Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
33. Bayang-bayang Rhea


__ADS_3

"Nggak."


Dengan sangat amat kebetulan, Rhea tidak sedang di dalam kamar Riswan saat Binar meminta ijin untuk pulang. Pria itu duduk di pembaringan dengan mata tajam. Menatap Binar tanpa pengampunan.


"Yang bener aja pulang sama Sean malam-malam! Nggak," tegas suara Riswan menggema.


Akan tetapi, bukan kepatuhan yang Riswan terima. Binar malah meringis kecut menimpali ucapannya. Perempuan itu tak segan membalas bilah mayanya, melayangkan sejuta sumpah serapah dalam diam.


"Kalo kamu, boleh?" ketus Binar tak mau kalah.


"Memangnya kapan aku begitu?"


"Dalam satu hari ini aja ada dua wanita loh yang nyamperin kamu. Masa iya masih nanya kapan kamu begitu? Ya mana aku tahu!"


"Berapa kali aku bilang sih, Binar? Semenjak memutuskan untuk menikah, aku nggak main sama wanita manapun!" tukas Riswan menegaskan.


Namun, mencuri rasa percaya bukanlah sesuatu yang mudah. Perempuan itu tetap gigih pada cibiran sinisnya. Ia bersikeras menancapkan bilah pada manik mata Riswan.


"Mulut memang bisa ngomong begitu, tapi hati siapa yang tahu?" sahut Binar bersiteru, "Seru kan menikahi aku sambil bercumbu sama wanita-wanita cantik dan elegan itu?! Aku yang masih bau kencur ini mana tahu pergaulan yang begitu? Paman pasti seneng-seneng di luar sana selagi memberiku janji palsu!"


"Keterlaluan, Binar," sanggah Riswan dalam sekejap, "Kamu punya bukti apa sampai bicara segitu hina?"


"Aku lihat samplenya! Kalau di depanku aja kamu berani mesra-mesraan apalagi di belakang?!"


"AKU NGGAK SELINGKUH!" bentak Riswan meninggikan suara.


Matanya membulat hingga nyaris melompat. Urat nadi pada lehernya mengeras. Tak seincipun mata Binar luput dari sorot kilatnya.


Sementara itu, Binar begidik ngeri sampai tak mampu bicara apapun. Riswan tak pernah semarah itu. Selama ini, ia hanya murka lewat bahasa tubuh.


Riswan bangkit dari duduknya, lantas berjalan melintasi Binar yang diam seribu bahasa.


"Biar aku yang ngomong sama Sean. Brengsek namanya kalau ngajak pulang istri orang malam-malam," ujarnya seraya melengangkan langkah.


"Aku aja," namun suara bergetar dari tenggorokan Binar masih mampu keluar, ia berbalik menatap punggung Riswan yang terjeda, "Aku nggak pulang, tapi biar aku aja yang bilang ke Sean," imbuhnya memperjelas.


"Jangan lama-lama."


Riswan membiarkan Binar menolak ajakan Sean.

__ADS_1


Di sisi lain, wanita itu menyimak percakapan mereka. Sosok yang sejak tadi bersembunyi pada sisi lain ambang pintu kamar. Ia mendengar pertengkaran sengit antara Binar dan Riswan.


Ada decak kesal yang ia lantunkan. Rasa percaya diri merebut hati Riswan mulai diragukan. Sekalipun Riswan masih mencinta, dapatkah rumah tangga itu dihancurkan?


Rhea perlu memikirkan ulang rencananya.


***


Malam dingin pun berlalu. Pagi ini dokter menyampaikan bahwa tak ada kerusakan khusus yang disebabkan oleh kecelakaan itu. Riswan hanya perlu datang ke rumah sakit umum untuk memeriksakan jahitan di kepalanya sesuai tenggat waktu.


Riswan sudah mendapat ijin pulang. Binar menyibukkan diri dengan membereskan barang-barang yang sempat dibawa Adrian ke sana. Sementara Riswan melahap sarapan paginya pelan-pelan, sengaja membuat mulutnya penuh agar tidak berbincang.


Entah sudah berapa jam persisnya mereka berkawan dengan keheningan. Baik Riswan maupun Binar sama-sama enggan mengalah. Mereka lebih mahir saling mendiamkan dibanding mencari topik pembicaraan.


Sampai akhirnya sosok yang ditunggu-tunggu menampakkan batang hidungnya. Pria yang tampak amat lelah itu mendengus berat begitu masuk ruangan. Ia membanting badan pada sofa, lantas menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Gila, mirip bintang lima," cetus pria itu seraya mengibas-ngibaskan telapak tangan guna mencuri dinginnya ruangan, "Parah, Riswan. Aku tidak bisa tidur semalaman."


Masih konsisten pada kegiatan makan, Riswan tidak berkomentar.


"Pak Adrian sudah sarapan?" tanya Binar mengambil alih percakapan. "Atau mau kopi dulu sebelum perjalanan?"


"Jangan minum kopi buatan Binar," celetuk Riswan sembari fokus menatap makanannya, "Bisa kembung nanti malahan."


Satu kalimat itu sukses memancing lirik sinis dari Binar, "Aku nggak ngomong sama paman," ketusnya.


Situasi yang membuat Adrian kikuk duduk di sana. Pria itu meringis kaku memandang Binar dan Riswan bergantian.


"Ya emang begitu kan faktanya. Sudah ada bukti yang jelas juga," timpal Riswan masih memandang makanan.


"Masih mending dong aku tawarin. Lagian siapa juga yang mau bikin? Masih ada juga kantin."


"Karena Adrian kan makanya ditawarin," kata Riswan sembari meletakkan sendoknya dan berpaling. Ia memandang Binar yang mulai terbawa emosi.


"Aku daritadi nggak ada minum juga kamu biarin," sambung Riswan membuat Binar meringis.


"Ini ada air putih," sahutnya menunjuk botol air mineral di nakas yang tak jauh dari kasur Riswan.


"Tapi kan..."

__ADS_1


"Stop, cukup, tolong berhenti," Adrian menyela pertengkaran sebelum adu mulut itu kian menjadi-jadi.


"Kalau dipikir-pikir, aku tidak begitu mau minum kopi. Dan karena keperluan bisnis di sini sudah berakhir, aku juga ada tugas kantor yang belum selesai, jadi... ayo kita pulang sekarang."


Dalam hati, Adrian berharap sepasang suami istri itu langsung menyepakati. Syukurnya Binar yang tak berniat mempersulit langsung menyambar barang-barang yang dikemasi. Membuat Riswan memutar bola mata malas seraya memasukkan sesuap nasi.


Persiapan kepulangan sudah siap. Riswan sudah selesai dengan segala aktifitas. Binar yang sejak tadi menunggu keberangkatan hanya duduk manis di sofa. Adrian mengakhiri telpon sibunya sambil berseru memecah keheningan.


"Baiklah, kita pulang sekarang..."


Namun sedering telpon masuk mengiringi suara. Kali ini bukan lagi mili Adrian, tetapi Riswan. Pria yang baru bangkit setengah dari duduknya itu mengernyit heran.


Dengan satu tombol, ia menjawab, "Halo?"


Adrian dan Binar saling memandang. Mereka sama-sama menerka raut wajah Riswan yang mendadak berubah. Air tenang berubah jadi gegabah. Ia menutup telpon serata menatap Adrian dan Binar bergantian.


"Telpon dari pihak rumah sakit," ucap Riswan sengaja menggantungkan ucapan di udara.


Apalagi sekarang?


Jelas-jelas dokter mengatakan bahwa tak ada masalah serius yang terjadi pada Riswan. Pria itu kini menarik napas panjang, lantas meletakkan seluruh pandang pada Binar.


"Rhea ditemukan pingsan. Kita sama-sama tahu dia tak punya kerabat."


Meski di sana juga ada Adrian, Binar tahu betul jika kalimat itu tertuju untuknya. Pria itu berusaha meminta persetujuan. Meski jelas-jelas paham perasaan Binar sekarang.


"Kita harus kembali ke Jawa sekarang, Riswan. Tiket pesawatnya juga sudah kupesan," sahut Adrian.


"Kita juga tahu kalau dia datang sebagai bentuk peduli kepadaku yang kecelakaan," Riswan bersikeras. Ia masih mengatakan kalimat itu untuk Binar.


"Pingsan bukan masalah yang besar, Riswan. Dia sudah cukup tua untuk mampu mengurus dirinya sendiri, bukan?" lagi-lagi Adrian menjawab.


Binar yang enggan berkomentar hanya membalas tatapan Riswan. Menelan saliva susah payah agar tak melayangkan sumpah serapah.


"Kamu juga pasti akan melakukan hal yang sama kalo di posisiku sekarang," tandas Riswan sebelum mengalihkan pandang pada Adrian.


"Pulanglah dengan Binar. Aku perlu memastikan keadaan Rhea."


"Serius?" Adrian memastikan.

__ADS_1


Dan satu anggukan yakin pun mengantar kepergian Riswan.


__ADS_2