
"Darimana?"
Binar terkesiap.
Di antara kegelapan ruang tengah, ada Riswan duduk bersindekap di sofa. Mata tajamnya menyorot lekat ke arah Binar. Membuat perempuan itu beringsut pada daun pintu sembari menundukkan kepala.
Sial! Begitu batinnya. Bibirnya masih berkedut usai bercumbu dengan Sean. Mustahil Riswan menyadarinya, kan? Binar gugup bukan kepalang.
"Kenapa malah diam?" pria itu bangkit dari duduknya, menyelipkan tangan pada saku celana, "Pakai baju pesta begitu darimana? Sama siapa?"
Menarik napas panjang, Binar mengepalkan tangan guna mencari kekuatan. Ia menahan suara agar tak menunjukkan getar mencurigakan. Binar sedikit berlari meninggalkan Riswan.
"Bukan uruasan paman!"
Tentu Riswan tak membiarkan perempuan itu begitu saja. Ia mengekor menuju kamar. Kini sepasang suami istri berada di area yang lebih tertutup dan terang. Meski tak sedikitpun suasana tegang itu berubah.
"Jawab, Binar. Pertanyaanku masih sama," desak Riswan.
"Cuma pesta akhir tahun sekolah," sahut Binar acuh tak acuh seraya memilah pakaian. Ia berniat mandi dan kabur dari sidang dadakan yang digelar Riswan Darmawangsa.
"Sama siapa?"
"Sean."
"Kenapa sampai larut malam begini? Nggak ijin dulu lagi."
Binar bejalan ke sana ke mari. Mempersiapkan berbagai keperluan mandi. Tentu, perempuan itu juga tak memandang Riswan sama sekali. Sampai ia nyaris masuk ke toilet untuk lari dari pertikaian ini...
"Binar!" panggil Riswan sukses menghentikan langkah kaki Binar terhenti.
"Aku serius, Binar. Kalau terjadi sesuatu dan aku nggak tahu posisimu, gimana? Emang aku pernah melarang kamu, ya? Nggak kan? Minimal bilang, kasih kabar."
"Memangnya kamu pernah?!" ketus Binar sambil membalikkan badan, "Selama ini kamu pernah gitu bilang dan kasih kabar ke aku kalo mau ada perjalanan bisnis atau apa?!" protesnya. Mereka telah beradu pandang.
"Aku kerja, Binar. Jalas kan tujuannya," tukas Riswan menyanggah.
"Lah kamu tengah malam baru pulang, diantar cowok pula. Nggak bisa dong dibandingkan," Riswan memperkuat asumsinya.
Tentu Binar tak bisa lagi berkata-kata. Ia kalah telak. Sekalipun Binar seringkali mendapati Riswan berduaan dengan wanita, nyatanya ia juga bercumbu dengan Sean di belakang. Bukan saatnya lagi bagi Binar untuk menyalahkan Riswan.
__ADS_1
Binar hanya bisa menundukkan kepala selagi Riswan berjalan mendekat. Pria itu juga membaca gelagat aneh yang Binar tunjukkan. Ia meraih dagu Binar dan membuat perempuan itu langsung mendongak.
"Apa sih paman?!" pekik Binar kaget bukan kepalang.
Ringis senyum Riswan sontak mengembang. Ibu jari pria itu mengusap bibir bawah Binar kasar. Dugaannya tidak pernah salah.
"Aku pecat dia sekarang juga."
"Jangan!"
Mata Riswan memincing tajam, "Kamu juga tidur dengannya? Oh, atau ada rencana?" sebelah alis Riswan terangkat, "Atau jabang bayi ini memang miliknya?"
*Plak*
Satu tamparan mendarat pada pipi kiri Riswan. Membuat cengkraman tangan Riswan pada dagu Binar terlepas. Riswan tarbahak-bahak dibuatnya.
"Kenapa, Binar? Salah?" ejek Riswan di sela-sela gerlak.
Pria itu mengejek Binar sambil menertawakan dirinya. Pernikahan yang dilindungi kesakralannya malah dihancurkan Binar dengan pengkhianatan. Tapi apa yang perempuan itu lakukan? Ia malah menampar Riswan.
"Apa kamu bisa..."
"Aku memang menciumnya, Paman," sela Binar datar, "Tapi satu-satunya yang meniduriku cuma paman."
Bagaimana baiknya ia bersikap? Mengingat masa lalunya, Riswan tak berhak menghakimi tindakan Binar. Tetapi sebagai suami sah, bukankah ulah Binar sudah keterlaluan?
Tak kunjung menemukan jalan keluar, Riswan yang terbelenggu kalap mendorong tubuh Binar. Pria itu menghimpit Binar sampai terpojok pada dinding toilet di bawah pancuran. Lantas ******* bibir Binar tanpa ampunan.
Dalam imajinasinya, Riswan menghapus bekas cumbu lelaki lain yang sempat singgah. Menukar pergulatan bekas bibir Sean dengan miliknya. Ia bahkan tak mengijinkan Binar bernapas, menjajah tiap inci rongga.
Tak tinggal diam, tangan kiri Riswan aktif meloloskan gaun Binar, sementara tangan kanannya setia memebelai perut sang istri penuh kelembutan. Binar yang sempat terpancing nafsu Sean pun langsung terbawa suasana. Ia mengalungkan lengan pada tengkuk Riswan, menekankan percumbuan.
Kemarahan mereka tersalur lewat hasrat. Bermandikan air shower yang mengalir perlahan. Lenguh panjang mereka tak henti bersahutan.
***
Terbangun usai percintaan panjang, Binar disadarkan oleh ketiadaan Riswan. Pria itu tak ada di kamar atau sudut manapun di dalam rumah. Ia telah pergi bekerja, meninggalkan romansa malam kedua mereka.
Masih dengan sisa kantuknya, Binar yang tuntas menyusuri isi rumah itu berpapasan dengan Greg Darmawangsa. Pria tua yang tampaknya baru menuntaskan sesi sarapan. Ia hendak bersantai di rumah kaca seperti biasa.
__ADS_1
"Apa semua baik-baik saja?" cetus Greg menyapa.
Apa maksudnya? Tumben sekali seorang Greg mengajaknya berbincang dengan nada sopan?
"Maksudku, bagaimana hubungan kalian? Apa semua berjalan lancar?" imbuh Greg bingung mengolah kata.
Binar cukup yakin pria tua itu enggan tampak perhatian, meski intinya tetap sama saja. Ia seperti berusaha memastikan keadaan.
"Seperti yang kakek harapkan," sahut Binar sengaja menyuguhkan jawaban samar.
Semakin tidak jelas jawabannya, ia lebih mudah mengakses pikiran Greg Darmawangsa. Binar juga tak tahu pasti apa yang terjadi antara pria tua itu dengan Rhea. Kesepakatan apa yang Rhea tawarkan? Kenapa pula pasca kejadian itu, Greg seperti menghindarinya?
"Tutor barumu itu, kalian dekat?" tanya Greg lagi penuh pertimbangan. Pertanyaan itu berhasil muncul usai seleksi ketat. Sehingga Binar dibuat bingung dengan arah perbincangan.
"Namanya Sean. Kami bersahabat sejak tahun pertama sekolah menengah atas," papar Binar lugas.
Greg manggut-manggut sembari ber-oh ria. Ia melengkungkan senyum canggung kepada Binar. "Sebatas itu saja?" Greg mencoba lagi memastikan.
"Kalau lebih pun memang kenapa?"
Ia menggelengkan kepala, "Jangan terlalu dekat dengannya, Binar. Kita tak bisa menduga rencana Rhea."
Binar meringis tipis, "Apa hubungannya dengan Rhea, Kek? Aku mengenal Sean dan bagaimana mungkin dia mendustaiku demi wanita yang berniat mengahancurkan rumah tanggaku dengan paman Riswan?"
Pria itu mendengus berat, "Tidakkah dia juga punya niat yang sama? Lelaki itu menggodamu, kan?"
Tak bisa mengelak, Binar bungkam.
Kalau mau dipikir ulang, Sean memang menggodanya. Mengajaknya menikah, juga menuntut perceraian Binar dengan Riswan. Lelaki itu bahkan berani menciumnya. Tapi mana mungkin Sean bekerjasama dengan Rhea?
Binar ingin percaya pada Sean meski ucapan Greg mungkin ada benarnya. Kehadiran Sean yang tiba-tiba juga terasa mencurigakan. Mungkinkah seseorang sengaja mengirim Sean untuk menghancurkan pernikahannya dari dalam?
Membaca kebimbangan dari wajah Binar, Greg kian gigih membuang dengus kasar. Pria tua itu juga tak punya kemampuan memprediksi kelicikan seorang Rhea. Sekalipun telah mengirim puluhan orang suruhan sebagai mata-mata, Rhea bukan tokoh yang mudah diterka.
Mereka perlu waspada. Mengantisipasi kehadiran orang baru yang tidak wajar. Atau menjaga ketat seleksi orang dalam yang bekerja sehari-hari di rumah Darmawangsa.
Greg menepuk singkat pundak Binar, membuat perempuan itu tergugah dari lamunan.
"Musuh yang paling kejam adalah orang terdekat kita, Binar. Itu pelajaran hidupku yang mungkin bisa kau pertimbangkan."
__ADS_1
Mendadak Binar diselimuti keraguan.
Sebenarnya, orang seperti apa Sean?