
Binar panik Benar.
Ia bangun dan mendapati jam telah menunjukkan pukul sembilan. Riswan jelas sudah pergi bekerja. Binar melewatkan sarapan di hari pertamanya menjadi istri rumah tangga.
Buru-buru perempuan itu menuju ruang makan. Tidak ada siapapun di sana. Sisa makanan sudah dibersihkan, Binar yakin jika seisi rumah ini hanya tersisa dirinya dengan para pelayan.
Sisi positifnya dia bisa bebas. Tanpa Greg dan Riswan, Binar tinggal memilih kegiatan yang ia suka. Dia bisa jalan-jalan mengelilingi rumah utama. Mempelajari seluk-beluk yang belum sempat ia jejaki sejak hari pertama datang.
Suasana hati Binar riang gembira. Perempuan itu sengaja menghemat langkah agar bisa menghabiskan waktu lebih lama.
Selagi mengedar pandang, Binar juga bersenandung ria. Pikirannya terus mempertimbangkan kegiatan apa lagi yang akan dia lakukan setelahnya.
Binar asik berbincang dengan dirinya di kepala, ketika ekor matanya mendapati sosok Greg Darmawangsa tengah menyirami tanaman. Pria itu menghadap rumah kaca, membelakangi Binar.
Situasi yang berhasil membuat Binar seketika terkesiap. Memangnya pria tua itu tidak kerja ya?
Spontan kakinya pun menjinjit. Sambil mundur perlahan, ia sebisa mungkin tak mengundang perhatian. Dalam hati, Binar juga berdoa, supaya rumput yang bergesekan dengan alas kakinya itu tidak menimbulkan suara.
Sialnya, pria itu lebih dulu melingak. Greg yang terbiasa dengan suasana di sekitar sana pun bisa langsung menduga pergerakan. Mata tuanya memincing sebelah, raut yang sukses membekukan Binar di tempat.
"Nggak sekalian aja bangun jam dua belas?" cibirnya seraya melengoskan wajah.
Mau tidak mau Binar terpaksa mendekat. Mustahil kalau dia berdiri di sana dan membiarkan Greg teriak-teriak. Bagaimanapun Binar masih waras, ia punya sopan santun sekaligus tata krama.
"Semalam nggak bisa tidur, Kek," elak Binar membantah.
Tak bisa dipungkiri kalau pertengkaran sengit dengan Riswan amat mengganggunya. Perasaan Binar berkecamuk dengan hebat. Memangnya siapa yang bisa tidur dalam keadaan murka?
"Alasan," ketus Greg, "Kebiasan buruk dari rumah ya jangan dibawa-bawa! Cih, anak muda jaman sekarang mana tau manfaat bangun pagi dan langsung memulai aktivitas?"
Tanpa meliriknya, Greg bicara panjang lebar. Pria itu masih mencurahkan perhatian pada tanaman. Membuat reaksi Binar yang memutar bola mata malas itu tidak terlihat.
__ADS_1
"Cuma hari ini, Kek. Biasanya juga pagi," timpal Binar.
Rasanya, Binar ingin melarikan diri. Greg tak akan berhenti cuma sampai di sini. Pria tua itu pasti sengaja menyimpan omelnya sejak tadi.
"Ya karena biasanya sekolah," sahutnya sinis, "Lagipula didikan orang tuamu sepertinya berantakan. Masih muda sudah kena pergaulan bebas. Sudah berapa lelaki sebelum Riswan?" ia menoleh kemudian.
Tatap yang bersitemu itu membuat Binar menggenggam telapak erat-erat. Napasnya memburu di dada. Binar berusaha keras mengendalikan kewarasannya.
Ia masih bisa terima kalau pria tua itu menghina kehamilannya. Toh, memang Binar terjebak pergaulan bebas. Tapi keputusan untuk bercinta dengan Riswan tak ada sangkut pautnya dengan Ned dan Tria.
Pola asuh orang tua Binar amat sempurna. Tak satu kekuranganpun yang layak dijadikan kambing hitam. Apalagi Greg sampai menuduh Binar sudah meniduri banyak laki-laki hidung belang. Greg keterlaluan.
"Tolong jangan bawa-bawa orang tauku, Kek, dan aku tidak sesembrono yang kakek bayangkan!"
"Buktinya?" tukas Greg menajamkan pandangan, "Ada buktinya tidak? Kalau sama Riswan saja berani berhubungan, apalagi yang seumuran?"
Dengan segala jurus, Binar memutuskan untuk bungkam.
"Sebagai keluarga terpandang dan terhormat, aku tidak mau Riswan tertular penyakit *** yang dibawa oleh anak remaja sepertimu, Binar. Apalagi sampai turun-temurun ke cucu Darmawangsa," papar Greg masih bertenaga untuk melanjutkan.
"Lagipula aku juga tidak sepenuhnya percaya. Jangan-jangan Ned dan Tria sengaja mengirimmu untuk mengincar harta. Janin itu belum tentu anak Riswan."
Entah berapa banyak lagi bilah yang Greg tancapkan di hati Binar. Pelupuk mata perempuan itu sudah terlanjur sesak. Bibir Binar bergetar dibuatnya.
"Aku bahkan bisa pergi dari rumah ini sekarang juga!" suara serak Binar menekan kalimat, seiring dengan butir bening yang melesat ke pipinya.
"Kenapa? Tersinggung?" Greg memincingkan seulas senyum.
Lalu pria tua itu membuang pandang kembali pada tanaman. Sama sekali tak acuh pada reaksi Binar.
"Dikasih wejangan sedikit saja sudah tersinggung," Greg lagi-lagi buka suara, "Coba aja kalau kamu hidup di jaman dulu, pasti sudah kena pecut. Malu, hamil di luar nikah begitu udah aib yang nggak ada ampun."
__ADS_1
Binar menepis air mata yang merebak dengan punggung tangan. Tanpa perintah otak, bulir-bulir itu deras mengalir begitu saja. Suasana hati Binar berubah dalam sekejap. Mendadak ia tak selera melakukan apa-apa.
"Sekarang kalau sudah begini kamu bisa apa?" tanya pria itu tak jengah mengungkap segala jurusnya.
"Pihak sekolah mengeluarkan, orang tua ngusir dari rumah, numpang di rumah suami nggak becus juga. Yang ada malah jadi beban, menambah pekerjaan orang yang sudah punya banyak kerjaan!"
Dillampiaskan tangis itu lewat gigitan bibir bawah. Binar tidak boleh terisak-isak sekarang. Menjadi lemah di hadapan Greg Darmawangsa sama saja dengan menghancurkan harga dirinya.
Binar harus kuat.
"Namanya juga istri, dari dulu memang tugasnya melayani suami. Parah kalau belum bangun sampai suami pergi. Nggak bisa masak ya minimal buat kopi, atau siapkan hal remeh seperti baju yang rapi. Kamu ini ngerti adab nggak sih?!"
Suaranya meninggi, menggiring Greg untuk menoleh sekali lagi. Binar yang tak berkomentar itu menunduk sedalam mungkin. Menyembunyikan air muka dari jangkauan Greg yang tersulut emosi.
"Kalau diajak bicara itu jawab, Binar!!"
Lewat tundukkan kepala itu Binar memaksa pita suaranya tenang. Menghindari sesak yang tercekat di dadanya agar tidak keluar.
"I-iya," gumam Binar pada akhirnya.
"Apanya yang iya?!" cecar Greg tak gencar.
Pria tua itu seakan enggan menoleransi kehamilan Binar. Masa bodoh dengan kondisi perempuan yang harus mengindari stres dan banyak pikiran. Greg tidak bisa terus menahan kekesalannya, Binar menghancurkan rencana emas yang telah disusun untuk masa depan Riswan.
"Jangan sampai kejadian seperti hari ini terulang, Binar. Aku yakin kamu cukup dewasa untuk memahami semua ucapanku barusan," tegasnya.
Greg lebih dulu meninggalkan Binar. Ia melengang langkah ke rumah kaca itu tanpa menyisakan rasa iba. Binar dibiarkannya mematung di sana, seolah sejak awal perempuan itu tidak pernah ada.
Sementara itu Binar diselimuti berbagai gejolak jiwa. Marah, kesal, dan mengutuk dirinya yang tak mampu berkata-kata. Seharusnya dia punya keberanian untuk melawan atau membantah Greg Darmawangsa dengan keras kepala.
Tapi kenapa? Kenapa hingga detik ini pun ia hanya terdiam. Binar bahkan mengijinkan sesungguk tangisnya didengar dunia. Kenapa? Kenapa dia menjadi begitu lemah?
__ADS_1