Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
32. Satu Lelaki dan Wanita


__ADS_3

Tanya yang sama-sama mereka ajukan itu menyulut manik mata. Tidak ada yang berniat menjawab. Hanya pandangan sengit yang mereka suguhkan.


Kalau boleh mengaku, Binar juga penasaran. Kenapa juga ia tergoda pada Riswan? Atau kenapa Riswan bernafsu terhadapnya? Dua pertanyaan yang masih menggantung diudara.


Mereka berharap bisa lekas mendengar jawaban, meski sosok yang tak diharapkan lebih dulu membuyarkan. Ketukan pintu dari Sean yang membawa pesanan Riswan. Lelaki itu tersenyum canggung kala melongokkan kepala.


"Maaf. Ini..."


"Taruh sana aja," tukas Riswan menunjuk nakas yang berada jauh dari mereka, lebih dekat dengan kasur.


Ekor mata Binar mengikuti langkah Sean. Tak sampai hati ia melihat lelaki itu mematuhi perintah Riswan bagai budak. Binar hampir angkat bicara, kalau saja...


"Hai, Riswan," kalau saja wanita itu tidak muncul di ambang pintu yang terbuka.


Sontak Binar dan Riswan menoleh ke asal suara bersamaan. Mereka sama-sama tak menduga kehadiran Rhea di sana. Situasi yang membuat Binar meringis tajam, sementara Riswan membuang muka.


"Tuh, kan, aku juga bilang apa?" bisik Binar mencibir Riswan.


"Maaf terlambat. Bagaimana bisa kecelakaan?!" namun seruan Rhea lebih dominan menggema pada seisi ruangan. Tanpa basa-basi wanita itu langsung duduk di samping Riswan.


"Apa yang terjadi, Binar?" tanyanya beralih pada Binar, "Terus terang aku tidak niat datang, tapi berhubung aku ikut menemani kepergian Riswan ke bandara. Rasanya aneh kalau..."


"Semua baik-baik saja," Riswan mengambil alih kalimat panjang Rhea, "Kau tidak perlu repot-repot sampai ke Kalimantan."


"Bukan masalah, Riswan... Astaga, kepalamu, berapa jahitan?" pekik Rhea mengamati luka-luka Riswan, "Tanganmu, aduh... bukannya kau selalu pakai sopir kemana-mana?"


"Ya ampun, parah sih ini namanya. Hasil pemeriksaannya gimana?"


Rhea menatap Riswan dan Binar bergantian. "Maaf, aku bukannya..."


"Belum keluar," Riswan lagi-lagi menepis pertanyaan Rhea.


Dengan wajah cemas yang dibuat amat berlebihan, Rhea menghampiri Binar. Wanita itu menyentuh lembut pundak Binar dengan penuh perhatian.


"Kau pasti lelah sekali merawat Riswan sendirian. Istirahatlah. Selagi di sini, aku bisa bantu-bantu kebutuhan Riswan."


Binar menyorot Riswan yang hanya bungkam. Ia melirik Rhea yang masih konsisten pada senyum tulusnya. Wanita itu mengangguk singkat, menambahkan bumbu imbuhan yang menguatkan alasan Binar untuk beranjak.

__ADS_1


"Tidak perlu sungkan. Lagipula perempuan hamil juga perlu banyak istirahat, ya kan Riswan? Aku yakin dia tidak mau istrinya sakit karena kelelahan."


Tiada pembelaan atau kesepakatan dari Riswan. Binar beranjak tanpa meninggalkan sepatah kata. Diikuti dengan Sean yang tak memahami situasi di dalam ruangan. Binar berjalan dan terus berjalan, menuju taman rumah sakit sambil mendengus kasar.


Omong kosong!


Baginya semua ucapan Riswan adalah omong kosong semata.


Pria itu pasti bangga bisa menikahi Binar yang masih remaja, selagi bermesraan dengan wanita cantik lainnya. Dosa satu malam yang membuat mereka menikah ini tak lebih dari pelampiasan hasrat. Binar hanya alat pemuas nafsu yang kebetulan mengandung benih Riswan.


Ya, tentu saja. Jantan mana yang menolak jika sang betina sudah berserah? Begitu juga Riswan terhadap Binar. Seharusnya tak perlu dipertanyakan.


Alasan Riswan tetap menyetubuhinya pasti karena birahi yang tak tertahankan.


Sekali lagi Binar membuang napas berat, sementara Sean mengambil duduk di bangku kosong sebelahnya. Lelaki itu menundukkan kepala, memainkan jemari tanpa suara. Seakan sengaja membiarkan Binar berkawan dengan hening untuk sementara.


"Maaf. Seharusnya aku nggak nyuruh kamu nurutin paman," ujar Binar memecah keheningan.


Sean terkekeh ringan. Lelaki itu menggaruk tengkuknya sekilas, "Nggak masalah, Binar. Malah aneh kalo kamu yang keluar. Lagian ojek online di sini juga udah banyak, so... gampang."


Jawaban Sean membuat Binar tanpa sadar mengulas senyuman. Namun tak berlangsung lama. Sebab bayangan Rhea kembali bermain dalam ingatan.


"Aku jelek banget, ya?" celetuk Binar kemudian. Suaranya sudah bergetar, mengundang perhatian Sean sampai menoleh seketika.


"Kamu lihat sendiri, kan? Tante tadi meski sudah tua tetep ramping, mulus dan menawan. Dibanding aku yang buncit, nggak terawat begini, kebanting banget pasti kelihatannya," papar Binar mulai terbawa perasaan.


Ya, terlepas dari rasa cemburu yang menggerogotinya, Binar memendam rasa rendah diri yang amat dalam. Kehamilan ini membuatnya tak sebanding dengan wanita-wanita pilihan Riswan. Ia juga tidak mahir menunjukkan perhatian apalagi menggoda.


Wajar kan kalau Riswan lebih mencintai Rhea dan tertarik pada Intan?


Sean mendekat, ia membuat tubuh mereka yang berdampingan tidak berjarak, "Menurutku sih nggak," sahutnya berbisik tepat di telinga Binar.


"Lebih oke kamu kemana-mana," tandas Sean diiringi senyum hangat.


Mendengar hal itu, Binar langsung menoleh pada Sean yang masih setia menatap lurus kedepan. Posisi yang memudahkan Binar untuk menyusuri sisi samping lelaki itu lebih leluasa.


"Kamu cantik, Binar. Lebih cantik dari ratusan perempuan yang pernah aku temui di dunia."

__ADS_1


Lagi-lagi, Binar melukiskan senyuman, "Emang udah pernah ke dunia bagian mana aja?" ejeknya.


Sean tergerlak, "Berlebihan, ya?"


"Banget."


"Intinya," Sean mendaratkan telapak tangan pada perut Binar, "Ada mereka atau tidak, kamu tetep cantik di mataku, Binar."


Dalam hitungan detik itu, Binar merasakan pipinya memanas. Manik mata mereka yang bersua memacu jantung berdebar cepat. Tak ingin ketahuan salah tingkah, Binar memalingkan muka.


"Makin mahir aja gombalnya," sindir Binar.


Namun celetuk asal dari mulutnya itu tak lantas membuat tangan Sean beranjak. Lelaki itu malah mengelus perut Binar perlahan-lahan. Hal yang membuat diri Binar seakan diterbangkan ribuan kupu dalam jiwa.


"Pasti capek banget ya bawa mereka kemana-mana," bisik Sean fokus memperhatikan perut Binar.


"Aku yakin mereka pasti bangga lahir dari ibu keren sepertimu, Binar. Nggak mudah menghadapi riuh rumah tangga di usia muda dan kamu masih stay sampai sekarang."


"Kamu luar biasa, seharusnya sejak awal aku memuji keputusanku untuk mempertahankan kandungan. Ada di sisimu dan ikut berjuang, bukannya sok cuek mengabaikan."


Sean terus berbicara. Lelaki itu bermonolog ria. Mengabaikan Binar yang telah meletakkan seluruh perhatian padanya.


"Aku selalu menyesalinya, Binar. Maaf. Aku sungguh-sungguh minta maaf," kata Sean seraya menggiring pandangan menuju Binar. Mempertemukan iris mereka di satu titik yang sama.


"Gimana kalo kita pulang aja?" tanyanya, "Daripada ngeliat tante tadi sama suamimu berduaan, mending ikut aku pulang."


"Kamu mau pulang?"


Jemari Sean beralih pada helai-helai rambut Binar, "Aku masih sekolah, Binar. Maunya juga di sini terus sampai suamimu pulang."


Tanpa berpikir panjang, Binar mengangguk mantap. Ia langsung sepakat dengan ide dan gagasan Sean yang mengajaknya pulang malam ini juga. Lagipula, siapa yang tertarik melihat kebersamaan Riswan dan Rhea? Lebih baik ia ikut Sean pulang.


"Aku pamit dulu ke paman."


Dengan penuh kepercayaan, Sean menganggukkan kepala. Memberi persetujuan atas keinginan Binar ijin pada suami sahnya sebelum mengambil keputusan. Bukan masalah, toh, Binar belum menjadi milik Sean seutuhnya.


"Siap. Aku tunggu di depan ya..."

__ADS_1


Untuk sementara, Sean tidak keberatan.


__ADS_2