
Setelah perdebatan panjang, silang argumen dan pendapat dengan Riswan Darmawangsa yang terbiasa banyak pertimbangan. Binar mendapat persetujuan resmi mendirikan sebuah restoran di bawah bisnis Alvero dan Wangsa. Mengusung target anak muda yang berada diusia SMP sampai SMA. Binar mengangkat konsep bebas pilih dan makan dengan harga murah.
Yang ingin ia soroti adalah waktu kebersamaan para remaja saat liburan, atau mungkin usai pulang sekolah. Bukan hanya sekadar jajan di depan sekolah sambil jalan-jalan. Binar lebih suka jika mereka punya tempat untuk duduk berdiskusi, mengisi perut tanpa merogoh kocek terlalu dalam.
Berkat bantuan Adrian, serta sedikit kesabaran Ned dan Tria, Binar berhasil mendapatkan lokasi strategis yang menjangkau lima sekolah. Tepat berada di pusat kota, dengan strategi marketing yang telah disusun sedemikian rupa. Hari pembukan perdana Kedai Anak Sekolah ini dihadiri belasan influenser hingga awak media.
Seperti biasa, karangan bunga ucapan selamat juga dikirimkan, dan Riswan yang sejak tadi sibuk dengan telpon pintar tampak sibuk mengatur jajaran benda itu agar tak mengganggu prosesi acara. Binar pribadi masih mengarahkan rasa kepada para mantan koki keluarga Darmawangsa. Ia tenggelam menyelami cecapnya.
"Sedikit saja minyak ikan," titahnya kemudian.
Jauh dari jangkauan mata Binar, Ned dan Tria malah sibuk menyerah Bu Minah. Sepasang suami istri yang sudah menyandang gelar sebagai kakek dan nenek itu berusaha membuat tangis Zue dan Yan pecah. Tentu saja Bu Minah dengan gagah berani memberontak. Ia enggan diintimidasi keluarga Alvero yang usilnya tidak ketulungan.
"Nona Binarrr," teriaknya mengadu pada sang nona membuat Ned dan Tria dengan sigap berpura-pura memutret dengan tenang.
"Ma, Pa, tolong, deh. Ini acara penting buat aku, kalau mau gendong Zue sama Yan silahkan. Tapi please, jangan gangguin bu Minah!"
Sebentar ngomel, sebentar kemudian menghilang. Binar jauh lebih sibuk dari Ned dan Tria sekarang. Akan tetapi kalimat singkatnya itu sedikit banyak mampu membuat Bu Minah rela melepas bayi kembar yang masih berenergi tinggi usai menghabiskan botol susunya. Ned mengambil Zue sementara Yan diringkus Tria.
Terus terang, Binar terinspirasi dari Ned saat menamai mereka. Tiga huruf yang bermakna, tidakkah itu sudah cukup untuk menggambarkan putra-putra mungilnya? Dan tentu saja Riswan yang ingin nama-nama modern ala bayi jaman sekarang sempat menolak.
" Seperti Abhimata dan Abiandra misalnya, itu terdengar lebih keren, Binar," protes Riswan menolak mentah-mentah gagasan Binar, "Lagipula mereka bukan anakmu sendirian, loh."
Binar yang kala itu kesal langsung berdecak, "Zue artinya indah atau mengesankan, kalau Yan artinya keanggunan. Tiga huruf itu punya makna yang dalam kalau mas Riswan mau sedikit lebih banyak membaca."
"Terus masa cuma Zue Darmawangsa, gitu?"
"Swin Zue Darmawangsa, dan Swin Yan Darmawangsa," telak Binar dengan bangganya.
__ADS_1
"Apa itu Swin segala? Bagus sih, tapi..."
"Swin itu nama kita, Mas. Riswan dan Binar, SWIN. Simple, unik, dan aku jamin hampir nggak ada yang nyamain nama mereka."
Begitulah akhirnya Riswan yang keburu jatuh cinta dengan penjelasan Binar langsung sepakat. Boleh juga. Twin Boy juga tampak cocok dengan nama yang disematkan oleh sang ibunda. Lagipula mereka memang melambangkan keindahan dan keangguanan. Tiga nama yang memang bermakna mendalam.
Pemotongan pita sebagai simbol pembukaan mengundang blitz kamera menyala-nyala. Sekelompok warga lokal yang kebetulan lewat ikut mampir usai mendengar woro-woro gratisan. Dana yang lumayan besar memang digelontorkan khusus sebagai bentuk dukungan terhadap bisnis pertama Binar, dan tak satupun dari mereka merasa keberatan.
Intan dengan perut buncitnya tampak antusias mencium pipi kanan dan kiri Binar, "Selamat, yaaa... semoga laris manis bisnisnya. Oh, kenalkan ini suamiku, Paul Lee. Nanti kami ajak teman-teman mampir kalau acara gratisannya sudah berakhir."
Binar memberi salam sopan pada pria berwajah khas Asia Timur yang tersenyum ramah. Dilihat sekilas atau dilamatkan, sepasang suami istri ini memang tampak persis sama. Binar lantas mempersilahkan mereka, sambil terus menyambut tamu-tamu yang datang.
"Zue sama Yan kemana?" Riswan yang baru kembali dari rutinitas kerjanya berdiri di samping Binar seraya ikut tersenyum ramah.
"Biasa, mama sama papa nyerah bu Minah."
"Oh. Sudah dapat kabar dari kampusmu itu yang katanya oke di bidang kulineran?" taya Riswan sambil merapikan rambut Binar yang di matanya tampak berantakan.
"Nanti kita lihat bersama setelah acara," ia menanggalkan satu belai lembut sebelum menyelesaikan kegiatan, "Kalau capek bilang, nanti biar aku yang gantikan keliling acara."
Binar mengangguk riang.
Pada dasarnya, ada banyak hal yang berubah dari Riswan pasca inseden dramatis melahirkan. Juga proses selama menunggu si kembar boleh diangkut pulang. Pria itu menjadi sangat hangat. Jiwa pelindungnya seakan dibangunkan oleh alam bawah sadar.
Mungkin sesekali, mereka akan berdebat soal siapa yang jaga malam? Atau siapa yang ganti popok si kembar? Kadang kala, perdebatan soal binis dan pendidikan Binar yang menurut argumen Riswan, seharusnya Binar bisa melakukan hal yang lebih besar dari sekadar bisnis atau sekolah memasak.
Tapi dibanding awal pernikahan, lebih banyak hal bisa mereka bicarakan dengan cara terbuka. Pikiran bekerja normal, emosi masih memiliki kendalinya. Dan bagi mereka tentu saja, setiap hari yang dilalui dalam pernikahan ini adalah pelajaran.
Belajar untuk menjadi lebih baik untuk hubungan jangka panjang. Belajar untuk tetap saling mencintai dalam semua situasi, kondisi, dan keadaan. Belajar untuk saling menggenggam di antara sulitnya menyatukan argumen pendapat dua kepala.
Binar yang membantu Bu Minah mengurus piring-piring kotor itu langsung terkejut saat Riswan menyentuh pundaknya. Pria itu menatap mata perempuan itu lekat sebelum membuka suara, "Sean mau bicara, Sayang. Penting katanya."
__ADS_1
Sean? Sudah lama sekali rasanya nama itu tak singgah di benak Binar. Perempuan itu bahkan sempat ragu-ragu kalau saja Riswan tidak memberi dukungan. "Temui saja, giliranmu menyelesaikan urusan yang tertunda," begitulah akhirnya Binar menuju titik lokasi yang jauh dari riuh manusia.
Lelaki dengan hoodie yang menudung kepala tampak senyum mendapati kehadiran Binar. Entah seulas senyum yang boleh diartikan bagaimana sebab terasa menohok hati Binar. Ia mendekat dan kian memangkas jarak yang terbentang. Sean semakin lugas merekahkan senyuman.
"Keren. Aku baru tau kamu tertarik di bidang memasak sampai segitunya," kata Sean membuka percakapan.
Sadar tak akan mendapat jawaban langsung dari Binar, lelaki itu mengisi kekosongan waktu dengan tawa. "Terima kasih, Binar. Aku ingat betul kamu lebih suka ucapan terima kasih dibanding maaf. Terima kasih sudah menjadi sahabat terbaikku semasa SMA, terima kasih sudah menjadi perempuan hebat yang luar biasa."
"Terlepas dari perintah ayahmu atau bukan, terus terang aku tetap akan memperjuangkanmu, Binar. Aku nggak bercanda saat bilang suka juga padamu dan mengatakan bayi itu anak kita."
Relung Binar terasa campur aduk mendengar ucapan Sean. Bagaimanapun lelaki itu pernah singgah mengisi hari-harinya, dan yah... suka atau tidak faktanya, Sean pernah mengisi hari pilu yang Riswan tambatkan padanya.
"Selamat atas kelahiran putra-putramu, Binar. Aku datang cuma mau menyampaikan kabar kalau aku melanjutkan sekolah ke luar negeri entah sampai kapan."
Itu memang cita-cita Sean. Melanjutkan sekolah dengan meninggalkan Nusantara. Lelaki itu berhasil mewujudkan mimpinya, dan Binar yang paling paham alasan mengapa lelaki itu datang menyampaikan salam perpisahan.
Binar berlari memeluknya, mendekap lelaki itu dengan sisa kepedihan yang terpendam. "Selamat juga untukmu, Sean. Terima kasih banyak. Semoga kau menemukan seseorang yang mencintaimu dengan amat sangat," tutur Binar berhamburan.
Sean menepuk-nepuk punggung perempuan itu sebelum menarik paksa dirinya sendiri dari sana. Lelaki itu mengacak singkat rambut Binar dengan senyuman yang sama. "Jangan memelukku sembarangan, Binar," keluh Sean sambil mendekatkan wajah ke telinga Binar, "Pamanmu itu sudah melototiku sampai matanya mau keluar."
Itu adalah kalimat terakhir yang Sean berikan sebelum beranjak. Binar menyaksikan punggung lelaki itu lamat-lamat sampai tak menyadari kehadiran Riswan di sisinya. Dehem singkat dari sang suami membuatnya terperangah, sinis liriknya tampak tajam menoleh kesal.
"Seru peluk-pelukan," ejek Riswan.
"Dih. Mau dipeluk juga?" goda Binar seraya berlarian.
Barangkali bagi Riswan maupun Binar, pernikahan atas dasar dosa satu malam ini bukan lagi sebuah dosa. Melainkan takdir yang memang Tuhan rencanakan untuk mempertemukan mereka. Walau dengan cara naif dan menjijikkan bagi sebagian orang. Tapi pernikahan layak mereka syukuri dengan hati lapang.
Zue dan Yan, terima kasih telah lahir ke dunia.
Selesai
__ADS_1