Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
BAB 02 - PANGGUNG SANDIWARA (BRIDE WITH BENEFITS)


__ADS_3

“Jadi bagaimana? Perusahaanmu lancar?”


Wanita bertubuh ramping itu mengibaskan rambutnya. Ia sengaja memperlihatkan garis rahang yang masih tegas sempurna. Menyombongkan leher jenjang yang senantiasa menawan, berlapis kulit mulus nan kenyal.


“Makanlah, anggap saja makan siang biasa,” bisiknya amat pelan sembari ditutupi senyuman lebar.


Sementara itu, pria berkacamata yang duduk tepat di samping wanita itu tampak tenang. Ia fokus memotong daging iga tanpa berkomentar. Proporsi tubuh pria itu tak kalah sempurna. Bagai profesional, setelan jas mewah tampak menonjolkan otot-otot tubuhnya.


Pembawaan yang bersahaja bahkan tercermin lewat caranya menikmati hidangan. Pria itu memasukan suap demi suap makanannya tanpa menimbulkan suara.


“Pose tubuhmu!” titah wanita itu lagi-lagi penuh tekanan, ia tidak bisa tidak protes pada lelaki yang hanya


memutar bola mata malas di hadapannya. “Ini tidak akan lama, Aksara! Jadi bersikaplah yang wajar!”


Seperti yang sudah dilatih puluhan tahun, wanita itu tersenyum. Ia menuangkan minuman pada gelas yang sama sekali belum tersentuh. Kemudian tangan lembutnya mengelus, bersuara halus pada Aksara yang belum berkata apapun.


“Minumlah, Nak, kami senang melihatmu tumbuh sehat.”


Sesuai jadwal, Aksara memang seharusnya andil dalam acara makan siang bersama keluarga. Bukan hal yang luar


biasa, sebab mereka memang melakukannya secara rutin untuk menciptakan citra baik di kalangan masyarakat. Namun Aksara tidak bisa mengabaikannya, kali ini ia enggan bekerjasama.


“Harus ya menyewa fotografer segala?”


Kini wanita itu menarik sudut bibirnya lebih lebar. Ia bahkan menyipikan mata supaya tampak natural.


Diletakkannya sepotong daging lezat di piring milik Aksara. Wanita itu lantas berbisik tajam.


“Makanlah. Dengan begitu kau mempermudah urusan kita.”


Tidak sesuai rencana.


Bahkan jauh mata memandang, Aksara selalu berhasil menemukan fotografer yang susah payah bersembunyi di balik semak-semak. Berlaga harmonis saja sudah cukup menguras tenaga, apalagi harus terekam kamera?


“Jangan lihat kamera, Aksara!”


Grace Candrawinarta, begitulah wanita itu dikenal masyarakat. Wanita sempurna berdarah campuran


Prancis-Indonesia. Ia lahir dan besar di keluarga yang kaya raya. Nasib mujur membawanya pada pernikahan bisnis dengan putra sulung keluarga Candrawinarta.


Suami berparas sempurna yang amat mencintainya. Begitulah kemudian cerita romansa itu dikembangkan. Kemudian lahirlah putra tunggal yang tampan, cerdas, dan berbakat. Komposisi yang lebih dari cukup untuk membuatnya dicemburui semua orang.


Tampak acuh tak acuh, pria yang duduk di samping Grace mulai melirik jam tangan. Gelagat itu tentu ditunjukkan


bukan tanpa alasan. Aksara paham betul jika pria itu sedikit banyak mulai terusik dengan aksi protesnya.


“Aku juga harus menghadiri pertemuan penting di Swedia nanti malam, jadi bekerjasamalah. Ada yang ingin kusampaikan setelah sesi pemotretan.”


Hans Candrawinarta membenahi kacamata. Tidak ada yang tidak mengenalnya. Segala bentuk bisnis ia jejak.


Hidupnya didedikasikan untuk memperluas kekayaan. Pria itu kemudian melengkungkan senyum hangat, menatap lekat manik mata Aksara.


“Grace benar, Nak. Kami senang melihatmu tumbuh sehat, kau sudah dewasa sekarang,” ujarnya lantas memalingkan pandangan pada Grace yang langsung sumringah, “Tidak terasa sekali, bukan?”


“Benar,” sahut Grace renyah, “Dia juga sangat tampan.”


Reaksi yang penuh cinta dan kehangatan. Hans memeluk pinggang Grace supaya mendekat. Keduanya masih tenggelam dalam tatapan mata yang seolah mabuk kasmaran. Hans mendaratkan kecupan mesra, adegan natural yang membuat Aksara tepuk tangan dalam diam.

__ADS_1


Tentu saja Aksara bisa mendengar jerit salah tingkah dari pengunjung yang sejak tadi memperhatikan. Beberapa di


antaranya bahkan tanpa ragu ikut mengabadikan. Mereka tidak bisa melewatkan momen langka yang biasanya hanya disaksikan lewat majalah bisnis atau sosial media.


Selagi Hans dan Grace sibuk menyapa dan menerima pujian, Aksara menyadari bahwa di sekitar mereka tidak hanya ada satu kamera. Pantas saja Grace lebih berisik dari biasanya. Fakta bahwa dirinya dijebak dalam prosesi makan siang membuat Aksara menyerah tanpa syarat.


Ia berusaha keras menghabiskan menu makan siang, mengabaikan kemesraan dua orang tuanya yang masih dipertontonkan. Kerling mata yang penuh kerinduan, binar mata yang bertabur cinta dan kasih sayang. Sungguh, mereka telah berpuluh tahun menampilkannya.


“Sepertinya mereka sudah pergi,” celetuk Grace usai mengamati sisi kanan dan kiri. “Sekarang giliranmu, Hans,


bicaralah sebelum aku angkat kaki.”


Wajah lembut penuh kasih yang menghiasi Hans pun membeku dalam hitungan detik. Grace yang sejak tadi


tersenyum, kini hanyut pada posel pintar yang tak kunjung bergeming. Suasana berubah menjadi dingin. Memaksa Aksara meletakkan pisau dan garpu di samping piring.


“Majukan jadwal pernikahanmu, Aksara, peran keluarga Nandana penting untuk keperluan bisnisku juga,” papar


pria itu lugas.


Begitulah cara pria itu bicara. Cukup dalam satu tarikan napas, ia menyampaikan lengkap sejumlah gagasan.


Mendengar hal itu Grace ikut ambil bagian, wanita itu tak mau kehilangan peluang bisnisnya.


“Hans benar, Sayang. Pernikahanmu penting untuk kita semua. Aku yakin kau paham betul kalau sahammu yang dapat paling banyak keuntungan. Jadi aku harap, kau bisa mengumumkan tanggal pernikahan kalian secepatnya.”


“Sebelum kondisinya memburuk dan merusak segala rencana, akan lebih baik jika kau segera mengambil keputusan,” imbuh Hans.


Hening sejenak. Grace sibuk mengamati nilai sahamnya, sementara Hans menikmati cecap kopi yang tinggal setengah. Aksara yang terbelenggu dalam pikirannya tak berniat memberi jawaban.


pergi sekarang,” tandasnya mempertegas.


Hans hanya memberinya anggukan singkat. Wanita itu langsung menyambar tas jinjingnya, dan mencium pipi kanan dan kiri milik Hans. Dalam hitungan cepat ia juga sempat melambaikan tangan pada Akasara. Meninggalkan kalimat yang masih sama saja intinya.


“Aku harus pergi, Sayang. Telpon aku kalau kau sudah membuat keputusan. Ingat, jangan memanggilku Moms. Dah~”


Tanpa air muka, Aksara tak lepas mengikuti kepergian sang ibunda. Ia baru sadar bahwa wanita itu sama sekali


tidak berubah. Tubuhnya masih semungil ketika Aksara duduk di sekolah dasar. Grace tak menua, dia seperti menahan waktu supaya berhenti berputar lewat kecantikannya.


Aksara tertegun sejenak, sampai suara berat di hadapannya membuyarkan segala lamunan.


“Pernikahan itu tidaklah sulit, Aksara, kau hanya perlu bertahan dengannya sampai akhir cerita.”


Dengus panjang menjadi jeda waktu di antara keduanya. Pria itu bahkan nyaris beranjak, kalau saja kalimat tanya dari Aksara tidak menahannya terdiam lagi di tempat yang sama.


“Apa kalian sungguh tidak pernah saling mencinta?”


Hans membenahi kacamatanya, ia menoleh pada Aksara. “Cinta hanyalah alasan bagi seseorang untuk mempertahankan seseorang, dan kami punya alasan yang lebih besar untuk saling mempertahankan.”


Pria itu melengangkan langkah. Prosesi makan siang itu menyisakan Aksara yang kehilangan kuasa. Ia kalah telak


dari segala jawaban yang telah Hans paparkan.


Alasan yang lebih besar untuk saling mempertahankan? Cukupkah baginya untuk begitu saja? Entahlah. Hans dan Grace berhasil melakukannya, jadi seharusnya ia juga bisa.


***

__ADS_1


Pendingin ruangan yang diatur dengan suhu rendah, menyempurnakan pekat di dalam sana. Aroma lembab yang ditimbulkan oleh dinding-dinding tanpa cahaya matahari itu khas menyeruak. Seolah tidakpernah ada kehidupan, tempat itu seakan sudah terbengkalai sejak lama.


Perempuan itu bahkan tidak lagi peduli pada pengap yang bisa tercium sejak daun pintu dibuka. Ia hanya duduk


diam di tempat yang sama, pada posisi yang tidak pernah berubah. Sambil memeluk lututnya, pandangan lurus menatap kekosongan.


Diabaikannya derap langkah Aksara seperti biasa. Perempuan itu tak pernah tergoda untuk menoleh walau sejenak. Ia bahkan sengaja tak memperdengarkan suara embusan dari napasnya.


Kalau boleh jujur Aksara mulai terbiasa. Dia tidak lagi memusingkan perlakuan Clarisa terhadap dirinya.


Lagipula tujuannya tidak berubah, ia tetap akan menikahi Clarisa.


Sebuket bunga diletakkannya pada nakas. Aksara berjalan mendekat, kemudian ia duduk di tepi kasur sambil menatap lekat perempuan yang sebentar lagi menjadi istrinya.


Dari jarak sedekat itu, Aksara bisa melihat kulit putih Clarisa yang kian memucat. Mata sayu yang tidak pernah


tidak sembab itu kian tampak bengkak. Bibirnya kering mengelupas, ia tampak seperti jasad yang kehilangan jiwa.


“Aku bawa coklat. Kalau tidak selera makan, aku juga bawa camilan.”


Tidak mungkin ada jawaban. Clarisa sudah sangat lama mendiamkannya. Pertunangan mereka memang terjalin lima belas tahun silam, namun jarak membuat kedekatan mereka terhambat. Dua benua memaksa


mereka tumbuh terpisah.


“Aku tahu kau pasti membencinya, tapi kita harus memajukan tanggal pernikahan. Aku tidak berharap banyak, tapi


sungguh, kumohon kerjasamanya. Aku tidak bisa mundur dari penikahan yang sudah direncanakan.”


Satu-satunya jawaban yang ia berikan hanyalah derai air mata. Clarisa selalu begitu tiap kali Aksara


membicarakannya. Tangis tanpa isak, yang terus menjatuhkan butir bening tanpa cela.


“Jaga kesehatan. Aku akan mengurus segala keperluan,” Aksara bangkit dari duduknya. “Kabar baiknya, aku sudah


menemukan wedding organizer yang memudahkan pernikahan kita. Jadi pastikan kau mempersiapkan diri jika suatu waktu aku datang.”


Aksara mendekati tirai yang sedikit terbuka. Mengintip peradaban dunia dari sela-sela kain yang tidak tertutup


sempurna. Malam yang meninggi itu bertabur bintang, tampak cantik memayungi lampu remang dari laju kendaraan.


“Dengar, aku memang tidak bisa menjanjikan cinta,” gumamnya, “Tapi aku punya sejuta alasan untuk mempertahankanmu lebih keras kepala.”


Ia menarik napas panjang, seakan berusaha merebut segala oksigen yang biasanya dihabiskan Clarisa seorang. Diliriknya jam lewat ponsel pintar sekilas, lantas mengeluarkan dengus yang amat berat.


“Aku harus kembali bekerja.”


Aksara mengurai langkahnya perlahan-lahan. Gendang telinganya berusaha keras menyiasati desah napas


Clarisa yang bergetar. Aksara menahan kepergian ketika Clarisa—akhirnya—membuka sepatah kata.


“Aku tidak pernah berhenti mendoakanmu, Aksara. Semoga kau dikutuk oleh cinta.”


Entah mengapa, kalimat itu menggema di kepala Aksara. Lelaki yang tidak pernah mengerti rasa ataupun makna dari cinta, bagaimana mungkin terkutuk olehnya? Aksara menyusuri koridor rumah mewah milik Clarisa dengan perasaan hampa.


Namun Aksara bukan tipe manusia yang mudah menyerah. Lelaki itu mengambil kesimpulan lewat gerak jemarinya yang menekan tombol telpon kepada seseorang.


“Pacarmu, Dirga. Bawa aku ke sana. Aku harus segera menggelar pesta pernikahan.”

__ADS_1


__ADS_2