
Pinggul perempuan itu ditarik mendekat. Sementara tangan kanan si lelaki menekan tengkuk guna memperdalam
kecupan, tangan kirinya sibuk menarik paksa rok ketat yang dikenakan sang perempuan. Tidak ada perlawanan, perempuan di hadapan lelaki itu purna menikmatinya.
Sahut menyahut cecap sempurna mengisi ruangan. Deru napas yang memburu memaksa lelaki itu untuk memberi
kesempatan bagi sang perempuan mengambil udara. Kini ia tenggelam pada ceruk leher sembari menjulurkan lidah. Hanyut dalam permainan.
Sosok di ambang pintu masih bungkam. Menyimak erang yang semakin bising dibuat oleh dua insan di tengah ruangan. Sampai ketika sang lelaki berhasil menurunkan ****** ***** milik perempuannya, ia bersuara.
“Aku dapat telpon dari perusahaan tekstil di China. Bukannya sudah kau selesaikan?” tanya lelaki yang masih berdiri di dekat pintu itu datar.
Sontak keduanya berpaling muka. Perempuan yang sudah kepalang tanggung itu buru-buru menurunkan roknya. Sang lelaki hanya terkekeh ringan.
“Sial, Aksara! Kau sungguh merusak upacara pagiku yang sakral,” keluh Dirga.
Lelaki yang masih terkekeh tanpa rasa bersalah itu merapikan pakaian atas sang perempuan yang nyaris terbuka. Ia menanggalkan kecup singkat sebelum memintanya meninggalkan ruangan.
Sementara Aksara yang tak acuh berjalan menuju sofa. Lelaki itu bahkan mengabaikan tampilan Dirga yang masih
berantakan. Walau lumayan menjijikkan, Aksara sudah terbiasa melihat kelakuan asisten pribadinya.
“Dengar, aku sudah mengirim email resmi kepada mereka. Mungkin memang belum dibuka.
Lagipula aku juga berniat menemui perwakilannya setelah sedikit bersenang-senang. Seharusnya kau tidak cemas, apalagi sampai datang ke ruanganku tanpa pemberitahuan,” omel Dirga panjang lebar.
Tidak ada tanggapan. Aksara menenggelamkan diri pada tablet pintar.
Aksara bukan tipe orang yang akan mempermasalahkan urusan personal. Ia lebih suka memilih masa bodoh, dan
mengabaikan hal tersebut selama tidak mempengaruhi kinerja perusahaan. Lagipula Dirga sudah lama bekerja untuk Aksara, dan tak ada satu masalah pun yang gagal diselesaikan olehnya.
Jalan pintas yang diambil Aksara adalah pikiran sederhana. Lelaki dewasa bercumbu dengan perempuan dewasa juga, apanya yang salah? Dengan begitu ia tak pernah menganggap satu perempuan pun yang datang ke ruangan Dirga sebagai gangguan.
Keduanya bergeming. Dirga berjalan santai ke arah Aksara sembari merapikan pakaian. Pandangannya lurus
memperhatikan gerak jari Aksara yang lugas. Lelaki itu tampak sibuk memeriksa surel dan jadwal harian secara bergiliran.
“Sudah berapa lama berdiri di sana?” Dirga kembali menyeletuk.
__ADS_1
“Berapa lama atau berapa banyak?” sahutnya masih tak acuh, “Upacara pagi mana yang kau tanyakan?”
Dirga tergerlak. “Sesekali kau harus mencobanya juga, Aksara. Tuan muda sepertimu sungguh membosankan,” ejeknya.
Giliran Aksara mendengus panjang. Dirga berhasil mengambil alih seluruh perhatian. “Jangan buat pria tua itu
menelponku lagi. Kalau bisa putuskan saja jalinan kerjasama dengannya. Aku tidak mau jaringan ayahku mengganggu kinerja perusahaan.”
Sadar bahwa ucapannya diabaikan oleh atasan tunggalnya, Dirga kian gigih tertawa. Ia manggut-manggut sepakat.
Kemudian menyandarkan diri pada punggung sofa.
“Mereka sangat berguna, Aksara. Kita hanya perlu sabar dan sedikit merendah.”
Aksara tahu betul perangai pria tua itu. Senang disanjung, gembira betul hatinya jika berhasil membantu bisnis lain
yang sedang tidak untung. Oleh karenanya Aksara kembali mendengus. Ia benci
berurusan dengan pria itu dalam keadaan butuh.
“Selesaikan secepatnya, aku tidak bisa membuang waktu cuma-cuma. Aku masih harus mengurus pernihakan,
satu-satunya pekerjaan yang tak bisa kuserahkan padamu begitu saja.”
Bukan lagi rahasia bagi Aksara dan Dirga bahwa perempuan itu enggan menerima gagasan pernikahan. Aksara yang sempat terdiam usai mendengar pertanyaan Dirga itu menghentikan kegiatan. Ia
berbincang dengan dirinya.
Kalau mau dipikir lebih keras kepala, sepertinya sejak awal mereka memang tidak pernah bicara. Perempuan itu
tidak sudi melancarkan rencana Aksara, dan terus menerus berontak. Aksara bahkan tidak ingat, kapan terakhir kali ia punya kesempatan untuk sekadar bertegur sapa.
“Begitulah,” sahutnya kemudian.
Selain pria tua itu, Aksara juga tidak berselera membicarakan tunangannya. Perempuan yang bahkan sulit ia
sebutkan namanya. Sosok yang—mungkin—justru menganggap Aksara tidak pernah ada.
“Memangnya harus ya kalian menikah?”
__ADS_1
Lagi-lagi pertanyaan yang sama. Aksara sudah jengah mendengarnya. Serangkaian kalimat tanya yang sudah jelas
bukan jawabannya?
“Ya. Tidak ada pilihan. Bisnis harus tetap berjalan.”
Bagi Aksara, hal-hal yang berkaitan dengan bisnis adalah prioritas. Daripada memusingkan hati dan perasaan,
pernikahannya terbilang rasional. Tidak ada yang bisa memberi keuntungan besar dengan cara yang lebih mudah selain pernikahan.
Perusahaan tekstil dan perusahaan fashion terbesar di Asia akan berkolaborasi dalam ikatan pernikahan. Dengan
menabur bumbu romasa, penjualan gaun pernikahan diperhitungkan akan melejit pesat. Aksara sudah menyusun rencananya, kabar pernikahan mereka berpotensi besar membawa angin segar bagi perusahaan.
Aksara sama sekali tidak keberatan jika hubungan mereka kelak hanyalah sebatas pasangan panggung semata. Toh, ia telah menyaksikan laga seperti itu seumur hidupnya. Aksara sudah terbiasa dengan sandiwara dalam bingkai kamera.
“Sepertinya aku harus mencari wedding organizer kompeten yang bisa tutup mulut dari media,” cetusnya, “Pernikahan ini harus megah dan berjalan sempurna terlepas dari apapun keadaan Clarisa.”
Mendengar tekad bulat dari Aksara, Dirga membuang napas panjang. Tidak ada harapan baginya untuk menyelamatkan Aksara dari kegilaannya bekerja. Aksara tetap gigih pada kewarasannya terhadap bisnis dan keuntungan.
“Pacarku kerja di wedding organizer yang lumayan. Dia pernah mengurus pernikahan artis secara privat, tahu-tahu sudah lahir anak pertama.”
Aksara terdiam sesaat. Baru kali ini ia dengar langsung dari Dirga perihal kekasih hatinya. Meski bisa dibilang amat dekat, Dirga nyaris nihil membicarakan kisah cinta. Lelaki itu hanya senang menunjukkan ketertarikannya terhadap mencumbu wanita.
“Kau tidak salah dengar, Aksara. Pacarku,” tandasnya berhasil membaca gelagat ragu pada raut wajah Aksara. “Aku yakin dia kompeten. Cocok kerjasama denganmu.”
Perempuan itu ya?Pikir Aksara sesaat kemudian. Tentu Aksara tidak mungkin menanyakan hal itu secara langsung pada Dirga. Ia bermain dengan pikirannya seraya berusaha mengingat wajah perempuan itu di kepala.
Bagaimana mungkin Aksara bekerjasama secara langsung dengannya? Sosok yang pagi ini bercumbu mesra dengan Dirga. Perempuan itu bahkan tampak murahan di mata Aksara. Meski demikian, ia tak punya alasan untuk menolak. Aksara terlanjur berprinsip untuk tidak mencampurkan urusan pribadi dan pekerjaan.
“Pacarmu bisa dipercaya?” tanyanya.
Bagaimanapun juga, penilaian objektif terhadap sesuatu maupun seseorang amatlah diperlukan. Lagipula Dirga
selalu ada di pihaknya. Lelaki itu tidak mungkin merekomendasikan sang kekasih tanpa pertimbangan.
“Tentu. Aku bisa mengantarmu kapanpun. Tidak ada salahnya juga kalau sekadar bertemu, aku yakin dia tak
keberatan membantu.”
__ADS_1
Tiada jawaban.
Aksara tengah sibuk mempertimbangkan penawaran. Dirga memang bukan lelaki beretika, dan rekomendasi darinya tak pernah mengecewakan. Namun sesuatu masih mengganjal baginya, perempuan itu apakah bisa dipercaya?