Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
45. Penyesalan Tiada Akhir


__ADS_3

Menyelesaikan urusan? Tidakkah makna dari perintah itu juga berarti sama dengan maksud Adrian? Satu-satunya hal yang perlu Riswan selesaikan hanyalah perkara Rhea.


Mengungkap kisah lama yang tak lagi dibicarakan. Seberkas luka yang boleh jadi masih menimbulkan trauma pada masing-masing pihak. Darimana Riswan harus memulainya?


Haruskah ia menemui wanita itu seolah tak pernah terjadi apa-apa? Riswan bukan orang yang boleh melakukan hal itu sembarangan. Usai merasa begitu terluka dan menyadari kalau ternyata Greg Darmawangsa adalah pelakunya, bagaimana mungkin Riswan mengunjungi Rhea tiba-tiba?


"Wajahmu kenapa?" ujar Greg yang selintas berpapasan dengan Riswan. Sepatah kata yang sukses membuat Riswan langsung terdiam. "Apa ada waktu? Aku perlu bicara,"


Pria itu mengamati Greg dengan saksama, "Ada apa?" gumamnya.


Tak memberikan jawaban, Greg mengambil duduk di salah satu sofa ruang tengah. Pria tua itu menatap lurus ke depan, mengabaikan Riswan yang menyeret tubuh malas.


Pikiran Riswan tengah kacau sekarang, ia tak berselera bercengkrama dengan Greg Darmawangsa. Apalagi soal bisnis dan perusahaan. Terutama jika itu menyangkut Binar.


"Aku banyak berpikir beberapa hari belakangan," ujar Greg mengawali percakapan mereka, "Dan seharusnya aku tak perlu melakukannya," ia menjatuhkan ekor mata pada Riswan, "Rhea. Maaf telah melakukan hal keji pada wanita yang kau cinta."


Greg menarik napas panjang lantas mengembuskannya perlahan-lahan, "Sejak dia menemuiku, aku sadar. Bahwa melukai seseorang adalah bagian dari investasi jangka panjang yang bisa berwujud apapun suatu hari kelak. Dia tak akan memaafkanku, tentu saja, jadi kuharap kau menerima maafku sebagai gantinya."


"Aku tak merasa perlu menerima maaf itu, Kek, jujur saja," sahut Riswan tersenyum hambar, "Kita semua masih terlalu muda dan mengedepankan ego atas segala keputusan."


Senyum tipis Greg mengembang, amat tipis hingga nyaris tak terlihat, "Dia mungkin licik dan bisa bertindak nekat, tapi kalau memang kau ingin mewujudkan kisah cinta yang sempat tertunda, aku ikhlas. Aku siap merestui kalian berdua."


"Apa kakek lupa pada Binar? Dia istriku yang mengandung keturunan Darmawangsa," tukas Riswan. Sebetulnya apa maksud Greg bicara demikian? Mungkinkah pria tua itu mendadak berpihak pada Rhea dan ingin mengusir Binar sebagai gantinya? Atau...


Lagi-lagi Greg tersenyum hangat, "Aku sangat bahagia jika kau memilih untuk tetap bersamanya," tandas Greg tanpa berbasa basi ria.

__ADS_1


Riswan terkesiap. Ia tak menduga jika sosok kaku hati, keras kepala, dan egois itu tiba-tiba berubah menjadi lunak. Bahkan tatapannya tak menyiratkan kebencian. Pria tua itu tulus mengatakannya.


"Tapi apa kau yakin kehadiran Binar bukan sebatas pelampiasan?" sambung Greg belum menyudahi kalimat, "Kalau kau bisa menerima perempuan itu tanpa bayang-bayang Rhea, atau lepas dari fakta pernikahan paksa yang disebabkan kecelakaan satu malam, maka silahkan. Kau boleh berada di sisi Binar."


"Kenapa semua orang mengatakan hal yang sama?" ejek Riswan lebih kepada dirinya, "Apa aku tampak menyepelehkan Binar? Atau pria hidung belang yang bisa selingkuh hanya karena perasaan menggebu terhadap seseorang?"


"Iya. Kau selalu tampak begitu, Riswan. Aku tak berhenti mengamati Binar juga."


Riswan terbungkam sementara Greg membenahi posisinya. Pria tua itu membuang napas masih dengan ritme yang sama persis seperti sebelumnya. "Alasanmu bermain wanita juga karena Rhea, kan? Sudah menjadi rahasia umum kalau kau tukang jajan."


"Memangnya apa yang kakek harap dari hidupku yang kakek hancurkan?!"


"Aku tak mengharapkan apapun, Riswan! Aku bahkan tak berani menaruh ekspektasi tinggi terhadap pernikahan kalian!" suara Greg bergetar, pria tua itu menajamkan pandangan pada Riswan yang terengah usai meninggikan suara.


"Aku amat menyesali perbuatanku terhadap Rhea, Riswan, dan aku harap kau tak memendam penyesalan juga," Greg mengakhiri pemaparannya.


Tidak langsung menanggapi sang kakek, Riswan menelan saliva. Ia menjeda percakapan, seraya mempertimbangkan kalimat yang layak dihaturkan. Penyesalan mana yang mampu dia tanggung sepanjang usia, dan penyesalan yang mampu membawa kebahagiaan.


Riswan memilih dan menimbang kemungkinan. Jika ia sungguh-sungguh menyudahi jerat yang mengikat dirinya dan Rhea, maka tak ada lagi kemungkinan mereka untuk bersama. Kisah mereka akan kandas, cinta mesra yang pernah ada hanya sebatas histori pilu menyakitkan.


Namun apabila pernikahan ini berakhir sekarang, maka...


"Aku tak akan menyesalinya, Kek. Ada lebih banyak penyesalan yang harus aku tanggung jika melepaskan Binar. Sekalipun pada akhirnya hati ini tertambat pada Rhea, berkomitmen dengan seseorang bukanlah hal yang aku permainkan. Aku telah bersumpah melindungi pernikahanku sekuat tenaga," jelas Riswan panjang lebar.


Ya, ia bahkan tak sanggup menghitung apa saja persisnya penyesalan yang terbentang di hadapannya kelak. Tetapi melepas Rhea adalah penyesalan yang berani ia tanggung sekarang. Toh, hubungan mereka telah kandas sebelumnya. Jadi untuk apa mewujudkan sesuatu yang telah sudah?

__ADS_1


"Aku selalu percaya padamu, Riswan. Semoga keputusan itu dibuat bukan atas pertumpahan emosi berlebihan."


"Aku harap kakek menerima Binar lebih layak. Sebab keputusan ini telah ribuan kali disaksikan oleh Tuhan."


Sudut bibir Greg mengembang, "Dia perempuan yang luar biasa, Riswan, tanpa perlu perlakuan baik dariku pun dia lebih dari mampu mengatasi semua masalah," Greg bangkit dari duduknya, "Sampaikan maafku jika bertemu Rhea, aku bersumpah akan menghabiskan sisa hidupku untuk penyesalan."


"Dia juga layak bahagia. Tolong pastikan dia mendengar kalimat itu dengan jelas."


"Kenapa tidak bilang sendiri saja?"


Greg terdiam sejenak, "Aku masih cukup tahu diri, Riswan. Hadirku pasti memantik luka lama baginya."


Kalimat itu menjadi akhir dari perbincangan mereka, menyisakan sosok Riswan yang mematung di tempat berjam-jam kemudian. Pria itu hanyut pada tiap kalimat dari orang-orang berada di sisinya.


Rhea, dapatkah pertemuan mereka saja dapat menyudahi semua? Sesederhana itukah meminta permohonan maaf dari seseorang? Akan tetapi kalimat Adrian ikut menyapa, menambah tanya pada relung batin Riswan. Andai dirinya masih bujang dan masih mencintai Rhea tanpa penghalang, apa yang ingin ia sampaikan?


Perihal apa yang begitu ingin Riswan sampaikan kepada Rhea?


Terlepas dari maaf, sesal, atau hal-hal yang menyangkut luka di antara mereka. Apa yang berusaha Riswan tuturkan terhadap Rhea yang paling dicinta?


Apabila Binar dan calon jabang bayi mereka tidak ada, Bagaimana Riswan ingin mengakhiri romansanya dengan seorang Rhea?


Barangkali, itu yang dimaksud dengan menyelesaikan. Adrian, Ned, bahkan Greg menagih kepastian dalam diri Riswan terhadap Rhea atau Binar. Mereka bertanya-tanya, menuntut kepastian sebelum mengarungi langkah yang lebih panjang.


Kini Riswan paham betul maknanya, meski secara bersamaan ia tak kunjung menemukan jawaban.

__ADS_1


__ADS_2