
Janji suci telah dilantunkan. Binar dan Riswan telah menjadi sepasang suami istri yang sah.
Dari sekian banyak tamu undangan yang disebar Ned pada pernikahan mereka, hanya tersisa Greg dan Adrian sebagai saksinya. Pria tua itu bersikeras datang. Ia ingin menyaksikan pernikahan itu langsung dengan mata kepalanya.
"Pulanglah. Mulai hari ini kalian tinggal di rumah utama," titah Greg.
Riswan melirik Binar singkat, sementara Binar yang bingung tampak menatap Riswan dan Greg bergantian.
"Tidak bisa, Kek. Apartemenku lebih dekat dengan kantor dan sekolah Binar," tolak Riswan.
"Dia hamil! Memangnya kau bisa tanggung jawab kalau terjadi apa-apa saat di apartemenmu sendiri? Kejadian hari ini bisa saja kembali terjadi!"
Mereka berpandangan sejenak. Kalau dipikir-pikir, Greg ada benarnya. Riswan tidak bisa menjaga Binar satu kali dua puluh empat jam. Apalagi ia sudah secara resmi mengambil alih Wangsa Group seutuhnya. Tentu akan lebih baik jika tinggal di rumah utama.
Walau tidak sepenuhnya senang, Binar pribadi sepakat. Ia tidak ingin membahayakan buah hatinya. Binar sama sekali tidak keberatan meski harus menempuh perjalanan ke sekolah sedikit lebih panjang. Bukan masalah juga jika mereka tinggal bersama Greg Darmawangsa. Tujuan Binar hanya melindungi nyawa yang hidup dengan dirinya.
"Aku nggak keberatan, lagipula sepi kalau di apartemenmu sendirian," kata Binar menenangkan.
Kesepakatan itu di-aamiin-i oleh mereka. Alasan untuk menolak juga tidak cukup kuat. Sehingga, hari itu juga mereka bergegas pindah ke rumah utama.
Hari yang panjang usai drama pernikahan mereka, diakhiri dengan datangnya Binar ke kediaman Darmawangsa. Mansion mewah dengan pilar raksasa, asitektur mewah yang menawan mata. Binar tak bisa berkedip menyaksikannya.
Meski berasal dari keluarga atas, Binar tak pernah melihat rumah sejenis itu seumur hidupnya. Lampu yang bergelantungan tampak seperti kepingan emas. Disertai hiasan dinding yang bernilai ratusan rupiah. Ubin marmer yang dingin menyentuh kakinya juga tak bisa diabaikan. Binar terpukau dengan mulut setengah terbuka.
Dua perempuan yang tampak berkisar dua tahun lebih tua darinya itu mendekat. Mereka membantu Binar membopong barang bawaannya. Binar berniat menolak, namun Riswan menahannya agar mempercayakan itu pada pelayan mereka.
Langkah selanjutnya, mereka berjalan ke ruang makan. Mejanya panjang dengan deret sepuluh kursi yang berjajar. Greg telah duduk di sana, mengambil kuasa pada kursi tunggal yang berdiri di tengah. Riswan pun menuntun Binar untuk duduk di sebelah kiri Greg, sementara ia di sebelah kanan.
__ADS_1
Menu makan malam mewah terhampar di hadapan mereka. Aneka varian tak memberi celah pada kekosongan meja. Binar bisa membayangkan seluruh makanan itu mengisi perutnya. Itu terasa seperti mencicipi sedikit nikmat surga, luar biasa.
"Biarkan Binar tidur di kamar depan," Riswan yang mulai meraih garpu dan pisau itu bersuara.
Binar belum membuka prosesi makan malamnya, namun ketegangan telah mengakuisisi sekitar.
"Kalian tidur di kamar utama. Aku juga sudah menyiapkan ruang belajar, kalau itu yang menjadi dalihmu untuk mengindari tidur bersama. Bagaimanapun kalian sudah resmi menikah, aku tidak ingin mendengar isu aneh dari para pelayan," Greg menyahut panjang lebar.
Riswan melelehkan daging asap di mulutnya. Sambil memutar-mutarkan gelas wine di tangan, ia bicara, "Tidak akan ada isu aneh hanya karena pisah kamar."
"Turuti perkataanku, Riswan. Aku sudah berlapang hati menerimanya."
Riswan hendak melayangkan bantahan kalau saja ekor matanya tidak berpapasan dengan Binar. Perempuan itu memberinya isyarat agar menghentikan perdebatan. Ia tampak lapar dan ingin mulai makan.
Tentu Binar tidak enak hati kalau sampai pertengkaran kembali terjadi di hari pertama kepindahannya. Untuk sementara ia ingin tenang. Meski bagaimanapun, Binar tak bisa menyangkal kalau ucapan Greg memang pedas dan menyakitkan.
"Aku yakin kalian tidak butuh bulan madu untuk merayakan pernikahan," sambungnya mencibir penuh penekanan.
Hal yang membuat selera makan Binar hilang. Ia terpaksa meletakkan garpu yang belum sempat menyentuh makanan.
Binar bangkit dari sana, langsung mengundang perhatian Riswan dan Greg bersamaan.
"Aku mau istirahat," katanya singkat tepat sebelum meninggalkan ruangan.
Binar tidak peduli lagi dengan reaksi Greg yang masih sinis memandangnya. Kehamilan saja sudah membuatnya lelah, apalagi berdebat dengan pria tua bermulut pedas. Lagipula, seharian ini Binar belum merebahkan badan. Ia berharap bisa melakukannya sekarang.
Pelayan yang melihat Binar langsung mengarahkannya ke kamar utama. Kamar luas dengan kasur mewah di tengah ruangan. Di sisi kirinya terdapat meja rias, dan toilet kering yang hanya disekat oleh kaca. Sementara sisi kanannya, terhampar sofa, televisi, dan seperangkat alat game keluaran terbaru yang terkenal.
__ADS_1
Binar berjalan menuju kasur tanpa basa-basi ria. Ia langsung membiarkan dirinya tenggelam dalam empuk yang memeluk tubuhnya. Binar berguling ke kiri dan kekanan. Ia merasakan sprei selembut sutra yang menjamahi kulitnya. Nyaman.
Selagi menikmati kesendiriannya, Binar berjalan menuju toilet dengan pembatas transparan. Bathtub terbuat dari marmer yang mewah. Di sampingnya berjajar aneka wangi-wangian yang tampak lembut dan menyegarkan. Showernya dilengkapi dengan air dingin dan hangat, Binar tergoda untuk menenggelamkan dirinya di sana.
Namun, bagaimana jika Riswan tiba-tiba masuk saat ia mandi di sana? Binar mempertimbangkan kemungkinan itu dan menepisnya.
Tidak mungkin kan prosesi makan malam mereka berakhir begitu saja? Binar yakin jika menu makan malam itu tak cukup dihabiskan dalam waktu satu jam.
Binar berlari mengunci pintu kamar, ia langsung menuju ke toilet dan berendam di dalam sana. Ditemani dengan pengharum aroma terapi, serta alunan musik dari alat yang terdapat di sana, Binar membiarkan busa-busa sabun menjamah tubunya.
Relaksasi seperti di spa. Binar sedikit menenggelamkan tubuhnya sambil memejamkan mata. Namun, tiba-tiba air matanya merebak. Binar merasakan pilu yang teramat dalam meggerogoti relung batinnya.
Semua terjadi begitu saja, lebih cepat dari perputaran roll kamera yang memproyeksikan gambar ke layar tancap. Malam yang singkat itu, ternyata mengubah 180 derajad hidup Binar. Ia bahkan tidak pernah membayangkan akan menikah dengan Riswan.
Pria yang sudah lama berteman dengan sang ayah. Sosok yang selama ini dikenalnya sebagai paman. Sayup-sayup, ingatan malam itu kembali bermain dalam kepala. Binar melihatnya kian jelas kala air mata kian gigih berjatuhan.
Tatapan sayu Riswan, juga sentuhan jemarinya yang menjalari tubuh Binar secara perlahan. Binar kian sulit menyelamatkan kewarasannya kala Riswan ******* bibirnya. Lidah mereka berdansa, dan Binar bisa ikut menikmati minuman keras yang baru diteguk Riswan lewat ciuman mereka.
Riswan menyusuri tubuh Binar. Kecupan-kecupan lembut ditanggalkannya secara merata. Malam itu Binar telah menggila. Namun sepersekian detik Riswan tersadar dari pengarnya, pria itu menarik segala cumbu kala mendapati Binar di sana.
Sebutir air mata Binar kembali lolos dari pelupuk mata. Ia ingat betul bagaimana caranya manarik kepala Riswan dan memenjarakan lelaki itu dalam permainan panas mereka. Kalau saja, setitik akal sehat Binar berguna, mungkin...
"Astaga! Kamu ngapain, Binar?!"
Binar terperangah ketika mendapati Riswan berteriak dari tengah kamar. Pria itu membelakangi Binar usai menutup mata dengan telapak tangan. Sementara beberapa pelayan yang berada di ambang pintu langsung semburat melarikan diri dari sana.
Sebetulnya, apa yang terjadi selama Binar hanyut dalam lamunan?
__ADS_1