
Tut...
Tuutt...
Tuuuttt...
Maaf, nomor yang anda tuj...
Riswan membanting ponselnya. Mengacak rambut asal, lantas menggumamkan ribuan sumpah serapah. Ia tak butuh permintaan maaf dari kotak suara.
Kalau saja semalam ia bisa sedikit lebih cerdas. Tanggap memeriksa CCTV, lantas menemukan keberadaan Binar, pasti perkaranya tidak serumit sekarang. Sekali lagi, Riswan berdecak.
"Aku sudah telpon kepala pelayan di rumah utama, Binar memang tidak pulang," keluh Riswan frustasi berat. Ia melirik sosok yang ikut menanggung gusar.
"Paling tidak kau bisa kabari aku kalau Binar mau datang," protesnya.
Tentu Riswan sama sekali tak memprediksi kehadiran Binar. Lagipula pertemuan itu tidak sengaja. Ia hanya berpikir sederhana, seharusnya bukan masalah kalau hanya sekadar menidurkan wanita itu di kamarnya.
"Mana aku tahu kalau kau bertemu Rhea!" tukas Adrian tak mau jadi kambing hitam, "Sampai membawanya ke apartemen segala, siapa yang bisa menduga?"
Dengus kasar Riswan lebih dulu menjawab, "Dia mabuk parah," bela Riswan meluruskan tindakkan.
"Pihak bar menelponku dan dia tak bisa menyebutkan alamat hotelnya. Mustahil kan kalau aku menginapkannya di hotel sembarangan?"
Adrian membuang muka, "Yakin?" tanyanya sangsi. "Kalau aku jadi Binar ya bukan salah paham lagi, tapi kacau setengah mati."
"Dia pasti mengasumsikannya sendiri," Riswan menimpali, "Binar selalu begitu, membumbui pikirannya dengan hal-hal tidak berguna, ditambah emosi yang selalu meledak-ledak."
"Padahal aku hanya ingin istirahat sejenak," gumam Riswan seraya menarik napas perlahan-lahan, "Kalau sudah begini tak ada satupun hal yang bisa aku selesaikan."
Sebagai tokoh yang hafal karakter Riswan di luar kepala, tentu Adrian paham. Atasan terbaik yang memperkerjakannya itu pastilah kewalahan. Riswan bukan tipe orang yang mahir menyelesaikan banyak hal disaat bersamaan. Sebisa mungkin ia meminimalisir distraksi agar hasil kerjanya maksimal.
Tapi pernikahan bukanlah komitmen yang sederhana. Adrian ingin Riswan menyadari keputusan itu juga. Ada banyak hal yang harus Riswan tanggung usai mengucap janji suci dengan Binar.
Dua kepala, badan, juga perasaan. Puluhan tahun bersama pun belum tentu mampu saling menyatukannya. Bisa dibilang Riswan masih terlalu egois terhadap pernikahannya dengan Binar. Riswan pikir tanggung jawab hanyalah sebatas menikahi semata.
"Aku sudah bersikap baik seperti yang kau sarankan," celetuk Riswan membuyarkan lamunan Adrian, "Aku juga sudah memenuhi segala kebutuhannya, sesulit itu ya dengar penjelasanku sebentar?!"
Bukan masalah, mudah bagi Riswan untuk memaklumi usia Binar. Wajar kalau perempuan itu labil dan kekanakan. Tapi kenapa tak bisa berlaku sebaliknya? Riswan tak menuntut apapun kecuali meminta Binar agar memahami pekerjaannya!
Apa yang susah?
__ADS_1
Riswan senantiasa meluangkan waktu untuk mendengar curhatan Binar, tapi kenapa kesempatan lima menit untuk menjelaskan situasi saja tak diijinkan?
"Mungkin di rumah Ned dan Tria," sahut Adrian. "Kalau aku jadi Binar, rasanya tak ada yang lebih aman kecuali rumah orang tua."
Riswan dan Adrian berpandang.
Iya, Riswan tak memikirkannya. Adrian memang sangat berguna untuk menganalisis manusia. Kemampuan pria itu tak pernah berkurang, Riswan buru-buru menghubungi Ned kalau saja Adrian tidak mencegah.
"Aturannya datang langsung ke sana, Riswan. Mereka bisa ikutan panik kalau kau menghubunginya sekarang," tukad Adrian.
Tanpa sepatah kata lagi, Riswan bergegas. Pria itu menyambar jas yang bersandar pada gantungan plastik di sudut ruangan. Ia tampak begitu gegabah, namun sekali lagi Adrian menahannya dengan kalimat tanya.
"Apa kau masih mencintainya"
Hening sejenak. Bukan hanya tidak memberikan jawaban, Riswan juga menjeda segala aktifitas. Ia mematung berdetik-detik lamanya.
Sementara Adrian sudah mencurahkan seluruh pandang. Matanya menilai gelagat Riswan dengan saksama.
"Kita semua mengenalnya, Riswan, termasuk Ned dan Tria. Jadi apa harapan itu masih ada? Keinginan untuk kembali bersama dengan Rhea.
Namun, Riswan memilih hak diam. Pria itu berlalu meninggalkan Adrian yang telah menemukan jawaban tanpa kata-kata. Ya, faktanya, wanita itu senantiasa hidup bernyawa dalam sanubari Riswan.
***
Baru dibuka setengah, Ned sudah berniat menutup kembali pintu rumah. Beruntung dengan segala kegesitannya, Riswan punya kuasa untuk menahan. Ned terpaksa diam sejenak.
"Soal Binar," Riswan menggantung kalimatnya. Berusaha mencuri raut wajah Ned ketika nama sang putri di sebutkan.
Akan tetapi tak ada tanggapan. Pria itu tak menunjukkan air muka. Datar.
"Maaf merepotkan, tapi apa dia pulang?" sambung Riswan memelas.
"Aku tidak tahu kemana perginya, jadi aku pikir mungkin dia ada di sini sekarang," sebisa mungkin Riswan memilah kata agar tak menimbulkan panik atau salah sangka.
Perkara kehamilan Binar saja belum kelar, ia enggan menambah pertikaian dengan Ned apalagi Tria. Dalam kasus ini, Riswan berharap bisa mengajak mereka kerja sama.
"Apa maksudnya?" sahut Tria menarik daun pintu hingga terbuka lebar, "Bicara yang jelas, Riswan. Apa yang terjadi dengan Binar?!"
Iris mata Riswan menatap Ned dan Tria bergantian. Dua manusia itu tampak serius menantikan jawaban. Pertanda yang mengisyaratkan bahwa Binar tak ada di sana.
Riswan menggaruk tengkuk singkat, menundukkan pandangan, "Semalam, Binar tidak pulang."
__ADS_1
"Kenapa baru bilang sekarang?" keluh Tria, "Dengar, dia bukan tipe anak yang kabur-kaburan. Apa yang kau lakukan sampai Binar tidak pulang?!" cecarnya.
Tria sudah kalut sementara Ned masih bungkam.
"Jawab, Riswan! Kau sudah merusak putriku, dan membuatnya melarikan diri dari rumah! Apa sih yang kau pikirkan?! Kau kira selama ini aku hidup tenang setelah membuangnya?!" cecar Tria kalap.
Ned berusaha menahan sang istri agar tak melakukan kekerasan. Pria itu memberi rengkuhan hangat agar Tria luluh dalam dekap. Wanita itu pun patuh tanpa syarat, sayup-sayup ia menyuarakan isak.
Sekacau itulah keluarga Alvero sekarang. Hilang harapan. Tak ada motivasi untuk melanjutkan kehidupan. Mereka kacau berantakan.
Apa artinya Ned dan Tria tanpa Binar? Kekosongan itu bukan hal yang bisa ditambal. Meski tak berarti sudi memaafkan Binar, mereka lebih memilih untuk hancur bersama.
"Kami hanya tahu beberapa tempat yang mungkin dikunjungi Binar," sahut Ned tenang. Pria itu menatap Riswan tanpa setitik emosi di wajahnya.
Riswan mendongak. Matanya sontak membulat menaruh harap, "Dimana, Ned? Biar aku yang ke sana," desaknya.
"Tidak, Riswan. Kami yang ke sana," tukas Ned tegas, ia terlihat tak bersedia menerima penawaran.
Mata mereka beradu sejenak.
Dulu, tak perlu ada kata untuk menjelaskan makna. Maksud dan tujuan mereka, sudah terangkum dalam manik mata. Karib yang pernah begitu dekat, kalau saja naas tidak menelan semua dalam sekejap.
Karib yang pernah begitu dekat itu, bahkan tak mampu lagi ia terka. Ned sengaja menyulitkan Riswan untuk memahaminya. Riswan hanya diberi kesempatan merasa; bahwa hawa dingin hadir bersama tatap Ned yang lambat laun kian tajam.
"Tapi dia istri..."
"Kau bertemu Rhea, kan?" sela Ned membungkam mulut Riswan, "Melihat dari ekspresimu, sepertinya benar," ejeknya.
Tria yang sama terkejutnya lantas menepis air mata. Wanita itu memandang sang suami dan Riswan bergantian. Rhea? Apa yang membuat wanita itu kembali lagi ke Indonesia?
Tak berselera mengatur mimik muka, pandangan Ned setia pada Riswan. Pria itu seperti enggan melewatkan seincipun garis-garis wajah sahabatnya. Menerka jawaban yang mungkin masih tersisa di sana.
"Aku yang beri dia alamat, apa kalian sudah bermalam?" imbuhnya, "Selamat, kau bisa berhenti mengganggu Binar dan memulai romansamu lagi sekarang."
"Tidak, dengar..."
*Brakh*
Bantingan pintu dari hentakan tangan Tria merampas kesempatan Riswan. Wanita itu sontak mengunci pintu rumah dan berteriak murka dari dalam.
"BIADAP KAU, RISWAN! BERHENTI MENYEBUT BINAR SEBAGAI ISTRIMU DETIK INI JUGA!!"
__ADS_1