun antara aku dan Rhea," tukas Riswan mengelak. Ia tak sudi jika tuduhan itu dilimpahkan padanya. "Jadi dengan segala kerendahan hatiku, Ned, kumohon ijinkan aku menjadi suami yang bertanggung jawab penuh terhadap Binar."
"Mungkin akan terdengar kurang ajar, tapi tolong restui pernikahan kami, Ned. Aku bersumpah akan memberikan segala yang terbaik," tegasnya.
"Apa kau pernah sekali saja memikirkan sudut pandangku?" parau suara Ned melemah, ia tak punya cukup pertahanan untuk berhadapan dengan Riswan lebih lama.
Seperti yang sudah diungkapkan ribuan kali sejak cerita ini dibuat, mereka pernah begitu dekat sebelumnya. Ned mencurahkan segala perihal kepada Riswan. Lantas mengapa semua berubah seratus delapan puluh derajad hanya karena satu malam?
Sahabat karib yang bertahun-tahun saling menggantungkan kehidupan. Ned kesal, juga marah. Ia benci pada dirinya yang sesekali merasa rindu, dan malah butuh kehadiran sosok Riswan. Persetan dengan pikiran dewasa atau kebijaksanaan, Ned hanya ingin memungut harga dirinya.
"Setiap hari, Ned, dan aku tak sudi memaafkan diriku."
"Aku bukan pemaaf, Riswan."
"Aku tahu."
"Kau juga menghancurkan harga diriku sebagai seorang ayah."
Riswan terdiam, tak bisa berkata-kata. Pria itu tak menyadari sudut pandang itu sebelumnya. Benar, boleh jadi yang paling tersakiti dalam konteks ini memanglah Ned Alvero sang ayah. Riswan telah menjadi pendosa yang mencuri kehormatan putrinya.
Kalau jadi Ned, mungkin ia telah membunuh dirinya.
"Tetapi kau juga calon ayah, Riswan. Satu-satunya harga diri yang bisa kuselamatkan adalah membiarkan cucuku memiliki ayah biologis yang sah," papar Ned seraya bangkit dari duduknya. Pria itu lekat menatap Riswan yang masih tercekat.
__ADS_1
"Buktikan. Selesaikan semua urusanmu dan jemput Binar. Sekali lagi aku bukan pemaaf, Riswan. Jadi aku harap kau tidak mengkhianati sumpah."