Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
16. Binar Keguguran?


__ADS_3

Wanita cantik dengan rambut diurai itu mengoleskan gel khusus di perut Binar yang tengah berbaring. Aroma wangi dari tubuhnya menyeruak. Spesialis kandungan itu bernama Intan, nama yang pas menyempurnakan komposisi diri sang empunya.


Sambil sesekali menjalin interaksi dengan mata Binar, wanita itu melengkungkan senyuman. Sambutan yang hangat, berbanding terbalik dengan Binar yang panik dengan kondisi kehamilan. Apa semua baik-baik saja?


"Untuk usia sepuluh minggu, perut segini sudah terbilang besar," jelasnya sambil mulai menggerakkan transducer pada bagian perut bawah Binar.


Riswan yang tak bisa menyembunyikan cemas tampak gelisah bersindekap dada. Pria itu telah membatalkan seluruh jadwal usai menerima telpon dari Binar. Sekalipun keberadaan janin itu tidak begitu diharapkan, Riswan masih manusiawi takut kehilangan.


Mereka mengikuti Intan sang spesialis kandungan mengamati monitor yang menyajikan janin pada layar. Belum tampak seperti manusia. Namun beberapa bagian tubuh sudah mulai terlihat jelas.


Intan menggeser transducer ke kiri dan ke kanan, lantas memandang Binar, "Mau dengar detak jantungnya?" tawar sang spesialis kandungan, "Mereka baik-baik saja, Riswan. Tidak perlu cemas," imbuhnya.


Wanita itu kemudian menekan satu tombol yang memperdengarkan denyut jantung buah hati mereka. Iramanya terdengar teratur dengan degup sempurna. Embus napas lega dari dua manusia itu membuat Intan tergerlak singkat.


"Sudah mau jadi bapak aja kamu, Riswan. Mana aku tidak dapat undang pernikahannya pula," Intan mencoba mencairkan suasana.


"Ah, maaf. Aku tidak ikut mengatur undangan. Jadi kondisi istriku gimana, Intan? Pendarahannya kenapa?"


Sementara Binar terheran-heran dengan situasi di hadapannya, Intan kembali melengkungkan senyuman. Alih-alih menjawab Riswan, ia lebih tertarik memberi penjelasan pada Binar.


"Aku kenal Riswan saat kuliah. Pernah naksir juga, tapi berat. Dia ini banyak yang suka. Kamu beruntung loh bisa jadi istrinya."


Binar melirik Riswan yang tampak tersipu usai mendengar pujian Intan. Pria itu fokus menatap teman lamanya yang sudah beralih kembali pada monitor lebar. Membuat Binar mendengus kasar.


Apa maknanya? Pemandangan tersaji di hadapan Binar ini terlihat seperti kisah lama yang belum kelar. Riswan dan Intan tampak saling melepas kerinduan, meski masing-masing dari mereka tampak menjaga jarak demi Binar.


"Nah, darah yang keluar itu berasal dari saluran kencing yang terkena tekanan dari rahim yang membesar. Infeksi saluran kencing seperti ini bukan hal yang bahaya, apalagi Binar baru pertama mengalaminya," jelas Intan dengan nada lembut penuh kehati-hatian.


"Bisa kita lihat ini adalah rahim Binar, dan ini adalah kantung kemihnya. Tubuh sedang menyesuaikan pertumbuhan janin yang kian membesar, nanti biar aku resepkan beberapa obat untuk mencegah pendarahan."


Usai menjelaskan penyebab dari masalah pendarahan, wanita itu menoleh pada Riswan dan Binar bergantian. Lagi-lagi ia tersenyum ramah. Reaksi yang membuat Binar merasakan hawa panas dalam dirinya.

__ADS_1


Kenapa kesannya jadi sengaja cari perhatian? Terlebih ketika tatap mata Intan bertemu dengan Riswan.


"Kabar baiknya mereka sehat, si kembar tumbuh sesuai dengan usia kandungan normal."


Namun kalimat Intan menangkis segala prasangka. Binar terkesiap, sama halnya dengan Riswan. Mereka serempak bertanya.


"Kembar?"


Membuat Intan lagi-lagi tertawa.


"Aku sudah curiga sejak melihat perut Binar. Kemarilah," Intan membimbing pandangan Riswan dan Binar mendekat, "Ada dua, kan? Kemungkinan besar mereka kembar identik, meski belum terlihat jelas jenis kelaminnya."


Intan meletakkan transducernya, lantas membersihkan gel dari perut Binar.


"Sudah aku ambil beberapa gambar, terlihat jelas di sana. Jadi mulai sekarang, pastikan Binar makan lebih banyak kalau nggak mau mereka berdua rebutan."


"Satu lagi, perut Binar juga akan lebih besar dibanding ibu hamil pada umumnya. Jadi selain pertambahan berat badan, akan banyak organ tubuh yang mengalami penyesuaian. Apalagi Binar masih muda. Jadi minimal sebulan dua kali usahakan datang untuk kontrol ya, Binar."


Kembar? Mereka adalah hadiah yang luar biasa, bukan?


Ia beruntung telah mengambil keputusan yang tepat, dan tidak sepakat dengan ide Riswan untuk menggugurkan kandungan. Mereka nyaris terkena dosa ganda kalau-kalau Binar tak keras kepala.


Tak begitu memperdulikan Intan, Binar melengkungkan senyum girang. Bukan keguguran, ia malah mendapat berkah yang terasa melimpah ruah. Bayi kembar ini adalah harta berharga yang akan Binar lindungi dengan segenap jiwa.


Binar bersumpah akan menghalalkan segala cara demi masa depan buah hatinya.


Sesuai janjinya, Intan meresepkan beberapa obat. Catatan pada secarik kertas itu bisa diambil pada apotik depan.


Tak banyak bicara, Riswan dengan sigap menuntun Binar. Pria itu merengkuhkan lengan di pundaknya. Seolah mengantisipasi goyah pada tubuh Binar.


Apakah bayi kembar ini juga berkah bagi Riswan? Tiba-tiba pikiran itu terlintas.

__ADS_1


Binar mencuri lirik dari sisi kanan Riswan. Pandangannya jatuh pada pria itu lekat. Mengamati setiap sisi raut wajah yang mungkin saja tersirat.


Akan tetapi, pria itu setia menyembunyikan air muka dari jangkauan Binar. Datar, tak menunjukkan reaksi signifikan. Respon yang menyulitkannya, Binar gagal menerka isi kepala Riswan.


"Kalian sepertinya dekat. Maksudku, dokter Intan dan paman," ujar Binar membuka percakapan.


Entah mengapa ia lebih tertarik membicarakan dokter cantik itu dibanding buah hati mereka. Ada setitik penasaran yang menuntut jawaban dalam diri Binar. Sebetulnya kenangan seperti apa yang mengisi hari-hari Riswan dengan Intan?


"Sebatas kenal," tukas Riswan singkat.


Binar manggut-manggut seolah percaya, meski keraguan tak sedikitpun luput dari benak, "Tapi tadi keliatannya salah tingkah waktu dia puji paman. Suka ya?"


Dengus napas Riswan pun mulai terdengar. Pria itu memutar bola mata, "Kenapa? Cemburu? Kamu boleh cari suami baru kenapa aku dilarang?" ejeknya.


Spontan Binar menepis rengkuhan pria itu darinya, "Dih. Wajar dong kalo aku lebih suka Adrian. Alasannya jelas. Lah paman apa? Aku juga udah berusaha jadi istri yang baik. Paman aja yang nggak peduli," cecar Binar tidak terima.


"Kalo gitu ya jangan suka sama Adrian," gumam Riswan pelan.


Jawaban yang membuat langkah Binar tertahan. Pria itu terpaksa diam di tempat, mengikut pergerakan Binar.


"Kenapa nggak boleh suka sama Adrian?" tanyanya merindukan kejujuran. Mungkinkah Riswan juga merasakan kecemburuan?


Sungguh, hanya itu yang ingin Binar dengar.


"Ya karena aku nggak mau anak kembar kita mukanya mirip Adrian gara-gara kamu suka sama dia!" protes Riswan. "Lagian mereka anakku, Binar! Aku kurang tampan apa?"


Kalimat panjang lebar itu diakhiri dengan adegan membuang pandang. Riswan panik menyembunyikan diri usai berkata-kata. Protes konyol yang sukses menggelitik perut Binar.


Mendadak pria itu tampak menggemaskan. Tingkah yang biasanya sangat menyebalkan, berubah menjadi imut seketika. Kali ini Binar menggeleng-gelengkan kepala, gilirannya untuk meninggalkan Riswan.


"Mereka anakku juga, Paman. Lebih baik mirip aku dibanding paman," ejeknya diiringi tawa.

__ADS_1


Spontan Riswan mengekor seraya mengajukan perdebatan. Permasalahan sepele itu terus mereka debatkan hingga sepanjang perjalanan. Tidak ada mufakat, sebab mereka sama-sama keras kepala.


__ADS_2