Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
23. Sumpah Tengah Malam


__ADS_3

Ia mendongak.


Mengijinkan lidah itu membelainya. Meninggalkan tanda-tanda kemerahan yang sudah tak terhitung lagi ada berapa. Ia hanya memejam, menyerah pada segala rasa yang memburu jiwa.


Sesekali ia meluapkan gejolak lewat cengkraman pada rambut Riswan. Membuat pria itu tergerak untuk membopong tubuh Binar ke ranjang. Sambutan dari sang istri tak mungkin dilewatkannya begitu saja.


Mereka bertukar pandang.


Menjeda percumbuan yang sudah membuat mereka sama-sama berkeringat. Riswan menepis butir-butir bening dari pelipis Binar, seraya tersenyum malu dengan pipi memerah.


"Aku tau ini gila, tapi... boleh aku lanjutkan?"


Binar membuka dua lengannya dan merengkuh tengkuk Riswan. Ia menarik pria itu mendekat, membuatnya lebih mudah mendaratkan kecupan. Akan tetapi mereka masih saling memandang, tenggelam pada iris mata.


Untuk pertama kalinya, Riswan mengelus perut Binar. Dengan sopan, ia senyum seolah meminta ijin juga pada buah hati mereka. Binar ikut tersenyum kala Riswan mencium keningnya. Suasana yang tidak buru-buru tapi memabukkan.


Dengan lembut, jemari Riswan mengelus puncak kepala Binar. Ada sekelebat rasa tak biasa yang melintasi benaknya. Perasaan yang lebih dari sekadar ingin menjaga dan melindungi perempuan itu dari bahaya.


Mungkinkah, kasih sayang?


Entahlah, kasih sayang seperti apa yang Riswan rasakan. Mungkin sebatas paman pada keponakannya. Ia tak cukup berani menilai perasaannya sebagai cinta.


Tidak mungkin, kan?


Bagaimana ia bisa mencintai Binar tiba-tiba?


Binar kembali memejam kala Riswan meluapkan segala ketulusan lewat sentuhan. Pria itu berusaha mencerna pikirannya juga. Menilai antara nafsu dan perasaan yang melandanya sekarang.


Ia tak merasa begini pada setiap wanita.


Perlahan-lahan, Riswan mulai menurunkan sisi lain pakaian Binar. Perempuan itu nyaris terbuai kalau saja suara bising dari luar tidak menyadarkan mereka.


Keduanya terkesiap.


Pintu kamar Binar diketuk amat keras. Lebih terkesan seperti hendak didobrak paksa.


Semakin lama dibiarkan, suaranya kian membabi-buta. Diikuti teriak murka yang menyusul beberapa detik kemudian.


"Buka pintunya sekarang juga, Binar!" teriak Tria, "Mama tahu Riswan di dalam!"


Tentu saja Binar panik, ia mencari selimut untuk menyembunyikan diri. Riswan yang masih dengan ketenangannya malah tersenyum kecil. Pria itu mencubit ujung hidung Binar sambil berbisik.

__ADS_1


"Nggak usah khawatir. Biar aku yang hadapi situasi ini."


Sembari merapikan pakaian, pria itu langsung beranjak. Ia membuka pintu sesedikit mungkin agar posisi Binar tidak terlihat. Tria dan Ned menyambutnya garang, dan tentu... raut itu bukan masalah lagi bagi Riswan.


*Plak*


Satu tamparan sukses ia dapatkan. Tak jadi masalah. Riswan harus mulai membiasakan diri pada sikap dan tindak arogan dari dua sahabatnya. Mereka telah naik status menjadi mertua Riswan sekarang.


"Keluar dari rumahku, Riswan!" ujar Tria usai melayangkan tamparan kedua.


Ned mencoba mengintip kamar, namun Riswan menarik gagang pintu agar menjadi lebih rapat. Membuat tatapan pria itu dua kali lebih tajam.


"Sedang apa kalian?" tanya Ned tenang.


"Ya apalagi, Ned?!" bentak Tria kesal, "Kau dengar sendiri tadi! Dia ini memang sudah gilaa!!"


Riswan belum sempat menjawab kala gagang pintu yang ditahannya ditarik ke belakang.


"Jangan salahkan paman," ujar Binar telah andil dalam percakapan, "Aku yang minta paman masuk ke dalam. Lagipula kami sudah menikah, ma, pa... apanya yang salah?"


Tria berdecak, "Terus kalau sudah menikah kenapa?!" nada suaranya meningkat satu oktaf. "Kalau segitu cintanya kenapa kabur saat ada masalah?! Pikirkan masa depanmu, Binar! Yakin bisa tahan sama kelakuan bejat Riswan?!"


Riswan menggenggam erat telapak tangan Binar. Berusaha saling menguatkan. Mereka adalah sepasang, dan hal-hal seperti ini memang sudah seharusnya dihadapi bersama.


"Ijinkan aku membawa Binar pulang. Aku ingin menyemalatkan pernikahan, dan keluarga kecil yang baru ku bina," Riswan berkata-kata.


"Aku tahu ucapanku mustahil untuk kalian percaya, tapi kita sama-sama tahu kegigihanku mempertahankan sesuatu yang ingin kuperjuangkan. Kita saling mengenal, Ned, Tria, aku bersumpah akan membahagiakan Binar."


Sementara Ned setia bertatap sinis dengan Riswan, Tria sudah duduk di sofa mengendalikan amarah. Binar berusaha mencuri kepercayaan Ned dengan memberikan sentuhan tangan. Ia ikut merayu dengan suara nanar.


"Pa, boleh ya? Aku memang masih kekanakan dan kadang-kadang emosional. Tapi, aku mau percaya sama paman Riswan. Aku mau mempertahankan pernikahanku juga, Pa."


Ned mengalihkan pandangan pada putrinya, "Kalau kejadian serupa terulang? Kamu mau apa?" desaknya penuh tekanan.


"Aku akan melindungi..."


"Jawab, Binar!" tukas Ned memotong ucapan Riswan.


Malam menyambut pagi di peradaban. Pertengkaran sengit dalam rumah Alvero itu terjeda oleh diamnya seorang Binar. Perempuan itu berusaha menelaah jawaban, mencari kata kunci yang tepat agar mereka terlepas dari situasi mencekam.


"Aku akan pulang, untuk selamanya," jawab Binar pada akhirnya.

__ADS_1


Riswan yang terkejut mendengar jawaban itu langsung menoleh tidak percaya.


"Tidak, Binar. Aku tak akan menceraikanmu dengan berbagai alasan!" protes Riswan.


Meski sempat terpikir berpisah dengan Binar demi mengejar cinta Rhea, bukan itu tujuan Riswan membawa Binar pulang. Ia mau menata rumah tangga mereka perlahan-lahan. Menyusun puing-puing yang terbentuk akibat dosa satu malam.


Namun Binar melepaskan genggaman tangannya. Perempuan itu menatap lekat pada manik mata sang ayah penuh keyakinan.


"Aku akan bercerai dari paman Riswan jika kejadian seperti ini terulang. Aku tidak akan pernah kembali padanya, dan membesarkan dua anakku sendirian!"


"Kamu ngomong apa sih, Binar?" keluh Riswan berusaha menyela, akan tetapi dua manusia itu tak menganggap keberadaannya.


"Sebagai gantinya..." Binar melanjutkan ucapan, "Kalau pernikahanku berhasil sampai anak kami lahir ke dunia, mama dan papa wajib merestui hubungan kami berdua."


Ned tampak sepakat, "Kalau kejadian seperti ini terulang, kami tak akan menerimamu lagi, Binar. Penawaran ini layak untuk penerimaanku terhadap pernikahan kalian."


"Dengar, aku tak akan melukainya. Jadi tolong hentikan kesepakatan gila ini dan..."


"Oke, Pa. Binar sepakat," Binar mengambil keputusan.


Ayah dan anak itu purna mengabaikan Riswan. Mereka seperti tengah menandatangani perjanjian tak tertulis yang disepakati bersama. Meski hanya sebatas kalimat spontan.


"Setelah ini aku harap nggak ada lagi tindak kekerasan terhadap paman Riswan. Demi kebaikan kita bersama."


Ned melirik Riswan singkat, rahang bawahnya yang mengeras seolah tidak terima.


"Pa?" panggil Binar mempertegas, "Ma?"


"Terus terang aku khawatir kakek Greg memenjarakan kalian!" imbuhnya.


Pria itu menatap Riswan lebih lama sambil meringiskan senyuman, "Greg cukup tahu diri, Binar. Cucunya yang merusak nama baik keluarga itu akan menghancurkan segala hal jika kami buka suara."


"Dan kalau sampai kejadian ini benar-benar terulang, Wangsa Group akan tamat."


Ancaman terhadap Binar dan Riswan itu diakhiri dengan kepergian Ned. Tria yang kehilangan kata hanya duduk pasrah menyepakati suaminya. Wanita itu melirik mereka malas, memutar bola mata dengan decak yang tak pernah berkurang.


"Pergilah. Akan lebih baik jika kalian tidak menginap. Aku bisa gila jika mendengarnya lagi dari luar."


Kepergian Tria menyisakan mereka berdua. Riswan langsung menuntun Binar dalam peluknya. Pria itu memberi dekap erat, sembari mengecupi kening Binar berulang-ulang.


"Terima kasih, Binar... makasih sudah di sampingku menghadapi Ned dan Tria," bisiknya.

__ADS_1


__ADS_2